
Kenyataan
Di Waktu
Subuh
Oleh
Ram Chandra
Dari
Shahjahanpur (U.P.), India
Presiden-Penemu
Shri Ram Chandra Mission
(Reality at Dawn - Versi Bahasa Indonesia)
Daftar
Isi
|
|
|
1.
Agama 2.
Tujuan Hidup 3.
Jalan dan Cara 4.
Guru 5.
Pelatihan Spiritual 6.
Kepercayaan 7.
Ingatan Terus Menerus 8.
Penyerahan Diri 9.
Kenyataan 10.
Penglihatan Saya 11.
Lampiran 12.
Daftar Kata |
1
AGAMA
Pencarian umat manusia sejak
dilahirkan telah memuja Tuhan, untuk mencari seluk beluk misteri dibelakang
pembawaan yang nampak dan untuk memahami kebenaran yang mendasar. Inilah
terjadinya agama. Pemuja mempunyai di depan matanya kebahagiaan surga yang
abadi atau beberapa pandangan serupa
yang dia dapatkan sebagai tujuan terakhir. Inilah timbulnya agama di dunia
dengan bentuk dan upacara-upacara yang
sudah mereka tentukan, didasarkan pada pengalaman-pengalaman praktek pribadi
dari penemunya yang besar. Setelah berlangsung
beribu-ribu tahun, ketika seluruh lingkungan telah berubah dan kehidupan telah
menjalani perubahan sepenuhnya, bentuk dan prinsip lama yang sama, tetap melekat. Bentuk luarnya
sendiri sekarang tetap utuh walaupun semangat di dalamnya telah hilang. Akibatnya adalah bahwa sarana
yang disebut sebagai agama telah menjadi usang dan tidak akan salah untuk
dikatakan bahwa agama akhir-akhir ini telah menjadi hanya sebagai barang
peninggalan dari yang lampau atau tulang dari tubuh yang sudah meninggal. Kita
telah benar-benar menguburkan agama yang benar di dalam pemakaman. Kita hanya
bertepuk tangan di dalam nama agama dan tidak melakukan apa-apa lagi. Tujuan
yang nyata telah hilang dan hanya formalitas yang tertinggal di dalamnya. Hanya
bentuk luarnya dan upacara-upacara agama yang tertinggal yang dapat terlihat,
diikuti dengan yang penuh kekolotan dan kegigihan bahkan tanpa sedikitpun
sentuhan terhadap kenyataan. Kepercayaan kita di dalam kenyataan jadi berkurang
sampai ketitik kepunahan. Kepercayaan lebih membelit menjadi bentuk-bentuk dan
upacara-upacara agama saja. Perlahan-lahan kepercayaan merosot menjadi tidak
toleransi atau prasangka yang mana
sayangnya telah menjadi ciri-ciri permanen atas agama saat ini. Kepercayaan
buta kita dalam formalitas menahan kita di dalam kegelapan berkenaan dengan
kenyataan dan tanpa disadari kita mengembangkan di dalam diri kita perasaan
benci terhadap mereka yang percaya dalam bentuk dan upacara-upacara agama yang
lain. Sebagai akibatnya timbul sifat iri dan pertengkaran-pertengkaran diantara
pengikut-pengikut agama-agama yang berbeda.
India telah mempunyai
kebebasan politik tetapi kebebasan diri atau kebebasan jiwa masih tidak cukup.
Rintangan utama adalah kapasitas keinginan untuk penglihatan yang lebih luas
dan kebebasan berpikir. Semua suasana diliputi oleh prasangka dan persaingan.
Seluruh struktur kemasyarakatan dan kebudayaan berada pada dasar yang sama.
Perasaan iri hati dari sebuah golongan adalah penyebab utama kehancuran
peradaban kita. Saat ini ada tidak kurang dari 3000 kasta di India,
masing-masing membentuk sebuah kesatuan yang berbeda. Kasta-kasta ini semula
serikat kerja pekerja-pekerja dan seniman-seniman yang berbeda yang datang
bersama-sama dengan tujuan untuk memecahkan persoalan dari divisi tenaga kerja.
Tetapi sekarang masing-masing serikat kerja mencoba memutuskan dirinya dari
komunitas yang ada membentuk sebuah kelompok terpisah yang berdiri sendiri,
mendorong perasaan benci dan iri hati terhadap yang lainnya. Dengan demikian
seluruh kelompok berjalan menuju pemisahan. Waktunya sekarang sudah datang
dimana kejahatan ini harus segera berakhir untuk ada. Alam sedang bekerja untuk
melepaskan kejahatan ini. Saat ini alat pemotongnya tidak tanggung-tanggung.
Biarkan sajian ini sebagai peringatan keras bagi pendukung-pendukungnya yang
antusias dan pelopornya atas prasangka kasta. Mereka tidak dapat melepaskan
diri dari akibatnya kecuali mereka segera berubah. Keinginan Tuhan pasti ada
jalannya. Prasangka adalah kejahatan terbesar, daripada racun yang mematikan
bagi kehidupan spiritual. Ini menahan seseorang mengurung di dalam dirinya
sendiri, kehilangan semua akses menuju pandangan yang lebih luas. Ini
menciptakan pemikiran yang sempit dan semua harapan atas perkembangan dan
kemajuan menjadi hilang bagi mereka yang telah menetapkan jiwanya disana.
Prasangka melahirkan kebencian terhadap orang lain dan ini hanyalah sebuah
perasaan keunggulan diri yang salah dalam bentuk tersamar. Jika kamu memelihara
kejahatan ini, dengan cara demikian kamu menambah satu lagi hubungan kepada
mata rantai yang sudah ada yaitu egoisme. Sebagai akibatnya kamu tetap jauh
dari kenyataan. Kenyataan atas Yang Tak Terbatas dengan demikian menjadi tidak
mungkin. Cinta segalanya, dasar yang paling mendasar dari agama menjadi hilang
samasekali, agama yang biasanya dianggap sebagai penghubung antara manusia dan
Tuhan, sekarang sebaliknya menjadi penghalang. Jika kita membiarkan diri kita
diikat erat-erat pada bentuk atau praktek khusus tanpa gambaran yang jelas
tentang arti sesungguhnya dan tujuan akhir, kita mungkin melakukan kesalahan
terbesar. Tuhan bukan harus ditemukan di dalam kumpulan sebuah agama atau sekte
tertentu. Dia tidak mengurung didalam bentuk-bentuk atau upacara-upacara agama
tertentu, Dia tidak juga harus ditelusuri di dalam buku-buku keagamaan. Dia
harus kita cari di dalam inti hati kita yang paling dalam.
Ada macam-macam konsep
tentang Tuhan. Orang menganggap Dia berbeda-beda menurut kapasitas dan
pengertian mereka. Konsep yang paling umum diterima tentang Tuhan adalah Kekuatan Abadi. Tetapi pandangan filosofi jauh melebihi dan termasuk gambaran
tentang Nirguna Brahma atau
Indeterminate Absolute (Absolut Tidak Terbatas) yang mana di atas semua
keserbaragaman dan perbedaan-perbedaan. Inilah penyebab yang paling pokok dan dasar
dari keadaan, Pusat di atas yang aktif
dari seluruh perwujudan atau Pangkalan Absolut. Ini melebihi sifat, kegiatan,
atau kesadaran. Ini juga dikenal sebagai Para
Brahma. Berikutnya ada gambaran tentang Tuhan sebagai Keadaan Tertinggi.
Kita melihat dunia dengan segala aneka
ragam dan perbedaan-perbedaannya dan kita dibawa untuk percaya pada penciptanya
dan pengawasnya. Kita menyebutnya Ishwar
atau Saguna Brahma (Absolut yang
Tetap). Kita memikirkan Dia sebagai Keadaan Abadi yang tidak berbentuk yang
Mahakuasa dan Mahatahu dan memiliki semua sifat-sifat yang paling halus. Dia
adalah penyebab yang menghasilkan dunia (pencipta) dan Dia juga sebagai
pemelihara dan perusak. Ini hanya jika dipandang dari sudut yang lebih rendah
bahwa Tuhan (sebagai Tuhan dari agama) menjadi tujuan dari pemujaan. Ini tujuan
terakhir dari hampir semua agama. Sedemikian jauh, Tuhan dibayangkan sebagai Nirakar atau tidak berbentuk, tetapi
memiliki sifat-sifat tertentu. Konsep ini sendiri adalah sebuah gambaran yang
sulit bagi orang biasa untuk mengerti. Oleh karena itu mereka mencoba untuk
mendapatkan sebuah tujuan yang lebih mudah dengan mengambil sebuah bentuk yang
lebih nyata. Oleh karena itu beberapa orang memikirkan Dia duduk di Surga
tertinggi, menjalankan keadilan dan kebajikan bagi semua. Yang lainnya
memikirkan Dia sebagai sebuah kekuatan yang meliput semuanya mengontrol dunia.
Jadi lambat laun kita ada di dalam jalan yang perlahan-lahan menyimpang dari Nirakar atau aspek tidak berbentuk
kepada bentuk yang nyata atau Sakar.
Banyak disebutkan di dalam buku-buku keagamaan mengenai dua pemahaman, Nirakar
dan Sakar, tetapi sungguh kedua pemahaman, seperti yang biasa dimengerti, amat
menyesatkan. Sungguh Tuhan bukan Nirakar juga bukan Sakar tetapi melebihi
keduanya. Mereka yang memperlakukan Dia sebagai Sakar membatasi yang Tidak
Terbatas dalam batasan suatu bentuk atau keadaan. Hasilnya adalah mereka
menanam pemikiran sempit dan tinggal selamanya dalam batasan tersebut. Jika
kita menerima Dia sebagai Nirakar gambaran itu membawa pikiran kita pada
pembatasan atas sifat-sifat sebagai pencipta, pengawas dan perusak. Bahkan
gambaran tentang Tuhan sebagai Kekuatan atau Tenaga masih sebagai suatu
pemahaman terbatas. Kita terus berjalan dengan gambaran atas yang tidak
sungguh-sungguh ada atau nol, masih kita di dalam jalan yang agak jauh dari
Kenyataan. Lalu apa ? Ungkapannya sekarang gagal. Cukup untuk mengatakan bahwa
jika kita benar-benar jauh dari kedua pemahaman, kita mungkin berpikir diri
kita sendiri ada di arah yang benar. Selama kita tetap terkurung di dalam
batasan-batasan agama Tuhan suatu agama tetap dalam pandangan kita dan kita
tetap terlibat dalam satu atau pandangan lain. Pencapaian spiritual tertinggi
hanya dimungkinkan ketika kita berjalan melebihinya. Sebenarnya spiritualiti
mulai dimana agama berakhir. Agama hanyalah sebuah tingkatan pendahuluan untuk
mempersiapkan seseorang untuk langkahnya pada jalan kebebasan. Ketika dia telah
menentukan langkah pada jalannya, dia kemudian melebihi batasan-batasan agama.
Akhir suatu agama adalah permulaan spiritualiti; akhir suatu spiritualiti
adalah permulaan suatu Kenyataan dan akhir suatu Kenyataan adalah Kebahagiaan
yang sesungguhnya. Saat itupun juga pergi, kita telah sampai pada tujuan.
Itulah target tertinggi yang hampir tidak dapat dinyatakan dalam kata-kata.
Pemujaan tuhan-tuhan dan
dewa-dewa dalam macam-macam bentuk adalah pengembangan yang kasar atas teori
Sakar yang sama. Pemujaan terhadap setiap kekuatan alam dan bahkan
gunung-gunung, sungai-sungai dan pohon-pohon adalah penurunan yang lebih jauh
atas pandangan yang sama. Alangkah
sayangnya ! Daripada memuja Master, kita malah memuja pembantu-pembantunya
mengabaikan Master sepenuhnya dan kita tidak bersedia untuk mendengarkan bahkan
sebuah kata yang bertentangan dengan prasangka-prasangka yang sudah kita buat.
Hasilnya adalah saat ini kita mendapati begitu banyak sekte dan
keyakinan-keyakinan, masing-masing memuja dewa atau dewi (dianggap sebagai
Tuhannya) dalam caranya sendiri yang khusus. Jelas, tujuan di depan mata mereka
bukan saja pembebasan (liberation)
tetapi dalam banyak hal pelepasan dari beberapa bentuk khusus kesengsaraan atau
beberapa perolehan material. Orang didorong kepada bentuk-bentuk pemujaan
seperti itu apakah karena paksaan keadaan atau melalui bimbingan yang salah
dari orang-orang dimana mereka sendiri sangat tidak mengetahui dalam persoalan
kenyataan - Diri (Self-Realization).
Lord Krishna telah membuat jelas hal ini di dalam Gita bahwa pemujaan dewa-dewa dapat membawa kamu paling banyak
hanya pada lingkungan mereka yang mana sesuatu yang terbatas dan jauh dibawah
tujuan pembebasan. Mereka sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk pergi
melebihinya . Tujuan dari pengikutnya melebihi batas ini, dengan demikian
menjadi mustahil. Jadi ini jelas bahwa tuhan-tuhan dan dewa-dewa ini tidak
berguna bagi kita jika kita sungguh-sungguh mengarahkan pada Kenyataan. Saya
telah menjelaskan hal ini lebih jelas dalam buku saya Efficacy of Raja Yoga (Kemanjuran Raja Yoga).
Bentuk pemujaan seperti
mesin biasa dipakai oleh mereka yang ingin sekali dewa-dewa dan dewi-dewi
(tuhan) menyediakan tujuan duniawi mereka juga merupakan satu lagi kebodohan.
Disini tidak ada pemujaan sama sekali. Mereka hanya memainkan bagian dari suatu
pekerja, demikian dikatakan, dan pada akhirnya mereka menerima upah harian
untuk pekerjaan fisik yang telah mereka kerjakan. Bentuk material padat tentang
Tuhan dimiliki oleh mereka di dalam pikiran dan memujanya dengan kepercayaan
dan kesetiaan membawa kekotoran di dalam dan jika praktek ini berlangsung untuk
waktu lama mereka menjadi semakin padat, menghalangi tujuan mereka menuju
Kenyataan. Dalam hal-hal seperti ini hasilnya adalah jelas bagi hampir setiap
mata. Orang-orang bijaksana kuno mendapatkan pemujaan terhadap Absolut yang
Tidak Material, sebuah tugas sulit bagi rakyat untuk memulainya, telah dibuat
cara-cara tertentu yang mudah untuk
mengangkat mereka. Mereka membuat sebuah permulaan dengan mengambil sesuatu
yang nyata dalam bentuk padat yang orang-orang dapat dengan mudah memahami dan
mengerti, sekarang sesuatu yang dapat dengan mudah dipahami atau dimengerti
berbeda bagi orang-orang yang berbeda. Untuk orang-orang dengan tingkatan
terendah mereka memakai sesuatu dalam bentuk padat yang nyata. Untuk yang
lainnya, yang lebih tinggi, beberapa bentuk abstrak seperti kemegahan, cahaya
atau lambang-lambang ketuhanan diperkenalkan untuk memulainya. Untuk yang berpikiran terpelajar tinggi sebuah
gambaran halus tentang Tuhan sudah
cukup. Jadi ini hanya untuk orang-orang dengan tingkatan terendah bahwa mereka
mengambil bentuk padat seperti gambar atau patung dan itu juga hanya sebagai
sebuah langkah sementara. Ketika mereka memperoleh kemajuan mereka
menghentikannya dan memasuki pada tingkatan berikutnya mengambil bentuk yang
lebih halus. Ini seperti mengajar menulis pada bayi membuat dia menggerakkan
pennya sepanjang huruf-huruf yang tercetak. Setelah sedikit mempraktekkan
prosesnya dihentikan dan bayi sudah dapat menulis sendiri tanpa bantuan yang
tercetak. Jadi bentuk padat atau patung dipakai oleh pemula hanya untuk
sementara, setelah itu mereka menuju tingkatan berikutnya. Disamping itu,
gambaran yang ditetapkan untuk tujuan tersebut telah diisi penuh dengan
kekuatan spiritual sehingga mereka yang duduk didekatnya dalam kesetiaan dan
pemujaan memperoleh sesuatu darinya melalui radiasi yang terus menerus.
Sekarang orang-orang yang berkemampuan, mempunyai kekuasaan untuk memasukkan
kekuatan spiritual kedalam patung, adalah jarang, meskipun proses Pran Pratishta (proses memasukkan
kekuatan spiritual ke dalam patung) masih berlangsung terus hanya sebagai
persoalan formalitas. Hasilnya adalah tempat-tempat dan patung-patung yang
diisi beribu-ribu tahun lalu, saat ini hampir kehilangan semua pengaruhnya dan
sebagai akibatnya tidak ada perolehan nyata yang didapat oleh mereka yang
menuju kesana untuk kesetiaan dan pemujaan. Bagaimanapun, ini melebihi keraguan
bahwa proses yang diperkenalkan hanya bagi orang-orang ditingkat terendah
dengan sedikit pikiran yang tidak dapat lain selain mencurahkan diri mereka sendiri
kepada Tuhan dengan jalan apapun. Pasti bahwa praktek ini jika diikuti dengan
kegigihan sampai akhir, mengalahkan tujuannya dan tidak memberikan manfaat
spiritual apapun. Kabir, orang suci telah menyatakan gambaran dengan indah
dalam kata-kata sebagai berikut: “Jika dengan memuja batu seseorang dapat
mencapai Tuhan saya akan bersedia memuja sebuah gunung. Tetapi untuk tujuan ini
batu penggiling yang menggiling jagung untuk memberi makan dunia mungkin lebih
baik.”
Menurut pandangan saya
mereka yang melekat pada jenis pemujaan seperti ini sepanjang kehidupan mereka
menyeberang dalam-dalam di lumpur atas tidak adanya ketuhanan. Sungguh-sungguh
sulit untuk melepaskan mereka darinya. Selama itu setelah praktek terus menerus
mereka menjadi begitu kuat berakar padanya sehingga mereka tidak dapat bahkan
berpikir untuk melepaskan diri dari padanya dalam keadaan apapun. Mereka tetap
pada perhentiannya. Mereka tidak mau membuang gambaran yang sudah mereka terima
dan menjadi bagian dari mereka. Lebih jauh mereka menggunakan kekuatan atau
pikirannya dan membuat mereka menjadi lebih kuat dan lebih padat. Semuanya
melemparkan refleksi dalam suatu bentuk yang serupa dengannya sendiri. Jika
sesuatu halus refleksinya juga akan halus dalam karakter dan jika kotor
demikian juga refleksinya akan kotor. Jika kita konsentrasi pada sesuatu yang
padat kita pasti menjadikan diri kita sendiri padat di dalam. Malapetaka besar
sudah dibuat oleh guru-guru, yang telah menyampaikan kepada orang-orang awam
segalanya yang telah mereka pelajari dari buku-buku suci dalam bentuk yang
sulit dan padat. Ini menghancurkan kekuatan refleksif pikiran. Jika seseorang
mengembangkan sebuah keadaan yang begitu mengerikan dia sudah tidak mempunyai
harapan selamanya. Dia kehilangan tujuannya menuju sebuah pandangan yang lebih
luas dan kemampuan untuk perkembangan yang lebih jauh menjadi musnah. Orang
seperti itu mungkin dibandingkan dengan katak di dalam sumur, dengan sedikit
lapangan kegiatan yang mereka anggap penuh dan cukup. Mereka tetap berputar-putar
dalam lingkungan didekatnya, mengurung seluruh sisi-sisinya. Mereka menekankan
pada hal yang sama diseluruh hidupnya. Cerita-cerita dan ilustrasi-ilustrasi
tentang tuhan-tuhan adalah segalanya dan cukup untuk mereka. Ketika praktek
berlanjut terus sampai sel-sel otak panjang terpengaruh dan mereka jadi
dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang tumbuh semakin kuat hari demi hari.
Akhirnya seluruh susunan syaraf terpengaruh. Keadaan luar yang tidak dapat
tembus berangsur-angsur bergerak perlahan-lahan menuju ke dalam dan melengkapi
pekerjaannya. Sekarang mereka tidak dapat ditembus sama sekali, keduanya di
dalam dan di luar, untuk jalannya Cahaya Suci. Tujuan mereka kepada diri di
dalam sepenuhnya terhalang. Saya lebih suka menyebut mereka batu-batu hidup.
Lapisan luar yang diperkeras yang mereka kembangkan membuat mereka menjauhkan
diri dari pergaulan sekecil apapun dengan segalanya yang lebih tinggi atau
lebih halus. Mereka amat terpesona dengan akibatnya yang mereka anggap menjadi
sebuah tingkatan spiritual meskipun kenyataannya mereka jauh sekali dari itu.
Pengalaman pribadi saya dalam lapangan spiritual telah mengungkapkan bagi saya
bahwa ini tugas yang amat sukar dan melelahkan untuk menghancurkan lapisan luar
yang keras, diciptakan oleh bentuk-bentuk praktek seperti ini, dari hati mereka
yang datang kepada saya untuk pengejaran spiritual. Jika seseorang ingin
membebaskan dirinya dari ikatan jiwa ini dia harus perlu membersihkan lapisan
kekotoran dan kepadatan yang menempati pikirannya sebagai hasil dari praktek-praktek
yang melemahkan semangat ini.
Bentuk lain dari pemujaan
yang biasa dipikir lebih maju adalah menyanyi atau mendeklamasikan dalam paduan
suara, kata-kata puji-pujian tentang tuhan atau dewi yang mereka puja.
Orang-orang berkumpul bersama dalam pesta-pesta dan larut malam bernyanyi dalam
paduan suara dengan suara tinggi mengganggu suasana malam yang tenang. Mereka
berpikir bahwa dengan cara demikian mereka melaksanakan sebuah tugas saleh
memasukkan, demikian yang mereka katakan, ke dalam telinga-telinga sebanyak
mungkin yang dapat mereka lakukan, kesucian nama Tuhan. Tidak hanya ini,
kadang-kadang mereka memakai pengeras suara untuk menyiarkan suaranya. Mereka
sungguh-sungguh tidak mempunyai pikiran tentang ketidak senangan atau ketidak
enakan yang diakibatkan bagi orang-orang yang mungkin memerlukan ketenangan
istirahat setelah seharian bekerja yang melelahkan atau orang dalam keadaaan
sakit. Mungkin pada saat bersamaan memberikan gangguan serius bagi orang -orang
yang melakukan meditasi pada waktu-waktu tenang di malam hari. Sebagai
tambahan, praktek, yang biasa diikuti saat ini, tidak ada kegunaan besar dalam
perkembangan spiritual kita dan sebagai akibatnya tidak ada manfaat besar yang
diperoleh dari sana. Nyanyian dari Sankirtanists (orang yang menyanyikan)
mungkin lebih pantas dibandingkan dengan erangan orang sakit yang hanya
memberikan dia hiburan sementara tetapi sebenarnya tidak melepaskan dia dari
kesakitan. Jadi nyanyian-nyanyian ini tidak berguna bagi mereka selain bahwa
mereka senang oleh efek lagu-lagu manis yang membantu menarik pikiran-pikiran
mereka untuk sementara kepada tujuan yang nampak. Nah, apapun yang kita pikir
atau renungkan, memberikan getaran didalam. Ketika getaran-getaran ini berlipat
ganda, mereka menciptakan kekuatan yang memancar keluar dengan suara.
Getaran-getaran membawa akibat dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan
individu. Jadi akibat saleh dari pikiran
yang murni dalam kelompok mungkin dirusak oleh akibat buruk dari pikiran-pikiran
yang tidak saleh. Oleh karenanya, unsur yang tidak diinginkan harus
disingkirkan jika manfaat penuh harus diperoleh dari penyelenggaraan ini.
Praktek seperti ini diikuti oleh Chaitanya
Mahaprabhu yang menyelenggarakan Sankirtans
(nyanyian jemaah) dengan pesta terdiri hanya mereka yang benar-benar dikenal
olehnya untuk kebaikan dan kesalehan. Oleh karenanya, penyelenggaraan, diadakan
di belakang pintu tertutup dan tidak ada orang luar yang diijinkan masuk.
Sankirtan (nyanyian jemaah) sebenarnya tidak memberikan cara kemajuan dimuka tetapi
lebih membantu hanya pada beberapa tingkatan setelah kemajuan yang cukup. Ini
paling efektif hanya ketika diadakan di dalam lingkungan yang menyenangkan
berlimpah dengan pikiran-pikiran yang saleh. Ini mungkin juga disajikan sebagai
sebuah perubahan hiburan setelah praktek mental yang serius. Sebagai tambahan,
sayangnya saat ini tujuan untuk tetap dalam pandangan selama praktek ini
bukanlah yang tertinggi. Dalam beberapa hal mereka sejak semula tetap
berhubungan erat dengan gambaran tentang tuhan-tuhan dalam bentuk jasmani,
tetap nampak tubuh dan aktivitas-aktivitasnya yang kotor. Akibat dari konsep
yang kotor ini hanyalah kekotoran di dalam dan tidak tembus yang mereka hirup
sejak semula selama praktek ini. Sebuah
konsep yang kotor pasti akan menahan kamu dalam batas-batas dan
keterbatasan-keterbatasan dan tujuan akhir atau kebebasan absolut tidak akan
pernah memungkinkan. Inilah alasan mengapa walaupun bertahun-tahun
mempraktekkan mereka mendapati diri mereka sendiri pada tingkat pencapaian yang
terendah. Mereka sepertinya, mencari segalanya di dalam kolam yang menggenang
dimana bahkan oksigen yang perlu untuk tetap hiduppun, tidak cukup. Mereka
telah membuat kolam tersebut sebagai tempat kediaman tetap mereka. Cahaya yang
tepat diperlukan untuk membuat mutiara. Apa yang mereka harus berjuang keras
dengan maksud untuk melindungi kebebasan absolut dari ikatan adalah menjadi
yang teringan dan terhalus, hampir sesuai dengan sifat-sifat ketuhanan dan
memastikan kesamaan seluruhnya dengan Dia. Madu dari hidup yang nyata adalah
untuk dia dan hanya dia yang membawa dirinya sendiri naik kepada standar yang
dibutuhkan untuk tujuan tersebut.
2
TUJUAN
HIDUP
Mungkin hanya beberapa
diantara orang-orang yang pernah memberikan perhatian serius pada persoalan
hidup. Biasanya mereka mempunyai pandangan sempit terhadap persoalan tersebut.
Persoalan yang ada di depan mereka
hanyalah untuk mendapatkan hidup yang layak, baik dilengkapi dengan kesenangan-kesenangan hidup yang diinginkan.
Dengan kata lain, bagi mereka tujuan hidup hanyalah untuk memperoleh kesenangan
hidup terbesar yang memungkinkan dan keadaan terkemuka di dunia. Jika mereka
mampu mencapai ini, mereka pikir hidup mereka sukses, jika tidak, tidak sukses.
Bagaimanapun mereka mungkin disebut sebagai orang besar, ahli filsafat, ilmuwan
atau politikus dan memperoleh kemasyhuran dan kekayaan yang meliputi seluruh
dunia, tetapi persoalan hidup mereka masih tertinggal tak terpecahkan.
Persoalan tidak benar-benar berakhir dengan kematian, ini hanya suatu perubahan
bentuk. Kehidupan kita berikutnya, apapun itu, dimulai setelah kematian.
Seperti sebelum kehidupan kita yang sekarang kita sudah mempunyai banyak sekali
kehidupan lainnya dalam bentuk yang berbeda-beda, demikian pula setelah
kematian, kita mungkin mempunyai banyak kehidupan lain. Perputaran kelahiran
dan kematian berlangsung terus untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Persoalan yang ada dihadapan kita bukanlah untuk menemukan suatu pemecahan dari
kehidupan kita sekarang tetapi untuk seluruh hidup yang mungkin kita miliki
untuk selanjutnya. Dalam arti yang lebih luas, ini mencakup seluruh keadaan
jiwa dalam bentuk yang bermacam-macam, kotor atau halus sekali pada waktu yang
berlainan sampai waktunya Mahapralaya
(Kepunahan Terakhir/Mahakiamat). Mungkin ada pendapat yang berbeda mengenai
persoalan kelahiran dan kematian, diantara pengikut-pengikut dari keyakinan
yang berbeda-beda, tetapi pasti bahwa pengetahuan hanya secara teori dari
buku-buku keagamaan tidak akan memecahkan persoalan. Pengalaman praktek dalam
bidang spiritual perlu untuk tujuan ini. Persoalan berhenti saat seseorang
memperoleh ‘Anubhava Shakti’
(Kemampuan berdasarkan intuisi) dari jenis terhalus dan dirinya sendiri dapat
menyadari keadaan kehidupan sejati sesudah ini. Bagaimanapun misteri dijelaskan
oleh orang-orang dengan cara yang bermacam-macam, tetapi hampir semua setuju
pada pokoknya bahwa tujuan dari hidup adalah untuk memperoleh kebahagiaan abadi
setelah kematian. Untuk ini mereka berusaha keras hidup dengan kebaikan, pengorbanan
dan kesetiaan akan memberikan kepada mereka kegembiraan abadi tentang surga
atau keselamatan atau kedamaian. Tetapi ini bukanlah akhir dari persoalan. Ini
berlangsung jauh melebihinya. Saat ini untuk menemukan pemecahan persoalan kita
harus melihat ke belakang pada pokoknya darimana kehidupan kita dimulai.
Kehidupan kita dalam bentuk terkotor sekarang bukanlah tiba-tiba maupun
kebetulan tetapi ini adalah hasil dari sebuah proses evolusi yang
perlahan-perlahan. Keadaan jiwa dapat ditelusuri jauh ke belakang saat
penciptaan ketika jiwa ada dalam bentuknya yang telanjang sebagai sesuatu
identitas terpisah. Dari keadaan permulaan kehidupan jiwa dalam bentuk yang
paling halus kita melangkah kepada bentuk kehidupan yang semakin kotor. Ini
mungkin dinyatakan sebagai penutup-penutup yang mengelilingi jiwa. Penutup yang
paling awal adalah alam yang paling halus dan dengan penutup tersebut kita
berada di tanah tempat tinggal kita, Kerajaan Tuhan. Tambahan penutup yang lebih banyak dan lebih banyak
atas ego berlanjut dan sesudah itu Manas
(pikiran/mental), Chit (kesadaran), Buddhi (kepandaian) dan Ahankar (ego) dalam bentuk yang lebih
kasar mulai memberikan kekotoran bagi kita. Pada waktunya, samskara (impresi) mulai terbentuk yang menyebabkan akibat-akibat yang
dihasilkan. Kebaikan dan perbuatan buruk muncul. Perlahan-lahan kehidupan kita
mengambil bentuk terpadat. Akibat dari samskara adalah permulaan dari perasaan
kesenangan, kesengsaraan, kegembiraan dan penderitaan. Kesukaan kita terhadap
kegembiraan dan kesenangan dan ketidak sukaan kita terhadap penderitaan dan
kesengsaraan telah menciptakan kerumitan yang lebih jauh. Kita biasa
mendapatkan diri kita dikelilingi dengan penderitaan dan kesengsaraan dan kita
pikir bahwa pelepasan dari semua ini adalah tujuan utama kita. Ini pandangan
yang sangat sempit atas persoalan hidup.
Maksud dan tujuan hidup yang
dipahami dalam hubungannya dengan hal-hal duniawi adalah hampir tidak mempunyai
arti. Kita lupa bahwa penderitaan dan kesengsaraan hanyalah gejala suatu penyakit
tetapi penyakit itu sendiri berada ditempat lain. Mempraktekkan kesetiaan untuk menyenangkan
Tuhan agar supaya mendapatkan kesenangan-kesenangan atau perolehan duniawi
hanyalah sebuah penghinaan. Persoalan yang ada dihadapan kita bukan hanya
pelepasan dari penderitaan dan kesengsaraan tetapi kemerdekaan dari ikatan yang
merupakan penyebab pokok atas penderitaan dan kesengsaraan. Kemerdekaan dari
ikatan adalah pembebasan. Ini berbeda dengan keselamatan yang bukan akhir dari
proses kelahiran kembali. Keselamatan
hanyalah istirahat sementara dalam perputarannya. Ini perhentian
sementara dari proses kelahiran dan kematian hanya untuk suatu periode tetap
tertentu dimana setelah itu kita mengambil bentuk material. Perputaran
kelahiran kembali yang terus menerus berakhir hanya saat kita telah memperoleh
pembebasan. Inilah akhir dari penderitaan dan kesengsaraan kita. Apapun yang
rendah dari pembebasan tidak dapat diambil sebagai tujuan hidup meskipun masih
ada tertinggal banyak melebihi itu. Kita mendapati tetapi hanya beberapa orang
yang mempunyai bahkan pembebasan sebagai tujuan akhir dari kehidupan mereka
yang menunjukkan jenjang terendah didalam tangga spiritual. Persoalan hidup
tertinggal sepenuhnya tidak terpecahkan jika kita berada di bawah tingkatan ini.
Ada orang-orang yang mungkin berkata bahwa mereka tidak menginginkan Mukti (pembebasan). Mereka hanya ingin
datang lagi dan datang lagi ke dalam dunia ini dan mempraktekan Bhakti (kesetiaan). Tujuan hidup mereka
tidak tertentu dan tidak terbatas. Bhakti dan tidak ada yang melebihinya
seperti yang mereka katakan sebagai tujuan mereka. Sungguh mereka tertarik oleh
akibat mempesona atas kondisi Bhakta (orang yang setia) dan ingin
tetap terlibat di dalamnya selamanya. Mereka melakukan itu hanya untuk menyenangkan
mereka sendiri. Kemerdekaan dari ikatan abadi menjadi tidak mungkin selama kita
berada di dalam keterlibatan-keterlibatan. Kerinduan alami dari jiwa adalah
bebas dari ikatan. Jika ada orang yang tidak ingin membebaskan dirinya sendiri
dari keterlibatan-keterlibatan ini maka tidak ada pemecahan baginya. Bhakti
adalah cara untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Kenyataannya
seperti yang saya sebutkan di atas adalah mereka tertarik oleh akibat yang
mempesonakan atas kondisi yang dahulu dan tidak ingin meninggalkannya setiap
saat. Pandangan sempit yang mereka ambil, menghalangi tujuan mereka kepada
penglihatan yang lebih luas dan segalanya yang melebihi, ada diluar pandangan
mereka. Satu lagi argumen menyesatkan yang dimajukan dalam mendukung pandangan
di atas adalah kesetiaan, jika dipraktekan dengan tujuan khusus dalam
pandangan, adalah jauh dari ‘Nishkam’
(tanpa keinginan). Teori ‘Nishkam Upasana’ (kesetiaan tanpa keinginan) seperti yang ada
di dalam Gita menekankan kita untuk
mempraktekan kesetiaan tanpa menyimpan dalam pandangan suatu tujuan khusus. Ini
benar-benar berarti bahwa kita harus mempraktekan kesetiaan tanpa mata kita
tetap tertuju pada maksud duniawi atau tanpa peduli atas kepuasan dari
keinginan-keinganan kita. Ini tidak menghentikan kita dalam menentukan pikiran
kita pada tujuan hidup yang sungguh-sungguh perlu untuk langkahnya. Tujuan
hidup berarti tidak ada yang lainnya selain tujuan dimana pada akhirnya kita harus sampai
disitu. Dengan kata lain, kenang-kenangan atas tanah tempat tinggal kita atau
keadaan mula-mula dari kehidupan kita
sekarang yang padat, yang mana pada akhirnya kita harus kembali padanya. Ini
hanya gambaran dari tujuan yang kita jaga tetap hidup dalam pikiran kita dan
untuk itu kita mempraktekan kesetiaan hanya sebagai kewajiban. Kewajiban demi
kewajiban tidak diragukan adalah ‘Nishkam
Karma’ (tindakan bukan untuk diri sendiri) dan untuk menyadari tujuan hidup
kita adalah kewajiban yang diwajibkan.
Sekarang saya sampai pada
pokoknya apakah tujuan nyata dari hidup seharusnya. Ini biasanya diterima bahwa
tujuan harus yang tertinggi, jika tidak perkembangan sampai pada batas akhir
diragukan. Untuk ini, perlu mempunyai
gambaran yang jelas atas batas tertinggi yang memungkinkan dari tujuan manusia.
Kita mempunyai dihadapan kita contoh-contoh tentang Rama dan Krishna, dua
titisan dari Tuhan. Kita memuja mereka dengan kepercayaan dan kesetiaan dan
ingin menjaga penyatuan dengan mereka. Secara otomatis ini menjadi tujuan hidup
kita dan kita paling jauh dapat memperoleh tujuan naik sampai pada tingkatan
mereka. Sekarang Rama dan Krishna, sebagai titisan adalah orang-orang khusus
yang diberikan kekuatan gaib untuk bekerja sebagai perantara untuk penyelesaian
pekerjaan yang alam inginkan dan untuk itulah mereka datang. Mereka mempunyai
perintah penuh atas berbagai macam kekuatan alam dan dapat menggunakannya
setiap saat dengan cara yang mereka pikir pantas. Bidang aktivitas mereka
dibatasi sesuai dengan pekerjaan alam yang harus mereka selesaikan. Mereka
turun dari lingkungan Mahamaya, yang
mana adalah sebuah keadaan tenaga ketuhanan dalam bentuk yang halus sekali
dengan demikian yang paling kuat. Disebabkan karena kenyataan ini bahwa kita
mendapatkan hasil-hasil yang baik sekali yang memberikan pengaruh melalui
perantaraan mereka pada waktu mereka hidup. Tingkat tertinggi yang memungkinkan
dari tujuan manusia adalah jauh melebihi lingkungan Mahamaya, dengan demikian
jauh di atas tingkatan ini. Mungkin ini mengejutkan bagi kebanyakan pembaca
tetapi ini adalah kenyataan yang melebihi keraguan. Tingkat akhir dari tujuan
adalah dimana segala macam tekanan, kekuatan, kegiatan atau bahkan dorongan,
menghilang dan seseorang masuk ke dalam keadaan peniadaan sepenuhnya; Tidak Ada
Apa-apa atau Nol. Itu tingkat tertinggi atas tujuan atau tujuan akhir
kehidupan. Saya telah mencoba menyatakannya dengan diagram. Lingkaran-lingkaran
konsentris digambarkan melingkari pusat ‘C’, kira-kira menunjukan
lingkungan-lingkungan spiritual yang berbeda yang kita jumpai selama
perkembangan kita. Permulaan langkah kita dari lingkaran yang paling luar kita
maju menuju pusat melewati setiap lingkaran untuk memperoleh tingkatan
berikutnya. Ini suatu ruang yang sangat luas. Jika kita bicara mengenai
pembebasan, orang akan berpikir ini sesuatu yang sangat jauh sekali yang dapat
dicapai dengan usaha yang gigih selama sejumlah kehidupan. Dalam diagram
keadaan pembebasan terletak diantara lingkaran kedua dan ketiga. Macam-macam
kondisi yang harus kita lewati dengan maksud untuk memperoleh pembebasan semuanya diperoleh di dalam kira-kira satu setengah
lingkaran. Ini mungkin membantu pembaca dalam membentuk gambaran kasar tentang
apa yang masih tertinggal untuk diperoleh setelah kita sampai pada titik
pembebasan yang mana sungguh-sungguh, seperti yang biasa dipercaya, bukanlah
pencapaian biasa-biasa saja. Setelah mencapai keadaan ini kita maju lebih jauh
melewati lingkaran-lingkaran lainnya sampai kita melewati yang kelima. Ini
tingkatan Awyakti Gati (keadaan yang
tidak ada perbedaan). Pada tingkatan ini orang bebas sepenuhnya dari ikatan Maya. Hanya beberapa orang suci masa
lampau yang dapat sampai pada posisi ini. Raja Janak adalah seorang dari mereka
yang dapat memperoleh tujuannya pada
keadaan ini. Pencapaiannya dianggap sangat hebat bahkan Rishis (orang suci) terkemuka pada saat itu biasa mengirim putera
dan murid mereka kepada dia untuk pelatihan. Daerah sekitar Hati seperti
digambarkan di dalam buku saya Efficacy of Raja Yoga saat ini telah dilewati
dan sekarang kita masuk ke daerah pikiran, setelah melewati lingkaran kelima.
Sebelas lingkaran setelah ini menggambarkan macam-macam tingkatan-tingkatan
tentang egoisme. Kondisi disana lebih halus dan masih berkembang lebih halus
saat kita melangkah melalui daerah tersebut. Setelah itu kita sampai pada
lingkaran keenam belas kita hampir bebas dari egoisme. Kondisi pada tingkatan
ini hampir tidak dapat dibayangkan dan jarang dapat dicapai bahkan oleh orang
suci yang paling hebat. Sejauh
penglihatan saya, saya menemukan tidak satupun diantara orang-orang suci kuno kecuali Kabir yang dapat memperoleh
tujuannya sampai pada tingkatan ini (yaitu lingkaran ke 16). Apa yang
tertinggal ketika kita telah melewati lingkaran ini adalah hanya sebuah
tanda-tanda yang masih dalam sebuah bentuk kotor. Kita sekarang masuk Daerah
Pusat. Disana juga, kamu akan menemukan tujuh cincin atas sesuatu. Saya dapat
menyebutnya sebagai cahaya demi menyatakan suatu ungkapan, yang kita lewati
selama langkah kita maju kedepan. Bentuk tanda-tanda yang padat demikian saya sebut, tumbuh lebih
halus dan lebih halus sampai pada batas terakhir yang memungkinkan. Sekarang
kita memperoleh suatu posisi yang paling dekat dengan Pusat, dan ini tujuan
tertinggi yang memungkinkan bagi seseorang. Disana kita berada selaras dengan
kondisi yang sangat Nyata. Menyatu seluruhnya dengan Pusat bagaimanapun tidak
memungkinkan, jadi untuk menjaga paling sedikit perbedaan antara Tuhan dan
jiwa. Inilah perluasan dari pencapaian manusia dimana seseorang harus
menetapkan mata pada pencapaiannya sejak permulaan sekali, jika dia ingin
membuat perkembangan terbesar pada jalan kenyataan. Hanya beberapa diantara
orang-orang suci dan peyoga di dunia yang pernah mempunyai konsep ini. Tujuan
terjauh mereka dalam banyak hal sepenuhnya hanya sampai pada lingkaran kedua
atau ketiga, dan sayangnya bahkan pada tingkat permulaan ini mereka
kadang-kadang menganggap pencapaian mereka sudah sangat hebat. Saya memberikan
semua ini hanya untuk orang-orang yang mampu untuk menilai mereka yang disebut
Doctors of Divinity (Doktor tentang Ketuhanan) yang besar yang disebutkan telah
mencapai kesempurnaan dan biasanya diterima sebagai orang yang sempurna oleh
orang awam yang menilai nilai mereka dari bentuk luarnya atau kemewahan.

3
Jalan dan
Cara
Setelah menentukan tujuan kita,
persoalan berikutnya yang ada dihadapan kita adalah menemukan cara-cara untuk
kenyataan atas tujuan tersebut. Orang-orang suci dan guru-guru telah
menjelaskan pokok persoalan dengan panjang lebar. Mereka menentukan macam-macam
bentuk praktek atau ‘sadhanas’, yang bermanfaat untuk pencapaian atas apa yang
mereka nyatakan sebagai tujuan akhir. Tetapi untuk kenyataan tentang Tuhan,
Absolut Tidak Terbatas atau Para Brahma kita harus memakai cara-cara yang
membawa kita pada peniadaan menyeluruh. Tujuan hidup kita, seperti yang
dibicarakan dalam bab dimuka adalah tingkatan akhir dimana kita berada paling
dekat dengan Pusat yang Sangat Aktif atau Nol, yang menjadi penyebab mula-mula
dari seluruh perwujudan dan kepada mana semuanya pada akhirnya akan kembali sesudah
Maha Pralaya (pembubaran menyeluruh). Untuk memperoleh keadaan ini kita harus
menjadikan diri kita nol. Tidak diragukan kita harus mencapai tujuan itu dengan
cara yang alami pada saat Maha Pralaya, tetapi apa yang kita harus berusaha
keras, adalah untuk memperolehnya secepat mungkin dengan maksud untuk
melindungi diri kita dari kesengsaraan atas kehidupan yang banyak sekali.
Sebagaimana Maha Pralaya atau pembubaran menyeluruh adalah perlu untuk
mengembalikan segala sesuatu ke asalnya, demikian pula untuk mengembalikan kita
ke tujuannya kita harus menimbulkan Pralaya (kehancuran) kita atau memperoleh
suatu keadaan pembubaran menyeluruh atas segala sesuatu yang kita buat. Ini
berarti kita harus bebas dari semua harta milik kita dan mengambil bentuk telanjang
yang sama disaat kita pada waktu penciptaan. Harta milik kita adalah timbunan
samskara (impresi) dengan akibat yang dihasilkan dalam bentuk
keruwetan-keruwetan dan macam-macam penutup yang kita kumpulkan mengelilingi
jiwa yang mana merupakan hasil dari pikiran dan perbuatan kita. Kita memiliki
batin dan kecakapan intelektual yang semuanya aktif. Pikiran kita menentukan
tindakan dari tubuh. Kita melihat, mendengar, merasa dan mengerti sesuatu. Kita
mulai menyukai atau tidak menyukai mereka. Keinginan-keinginan lambat laun
mulai bergerak perlahan-lahan dan mempengaruhi tindakan-tindakan kita.
Lingkaran-lingkaran berlangsung terus berlipat ganda dan kita mendesak diri
kita sendiri untuk pemenuhan keinginan-keinginan. Sebuah keinginan, ketika
dipuaskan, lambat laun menciptakan yang lain untuk mengikuti di tempatnya. Kita
jarang bebas dari mereka bahkan untuk sesaat. Kita melihat sesuatu kebanyakan
dengan sebuah pandangan untuk mempunyainya. Keinginan-keinginan ini membentuk
tindakan-tindakan tubuh dan mental kita dan menimbulkan pembentukan samskara
(impresi), dengan demikian menambah lebih banyak dan lebih banyak penutup jiwa.
Keinginan-keinginan baru setiap saat dan usaha kita untuk memuaskannya
menimbulkan penambahan-penambahan terus menerus. Impresi-impresinya tertinggal
pada causal body (tubuh didalam tubuh yang kasar) kita selama mereka tidak
dibuang melalui proses ‘Bhog’ (proses menjalani akibat dari impresi).
Penyelesaian bhog atas semua samskara yang dibentuk setiap saat biasanya tidak
memungkinkan selama seluruh kehidupan. Jadi ketika kehidupan kita akan berakhir
kita masih mempunyai banyak samskara yang tersimpan di dalam kita.
Samskara-samskara ini menjadi penyebab dari kelahiran kita kembali, dengan
maksud memberikan kita sebuah kesempatan untuk melengkapi Bhog mereka, tetapi
sayangnya daripada menghabisi bhog, kita malah menambah lebih banyak dari yang
kita telah keluarkan.
Satu lagi gangguan serius
dalam jalan kita disebabkan oleh penderitaan dan kesengsaraan kita. Hampir
setiap orang di dunia mengeluh tentang kesengsaraan yang dihadapi dan yang dia
ingin hilangkan. Tetapi dia mengabaikan cara-cara yang benar. Dia pikir
pemenuhan keinginan-keinginan adalah satu-satunya cara untuk melepaskan
kesengsaraan. Tetapi itu bukanlah pemecahannya. Kesengsaraan biasa dianggap
menjijikan, tetapi ada orang-orang suci yang sengaja memakai kesengsaraan,
berpikir bahwa kesengsaraan itu anugerah dan sering berdoa kepada Tuhan untuk
kesengsaraan tersebut. Misteri suatu persoalan akan jelas jika kita melihat ke
dalam asal mula kesengsaraan. Jiwa memiliki kesadaran sebagai hasil dari
kehendak Tuhan untuk menghasilkan ciptaan. Demikian juga jiwa mulai membentuk
ciptaannya sendiri yang kecil dan berkumpul bersama-sama mengelilingi
ciptaannya sendiri. Sekarang suatu adukan, suatu gerakan (yaitu kegelisahan
atau gangguan) adalah faktor utama dalam menimbulkan ciptaan. Sama halnya
dengan ciptaan kecil dari jiwa juga, kegelisahan atau gangguan diperlukan. Kita
juga memiliki kekuatan keinginan yang kita gunakan untuk memberikan kekuatan
pada unsur-unsur yang perlu untuk memulai ciptaan ini. Mereka muncul dihadapan
kita dalam bentuk kegembiraan dan penderitaan, kesenangan dan kesengsaraan.
Pikiran, juga, menjadi terus menerus aktif menciptakan di dalam kita menyukai
sesuatu dan tidak menyukai yang lainnya, memperkenalkan dua hal yang berbeda
atas sesuatu. Sehingga kesengsaraan mulai ada. Semua ini ciptaan dari pikiran
manusia sebagai hasil dari ketidak pedulian atas hubungan yang benar terhadap
sesuatu. Kegemaran kita, emosi dan dorongan hati juga memberikan banyak sekali
dalam memperburuk persoalan-persoalan dan kadang-kadang menyebabkan badai hebat
yang cukup kuat untuk mengancam kehancuran yang menyeluruh. Kita biasa
menghubungkan alasannya dengan keadaan. Tetapi ini pikiran yang salah. Pikiran
adalah pusat dari pengembangan bagian luar seseorang dalam bentuk tubuh manusia
dan segalanya yang diperlihatkan dengan perantaraan tubuh mulainya dari pusat,
yaitu pikiran. Jika pikiran kita sampai pada keadaan harmonis, keadaan dan lingkungan
tidak akan mempunyai pengaruh dengannya dan tidak akan ada gangguan di dalam.
Kedamaian dan ketenangan akan memerintah terus di dalam setiap keadaan.
Kegemaran, kegembiraan dan keinginan-keinginan akan hilang kehebatannya dan
penderitaan, keriangan atau kesengsaraan akan hilang dari pandangan.
Keinginan-keinginan kita adalah penyebab utama dari kesengsaraan. Jadi hanya
satu-satunya pemecahan atas kesengsaraan adalah pengurangan
keinginan-keinginan. Sedikit keinginan-keinginan, mengurangi kesengsaraan
kita.. Tetapi untuk menjadi yang tidak mempunyai keinginan apa-apa juga
persoalan lainnya. Keinginan-keinginan membentuk sebuah jaringan dimana kita
terlibat di dalamnya. Semakin kita mencoba untuk melepaskan darinya, semakin
erat ikatan serat-serat jaring tersebut. Satu-satunya cara untuk membebaskan
diri kita dari keterlibatan adalah mengalihkan perhatian kita darinya dan
menetapkan mata kita hanya pada sesuatu yang Nyata. Jika kita memperkuat
kebiasaan tetap tidak menghiraukannya, mereka akan segera mulai hilang dari
pandangan kita dan dengan demikian kesengsaraan kita akan dikurangi. Kenyataan
itu sendiri akan tetap terus menerus di depan mata kita dan segalanya yang lain
akan hilang daya tarik atau kepentingannya.
Tidak ada seluruhnya
penderitaan dan kesengsaraan di dalam hidup, bagaimanapun tidak mungkin dan
tidak wajar. Sesungguhnya mereka cukup berarti bagi kemajuan kita. Mereka hanya
seperti obat pil pahit yang diberikan kepada pasien untuk memulihkan kesehatan.
Penyalahgunaan terhadap sesuatu yang terbaik menciptakan masalah. Inilah alasan untuk kesengsaraan. Penggunaan
sesuatu dengan tepat, pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pasti
memberikan hasil yang baik untuk jangka waktu lama. Kesengsaraan adalah
sungguh-sungguh pemandu terbaik kita yang membuat jalan kita lancar. Bagi
seseorang dalam lingkungan hidup biasa, kesengsaraan sangat membantu
pembinaannya. Sehubungan dengan persoalan-persoalan rumah tangga dan
kesengsaraan dalam kehidupan duniawi, Master saya sering berkata, “Rumah kita
adalah tempat latihan untuk kesabaran dan daya tahan. Untuk memikul
kesengsaraan kehidupan rumah tangga dengan tenang adalah pengorbanan terbesar
bagi kita, yang termulia dari semua bentuk lain pengorbanan. Oleh karena itu
apa yang kita harus lakukan di dalam setiap keadaan bukanlah memberikan jalan
dengan perasaan marah atau duka cita, tetapi mengambil sebuah sikap yang tidak
perlu dipertanyakan lagi, berpikir bahwa kita sendiri yang bersalah yang mana
kita harus menahan diri dengan sebuah
pikiran dingin. Hidup menyendiri di
dalam sebuah hutan dan menjauhkan diri dari perhatian duniawi mungkin bagi
beberapa orang, adalah cara-cara untuk
menanamkan kesabaran dan penahanan diri tetapi bagi kita, celaan dan makian
dari teman-teman kita dan sanak saudara adalah pengorbanan terbesar dan alat
sukses yang paling pasti”. Sesungguhnya bertahan dengan tenang atas
kesengsaraan dan persoalan-persoalan memberikan banyak bagi kemajuan kita, oleh
karena itu mereka harta yang bernilai bagi perkembangan kita. Hanya karena
penggunaannya yang salah kita merusak hasilnya dan dengan demikian
menghilangkan manfaatnya yang terbaik.
Penolakan atau ketidak
terikatan tidak diragukan adalah sebuah tingkatan yang perlu sekali dalam
kenyataan dan kita tidak pernah dapat bebas dari keterlibatan maya kecuali kita
mengusahakan ketidak terikatan. Tetapi ini tidak berarti memutuskan hubungan
kita dengan rumah, keluarga dan semua urusan duniawi dan mengisi hidup sebagai
peminta-minta dalam keagamaan. Saya tidak setuju dengan mereka yang mempunyai
pandangan bahwa satu-satunya cara
menanamkan ketidak terikatan adalah melarikan diri dari rumah dan
keluarga dan bertempat tinggal di sudut terpencil membuang semua pertalian
duniawi. Penolakan yang dihasilkan oleh cara yang dipaksakan seperti itu jarang didapati menjadi yang tulus, untuk
ini mungkin bahwa meskipun keterpaksaan
mereka untuk tidak terikat dengan dunia jelas kelihatan, di dalam batin mereka
masih melekat padanya. Tidak diragukan sebagai seorang yang berumah tangga kita
harus mengurus banyak hal, kita harus menunjang keluarga kita, kita harus
memberikan pendidikan untuk anak-anak kita, kita harus memperhatikan keinginan
dan keperluan mereka, kita harus melindungi mereka dari panas dan dingin, dari
masalah-masalah dan penyakit dan sebagainya. Untuk keperluan-keperluan ini kita
mencari nafkah dan memiliki uang dan rumah. Kejahatan sesungguhnya hanyalah
keterikatan kita yang terlalu besar dengan sesuatu dimana kita berhubungan
dengannya. Ini penyebab utama dari penderitaan-penderitaan kita. Tetapi jika
kita mampu melakukan segalanya di dalam hidup berpikir ini adalah kewajiban
kita tanpa perasaan tertarik atau jijik kita ada di jalan yang bebas dari
pertalian duniawi dan telah meninggalkan dunia dalam arti sebenarnya meskipun
kita memiliki dan memakai banyak sesuatu. Kemudian segala sesuatu yang kita
miliki akan kelihatan sebagai sebuah kepercayaan suci dari Master Tertinggi,
untuk pelaksanaan tugas yang dipercayakan kepada kita. Penolakan sesungguhnya
berarti tidak terikat dengan tujuan-tujuan duniawi dan bukannya tidak memiliki
sesuatu. Jadi suatu kehidupan berumah tangga yang memiliki sesuatu dan
pertalian duniawi adalah diperlukan tidak ada halangan di dalam jalan penolakan dan oleh karenanya merupakan
kenyataan, hanya jika seseorang tidaklah terlalu terikat pada tujuan-tujuan
yang dia berhubungan dengannya. Ada banyak contoh-contoh dari orang-orang suci
mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi membawa kehidupan seorang yang berumah
tangga sepenuhnya. Penolakan sesungguhnya suatu kondisi atau keadaan di dalam
pikiran yang membawa pandangan kita pada kefanaan dan perubahan karakter atas
sesuatu dan menciptakan perasaan ketidak terikatan dengan tujuan-tujuan
tersebut. Matanya setiap saat ditetapkan pada Kenyataan yang tidak berubah dan
abadi dan dia bebas dari perasaan tertarik dan jijik. Ini adalah Vairagya (penolakan) dalam arti
sesungguhnya atas istilah tersebut. Ketika kita sudah mencapai keadaan pikiran
ini kita bebas dari keinginan-keinginan. Kita merasa puas dengan apa yang
tersedia bagi kita. Akhir dari keinginan berarti berhenti membentuk samsakaras.
Apa yang tertinggal sekarang hanyalah
menjalani akibat (bhog) dari
samskaras yang terbentuk sebelumnya yang harus dikeluarkan selama jalan hidup
kita. Alam juga membantu kita dalam bekerja dengan menciptakan lapangan untuk
Bhog dengan maksud untuk membuang impresi atas pikiran-pikiran dan
perbuatan-perbuatan kita dari causal body
(tubuh di dalam tubuh yang kasar). Ketika penutup-penutup ini hilang kita mulai
mengambil bentuk kehidupan yang lebih halus.
Dengan maksud untuk
mengontrol pikiran dan perbuatan kita, kita harus melihat pada pekerjaan yang
layak bagi pikiran yang tidak pernah istirahat bahkan untuk sesaat. Saya sering
mendengar guru-guru agama mencercanya dengan isitilah yang paling tidak enak,
menganggap segala nama yang berasal darinya jelek dan menyatakan hal tersebut
sebagai musuh kita yang paling buruk. Alasannya sangat sederhana. Mereka pikir
itu penyebab dari seluruh kejahatan di dalam kita, dan oleh karenanya mereka
menasehati orang-orang untuk menghancurkannya dan tidak mengikuti perintahnya.
Tetapi biasanya orang mendapatkan ini sebagai sebuah tugas yang sulit untuk
menahan macam-macam aktivitas dari pikiran atau untuk membuang
perintah-perintahnya. Nasehat-nasehat secara teori dan kuliah-kuliah mereka
dalam hal ini oleh karenanya tidak banyak manfaatnya bagi mereka dan hampir
tidak ada satupun dari mereka yang menghadiri kuliahnya yang pernah mampu mencapai
tujuan dengan sebuah cara yang nyata. Disamping itu keadaan dan lingkungan
sekarang juga menyumbang banyak bahkan sesungguhnya menambah aktivitas dari
pikiran seseorang. Hampir setiap orang hari ini, merasa hidupnya sebagai suatu
perjuangan sulit untuk hidup menghadapi persoalan-persoalan gawat tentang
kemiskinan, ketidak amanan, keadaan yang sukar dan persaingan dan hampir tidak
mungkin membuat dirinya bebas dari akibat-akibat ini. Hasilnya adalah
kegelisahan dan gangguan pikiran terus menerus. Kita bernapas dalam sesuatu
yang sama dari lapisan udara dan maka dari itu dibawa oleh keadaan dan
sekelilingnya. Pikiran kita masing-masing telah menjadi penunjuk arah angin,
memutar mukanya pada setiap hembusan menuju arah dimana angin bertiup. Pahlawan
sesungguhnya dalam perjuangan adalah seseorang yang menantang mereka dengan
berani dan menjaga dirinya bebas dari pengaruh mereka.
Saya tidak ragu, setuju
dengan mereka yang berkata bahwa setiap kejahatan berasal dari dalam pikiran
dan hanya itu, oleh karenanya bertanggung jawab untuknya, meski pada saat yang
sama saya dapat mengingatkan mereka bahwa pikiran yang sama yang menuntun kita
kepada kebaikan dan juga menolong kita untuk menyadari diri kita yang
tertinggi. Jadi bukan hanya setiap kejahatan yang mulai dari pikiran tetapi
juga setiap kebaikan. Sebab itu mereka yang mengutuknya dalam ucapan yang
paling pahit tidak mempunyai dasar kebenaran sama sekali. Ini sungguh
disebabkan hanya karena kurang baiknya pembentukan pikiran, dan apa yang
sesungguhnya diperlukan, bukanlah menghancurkan atau membunuh pikiran tetapi
hanyalah pelatihan yang tepat. Pikiran seperti bandul sebuah jam dinding. Jam
bekerja baik selama pergerakan bandul diatur. Jika ini diganggu jam akan rusak.
Demikian pula dengan jam manusia ini perlu bahwa pergerakan pikiran diatur dan
disesuaikan dengan baik. Metode-metode untuk membentuk pikiran dan mengatur
aktivitasnya juga sangat sederhana. Sungguh kita merusak pikiran kita sendiri
dengan membiarkannya berkeliaran tanpa tujuan selama waktu-waktu luang. Praktek
ini telah berlangsung bertahun-tahun dan sekarang hampir menjadi sifat
keduanya. Jika sekarang kita mencoba untuk mengontrol pikiran dengan
menempatkannya dibawah kendali kita mendapat sedikit sukses. Semakin kita
mencoba menekannya dengan paksaan, semakin mengganjal dan meniadakan,
menyebabkan gangguan yang lebih besar. Metode yang pantas untuk mengontrol
aktivitas pikiran adalah menetapkannya pada satu pikiran suci seperti yang kita
kerjakan dalam meditasi, dan menghalaukan darinya segala sesuatu yang tidak
diinginkan atau tidak berguna. Selama itu setelah praktek terus menerus,
pikiran menjadi disiplin dan teratur dan banyak gangguan-gangguan di dalam
dibersihkan. Jalan terbaik untuk membebaskan dirimu dari pikiran-pikiran yang
tidak diinginkan adalah memperlakukan mereka sebagi tamu-tamu yang tidak
diundang dan tetap tidak menghiraukan mereka. Kemudian mereka akan melemah
seperti tanaman-tanaman yang tidak disirimi dan pada akhirnya pikiran suci yang
sama akan tetap berkuasa. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk
menyempurnakannya adalah meditasi dibawah bimbingan seorang Master yang
berkemampuan. Dengan mempraktekkan meditasi terus menerus pikiran akan menjadi
tenang dan damai dan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan akan berhenti menyusahkan
kamu. Saya sering mendengar orang-orang yang baru mulai mengeluh tentang
berkelananya pikiran selama meditasi. Sejak dari hari pertama sekali mereka
mengharapkan bahwa selama praktek meditasi pikiran harus tetap terhenti sama
sekali tetapi ketika mereka mendapati gambaran-gambaran dan pikiran-pikiran
yang berbeda-beda sering membayangi pikiran mereka, mereka merasa amat gelisah.
Saya harus menjelaskannya kepada mereka bahwa ini bukanlah kondisi menghentikan
pikiran, yang kita berusaha keras di dalam praktek kita, tetapi hanya
membentuknya atas aktivitas-aktivitas yang bermacam ragam. Kita tidak ingin
menghentikan pekerjaan normalnya tetapi hanya untuk membawanya pada keadaan
yang sudah diatur dan sudah disiplin. Jika aktivitas pikiran dihentikan dari
permulaan sekali, kita mungkin tidak menempatkan perlunya mempraktekkan
meditasi sama sekali. Meditasi hanyalah proses untuk mencapai akhir. Pada
waktunya konsentrasi adalah hasil alaminya. Metode yang pantas adalah meditasi terus tetap tidak menghiraukan
gambaran-gambaran dan pikiran-pikiran asing yang datang dipikiran kita selama
itu. Perjuangan mental untuk menjauhkan gambaran-gambaran yang tidak diinginkan
sering membuktikan ketidak suksesannya menyebabkan reaksi yang kuat yang sering
tidak mungkin bagi orang yang berkemampuan biasa untuk mengatasinya dan yang
mana kadang-kadang mungkin menghasilkan gangguan mental yang serius atau bahkan
penyakit gila. Ini memungkinkan bagi mereka yang menjalani kehidupan membujang
telah memperoleh cukup ojas (kemegahan)
untuk menguasai dengan sukses terhadap aliran pikiran-pikiran dan untuk menahan
akibat dari reaksi mereka, tetapi bagi orang biasa ini hampir tidak
memungkinkan. Daripada berjuang untuk mematikan pikiran-pikiran kita hanya
tetap tidak menghiraukan mereka, mereka segera akan kehilangan pengaruhnya dan
berhenti menyusahkan kita. Kemudian mereka hanya akan seperti anjing
menggonggong setelah sebuah caravan pergi terus tanpa mengindahkan mereka.
Ketika kita penuh perhatian pada gambaran untuk memeriksa mereka, konsentrasi
tentu saja ada yang mana melahirkan kekuatan dan dengan demikian mereka menjadi
lebih kuat.
Sebuah alasan yang paling
umum dinyatakan oleh orang-orang tertentu saat ini adalah mereka terlalu sibuk
untuk menyediakan waktu bagi meditasi atau praktek-praktek lainnya yang serupa.
Tetapi “orang yang paling sibuk mempunyai waktu luang yang terbesar” adalah
perkataan orang terkenal. Saya pikir seseorang mempunyai lebih banyak waktu
yang dibuang daripada adanya pekerjaan yang harus dilakukannya. Keluhan mereka
tentang kekurangan waktu disebabkan hanya karena penyesuaian yang salah. Jika
kita menggunakan waktu sebaik-baiknya kita tidak akan pernah mempunyai alasan
untuk mengeluh bahwa waktu itu pendek atau langka. Ada orang-orang lain yang
sedikit terus terang untuk mengakui bahwa bukan karena ketiadaan waktu mereka
tetap jauh dari tugas-tugas kebaktian tetapi karena kebiasaan kelalaian dan
kemalasan mereka, yang mereka tidak dapat atasi. Kepada mereka saya akan
mengatakan bahwa mereka mungkin tidak pernah alpa atau malas dalam ketrampilan
atau profesinya yang mereka urus dengan penuh semangat meskipun dengan semua
kesusahan pribadi dan bahkan kesakitan hanya karena perolehan keuangan atau
keuntungan yang ada dalam pandangan mereka. Kerinduan mereka untuk perolehan
material memutar mereka tidak menghiraukan terhadap kesusahan atau kesakitan,
demikian pula jika kerinduan (Lagan) untuk kenyataan atas tujuan besar,
kebiasaan kelalaian atau kemalasan tidak akan bertahan di jalan usaha atau
kemajuan kita. Jika kita memeriksa riwayat orang-orang suci kuno kita mendapati
bahwa mereka telah mengorbankan seluruh kesenangan hidup demi mencapai
Kenyataan. Mereka menempuh kekerasan dan pengorbanan hidup, menjalani segala
macam bentuk penderitaan dan persoalan demi tujuan yang begitu berharga dihati
mereka. Kerinduan hebat untuk tujuan membuat mereka buta terhadap hal-hal
lainnya dan mereka tetap teguh pada jalannya tidak menghiraukan
kesulitan-kesulitan dan kemalangan yang datang pada mereka. Kerinduan hebat
atas tujuan yang seperti itu dan kemauan seperti baja untuk mencapai tujuan
benar-benar perlu untuk menjamin sukses yang sempurna. Saya dapat memastikan
kamu bahwa kamu akan mendapat kemenangan dalam lapangan spiritual hanya jika
kamu mengalihkan perhatianmu kepada Tuhan dan mulai dengan kemauan, kepercayaan
dan keyakinan, tidak soal bagaimana kamu berada di posisi mana, dikelilingi
dengan ketakutan dan kesengsaraan hidup berkeluarga. Kehidupan kamu yang sibuk
dengan demikan tidak akan memberikan rintangan di jalanmu. Biasanya orang akan
ragu-ragu menuju Tuhan, berpikir mereka sendiri terlalu tidak mampu dan lemah
untuk mencapai sesuatu yang nyata. Keinginan kuat yang dibuat pada langkah yang
pertama sekali dan dipertahankan terus, tidak akan pernah gagal untuk mencapai
kesuksesan penuh. Setengah jarak telah dilalui jika seseorang masuk lapangan
dengan pikiran yang tegas. Kesulitan-kesulitan dan kekesalan akan mencair hanya
dalam sekejap mata dan jalan untuk sukses akan dibuat lancar. Sikap ragu-ragu
membawa pada usaha setengah hati dan biasanya menghasilkan sukses sebagian atau
lebih sering kegagalan. Keinginan kuat kita memungkinkan kita, secara otomatis
menarik kekuatan dari sumber yang tidak diketahui, untuk menjalankan tugas.
Keinginan kuat ditambah dengan ketidak sabaran atau kerinduan yang meningkat
untuk mencapai tujuan akan menarik kekuatan dari usaha kita dan oleh karena itu
kita akan tetap dalam hubungan terus menerus dengan sesuatu yang nyata yang
sama, menangkap setiap petunjuk yang datang untuk kebaikan dan kemajuan spiritual kita. Ketidak sabaran
atau kegelisahan terus menerus untuk mencapai tujuan dalam waktu sesingkat
mungkin jelas sekali merupakan faktor yang paling penting yang menyumbang bagi
kesuksesan kita dengan cepat. Kita tidak boleh istirahat bahkan untuk sesaat
sampai kita memperoleh tujuan yang nyata, kedamaian abadi dan ketenangan.
Kerinduan hebat untuk sebuah tujuan biasanya menciptakan kegelisahan dan kita
tidak mempunyai ketenangan sampai kita mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh
karenanya ini sesuatu yang sangat mendasar dan harus diusahakan dengan cara
apapun yang memungkinkan. Jadi untuk memperoleh ketenangan abadi kita
mengusahakan di dalam kita kegelisahan dan ketidak sabaran pada tingkat
permulaan. Ini mungkin terlihat aneh sepintas lalu saat saya meminta kamu untuk
mengusahakan sesuatu yang kita ingin hilangkan tetapi ini satu-satunya jalan
untuk mencapai sukses yang pasti dan cepat. Dengan demikian kegelisahan yang
diciptakan adalah sementara dan berbeda dalam karakter dari kondisi pikiran
gelisah yang biasa. Ini lebih halus dan lebih menyenangkan. Ini menciptakan
ceruk di dalam hati kita untuk aliran suci mengalir masuk dan melancarkan
perjalanan kita menuju kerajaan Tuhan. Jika kamu mendorong seseorang ke bawah
masuk ke dalam air kamu akan mendapati bahwa dia akan membuat usaha nekad untuk
membebaskan dirinya dari cengkeramanmu. Ini hanya ketidak-sabarannya untuk
keluar dari air dengan demikian tambah memaksakan usahanya dan dia tidak akan
istirahat sampai dia keluar dari air. Demikian pula usaha nekad seperti
tersebut disebabkan karena ketidak sabaran yang luar biasa untuk mencapai
tujuan seketika, akan mempercepat langkah-langkah kita pada jalan menuju
kenyataan dan memastikan sukses dengan mudah dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Itu cara-cara yang termudah dan paling efisien untuk cepat sukses.
Orang-orang dikumpulan saya
sering menanyakan kepada saya metode untuk menciptakan macam kegelisahan
seperti tersebut di dalam mereka. Saya dapat katakan kepada mereka bahwa cinta
yang kuat untuk suatu tujuan akan secara otomatis membawa mereka kepadanya.
Ketika kita sedang cinta sekali, kita akan secara alami merasa tidak sabar
untuk memperoleh kedekatan dengan obyek yang dicintai. Ketika kita amat cinta
dengan obyek duniawi gambarannya muncul lagi dan muncul lagi di pikiran kita,
dan kita memikirkannya berulang-ulang. Sekarang dengan maksud untuk
mengembangkan cinta Suci di dalam hati kita hanya harus membalik prosesnya.
Jika kita sering atau sebagian besar hari -hari kita mengingat Tuhan, kita akan
secara otomatis mengembangkan cinta untuk Dia, yang jika diteruskan dengan
sungguh-sungguh akan menciptakan ketidak sabaran di dalam hati kita untuk
memperoleh penyatuan secepat mungkin. Cara lain untuk mengembangkan cinta
kepada Tuhan adalah memainkan bagian sebagai pencinta seperti jika kamu
memerankan sebuah drama. Tetapi ini hanya untuk mereka yang hampir tidak mampu
dengan cara-cara yang lebih halus. Metodenya meskipun pura-pura akan segera
membawa kamu kepada kenyataan dan perasaan cinta sejati dan ketidak sabaran
akan mulai menggoncangkan hatimu.
Faktor yang paling penting
dalam kenyataan adalah kepercayaan diri dengan kemampuan dan kekuatan kita
untuk mencapai sukses. Ini tidak masuk akal untuk dipikirkan, bahkan untuk
sesaat, bahwa kita dalam banyak hal terlalu lemah atau kekurangan untuk
memperoleh keadaan sempurna tertinggi yang sejauh ini pernah dicapai bahkan
oleh orang suci yang paling besar di waktu lampau. Kita harus melangkah dijalan
kenyataan seperti seorang tentara yang berani dengan penuh kepercayaan dan
keyakinan, tidak menghiraukan kesulitan-kesulitan atau kemalangan-kemalangan.
Kekesalan dan kekecewaan melemahkan kemauan kita dan menghancurkan keteguhan
kita. Kita harus menerima kemalangan-kemalangan dengan hati yang berani dan
harus tidak pernah memberikan jalan terhadap perasaan patah semangat yang
merupakan kekurangan terburuk dan racun mematikan bagi kehidupan spiritual.
Satu dari hal-hal mendasar
dalam membuat seseorang ikut serta dalam pencarian spiritual adalah sikap tidak
berlebih-lebihan. Ini istilah yang luas sekali dan mencakup setiap bentuk
kegiatan manusia. Ini berarti seimbang dalam seluruh perasaan dan panca indera,
tidak ada yang lebih atau kurang daripada apa yang tentu saja dibutuhkan pada
saat itu untuk tujuan khusus tanpa meninggalkan kesan sedikitpun pada pikiran.
Biasanya, hari ini, kita mendapati sikap yang tidak berlebih-lebihan terganggu
dalam hampir setiap hal. Alasan utamanya adalah bahwa kita terikat dengan
kepentingan yang tidak semestinya apapun
itu yang muncul dalam pikiran dan kita memperkuatnya dengan paksaan terhadap
pikiran dengan akibat bahwa ini akan
berkembang lebih kuat melebihi yang lainnya. Kita mengembangkan kebiasaan ini dan menerapkannya pada hal-hal
yang berbeda dengan bermacam-macam kehebatan. Hasil yang mengikuti hanyalah
gangguan dan konflik batin dan ini merupakan sebab utama dari seluruh persoalan
dan kesengsaraan kita. Kenyataan tidak memungkinkan kecuali sifat tidak
berlebih-lebihan dan keseimbangan dikembalikan. Ini cocok sekali dengan yang
sangat nyata yang ada pada waktu penciptaan, ketika segalanya ada dalam suatu
keadaan seimbang yang sempurna. Sekarang setelah selang beberapa waktu,
kemerosotan timbul perlahan-lahan. Perasaan-perasaan dan panca indera kita
hilang keseimbangannya dan segalanya berlangsung kacau balau. Apa yang sekarang
kita harus lakukan adalah mengontrol perasaan-perasaan dan panca indera kita
dengan maksud untuk mengembalikan sikap tidak berlebih-lebihan di dalam mereka.
Untuk memperoleh sikap tidak berlebih-lebihan kita harus memberikan perhatian
khusus pada jalan-jalan kehidupan di luar juga seperti lemah lembut dan bahasa
yang sopan, hubungan yang sopan, simpati dan cinta dengan sesama manusia,
penghormatan kepada yang lebih tua, sifat tidak balas dendam dan sebagainya.
Kebiasaan ini sangat membantu dalam pembentukan kita. Jika kita memperoleh
sikap tidak berlebih-lebihan yang sempurna kita ada di jalan yang sesuai dengan
alam dan ini adalah intisari dari spiritualiti.
Terakhir yang paling penting
dan cara-cara yang tidak dapat gagal untuk sukses adalah doa. Ini menyambungkan
hubungan kita dengan Tuhan yaitu kepada siapa kita menyerahkan diri kita dengan
cinta dan kesetiaan. Dalam doa kita ada dihadapan Dia sebagai pemohon yang
rendah hati menyampaikan kepada Dia keadaan kita yang sebenarnya dan sepenuhnya
menyerahkan diri kita kepada kehendakNya. Ini bentuk doa yang sesungguhnya dan
sebagai pengikut yang sesungguhnya kita harus juga merasa puas dengan Kehendak
Master. Adalah sebuah kebodohan berdoa kepada Tuhan untuk tujuan-tujuan duniawi
yang kecil kecuali dalam beberapa hal yang amat dikecualikan ketika kedamaian
pikiran sangat terganggu karena tidak adanya keperluan-keperluan yang paling
minimal saja. Kita harus selalu berdoa untuk Master yang Mahatinggi, Mahakuasa
dan Mahatahu dengan pikiran sepenuhnya terserap dalam cinta dan kepatuhan
kepada Dia melupakan bahkan diri kita seluruhnya. Ini jalan yang tepat dalam
membawakan doa dimana dalam keadaan seperti tersebut jarang yang tidak
berhasil. Saya telah menguraikan bahasan ini lebih panjang lebar dalam buku saya Commentary on Ten Commandments of Sahaj
Marg (Komentar tentang Sepuluh Usulan dalam Sahaj Marg).
Pada akhirnya saya dapat
juga menyadarkan pikiranmu bahwa ada bentuk-bentuk dan praktek-praktek berbeda
untuk mencapai yang terakhir. Mereka mungkin membawa kamu pada jalan kenyataan
dengan jarak tertentu, tetapi berapa jauh, saya tidak bermaksud untuk
mendiskusikannya disini. Saya menyerahkannya pada penilaian dan pengalaman dari
pembaca sendiri. Tetapi saya menjamin dengan positif bahwa Raja Yoga ini dan
hanya Raja Yoga yang dapat membawa kamu pada tujuanmu yang terakhir atau titik
tertinggi dari tujuan manusia dimana kamu berada dalam keselarasan yang
sempurna dengan alam, mengambil bentukmu yang tertinggi dan termurni. Tidak ada
bentuk atau praktek lain dapat menimbulkan hasil-hasil yang demikian. Oleh
karenanya perlu mempunyai penolong untuk
pengetahuan ini jika kamu mengarahkan pada titik tertinggi. Bantuan dan
dukungan dari pembimbing yang sungguh-sungguh bernilai tentu saja faktor yang
mendasar dan pada saat bersamaan menjadi problem yang serius hari ini juga,
tetapi pencari yang sesungguhnya, Saya menjamin kamu, tidak akan pernah gagal
untuk menemukan dia.
4
GURU
Setelah
mempunyai pandangan pada tujuan kita yang tertentu dan cara-cara yang tepat
untuk mendapatkannya, yang harus kita tinjau berikutnya adalah menemukan tipe
orang yang benar sebagai pembimbing kita, seseorang yang dapat dengan sukses
membawa kita pada jalan kenyataan. Dalam segala hal (termasuk hal-hal yang
berhubungan dengan pencapaian duniawi), kita memerlukan bantuan dari seorang
pembimbing yang berkemampuan. Bagaimanapun, ini memungkinkan bahwa setelah
memperoleh beberapa pengetahuan, kita dapat meneruskan lebih jauh dengan usaha
kita sendiri. Tetapi walaupun demikian kita harus tergantung pada pengalaman
guru-guru dimasa lalu yang dimuat di dalam buku-buku dan tulisan-tulisannya. Di
dalam spiritualiti masalahnya sebaliknya. Kebutuhan akan seorang Guru atau
Master, tumbuh semakin besar dan besar selama kita semakin maju dan memperoleh
tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Dalam hal ini buku-buku tidak berguna
bagi kita. Buku-buku mungkin membantu kita untuk memperoleh pengetahuan luarnya
tentang sesuatu yang memungkinkan kita untuk menyampaikan ceramah-ceramah
dengan fasih bicara tentang topik-topik spiritual dan untuk memenangkan
argumen-argumen, tetapi tujuan praktis dalam spiritualiti hanya melalui
buku-buku adalah tidak mungkin. Praktek Yoga dan Sadhanas berdasarkan pengetahuan
yang diperoleh melalui buku-buku kebanyakan menyesatkan dan bahkan berbahaya
bagi perkembangan spiritual kita. Hanya bantuan yang mendukung dari pembimbing
yang berkemampuan yang dapat membawa kita naik pada tujuan kita. Dikatakan
tentang Maulana Rumi, seorang penyair dan pengarang delapan belas buku tentang
spiritualiti dari Persia yang terkenal, suatu ketika dia mendekati seorang suci
yang besar untuk menerima pelatihan spiritual darinya. Orang suci itu meminta
dia agar membuang semua buku-bukunya ke dalam sungai, jika dia ingin memperoleh
pelatihan yang berguna dari orang suci. Karena ini buat dia berarti hilang
hasil kerja sepanjang hidupnya dia tidak menyetujui untuk melakukannya.
Beberapa kali dia mendekati orang suci dengan permintaan yang sama tetapi
memperoleh jawaban yang sama. Tidak menemukan alternatif lain, pada akhirnya
dia menyerah pada keinginan orang suci, melemparkan semua tulisan-tulisannya ke
dalam air dan menjadi murid orang suci. Kenyataan yang sebenarnya muncul hanya
setelah pelatihan di dalam dunia praktek, dan untuk itu, pengetahuan atau karya
ilmiah menunjukkan bantuan yang kecil.
Bantuan
dari seorang Guru atau Master, oleh karenanya merupakan hal mendasar dan sangat
diperlukan bagi mereka yang sibuk dalam pengejaran spiritual. Bagaimanapun, ada
beberapa hal, dimana orang-orang suci memperoleh kesempurnaan hanya dengan
usaha sendiri, menyerahkan dirinya langsung kepada Tuhan. Tetapi contoh-contoh
seperti tersebut jarang terjadi. Ini sebuah jalan yang benar-benar sulit dan
dapat diikuti hanya oleh orang-orang, yang diberikan hadiah khusus dengan bakat
yang luar biasa. Guru adalah saluran penghubung antara Tuhan dan manusia. Hanya
melalui perantaraannya kita dapat mencapai Tuhan. Hanya dialah kekuatan yang dapat
melepaskan kita dari keruwetan-keruwetan Jalan. Selama langkah spiritual kita,
kita harus melewati macam-macam titik-titik, yang dikenal sebagai Chakras
(dinamakan ibarat teratai). Titik-titik ini adalah pusat dari tenaga yang
dipusatkan atas Kekuatan Suci yang Nyata
diwariskan kepada manusia. Mereka berada di tempat-tempat berbeda di
dalam tubuh manusia. Ruang penghalang antara dua titik diberikan ciri sebagai
sebuah jaring dijalin oleh banyak sekali serat-serat yang berbelit-belit.
Selama kita maju kita harus melewati libatan lapisan-lapisan penghalang ini.
Kita harus tinggal disana untuk waktu yang lama untuk melengkapi Bhog. Bhog
tidak hanya berarti menjalani akibat dari tindakan-tindakan kita di waktu
lampau tetapi ini sungguh-sungguh berarti melewati proses membuka
keruwetan-keruwetan titik dimana kita telah sampai disana. Menetapnya kita pada
titik-titik ini untuk tujuan Bhog sering sangat panjang dan dalam banyak hal
hampir tidak mungkin melepaskan diri darinya hanya dengan usaha sendiri.
Bagaimanapun hal ini dimungkinkan pada beberapa tingkat permulaan tetapi
setelah itu menjadi sungguh tidak dapat dilaksanakan. Ini sudah diperhatikan
bahwa kebanyakan orang-orang suci masa lalu yang telah mencobanya hanya dengan
usaha sendiri, tetap melekat selama hidupnya pada tingkatan pertama sekali atau
tingkatan kedua dan tidak dapat melewatinya. Kenyataannya adalah pada tingkatan
yang agak maju kita harus menghadapi apa yang mungkin dinyatakan sebagai
kondisi licin dari suatu tempat. Disana kita dapat kadang-kadang naik ke atas
sedikit tetapi segera merosot kembali. Sesuatu yang sama terjadi lagi dan
terjadi lagi dengan akibat bahwa mendaki lebih tinggi menjadi sulit dan hampir
tidak dapat dilaksanakan. Dalam keadaan itu hanya sebuah dorongan sepenuh
tenaga oleh Master yang berkemampuan yang dapat membawa kita keluar dari
pusaran air tersebut. Jika Master tidak kekurangan kekuatan dan kemampuan, dia akan dengan
tenaganya sendiri, mendorong muridnya naik keluar dari libatan dan menempatkannya di tingkat yang lebih
tinggi. Oleh karenanya, ini penting bahwa pembimbing yang kita pilih haruslah
seseorang yang berkemampuan paling tinggi dan mampu melakukan tugas untuk
merobek keruwetan-keruwetan pada pandangan sekilas dengan bantuan kekuatan yang
luar biasa dibawah kekuasaannya. Ini hanya terjadi pada seseorang dimana
dirinya sendiri telah memperoleh kesempurnaan atau peniadaan dirinya
sepenuhnya. Karena itu kita harus menghubungkan diri kita dengan sebuah
kekuatan sedemikian besar dengan perasaan cinta dan daya tarik. Tidak jadi
masalah konsep apa yang kita miliki di dalam pikiran kita tentang dia. Kita
mungkin memanggil dia teman, Master, pembantu atau apapun yang kita senang
memilihnya. Tetapi bagaimanapun dia tetap pembimbing atau Guru kita, seperti
yang biasa dia dipanggil.
Sayangnya,
sekarang ini pemilihan atas pembimbing yang layak sangat diabaikan, meskipun
setiap orang Hindu beriman percaya bahwa kewajiban dia untuk memiliki seorang
Guru dengan tujuan untuk memuaskan kebutuhannya akan manfaat spiritual. Biasanya
orang memilih seseorang untuk suatu tujuan tanpa memperhatikan akan
kemampuan-kemampuan atau nilainya. Orang-orang dibujuk kebanyakan oleh bujukan
atau keajaiban yang diperlihatkan oleh mereka yang dipanggil sebagai Guru-guru
untuk menarik perhatian dari masyarakat yang polos. Pemburu-pemburu murid-murid
tidak sedikit. Mereka banyak sebanyak daun-daun sebuah pohon, bagi kebanyakan
dari mereka posisi sebagai Guru (Gurudom) adalah sebuah pekerjaan yang sangat
menguntungkan, yang dapat memperoleh penghasilan besar sekali dimana jika tidak
mereka tidak dapat berpenghasilan. Disamping itu perintah mereka sangat
dihormati dan ada pelayanan pribadi dari murid-muridnya. Sehingga masyarakat
yang polos jatuh siap dimangsa bagi pencari-pencari diri yang profesional.
Sebuah keajaiban kecil sekali atau sebuah pertunjukan biasa atas sesuatu yang
mempesona atau menarik cukup untuk menarik ratusan domba-domba bodoh ini masuk
ke dalam Gurudom mereka. Sebuah ancaman kecil dengan mengucapkan kutukan
terhadap seseorang yang kebetulan saja tidak menyenangkan bagi mereka, dapat
membawa beribu-ribu orang kedalam kepatuhan yang rendah (hina). Tidak hanya ini
tetapi dengan maksud untuk memastikan monopoli profesi mereka, mereka
menyatakan bahwa tidak satupun selain orang dari golongan tinggi yang mempunyai hak untuk menjadi seorang
guru, apakah dia mungkin seorang Sannyasin (orang yang meninggalkan hidup) atau
seorang berumah tangga. Mereka menyatakan sebagai guru-guru agama dunia sejak
lahir, terlepas dari kemampuan dan nilai mereka. Sannyasins juga, akan kamu
temukan akhir-akhir ini dalam banyak laga sebagai Mahatmas dan mengakui sebagai
Jagat Gurus (guru-guru dunia). Bukankah ini kasihan, mendapati tipuan-tipuan
profesional seperti itu, adalah sesuatu yang memalukan bagi bangsa dan agama,
berjalan berkeliling dengan tanpa hukuman sama sekali untuk menipu dan
mencurangi orang-orang bodoh, dengan maksud untuk melayani kepentingan-kepentingan diri mereka sendiri ?
Inilah
saat puncak bagi masyarakat untuk membuka mata mereka dan melihat malapetaka
apa yang telah mereka buat. Gurudom sebagai sebuah monopoli dari golongan yang
mempunyai hak istimewa hanyalah suatu keadaaan yang bukan-bukan, yang
diperkenalkan oleh guru-guru profesional untuk melindungi
kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Prinsip terkenal yang dipercaya adalah
seorang murid tidak akan pernah dapat memutuskan hubungan suci dengan Gurunya
dalam keadaan apapun, ini juga sebuah muslihat licik yang dipakai oleh
Guru-guru palsu itu untuk membuat posisi mereka aman dan terjamin dan ini
hanyalah sebuah penipuan. Praktek untuk memulai sebagai seorang murid (meskipun
benar-benar didasarkan pada prinsip yang kuat ) telah banyak disalah gunakan
oleh kebanyakan profesional-profesional modern yang tidak mengerti
kepentingannya dengan benar. Fungsi mereka sebagai seorang Guru hanyalah untuk
membisikkan beberapa kata-kata gaib kedalam telinga muridnya pada saat memulai
dan mengatakan kepada mereka untuk mengikuti praktek-praktek upacara tertentu
dalam pemujaan. Kewajiban guru terhadap
murid berakhir disitu dan tidak ada yang tersisa pada guru untuk melakukan
perbaikan bagi murid kecuali memberikan kepada muridnya Darshan setiap tahun
dan menerima penghormatan tahunan dari muridnya. Sebenarnya seorang murid harus
dimulai secara resmi hanya ketika kepercayaan yang sesungguhnya ada di dalam
dirinya dan cinta Suci berakar utama di dalam hatinya. Permulaan menandakan
bahwa hubungan murid telah tersambung dengan Kekuatan Tertinggi. Dalam hal ini
tenaga spiritual mulai mengalir kepada murid secara otomatis menurut
kemampuannya menyerap yang dia kembangkan di dalam dirinya. Ini sangat
tergantung pada kekuatan dan kemampuan Master untuk mengadakan suatu hubungan
yang kuat dimana diperlukan kemampuan yang tinggi. Sebuah hubungan yang kuat saat terbentuk
harus berlangsung terus menerus selama murid belum memperoleh pembebasan yang
mana dalam hal ini bukanlah suatu keadaan yang jauh untuk dicapai setelah
menjalani beberapa kali kehidupan. Sesungguhnya jika seorang murid dimulai
dalam arti yang benar seperti yang disebutkan di atas oleh seorang Guru yang
berkemampuan tinggi, persoalan tentang memutuskan hubungan dengan dia tidak akan pernah muncul. Tetapi,
bagi Guru-guru profesional yang melakukan permulaan pura-pura untuk menyediakan
keperluan mereka, ini adalah suatu keadaan kegelisahan yang terus menerus. Oleh
karena itu, dengan maksud untuk menjaga seorang murid tetap dalam cengkeraman
guru, guru menyatakannya sebagai ketentuan Tuhan bahwa murid akan menerima
semua penderitaan-penderitaan di neraka jika murid pernah berpikir untuk
memutuskan hubungan dengan guru setiap saat. Orang-orang yang kurang mengerti
menerimanya sebagai kebenaran mutlak, gemetar bahkan dalam pikiran untuk
melakukan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan Guru mereka. Jadi murid
selalu mencoba bertahan dengan segala kekejaman Guru dalam ketundukan dengan
tidak dapat menyangkal. Saya yakin, tidak ada sedikitpun tanda tentang akibat
ini yang ditemukan dalam Shastras (buku suci) kita. Ini hanyalah sebuah akal
bulus dari pihak guru-guru agama. Saya menganggap adalah hak sejak lahir bagi
setiap orang untuk melepaskan diri dari Gurunya setiap saat jika dia mendapati
bahwa dia telah membuat pilihan yang salah atau salah dalam menilai kemampuan
atau nilai dari Guru. Dia juga bebas untuk mencari Guru lain jika pada tingkat
tertentu dia mendapati bahwa Gurunya tidak mempunyai kemampuan untuk membawa
dia melebihi apa yang telah dia peroleh. Disisi lain seorang Guru yang
sesungguhnya harus dari dirinya sendiri, dalam keadaan ini, menunjukkan kepada
muridnya agar mencari yang lain, yang lebih maju dan memenuhi syarat yang lebih
baik, sehingga muridnya dalam banyak hal tidak menderita untuk berkembang. Ini
adalah tugas mulia dari seorang Guru sejati dan tidak mementingkan diri
sendiri. Jika, biarpun, ijin untuk melepaskan diri yang dicari oleh murid,
disangkal oleh Guru karena alasan-alasan
kepentingan diri sendiri, murid bebas untuk melepaskan diri darinya
seketika dan mencari yang lain. Tidak ada moral atau undang-undang keagamaan
yang melarang murid untuk melakukannya.
Sedikit
kemajuan diantara golongan Guru-guru yang dianggap sebagai orang-orang yang
mengajar dan berkotbah dengan dasar pengetahuan mereka tentang Shastras dan
buku-buku suci lainnya. Mereka membentuk organisasi-organisasi dan Asrama
dimana mereka menikmati posisi sebagai seorang raja diantara
pengikut-pengikutnya. Mereka keluar dan berpidato di depan banyak orang
mengatakan kepada mereka apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh
dilakukan dan menjelaskan kepada mereka persoalan tentang Maya, Jiva dan Brahma
(sumber). Beribu-ribu orang berkumpul kepada mereka untuk mendengarkan
kotbah-kotbah mereka, memuji pikiran-pikiran mereka yang tinggi dan pengetahuan
yang luas dan memandang mereka sebagai Mahatma
yang besar atau orang suci. Orang-orang bertanya kepada mereka banyak
pertanyaan-pertanyaan yang rumit dan
jika mereka mampu menjawab pertanyaan orang-orang tersebut diluar pengetahuan
yang mereka ketahui tentang Shastras kebesaran mereka sebagai Mahatma terbentuk
di dalam pikiran-pikiran orang-orang dan orang-orang termotivasi untuk menerima
mereka sebagai Guru. Tetapi dengan demikian sebenarnya yang mereka peroleh,
adalah orang menguji pengetahuan mereka dan bukan nilai yang sesungguhnya. Ini
harus disimpan baik-baik dalam pikiran bahwa bukanlah pelajaran atau
pengetahuan yang membuat seseorang sempurna tetapi hanyalah kenyataan dalam arti yang benar yang
membuat seorang Peyoga sejati atau orang suci. Bisa saja orang yang telah meninggalkan
kesan bagi kamu dengan bentuk luarnya, pelajaran atau kepandaian bicara,
mungkin ada ditingkat yang paling rendah berkenaan dengan pencapaian-pencapaian
nyata. Oleh karena itu, pengetahuan bukan ukuran sebagai Mahatma atau Peyoga
sejati. Sama halnya ujian yang sesungguhnya bagi seorang Mahatma atau Guru
bukanlah keajaiban-keajaiban atau cara-cara dan sikap-sikapnya yang luar biasa
tetapi hanyalah pencapaian-pencapaian nyatanya pada jalan untuk menyadari
kenyataan. Arti yang terkenal dari
seorang Mahatma sebagai pribadi yang besar
kelihatannya tidak menarik bagi saya. Saya menetapkan seorang Mahatma
sebagai orang yang paling diremehkan atau lebih sebagai tokoh yang dilupakan,
melebihi semua perasaan-perasaan kebesaran, kebanggaan atau ego, tinggal dengan
tetap dalam keadan pengabaian diri sepenuhnya. Ada beberapa yang mempunyai
pandangan bahwa pengetahuan sebagai tingkat pendahuluan atas kenyataan adalah
sesuatu yang harus ada dan sangat diperlukan.
Saya
tidak setuju dengan mereka yang dengan dasar bahwa pengetahuan hanyalah sebuah
pencapaian otak sedangkan kenyataan adalah membangunkan jiwa dan karena itu
jauh melebihi pengetahuan. Dalam buku-buku ilmu pengetahuan spiritual kita
banyak membaca tentang kondisi pikiran pada macam-macam tingkatan spiritual dan
diperkenalkan dengan kondisi-kondisi tersebut tetapi sehubungan dengan
pencapaian-pencapaian nyata, kita jauh sekali dari kondisi-kondisi tersebut.
Kita dapat bicara pada orang tentang kondisi-kondisi itu, memajukan
argumen-argumen untuk dan terhadap mereka dan memperlihatkan keunggulan kita
dalam belajar tetapi di dalam batin kita sungguh melupakan mereka. Kita
menghadiri ceramah-ceramah dan mendengarkan kotbah-kotbah dari Gita, kita
mengulang-ulang bagian-bagian dari Gita secara teratur setiap hari, kita
membaca penjelasan-penjelasan yang ditulis oleh orang-orang besar terpelajar
tetapi dengan cara demikian apa hasil nyata
yang diberikan kepada kita? Adakah diantara kita yang memperoleh kondisi
seperti yang digambarkan di dalamnya (pencipta)? Biarpun mereka mengulang
kata-kata “Dunia adalah Semu, Manusia adalah Brahma” dan sebagainya, tetapi
didalam batin mereka sangat tidak sadar dengan apa yang mereka katakan dalam
kata-kata. Tidak ada satupun yang dapat mengembangkan kondisi seperti yang
dibicarakan disana, seperti yang Arjuna lakukan ketika dia mendengar dari Lord
Krishna. Gita seperti yang kita miliki saat ini sesungguhnya penjelasan tentang
apa yang Lord Krishna bicarakan pada Arjuna pada malam perang Mahabarata. Lord
Krishna sebenarnya mentransmit keadaan-keadaan, dijelaskan dengan kata-kata
yang keluar dari mulut masuk kedalam hati Arjuna dengan hasil Arjuna
sungguh-sungguh merasakan kondisi yang sama meliputi segalanya, kedua-duanya di
dalam dan di luar. Itulah, bahwa setiap kata yang dia dengar turun langsung ke
hatinya menghasilkan sebuah hasil yang permanen. Penyebab kegagalan dari
Guru-guru dan pengkotbah modern atas Gita untuk menghasilkan hasil yang
diinginkan terhadap pikiran dari pendengar adalah tidak adanya kekuatan untuk
mentransmit kondisi-kondisi itu. Macam-macam kondisi pikiran yang dibicarakan
dalam Gita adalah benar-benar tingkatan-tingkatan berbeda yang seseorang
melewati selama langkahnya pada jalan spiritualiti. Mereka berkembang secara
otomatis dari dalam dirinya. Cara formal yang diambil untuk memperoleh keadaan
pikiran tertentu pada tingkat sebelum waktunya menambah kekotoran di dalam yang
merusak kemajuan kita.
Seorang
guru sejati bukanlah seorang yang dapat menjelaskan kepada kita kekuatan dari
ajaran-ajaran agama atau seorang yang dapat menentukan bagi kita apa yang harus
dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Hampir setiap orang dari kita
cukup mengetahui hal tersebut. Apa yang sungguh kita butuhkan dari seorang guru
adalah dorongan hati sejati untuk membangunkan
jiwa dan dukungan langsung darinya selama langkah kita yang lebih jauh pada
jalan kenyataan. Orang seperti itu yang harus kita cari, jika kita bertujuan
untuk sukses. Oleh karenanya ini bukti bahwa ketika menilai seseorang untuk
pembimbing spiritual kita, kita harus mengingat bukan pada ajarannya atau
keajaiban-keajaibannya tetapi pada pencapaian nyatanya dalam bidang kenyataan.
Seseorang yang di dalam dirinya sendiri bebas dapat membebaskan kamu dari
keterikatan abadi. Jika Gurumu tidak bebas dari ikatan Samskaras, Maya atau
Ahankar (ego) tidaklah mungkin bagi dia untuk membebaskan kamu dari
ikatan-ikatan itu. Seandainya kamu diikat pada satu galah dan Gurumu pada galah
lainnya, bagaimana mungkin bagi Gurumu untuk membebaskan kamu dari ikatan.
Hanya seorang yang dirinya bebas dapat melepaskan kamu dari ikatan. Dalam
banyak hal, orang tersesat karena mereka telah menyerahkan diri mereka sendiri
pada bimbingan guru-guru yang tidak bernilai, yang motif utamanya mungkin hanya
untuk membesarkan diri saja atau untuk keuntungan pribadi. Dengan pandangan ini
di dalam pikiran mereka biasanya didapati bahwa mereka ingin sekali menjaga
posisi dan martabatnya dengan tuntutan yang palsu. Bagi mereka mungkin kejutan terbesar terhadap
kebanggaan atas kekuatan dan posisi mereka mengetahui keunggulan orang lain
lebih maju atau pencapaiannya lebih baik. Ini hanyalah Ahankar dalam bentuk
yang paling kasar. Jika kamu menyerahkan dirimu sendiri pada seorang Guru
seperti itu, kamu pasti mewarisi perasaan kebanggaan yang sama yang mana
merupakan bentuk kekotoran yang paling buruk dan pasti merintangi kemajuan
spiritualmu. Pembebasan tidak pernah memungkinkan selama kejahatan ini ada.
Sebenarnya spiritualiti adalah suatu keadaan pikiran yang halus sekali dimana
setiap benda lainnya akan kelihatan lebih berat atau kotor dibandingkan dengan
itu. Perasaan lembut yang disebabkan karena wangi harum dari sebuah mawarpun
jauh lebih kasar. Saya mungkin menggambarkannya sebagai suatu keadaan
ketenangan dan keadaan yang tidak dilebih-lebihkan yang sempurna., dalam
keserasian sempurna dengan alam. Dalam keadaan pikiran ini semua perasaan dan
panca indera demikian dikatakan, dalam keadaan tidur (atau tidak aktif).
Pekerjaan mereka menjadi otomatis, tidak menanggung impresi terhadap pikiran.
Kedamaian yang sempurna adalah satu dari tingkatan-tingkatannya tingginya,
meskipun sesuatu yang nyata masih jauh di depan, ketika bahkan kesadaran akan
kedamaian, tidak ada. Kesadaran akan kedamaian, juga menyebabkan beban terhadap
pikiran, meskipun ini sangat tidak berarti. Saat kita sangat tidak menyadari
adanya kedamaian, kita ada dalam keadaan benar-benar bebas dari impresi atau
beban perasaan. Kondisi pada tingkatan ini khas. Ini sungguh-sungguh bukannya Anandam (kebahagiaan) bukan pula
sebaliknya.
Kata-kata tidak dapat untuk menyatakan kondisi nyata dari tingkatan
ini. Kondisi seperti ini yang pada akhirnya kita harus capai dimana dia dan
hanya dia yang dapat menjadi Guru yang berkemampuan, yang secara tetap tinggal
dalam kondisi yang digambarkan di atas, dan yang mempunyai kekuatan dan kemampuan
untuk mentransmit dengan keadaan kekuatan spiritualnya masuk ke dalam hati
Abhyasi dan untuk mengeluarkan keruwetan-keruwetan dan gangguan-gangguan dari
hati. Tidak ada satupun di bawah tingkatan ini yang pantas untuk memberikan
latihan spiritual kepada orang lain.
Ini
sebuah persoalan penyesalan dan kasihan yang paling besar bahwa sejak jaman dahulu proses transmisi
Yoga yang mula-mula dan luas dipraktekkan oleh orang-orang suci kita yang kuno
sekarang telah hilang dilupakan seluruhnya di tanah asalnya, dimana saat ini,
hanya beberapa orang yang mungkin merasakan bahkan cenderung percaya. Beberapa
orang mencoba mentertawakannya dengan salah menafsirkannya hanya sebagai
sesuatu yang memikat atau ilmu sihir. Saya telah menjelaskan hal ini dalam buku
saya Efficacy of Raja Yoga. Disini saya dapat menjamin kamu bahwa latihan
spiritual untuk pencapaian tingkat yang lebih tinggi hanya memungkinkan dengan
perkembangan transmisi Yoga dan bukan dengan cara-cara lainnya. Seringnya
menyebut proses ini, dalam masyarakat
yang merupakan orang-orang berpendidikan saat ini, telah membuat guru-guru
agama tertentu, sekarang, untuk mempertahankan ketidak cakapannya dalam hal ini
dengan menjelaskan kepada orang-orang bahwa tidak ada yang khusus tentang
transmisi. Ini biasa terjadi, saat kamu bersama dengan seorang Mahatma atau
seorang suci, bahwa sampai tingkat tertentu terlepas dari pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaanmu yang mengganggu merasa tenang untuk beberapa saat. Mereka
menegaskan hal ini disebabkan karena akibat transmisi dari Mahatma. Mereka yang
memberikan keterangan ini, bermaksud hanya untuk menipu masyarakat dengan
sebuah gambaran untuk menutupi ketidak mampuan mereka. Apa yang mereka
tafsirkan sebagai transmisi sebenarnya radiasi otomatis dari kesalehan
Paramanus (butir-butir halus) dari Mahatma. Ini mempengaruhi semua yang
berkumpul disana dengan hasil bahwa ketenangan terjadi sedemikian sampai
sepanjang mereka ada disana. Ini hanya sebuah proses alami dan tidak ada
apa-apa dengan transmisi. Ini bukan hanya dari seorang Mahatma atau orang suci
bahwa Paramanus demikian (butir-butir halus) memancar tetapi juga dari setiap
orang apakah suci atau jahat, saleh atau jahanam. Jika kamu untuk beberapa saat
berada dengan seorang yang tidak suci atau orang yang moralnya rendah kamu
mendapati persamaan Paramanus yang tidak suci memancarkan dari dia dan
mempengaruhi kamu, dengan hasil bahwa kamu mendapati pikiran kamu mengalir
dalam saluran yang sama untuk sesaat. Akibat dari radiasi tersebut tetap hanya
untuk sesaat dan menghilang ketika kamu jauh darinya. Inilah alasan mengapa
sering guru-guru agama ditemukan membuat keluhan-keluhan tentang orang-orang
yang acuh tak acuh untuk mengikuti apa yang mereka ajarkan kepada orang-orang
tersebut. Guru-guru mengatakan kepada orang-orang, ketika orang-orang pergi
setelah mendengar Upadesh (kotbah)
mereka membuang semua apa yang telah mereka dengar saat itu juga tidak
menyimpan apapun didalam pikiran mereka. Saya pikir ini bukanlah orang-orang
tetapi guru atau Upadeshak (Pengkotbah)
yang benar-benar harus disalahkan, karena dia tidak mempunyai kemampuan atau
kekuatan untuk mentransmit apa yang dia maksud untuk diajarkan dari
panggung/tempat Guru berbicara. Pemandangan yang sama digambarkan dalam
hubungannya dengan perbuatan-perbuatan Sankirtan. Lingkungan yang tenang
diciptakan pada saat itu dinyatakan sebagai akibat dari efek transmisi. Ini
benar-benar hasil dari getaran-getaran yang dihasilkan oleh suara nyanyian
dalam sebuah paduan suara. Kita mengalami hal yang sama di semua pesta-pesta
musik yang kita hadiri. Pada kesempatan demikian pikiran kita hampir ditujukan
pada satu dan hal yang sama yang ada dalam pandangan kita, dan kita untuk
sesaat, tidak memikirkan hal-hal lainnya. Dalam Sankirtan, saat pikiran kita
ditempatkan pada tujuan yang saleh kita mulai merasakan hal yang sama di dalam
hati kita secara otomatis. Tidak ada hubungan apa-apa dengan transmisi.
Kekuatan transmisi adalah sebuah pencapaian Yoga atas standar yang sangat
tinggi dimana seorang Peyoga dapat menanamkannya dengan kekuatan kemauannya
sendiri, energi Yoga atau pancaran Ketuhanan di dalam seseorang dan melepaskan
segalanya yang tidak diinginkan di dalam dia atau mengganggu perkembangan
spiritualnya. Dia dapat melatih kekuatan ini bukan hanya pada orang-orang yang
berkumpul di sekitar dia tetapi juga pada orang-orang yang jauh dari dia.
Kekuatan dapat dipergunakan dalam cara apapun setiap saat. Seseorang yang telah
menerima kekuasaan atas kekuatan ini dapat dengan sekejap mata, menciptakan
sementara atau secara tetap, sebuah kondisi pikiran yang jauh dimuka dari
kondisi yang ada dari pikiran seorang Abhyasi yang mana jika tidak, akan
memerlukan selama hidup untuk dicapai. Ini bukan hanya sebuah pernyataan yang
sia-sia tetapi sebuah kenyataan yang sesungguhnya dan dapat setiap saat
benar-benar dibuktikan oleh seorang yang ingin membuktikannya. Orang-orang suci
sering, melalui kekuatan transmisi merubah seluruh sifat seseorang hanya dengan
sekejap mata. Contoh-contoh yang sangat bagus dari orang-orang suci besar
seperti Master saya, Samartha Guru Shri Ram Chandraji Maharaj of Fatehgarh
(Lalaji), Swami Vivekananda dan lain-lainnya memberikan banyak bukti tentang
hal ini.
Pemecahan
persoalan pada orang macam apa yang harus dipilih sebagai seorang pembimbing
atau Guru tidaklah sulit dicari. Ketika
mata kita ditetapkan pada tujuan akhir, kita tidak pernah puas terhadap seseorang yang muncul dengan kurangnya tanda
sasaran. Setiap orang suci atau Yogi mempunyai tingkat pencapaian dan
peninggian diri. Jika kita mengikatkan diri dengan salah satu dari mereka
dengan kepercayaan dan kesetiaan dan memperoleh penyatuan dengan kondisinya
yang tertinggi, diri kita sendiri
memperoleh peninggian yang sesuai. Oleh karena itu, adalah benar-benar
perlu untuk menyeleksi seseorang yang pencapaiannya tertinggi sebagai Guru
kita. Sayangnya jika kita dengan apapun caranya menyebabkan memilih seseorang
yang pencapaiannya rendah mutunya kita akan bersamaan pula ketinggalan
dibelakang tujuan akhir kita. Biasanya seorang guru spiritual tidak pernah
menganggap dirinya sendiri cocok untuk melatih orang lain, kecuali dia telah
memperoleh pencapaian paling sedikit sampai pada Brahmand Mandal (juga dikenal
sebagai Virat Desh) dimana segalanya
muncul dalam bentuk yang halus, sebelum segalanya itu benar-benar mengambil
tempat di dalam dunia material ini. Ketika seorang guru menghubungkan dirinya
dengan tingkatan atau lingkungan tersebut, dia terus menerus berhubungan dengan
gudang tenaga yang tidak habis-habisnya. Di sisi lain jika seseorang menerima
pekerjaan melatih orang lain dalam hal spiritualiti sebelum memperoleh tingkat
ini, dia tidak hanya mulai kehilangan kekuatannya sendiri tetapi dicemari
dengan Samskaras dan kekotoran dari mereka yang dia latih, dengan akibat bahwa
dia sendiri segera menjadi rusak. Di dalam misi kita ijin untuk memberikan
latihan biasanya tidak diperbolehkan pada tingkatan ini. Sungguh seseorang yang
cocok untuk pekerjaan melatih hanya ketika dia tidak mempunyai di dalam hatinya
sedikitpun kesan sebagai seorang Guru. Saya percaya jika gambaran sebagai
seorang Guru melintas di pikirannya bahkan sekali di dalam hidup dia menjadi
tidak berharga sebagai seorang Guru untuk seluruh hidupnya. Adanya gambaran ini
menunjukkan bahwa dia menyenangi di dalam hatinya perasaan akan pentingnya atau
besarnya dirinya. Kesadaran sebagai seorang Master, jika dipelihara, segera
berkembang menjadi kebanggaan, bentuk yang paling kasar dari Ahankar, dan oleh
karenanya menghasilkan kerusakan-kerusakan, yang merupakan kekurangan yang
paling buruk dalam seorang Guru. Oleh karenanya perlu bagi seseorang untuk
membuang kejahatan-kejahatan ini sebelum dia menyatakan diri masuk ke dalam
lapangan sebagai seorang Guru. Tuhan
adalah Guru atau Master yang nyata dan kita mendapat Cahaya hanya dari Dia. Tetapi
ini sangat sulit bagi seseorang dengan pembawaan yang biasa untuk mendatangkan
inspirasi langsung dari Tuhan, kita mencari bantuan dari seseorang sesama
manusia yang telah mengadakan hubungan dengan Yang Mahakuasa. Ini menjadi bukti
bahwa jika seseorang menyatakan diri sebagai seorang Guru atau Master dia
sungguh merebut posisi yang sebenarnya hak Tuhan dan hal ini hanyalah
penghujatan. Oleh karena itu dia harus memperlakukan dirinya sendiri sebagai
pembantu Tuhan yang paling rendah, melayani manusia dalam nama Master yang
besar. Jadi tidak akan ada lagi ruang untuk Ahankar dan untuk
kejahatan-kejahatan yang dihasilkan dimana sayangnya akhir-akhir ini terlalu
sering terjadi. Kenyataan adalah lupa sepenuhnya dimana kejahatan-kejahatan ini
ada. Seorang Guru oleh karena itu harus membuang dari hatinya bahkan sekecilpun
perasaan atas kebesaran dan keunggulan dan menganggap dirinya sebagai anggota
manusia atau pembantu manusia yang paling rendah. Kenangan akan Master saya
yang terpuja adalah sebuah contoh. Sepanjang hidupnya dia memperlakukan
anggotanya sebagai saudara. Gambaran bahwa mereka adalah murid-muridnya tidak
pernah sekalipun melintas dipikirannya. Dia bahkan siap untuk menawarkan
pelayanan pribadinya bahkan kepada murid-muridnya dan sangat sering dia
melakukannya tanpa membiarkannya masuk dalam pengetahuan mereka. Saya pikir dan
merasa ini sesuatu yang perlu bagi seorang Guru untuk membuang posisinya
sebagai Master dan merasa dirinya sebagai seorang pembantu biasa bagi manusia.
Tuntutannya atas layanan pribadi dari murid-muridnya tidak mempunyai dasar
kebenaran kecuali dalam hal terdorong oleh keadaan yang benar-benar memaksa dan
itu juga hanya untuk sedemikian besar pada apa yang dia sendiri siap untuk
memberikan kepada murid-muridnya. Kebanyakan mereka yang dipanggil Guru-guru
akhir-akhir ini menganjurkan praktek tersebut, karena ini memberikan mereka
kesenangan pribadi dan memenuhi kesombongan mereka. Mereka mengatakan bahwa
dengan menyentuh kaki Guru atau memijat anggota badannya, aliran magnetis berjalan
langsung dari Guru kepada murid yang membantu murid dengan membentuk samskaras
yang saleh. Jadi dengan praktek ini murid menarik ke dalam banyak kemurnian dan
kesalehan dari masternya. Ini mungkin benar, tetapi ijinkan saya bertanya
kepada mereka untuk sesaat apakah hal yang sama tidak mungkin jika Guru
memberikan pelayanan yang sama kepada muridnya. Saya pikir tidak ada satupun
yang dapat dengan berani mengingkari hal ini. Nyatanya kemudian motif
dibelakangnya hanyalah kesenangan dan ketenteraman pribadi. Menurut pendapat
saya yang sederhana prosesnya sekarang harus dibalik sesuai dengan kebutuhan
waktu (jaman) dan Guru harus membuat dirinya sendiri yang melayani
murid-muridnya. Sungguh posisi Guru sangat aneh. Jika dia merasa dirinya
sebagai seorang Master dan oleh karenanya jauh diatas anggotanya ini akan
menjadi sebuah Ahankar dengan tipe yang terburuk bagi seorang Guru. Ini sungguh
keinginan dari murid untuk menyediakan diri dalam melayani Gurunya dengan cinta
dan kesetiaan dan bukannya hak atau hak istimewa dari Guru yang membutuhkan
ini. Saya diingatkan akan sebuah contoh, seorang lugu suatu ketika mendekati
seorang Guru bertipe seperti demikian dan menawarkan untuk menjadi muridnya.
Guru itu sangat senang dengan harapan tambahan satu orang lagi dibawah
kekuasaannya sebagai Gurudom, mulai mengajari dia kewajiban-kewajiban seorang
murid. “Kamu harus,” dia berkata, “dengan penyerahan sepenuhnya kepada Gurumu,
mengurus setiap saat akan kebutuhan-kebutuhan dan tugas-tugas pribadinya. Kamu
harus membungkuk di depan dia setiap pagi dan malam dan tidur setelah Guru
tidur dan bangun sebelum dia bangun.” Orang malang ini mendapati dirinya tidak
mampu melakukan semua ini, dengan lugu bertanya : “Apa akibatnya jika saya
gagal melakukannya sangat tidak sesuai
dengan yang diinginkan ?” “Kamu akan dimatikan dan menemui ajal” jawabnya
dengan tegas. “Lalu, Tuan” dia menambahkan dengan sopan, “Kamu akan sangat
baik, jika kamu menerima saya sebagai seorang Guru.” Kita sering menjumpai
contoh-contoh iri hati dan percekcokan antara seorang Guru dengan muridnya.
Semua ini disebabkan karena apa? Ini disebabkan hanya karena kepentingan diri
sendiri atau keuntungan pribadi. Oleh karenanya seorang Guru harus sepenuhnya
bebas dari seluruh perasaan bangga atau besar. Dia harus seorang yang tidak
mementingkan diri sendiri dan sungguh-sungguh pelayan seluruh manusia,
mengajari orang-orang cinta suci tanpa motif-motif untuk diri sendiri yang
disembunyikan dalam nama, popularitas atau uang. Dia harus mempunyai jalan
masuk sampai pada batas terjauh yang memungkinkan dan harus mempunyai kekuatan
transmisi Yoga. Orang seperti itu yang kita harus cari, sebagai pembimbing jika
kita ingin sukses dengan sempurna. Lebih baik tanpa seorang Guru seumur hidup
daripada harus menyerahkan pada bimbingan guru yang tidak bernilai.
5
PELATIHAN
SPIRITUAL
Moral
kita sekarang dan keburukan beragama kebanyakan disebabkan oleh lingkungan dan
pelatihan kita yang salah. Pembentukan pikiran yang tepat diabaikan sama sekali
dalam semua tahap pendidikan dan pelatihan. Setiap usaha yang memungkinkan
dibuat untuk memelihara jenis pelatihan
duniawi yang benar dengan maksud
memungkinkan seseorang memperoleh suatu kehidupan yang layak dan menyenangkan,
tetapi pelatihan tepat yang diperlukan untuk kenyataan diri diabaikan
seluruhnya. Persoalan hidup yang penting ini, jikapun ada, perhatian yang
diberikan adalah paling kecil. Mengulang-ulang secara harian beberapa paragraf
puji-pujian terhadap Tuhan atau dewa atau mengikuti formalitas tertentu secara
otomatis dengan jalan memuja adalah cara yang diajarkan kepada semua masyarakat
untuk melakukannya. Mereka melakukan hal
itu untuk seluruh hidup mereka tetapi mungkin tanpa perolehan apapun.
Ketenangan di dalam diri masih tetap kurang bagi mereka. Aktivitas pikiran seperti
keinginan-keinginan, godaan-godaan dan emosi tiba-tiba keluar tetap seperti apa
yang ada sebelumnya. Tujuan utama dari pelatihan adalah orang harus mulai untuk
mengambil di dalam dirinya sendiri sifat-sifat ketuhanan sebanyak mungkin. Jika
ini tidak diperoleh sistim pelatihan menjadi rusak dan akibatnya tidak berguna.
Pembentukan yang tepat terhadap seseorang haruslah hasil yang alami atas jenis
pelatihan yang benar. Pembentukan yang tepat terdiri dari membentuk pikiran
yang benar dengan akibat adanya keseimbangan dalam penggunaan semua
perasaan-perasaan dan pancaindera kita. Jadi jenis pelatihan yang benar dibawah
bimbingan Master yang berkemampuan jelas sekali merupakan faktor yang paling
penting dalam pembentukan kita yang tepat yang mana tanpa hal itu pencapaian
yang lebih tinggi dalam spiritualiti tidak pernah memungkinkan. Apa yang
kebanyakan orang miliki, dalam satu dan lain hal adalah suatu kecondongan
menuju Tuhan, namun mereka yang berhasil menyadari Tuhan sangat jarang.
Penyebabnya adalah bimbingan yang buruk dan pelatihan yang salah yang membawa
seseorang jauh dari jalannya yang nyata dengan akibat dia akan kehilangan
selamanya. Sekarang bagi orang dengan kemampuan biasa merupakan tugas yang agak
berat untuk menilai apakah pelatihannya diarahkan dengan benar atau tidak.
Seseorang dengan patuh dan tidak dapat bertanya, mengikuti perintah-perintah
dari orang yang dia telah terima sebagai gurunya dan mempraktekkan menurut apa
yang Gurunya meminta dia untuk melakukannya. Ini sangat sulit bagi dia untuk
mengetahui dengan pasti apakah dia telah dibimbing sepanjang jalan yang benar
atau tidak. Ini persoalan besar dihadapan manusia dimana diri mereka sendiri
sungguh tidak peduli dalam hal-hal yang berhubungan dengan kenyataan. Kamu akan
menemukan banyak sekali guru-guru agama yang mengatakan kepadamu untuk tidak
makan bawang putih, bawang merah atau wortel dan menuntut kamu agar menjalankan
sadhana dan praktek-praktek yang tidak mempunyai arti nyata atau seratus hal
sepele lainnya yang tidak pernah membawa kamu bahkan satu langkahpun lebih
dekat dengan kenyataan. Ini bukanlah pelatihan. Guru-guru seperti itu
benar-benar menipu diri mereka sendiri dan juga orang-orang yang dia ajar. Kamu
harus yakin bahwa kecuali kedamaian di dalam diri, ketenangan pikiran,
kesederhanaan dan perasaan ringan mengikuti sebagai hasil alami dari
praktek-praktekmu, kamu maju pada garis yang salah dan dengan demikian
pelatihanmu menjadi rusak.
Metode
pelatihan spiritual yang biasa dipakai oleh kebanyakan guru-guru hari ini didasarkan
pada peraturan-peraturan yang sangat ketat dan sering tidak cocok dengan
kehidupan duniawi kita. Karenanya dalam
banyak hal mereka membuktikan ini tidak dapat dilaksanakan bagi mereka yang
menjalani kehidupan duniawi. Biasanya guru-guru membujuk orang-orang untuk
mempraktekkan pengendalian dengan memakai suatu bentuk kehidupan khusus
memutuskan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan duniawi dan mempraktekkan
kesetiaan untuk waktu yang lama. Jelaslah sebuah jenis pelatihan seperti itu
bukanlah untuk orang-orang secara umum yang tidak dapat memisahkan diri mereka
dari ikatan-ikatan duniawi atau mengabdikan waktu sedemikan banyak bagi
praktek-praktek ibadah mereka. Karena alasan inilah guru-guru berkotbah tidak menghasilkan hasil yang
diinginkan dan walaupun dengan usaha mereka yang terbaik, mereka gagal membuat
pengikutnya sesuai dengan yang diinginkan. Kenyatannya adalah mereka lebih
bersifat teori daripada praktek. Apakah memungkinkan bagi masyarakat untuk
meninggalkan dunia demi pembebasan? Tentu tidak. Lalu apa yang baik yang
orang-orang awam dapatkan dari ajaran-ajaran mereka? Beberapa diantara
guru-guru bahkan cukup berani untuk menyatakan pendapat mereka yang salah bahwa
pencapaian yang lebih tinggi di dalam spiritual tidaklah mungkin dicapai dalam
sebuah Grihasta Ashram (Asrama
keluarga) atau kehidupan berumah tangga. Ini sungguh berarti bahwa mereka tidak
mempunyai apa-apa untuk mengajarkan kepada orang awam kecuali mengatakan kepada
mereka beberapa hal yang bersifat luarnya saja seperti sering-sering mandi di
sungai Gangga, memberi makan ikan-ikan dengan pil tepung terigu atau membaca
kitab suci berulang-ulang. Persoalan nyata di depan kita adalah bukannya untuk
memberikan cara pelatihan spiritual atas beberapa orang terpilih yang telah meninggalkan
dunia tetapi atas orang-orang secara umum yang kewajiban-kewajibannya di dunia
selain ibadah yang bermacam-macam dan yang mana mereka tidak dapat
mengabaikannya dengan tenang. Nyatanya mereka gagal dalam tugas mereka jika
mereka mengabaikan satupun dari tugas-tugas mereka. Bagi mereka hal ini perlu
bahwa baik spiritual maupun kehidupan dunia harus berjalan berdampingan
sama-sama gemerlap dan untuk ini kita harus menemukan cara-cara yang tepat.
Oleh
karena itu pelatihan spiritual yang tepat, yang paling dekat dengan kehidupan
dunia sekarang. hanyalah satu-satunya cara yang diperlukan untuk pertumbuhan
spiritual orang-orang umum dan sayangnya sampai sekarang diabaikan. Untuk jenis
pelatihan seperti itu dalam banyak hal kita membutuhkan bantuan dari luar.
Bantuan ini datang dari Guru atau Master, yang hanyalah satu-satunya orang yang
mampu untuk menentukan nasib kita. Ketika bantuan ini datang, kehidupan
spiritual dibangunkan dan kekuatan jiwa yang lebih besar muncul untuk membantu
pertumbuhan kita.
Dorongan
hati demikian harus dicari dari seorang anggota kita yang berkemampuan tinggi,
yang mungkin bisa kita temukan, siap untuk memecahkan kesulitan-kesulitan kita
setiap saat. Pelaksanaan mencari inspirasi atau bimbingan dari tuhan-tuhan dan
dewa-dewa atau dari jiwa yang sudah keluar diperlakukan sebagai Guru atau
Master dalam banyak hal sangat berbahaya. Serupa dengan itu adalah persoalan
juga bagi mereka yang mencari bimbingan dari suara di dalam diri mereka,
demikian yang mereka sebut. Saya menemukan orang-orang yang memberikan
kepentingan terhadap suara di dalam mereka yang mereka pikir sebagai bimbingan
sesungguhnya bagi segala persoalan
membingungkan yang muncul dipikirannya. Kita mempunyai contoh-contoh nyata
dari orang-orang yang percaya pada apa yang mereka sebut suara di dalam atau
yang ditemukan telah menyesatkan dalam bidang spiritual. Sungguh apa yang
mereka pikir sebagai suara di dalam mereka atau sebuah dorongan hati dari jiwa
yang sudah keluar hanyalah permainan pikiran mereka yang tidak disiplin. Ini
praktek yang tidak diinginkan, jika diikuti untuk beberapa lama, membuat
pikiran menjadi begitu terlalu kuat dan terlalu aktif sehingga mulai untuk
bertanya dan menjawab sendiri. Inilah yang orang sering salah mengerti sebagai
tingkatan pencapaian Yoga dimana seseorang memerlukan kekuatan untuk saling
berkomunikasi dengan jiwa yang keluar. Mereka sungguh jauh dari itu (saling
berkomunikasi). Suara di dalam atau suara dari diri yang sesungguhnya tidak
diragukan tidak pernah menyesatkan, tetapi berapa banyak yang cukup maju untuk
menangkapnya. Kebanyakan dari mereka yang menyatakan mengikuti suara di dalam
sungguh tidak terdengar. Mereka hanyalah dibodohkan oleh kecenderungan
pekerjaan pikiran yang menakjubkan yang dapat menciptakan apapun dan segalanya
oleh pikiran itu sendiri. Ini bahkan dapat menghadirkan hantu-hantu yang sangat
menakutkan dalam gambaran mereka atau membuat mereka mendengar suara-suara aneh
di pohon atau batu. Semua ini disebabkan karena aktivitas pikiran di dalam,
ketidak disiplinannya dan keadaan yang kotor. Kecuali penutup atas Mal (ketidak murnian), Vikshep (kebingungan/gangguan) dan Avaran (lapisan-lapisan kekotoran)
dilepaskan dan pikiran dibawa pada ketenangan dan keseimbangan yang sempurna,
inspirasi atau bimbingan dari suara di dalam tidaklah berguna. Kebanyakan dari
mereka yang berlaga mengikuti suara di dalam atau mencari bimbingan dari jiwa
yang telah keluar, sesungguhnya
mengikuti perintah dari pikirannya yang tidak teratur dan tidak
disiplin. Ini hanyalah halusinasi. Jika kita mengembangkan kebiasaan buruk ini
kita akan kehilangan selamanya. Ini membawa kita pada ketakutan mental dan
godaan terus menerus. Saya mengetahui seorang laki-laki, menonjol diantara yang
disebut Bhaktas, yang menyatakan bahwa dia telah memperoleh hubungan langsung
dengan jiwa dari Tulsidas, pengarang buku
Ramayana, yang dia terima sebagai Gurunya. Dia terus menerus untuk beberapa
saat merasa gembira atas pencapaiannya yang disangka benar. Kemudian, sebuah
perselisihan paham muncul diantara dia dan Gurunya di surga yang segera
berkembang menjadi pertengkaran pahit dimana karena pertengkaran tersebut dia
sering berkata, bahwa dia terus menerus dipukuli atau diganggu secara mental
dengan akibat keseimbangan mentalnya hampir hancur dan dia merasa sangat
sengsara. Setelah dua tahun bekerja keras terhadap dia, dia dapat disembuhkan
dari persoalan tersebut. Kemudian dia mampu untuk mengerti bahwa ini semua
adalah sebuah ilusi atau penipuan diri sendiri dan apa yang dia sudah mengerti
sebagai inspirasi jiwa Tulsidas, sesungguhnya permainan sulap dari pikirannya
sendiri yang tidak disiplin. Sejak dia dilepaskan dari keadaan sengsara
sekarang dia merasa ketenangan dan kedamaian dikembalikan kepadanya. Suara di
dalam sebenarnya suara pikiran dalam keadaan yang murni. Kecuali pikiran
dibersihkan dari semua kekotoran dan kerusakan dan dibawa pada keadaan
Ketenangan dan keseimbangan yang sempurna, pikiran tidak pernah dapat
memantulkan suara di dalam. Kenyataannya bagi seseorang yang pikirannya murni
dengan sempurna, hanyalah suaranya di dalam yang selalu bicara dan dorongan
hati dari jiwa yang telah berkembang bebas dengan tinggi terus mengalir
kepadanya tidak henti-hentinya. Jadi praktek ini telah terbukti, sangat
berbahaya dan dalam banyak hal memberikan akibat-akibat yang mendatangkan
malapetaka.
Kenyataan
akan Tuhan yang sejauh ini dianggap sangat sulit, memerlukan kerja keras dan
usaha yang terus menerus selama beberapa kehidupan, tidaklah demikian. Tuhan
itu sangat mudah dan dapat dicapai dengan cara yang sama mudahnya.
Aturan-aturan yang ketat dari kehidupan dan praktek-praktek kenyataan yang
melelahkan yang ditentukan oleh guru-guru sungguh telah membuat persoalan
menjadi begitu sulit sehingga orang-orang dibuat percaya bahwa itu diluar
kekuatan dan kemampuan mereka. Saya dapat menjamin kamu dengan tulus bahwa
kenyataan sama sekali bukanlah sesuatu yang sulit, hanya jika kamu
bersungguh-sungguh mengalihkan perhatianmu padanya. Hanya keinginan kuat untuk
mencapai tujuan, bersama dengan cara-cara dan bimbingan tepat yang diperlukan
untuk sukses dengan sempurna.
Pelatihan
spiritual mulai dengan pembersihan di dalam atau memurnikan Cakra-cakra
merupakan faktor yang paling penting bagi kemajuan spiritual. Jadi bentuk
pelatihan yang benar di dalam spiritualiti, dimulai dengan pembersihan di dalam
yang jika diabaikan, akan membawa pada penyalah gunaan kekuatan yang diperoleh
melalui cara-cara Yoga. Hatha Yoga kebanyakan menentukan pada praktek secara
fisik untuk menjalankan pembersihan, beberapa diantaranya terlalu keras dan
membosankan bagi semua orang awam, sedang di dalam sistem Sahaj Marg dikerjakan
dengan praktek mental yang mudah, dibantu dengan kekuatan yang ditransmisikan
oleh guru. Beberapa guru agama sering menekankan orang-orang untuk menyediakan waktu
sebanyak delapan jam perhari guna menjalankan latihan tertentu yang seperti
mesin dengan tujuan untuk menjaga pikiran mereka agar diisi dengan
pikiran-pikiran suci (Divine). Saya dengan keras mengutuk jenis pelatihan yang
melaksanakan latihan-latihan yang membebani otak atau yang terlalu banyak
membebani pikiran. Hasil alami dari latihan tersebut adalah pikiran mendapati
tidak adanya jangkauan untuk memperluas dan akibatnya kekuatan atas kenyataan
tumbuh membosankan. Ini seperti memukul seorang anak laki-laki dengan maksud
untuk membuatnya konsentrasi. Kerja berat dengan latihan jasmani yang lama dan
membosankan seperti yang biasa dianjurkan oleh guru dengan maksud untuk
menghasilkan pembentukan pikiran atau pembersihan cakra-cakra, dengan demikian
tidak banyak gunanya. Untuk tujuan ini kita menggunakan kekuatan pikiran kita
dalam sebuah jalan yang tepat, dibawah bimbingan seorang Master yang sangat
kuat yang mampu melepaskan keruwetan-keruwetan dan libatan-libatan yang
merintangi kemajuan kita dan yang mentransmit ke dalam kita kekuatan yang
diperlukan untuk memelihara kehidupan spiritual kita. Jalan yang dipermudah
dalam pelatihan spiritual telah memberikan tingkat spiritual tertinggi yang memungkinkan bagi
semua orang apakah laki-laki, perempuan, muda atau tua, Grihasta (berkeluarga) atau Virakta
(pertapa).
Langkah
permulaan dalam jenis pelatihan yang tepat adalah kecenderungan pikiran calon
pengikut diarahkan langsung kepada Tuhan. Untuk ini guru-guru agama terpelajar
kebanyakan menentukan praktek-praktek jasmani atas tubuh dan pikiran, diambil
dari buku-buku keagamaan. Orang sering mendapati ini adalah tugas yang berat
untuk mengikuti mereka dan dengan demikian mereka tetap tinggal diawal untuk
jangka waktu tidak terbatas tanpa kemajuan yang lebih jauh. Seorang guru yang
berkemampuan harus melakukan ini dengan usahanya sendiri menggunakan kekuatan
transmisinya dengan maksud untuk menciptakan hasil yang permanen dan berurat
akar. Ketika pikiran kita diarahkan kepada Tuhan kita tentu saja mulai merasakan
diri kita sendiri berhubungan dengan kekuatan Tertinggi dalam seluruh
perbuatan-perbuatan dan pekerjaan-pekerjaan kita. Saat keadaan pikiran ini
dibuat di dalam diri secara permanen, setiap tindakan yang kita lakukan,
kemudian akan kelihatan menjadi bagian kesetiaan atau persembahan yang Suci dan
oleh karenanya kita berada di dalam ingatan terhadap Tuhan terus menerus
selamanya. Getaran di dalam hati segera mulai dirasakan oleh calon pengikut.
Ini adalah permulaan dari keadaan spiritual yang dikenal sebagai Shabda (suara atau getaran di dalam
diri) atau Ajapa (meditasi tanpa
mengucapkan mantera-mantera). Ini berkembang secara otomatis selama kita maju
sepanjang jalan yang benar dibawah bimbingan yang tepat. Orang-orang tertentu
yang mempraktekkan Japa (pengulangan
mantera-mantera) di luar untuk waktu yang lama, kadang-kadang mendapati bahwa
bahkan selama tidur mereka terus saja dengan Japa seperti biasa. Ini yang
mereka salah mengerti sebagai Ajapa atau Shabda. Ini tidaklah benar. Dengan
praktek terus menerus, hati dan lidah mereka menjadi kebiasaan dengan hal
tersebut dan tindakan ini berlangsung terus bahkan ketika mereka tidur atau
saat tidak sadar. Bagaimanapun hal ini berakhir jika mereka berhenti
mempraktekkannya untuk sesaat. Ini hanya karena kekuatan dari kebiasaan dan
bukannya keadaan sesungguhnya atas Ajapa. Kondisi Ajapa yang dipercaya
merupakan suatu pencapaian spiritual yang tinggi yang diperoleh setelah
bertahun-tahun kerja keras, hanyalah sebuah persoalan beberapa minggu atau
bahkan beberapa hari, melalui latihan yang benar dengan proses transmisi. Dengan demikian
getaran-getaran yang diciptakan tetap untuk beberapa saat menempati di dalam
hati setelah itu getaran-getaran tersebut perlahan-lahan berkembang kepada
cakra-cakra lainnya dan akhirnya pada setiap partikel tubuh. Ini kemudian
dikenal sebagai Anhad (yang tidak
dapat didengar). Metode yang harus diikuti seperti yang dianjurkan di dalam
Misi kita adalah meditasi dibawah bimbingan yang efisien yang mana sejauh ini
paling berguna dan mungkin hanya satu-satunya cara untuk menjamin sukses yang
sempurna.
Biasanya
orang mengeluh tentang banyak sekali gambaran-gambaran yang timbul pelan-pelan
di dalam pikiran mereka pada saat meditasi. Mereka berpikir bahwa mereka telah
gagal dalam prakteknya kecuali mereka membuat pikiran mereka berhenti. Tetapi
ini bukanlah demikian. Kita tidak menjalankan konsentrasi tetapi hanya
meditasi. Kita harus memulai meditasi dengan tidak memikirkan gambaran-gambaran
asing yang muncul di pikiran kita saat itu. Aliran gambaran-gambaran disebabkan
oleh karena aktivitas-aktivitas dari pikiran sadar kita yang tidak pernah
istirahat. Kita masih sibuk dalam meditasi dengan pikiran bawah sadar kita,
ketika pikiran sadar kita mengembara dan membuat banyak gambaran-gambaran. Jadi
bagaimanapun kita bukanlah orang yang kehilangan. Pada waktunya, setelah cukup
mempraktekkan, pikiran sadarpun dibuat dan mulai bertindak selaras dengan
pikiran bawah sadar. Jadi hasil yang dicapai berurat akar dan kekal, dan pada
akhirnya ketenangan, karakter dari jiwa, menjadi yang utama. Dalam beberapa hal
saya telah mengamati praktek guru-guru, keinginan kuat mereka untuk
menghentikan fungsi normal pikiran selama sittings, menciptakan suatu keadaan
tidak mempunyai perasaan untuk sementara atau penghentian kerja otak. Kondisi
ini tidak diragukan, adalah yang paling menarik bagi pemula, yang melupakan
kenyataan dan dia merasa sangat terkesan dengan pertunjukan kekuatan yang luar
biasa ini. Menurut pendapat saya ini hanyalah suatu perbuatan permainan sulap
dipraktekkan oleh mereka yang ingin sekali menarik sebanyak-banyaknya jumlah
murid dengan maksud memperlihatkan kebesaran mereka sebagai seorang Guru. Saya
katakan ini adalah penyalah gunaan kekuatan terbesar sebagai bagian dari guru
spiritual yang mungkin tidak mempunyai motif mendasar lainnya selain keunggulan
diri. Ini sebuah praktek yang salah dan amat berbahaya bagi perkembangan
spiritual seorang calon pengikut. Jadi pikiran ditekan atau dihentikan, segera
mulai untuk bereaksi kembali dengan tekanan yang lebih besar, merusak seluruh
sistem. Disamping itu, praktek ini menciptakan rasa berat di dalam dan otak
yang tumpul. Orang yang tunduk pada praktek seperti itu untuk waktu lama
kehilangan rasa yang dapat membedakan dan kekuatannya atas kenyataan menjadi
tumpul. Selama itu dia menjadi rusak seluruhnya dan menjadi sangat tidak cocok
untuk pelatihan spiritual yang sesungguhnya. Jika seseorang tidak tumbuh lebih
enteng hari demi hari, dia harus menarik kesimpulan bahwa dia menerima jenis
pelatihan spiritual yang salah. Pertumbuhan keringan pikiran dan jiwa yang
terus menerus adalah ujian yang paling meyakinkan atas kemajuan spiritual.
Jadi
pelatihan spiritual yang sesungguhnya adalah yang membuat pikiran kita disiplin
dan teratur, mengembalikan keseimbangan dalam perasaan dan panca indera dan
menciptakan semangat yang ringan. Barulah kedamaian dan ketenangan di dalam
dapat dipastikan dan tujuan yang lebih tinggi memungkinkan. Untuk ini,
perantaraan dari seorang Master yang bernilai dengan kemampuan tinggi, mempunyai kekuatan transmisi yang
tersedia padanya adalah benar-benar perlu dan bagi dia calon pengikut harus
menyerahkan diri dengan penuh kepercayaan dan keyakinan.
Beberapa
orang berpikir bahwa dengan proses permulaan saja cukup untuk memecahkan persoalan
hidup mereka. Jika mereka mampu dengan cara apapun untuk memperoleh proses
permulaan dari seorang Guru, mereka tidak perlu mengusahakan atau mempraktekan
lebih jauh. Mereka pikir bahwa dengan
dorongan Guru pada akhirnya akan melepaskan mereka dari keterlibatan Samskaras
dan Maya dan membawa mereka pada pembebasan. Pikiran tersebut walau
kelihatannya benar, mungkin tidak terlalu berhasil kecuali kamu menyerahkan
diri sepenuhnya kepada master dan dia
juga adalah orang yang secara khusus mempunyai kemampuan tinggi. Pikiran
untuk perbaikan dan kemajuan murid, tidak diragukan, yang paling penting di
dalam hati master untuk mana dia mendesak dirinya sendiri sejauh mungkin tetapi
itu tidak berarti bahwa kita tetap bermalas-malas tidak mengerjakan apa-apa bagi
diri kita sendiri dan meninggalkan bagian pekerjaan kita kepada dia. Kita
harus, sebagai kewajiban kita, mencoba sekuat tenaga untuk melindungi dia dari
pengerahan tenaga yang tidak perlu yang disebabkan karena kita, dimana sebanyak
yang kita dapat lakukan sendiri untuk kemajuan kita dan harus tidak dalam hal
apapun mengabaikan bagian dari kewajiban kita.
Kebanyakan
guru-guru agama telah memakai metode luaran untuk mengembangkan kondisi
spiritual tertentu di dalam seorang calon pengikut tetapi ini sebuah proses
yang sangat rusak. Sebagai contoh, dengan maksud untuk mempraktekkan Gyan (Sistem Keselamatan Gaib) dan
menciptakan di dalam calon pengikut keadaan
Aham Brahmasmi (Saya adalah Brahma) mereka menasehati calon pengikut untuk
meditasi arahnya ke luar, memikirkan hal yang sama selamanya dan
mengulang-ulang kata-kata yang sama setiap saat. Ini adalah sebuah proses
seperti mesin dan membawa pada kekotoran di dalam diri. Keadaan sesungguhnya
dari Aham Brahmasmi tidak pernah diciptakan oleh cara-cara yang hanya di
luarnya saja seperti demikian. Pengulangan kata-kata berulang-ulang membantu dia untuk membentuk sebuah kebiasaan
lidah dan kata-kata yang sama terucap setiap saat. Ini mustahil untuk
menyimpulkan bahwa dengan cara demikan dia telah menjadi Gyani (pengikut Gyan) dalam arti yang sesungguhnya. Mereka mungkin
mengulang kata-kata seratus kali dan memaksa pikiran mereka setiap saat untuk
membayangkan segalanya seperti Brahma tetapi mungkin mereka masih jauh dari
itu. Praktek ini menciptakan sebuah lingkungan di sekitar dia yang membantu dia
untuk membayangkan hal yang sama di luar. Kondisi ini hilang jika dia
menghentikan kebiasaan mengulang kata-kata berulang-ulang. Oleh karenanya ini
sangat terbukti bahwa keadaan Aham
Brahmasmi yang dianggap menciptakan jadi tidak murni tetapi hanya palsu dan
hayalan. Disamping itu, bahkan keadaan sesungguhnya atas Aham Brahmasmi, yang
biasa dianggap menjadi pencapaian yang sangat tinggi tidaklah demikian. Pada
tingkatan ini, seseorang meskipun terlepas dari beberapa keterlibatan Maya,
sebenarnya tidaklah melebihi batas akhirnya. Kesadaran diri yang masih ada pada
tingkatan ini hanyalah kekotoran, meskipun dalam bentuk yang sangat halus.
Mereka yang mengajarkan ini dari panggung sebagai bentuk tertinggi atas Gyan, melebihi
itu yang masih harus dicapai tinggal sedikit adalah kesalahan yang nyata
sekali. Ini bukanlah tujuan kita, tetapi kita hanya melewatinya untuk memulai
tingkatan berikutnya. Mereka yang bertahan disitu berpikir bahwa itulah Kenyataan atau tujuan
akhir, melakukan sebuah kesalahan besar yang serius. Kita pada akhirnya sampai
pada sebuah titik dimana segalanya berakhir, termasuk gambaran tentang Aham
atau ‘Saya’.
Ini
adalah keadaan peniadaan seluruhnya yang pada akhirnya harus kita capai dan
dimana teriakan sebagai Aham atau ‘Saya’ akan sungguh tidak cocok dengan
keadaan yang sebenarnya. Keadaan Aham Brahmasmi semula disebabkan karena
kesadaran (atau Chaitanyata) yang
secara otomatis berkembang di dalam kita saat kita melangkah sepanjang jalan
dibawah bimbingan yang tepat. Ini menghasilkan getaran-getaran di dalam kita,
dengan hasil bahwa pikiran mulai menggemakan getaran yang sama. Keadaan pikiran
muncul pada setiap tingkatan perkembangan spiritual dalam bentuk-bentuknya:
“Saya adalah Brahma’, ‘Semua adalah Brahma’ dan ‘Semua dari Brahma’. Seluruh
keadaan dalam ketiga aspek ini sebenarnya kesatuan dalam aneka ragam dalam
bentuk yang berbeda. Ini muncul dalam sebuah bentuk kasar dalam Pind Desh; dalam Brahmanda Mandal ini menjadi lebih halus dan lebih halus, sedangkan
di dalam Para Brahma Manda ini
menjadi sangat halus. Semua kondisi-kondisi ini berakhir dalam enam belas
lingkaran pertama seperti yang ditunjukkan pada diagram di dalam bab II.
Oleh
karenanya, jalan yang benar atas pelatihan bagi seorang calon pengikut
spiritualiti, adalah berjalan sepanjang
jalan kenyataan dibawah bimbingan master sejati dan bernilai dengan cara yang
paling alami, sehubungan dengan kebersihan di dalam atau kemurnian Cakra-cakra
dan keseimbangan sepenuhnya dalam penggunaan perasaan dan panca indera lainnya.
6
KEPERCAYAAN
Keinginan,
kepercayaan dan keyakinan adalah faktor dasar yang memperbesar sebuah
kesuksesan dengan mudah pada jalan kenyataan. Keinginan kuat untuk mencapai
kenyataan berarti bahwa kita di dalam batin membangkitkan pikiran tentang
pengenalan Diri. Kita maju dengan gambaran tersebut dan memilih sebuah jalan.
Hal yang pertama sekali harus dilihat dengan serius yaitu jalan yang kita pilih
adalah jalan yang benar, menuntun langsung pada tujuan kita. Oleh karena itu
sangat penting untuk memiliki di pikiran kita sebuah pengertian yang jelas dan
nyata tentang tujuan akhir. Sekarang tujuan akhir dari orang yang berbeda
mungkin juga berbeda dalam banyak hal, dan akibatnya, cara untuk mencapainya
juga berbeda. Dengan demikian kita harus memilih jalan yang benar membawa
langsung kepada tujuan akhir yang kita cita-citakan. Keputusan yang
tergesa-gesa dalam hal ini sering membawa pada hasil-hasil yang mengecewakan,
ini mungkin terjadi bahwa jalan yang telah kamu yakini untuk diambil mungkin
bukan jalan yang benar membawa pada tujuan kamu. Sering dengan mengambil jalan
yang salah kamu kehilangan penglihatan tentang hal-hal nyata dan membawa pada
pengertian dan ilusi yang salah. Jika kamu bertahan pada jalan yang sama tujuan
akhirmu terhadap kenyataan menjadi tidak mungkin. Sayangnya ini sering terjadi
ketika kamu jatuh ke dalam bimbingan yang merusak dan pelatihan yang salah.
Oleh karenanya hal ini mutlak perlu pada permulaan sekali untuk mengusahakan
setiap cara-cara yang meyakinkan dalam menilai bahwa jalan yang kamu ambil
untuk kenyataan adalah sungguh-sungguh jalan yang benar. Jangan mengikuti
sebuah jalan dikarenakan itu jalan yang tertua, karena yang tertua mungkin
paling tidak cocok bagi kondisi dunia dan masyarakat yang telah berubah. Jangan
mengikuti sebuah jalan dikarenakan jalan itu telah diikuti oleh mayoritas
banyak orang, dimana mayoritas tidak selalu benar dan lebih sering disebabkan
hanya oleh karena beberapa orang memilihnya, yang dengan segala kemungkinan,
telah tersesat. Kita harus sepenuhnya mempertimbangkan dalam menilai
kebaikan-kebaikan sesuatu, menerapkan semua cara-cara yang memungkinkan dalam
menilai yang tersedia bagi kita. Kita harus tidak pernah sampai pada kesimpulan
yang tergesa-gesa tanpa pertimbangan dan pengujian yang semestinya, melalui
bantuan pertimbangan sehat dan pengalaman. Ketika kita pada akhirnya yakin
terhadap kebaikan sesuatu kita dapat bertahan padanya dengan kepercayaan dan
kesetiaan. Jadi kepercayaan yang ada haruslah asli dan kekal sedangkan
kepercayaan yang dimajukan karena bujukan yang diberikan oleh
keistimewaan-keistimewaan dari luarnya menarik dan pertunjukan atas pencapaian
materialistis yang cantik adalah bukan kepercayaan sama sekali tetapi lebih
tepat disebut bujukan. Ini tidak mempunyai dasar yang stabil untuk tetap ada
dan hilang didalam keadaan-keadaan yang biasanya merugikan.
Jenis
pemujaan-pemujaan terhadap berhala yang kotor dalam bentuk-bentuk material yang
padat dan mengikuti yang tidak fleksibel pada bentuk-bentuk, simbul-simbul dan
upacara-upacara agama bukanlah menjalankan kepercayaan yang sesungguhnya. Ini
murni hal materialistis yang mengembangkan prasangka, dan bukanlah kepercayaan
sejati di dalam hati mereka yang mengejarnya. Mereka percaya secara buta atas
apa yang mereka telah dibujuk, tanpa menggunakan pertimbangan sehat atau
penilaian mereka dan bahkan tidak sedikitpun cenderung untuk mempertimbang
jalan lainnya. Saya mendapati orang-orang menyatakan kemanjuran beberapa cara
lainnya tentang pendekatan pada Kenyataan tetapi masih saja mereka tidak
bersedia mengikutinya karena, seperti yang mereka katakan, mereka tidak dapat
melepaskan diri dari jalan yang telah mereka ambil. Nyatanya mereka tidak
mempunyai kepercayaan dalam kenyataan tetapi hanya kepercayaan dalam bentuk dan
simbul-simbul yang mungkin tepat disebut
sebagai prasangka. Ini berarti bahwa penglihatan mereka telah menjadi
terbatas dan mereka tidak ingin bangkit lebih tinggi untuk mencari Kenyataan.
Nasib mereka telah tertutup dan mereka tetap dalam lingkungan terkurung yang
sama selamanya. Sesungguhnya, apa yang menahan kita dibawah, mencegah kita
untuk naik lebih tinggi tidak dapat dikatakan sebagai kepercayaan. Maka dari
itu sangat penting bagi setiap orang untuk menentukan matanya pada Kenyataan
yang Mutlak dengan kepercayaan dan keyakinan dan mengambil jalan, yang membantu
dan menghasilkan Kenyataan Diri.
Kemudian kita melangkah sampai pada titik akhir dimana kita anggap bentuk yang
sama murni yang kita miliki pada saat penciptaan. Untuk itu kita perlu harus
meninggalkan semua yang kita miliki Samskaras, Maya dan egoisme, dan tumbuh
lebih ringan dan lebih ringan pada setiap langkah. Beban pikiran atau yang
penuh sesak di dalam diri yang disebabkan oleh bentuk-bentuk pemujaan yang
kotor menjadi sebuah rintangan besar bagi kemajuan spiritual kita dan ini harus
dihindari. Jika mereka memeliharanya bahkan dengan menambah kehebatannya mereka
tetap dalam libatan semak-semak berduri atas kekotoran dan penipuan, jauh dari
alam kebahagiaan abadi.
Faktor
penting lainnya atas kehidupan spiritual adalah kepercayaan di dalam Master,
seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bantuan dari seorang Master yang
berkemampuan adalah sangat diperlukan untuk pencapaian spiritual yang lebih
tinggi. Dia hanyalah perantara melalui siapa dorongan hati yang suci datang kepada seorang calon
pengikut. Oleh karenanya ini penting bahwa pembimbing yang kita pilih haruslah
seorang yang kemampuannya paling tinggi dan pencapaian-pencapaiannya nyata.
Untuk menilai nilai yang sesungguhnya dari pembimbing, kita harus bersama
dengan dia beberapa saat mencoba dan menguji dia dengan segala cara dalam
kekuatan kita. Ketika kita yakin terhadap kemampuan dia melalui pertimbangan
sehat dan pengalaman kita dapat menerima dia sebagai Master kita dan
menyerahkan pada bimbingannya. Jika kita mengabaikan prinsip ini kita mungkin
menipu dalam keputusan kita. Kita harus tidak pernah mengikuti seseorang secara
buta telah tertarik kepada dia karena paksaannya di luar dan mempertunjukan
pengetahuannya. Untuk penilaian tepat
atas kebaikan-kebaikan sesungguhnya seseorang kita harus memperhatikan
pencapaian-pencapaian nyatanya dalam bidang spiritual. Kita harus mencari dia
dalam sesuatu yang nyata, yang kita dambakan. Setelah kita yakin, kita tentu
saja mulai merasa tertarik kepada dia di dalam batin dan berpikir hanya dialah
orang yang dapat membentuk tujuan kita. Perlahan-lahan perasaan berkembang
menjadi kepercayaan dan kita mulai mencintai dia. Kita menyerahkan pada
pandangannya karena kepribadiannya dan maju sepanjang jalan dibawah
bimbingannya. Pengalaman pencapaian-pencapaian yang diperoleh selama perjalanan
meyakinkan kita lebih jauh atas kemampuan Master yang luar biasa dan kita mulai
menganggap dia sebagai manusia yang luar biasa. Kepercayaan kita sekarang
sangat membantu kita dalam kemajuan spiritual kita. Ini menghalau awan keraguan
dan ketidak tentuan dan melepaskan kesulitan-kesulitan dan gangguan dari jalan
kita. Kepercayaan adalah benar-benar dasar dari seluruh struktur spiritualiti.
Kepercayaan di dalam kenyataan, kepercayaan di dalam jalan yang benar yang kamu
telah ambil untuk kenyataan, kepercayaan di dalam Master yang bernilai pada
siapa kamu telah menyerahkannya, ini adalah karang dimana kamu harus membangun
bangunan besar spiritualitimu jika kamu sungguh-sungguh bermaksud untuk sukses.
Dengan demikian kamu akan memiliki sebuah kekuatan di dalam, cukup kuat untuk
menghancurkan semua kekuatan jahat yang mungkin mengelilingi kamu. Ini akan
membantu kamu untuk mendatangkan dorongan hati suci yang segar kapan saja kamu
memerlukannya.
Beberapa
orang menerima gambaran yang sangat keliru tentang kepercayaan. Mereka percaya
bahwa kepercayaan saja cukup untuk
memecahkan persoalan hidup mereka tidak jadi soal jalan apa yang mereka ambil,
atau pembimbing yang mungkin mereka telah menyerahkannya. Mungkin tidak ada
yang dapat lebih menyesatkan daripada kepercayaan yang mustahil ini. Apakah
memungkinkan bagi seseorang sampai ke Calcutta
dengan mengambil jurusan yang berlawanan? Dapatkah seseorang menjadi orang suci
yang tidak mementingkan diri sendiri dengan menyerahkan dirinya sendiri kepada
bimbingan seorang penipu lihai yang memikirkan diri sendiri? Dapatkah orang
membebaskan dirinya dari tali keterikatan, prasangka dan kebanggaan dengan
mengikuti seorang yang munafik kesombongan diri diilhami dengan perasaan
keterikatan terhadap maksud-maksud duniawi dan hal-hal yang memperbesar diri?
Kita harus tidak pernah dibawa pergi oleh sesuatu yang hanya memberikan aspek
gemerlapan di luar saja tetapi harus pergi masuk ke dalam untuk menemukan
kenyataan di dasarnya. Bujukan berdasarkan pertunjukan pengetahuan di luar,
kepandaian berpidato atau kekuatan, memperkembangkan kepercayaan buta yang
dalam banyak hal menimbulkan akibat-akibat yang menimbulkan malapetaka. Orang
yang berhati-hati tidak pernah mengijinkan dirinya dibawa pergi secara buta ke
dalam khayalan dengan paksaan-paksaan palsu yang tidak mempunyai arti nyata
dalam bidang spiritual. Kepercayaan buta tidak diragukan sangat bermanfaat
hanya jika jalan yang kamu ambil secara kebetulan adalah jalan yang benar dan
pembimbing yang kamu pilih sungguh-sungguh orang yang tepat dengan kemampuan
tertinggi yang sama sekali tidak memiliki semua perasaan-perasaan keterikatan
dan kebanggaan. Kepercayaan kamu yang tidak tergoyangkan di dalam Master
seperti itu akan membawa kamu pada pencapaian spiritual batas terjauh untuk
kamu kemudian menghubungkan dirimu dengan Kenyataan.
Kepercayaan,
dalam arti yang sesungguhnya, adalah sebuah hubungan yang hidup menghubungkan
mahluk hidup dengan yang abadi. Tidak diragukan dihasilkan melalui perantaraan
Master yang dirinya sendiri berhubungan dengan yang Abadi. Hubungan tersebut
saat terhubung tidak dapat dihancurkan dalam kondisi apapun dan ada terus
selama jalan langkah kita naik sampai titik akhir. Ini adalah satu dari enam Sampattis atas Sadhana ketiga dari Yoga.
Pada tingkatan ini, kepercayaan adalah nyata dan sungguh-sungguh dan dengan
kuat dibentuk sehingga seseorang tidak dapat bahkan untuk sesaat melepaskan
diri darinya. Alasan untuk ini bagaimanapun melebihi pengertiannya. Sebelum
tingkatan ini, kepercayaan adalah sungguh-sungguh luarnya saja dan membuat
sering hilang atau mendapat kembali beberapa kali untuk alasan yang
bermacam-macam. Seorang Master yang bernilai tidak pernah mengandalkan diri
terhadap kepercyaan yang hanya luarnya saja dan harus membetah-betahkan dengan
semua perasaan cinta dan pengabdian emosinil yang meledak-ledak dari seorang murid,
menanti dengan sabar kapan waktunya dia naik ke tingkat akhir dari Shraddha (kepercayaan) seperti
digambarkan dalam empat Sahdanas Yoga ketika kepercayaan nyata mulai mengambil
bentuk penyerahan diri. Kepercayaan sejati adalah sungguh-sungguh sebuah sifat
baik yang tidak dapat dibicarakan yang
melebihi jangkauan agama, ini adalah keteguhan hati yang berani yang membawa
kita pada kesuksesan, ini adalah kekuatan yang ada dimana-mana yang membuat
jalan kita lancar, sebenarnya hanya inilah satu-satunya yang memecahkan
persoalan hidup kita.
7
INGATAN TERUS MENERUS
Kekerasan
dan kesengsaraan hidup bagi kebanyakan orang, sibuk dalam pencarian duniawi
yang berbeda-beda membuat mereka terisi begitu banyak dengan
persoalan-persoalan hidup sehingga sering menimbulkan kepercayaan bahwa mereka
hampir tidak mempunyai waktu luang untuk kesetiaan dan ibadat kecuali
mengorbankan beberapa kepentingan yang sangat penting atau persoalan yang
berhubungan dengan uang, dimana mereka dengan pasti tidak mampu mengabaikannya.
Pengertian ini membuat mereka jauh dari jalan kewajiban meskipun kadang-kadang
mereka nampaknya menyadari hal itu. Setiap saat pikiran mereka diserap dalam
memikirkan tentang macam-macam persoalan kehidupan meterial mereka dan jarang
ditujukan kepada Tuhan kecuali saat mereka ada di dalam bahaya dan kesukaran
yang mendalam. Alasannya adalah mereka melekatkan kepentingan utama yaitu hanya kepada kepentingan duniawi
yang terus menerus ada dalam gambaran mereka. Sehingga mereka tetap terlibat
dalam keadaan Maya tanpa pernah berpikir untuk melepaskan diri daripadanya
dalam tingkat apapun. Jika kita mengalihkan perhatian kita kepada Tuhan dan
merasakan kenyataan sebagai tujuan utama dalam kehidupan, biasanya kita mulai
melihatnya sebagai sesuatu yang pertama dan terpenting dalam perbandingan
terhadap segalanya yang lain di dalam dunia. Ini tidak berarti kita jadi tidak
memusingkan tanggung jawab duniawi dan mengabaikan kewajiban kita dalam segala
hal, menyebabkan kesulitan-kesulitan dan kesengsaraan bagi mereka yang
menggantungkan diri pada bantuan kita. Kita harus tetap hidup dengan perasaan
kewajiban kita kepada mereka sebanyak kepada Tuhan tetapi tanpa ikatan yang
terlalu besar. Untuk ini, kita harus mengambil beberapa menit dari waktu
istirahat kita yang berjam-jam (lebih disuka ketika akan tidur) dan berdoa
kepada Tuhan dengan hati yang tulus mohon bimbingan dan bantuannya pada jalan
kewajiban. Jika kita melakukannya secara teratur dengan hati penuh cinta dan
kesetiaan, doa tidak pernah tidak terdengar.
Ketika
kita bangun dengan perasaan kewajiban dan gambaran tentang Tuhan menjadi
menonjol di dalam hati kita, kita mulai memperlakukan kenyataan sebagai tujuan
hidup yang utama. Secara alami kerinduan
kita kepadanya mulai tumbuh lebih kuat dan kita dengan demikian dibawa kepada
lebih seringnya ingatan kepada Tuhan selama pekerjaan rutin kita sehari-hari
sungguhpun semua adalah pekerjaan dan urusan kita. Pengalihan dari jalan
kewajiban sebenarnya bukan disebabkan karena keadaan atau pekerjaan di luar,
tetapi hanya aktivitas pikiran yang tidak disiplin yang salah arah. Hanya
kesadaran terhadap Tuhan menyembuhkan banyak kejahatan-kejahatan pikiran dan
menghilangkan kesulitan-kesulitan dari jalan kita. Sehingga kita menjadi sadar
akan Tuhan dalam sebagian besar hari selama melakukan semua aktivitas duniawi
kita.
Seringnya
ingatan kepada Tuhan, meskipun amat membantu bukanlah semua yang kita butuhkan
bagi kesuksesan akhir kita dalam kenyataan. Biasanya kita mulai sesuatu yang
penting dalam nama Tuhan dan ini biasa hampir di setiap agama melakukannya.
Tetapi ini hanyalah persoalan formalitas dan tidak mempunyai arti yang nyata.
Kita tidak pernah mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan dalam arti yang
sesungguhnya dan dalam hati kita sebenarnya amat jauh dari gambaran tentang
Tuhan. Ingatan kepada Tuhan dengan demikian menjadi tidak berguna. Arti yang
nyata dari kebiasaan ini adalah kita harus tetap berhubungan dengan gambaran
tentang Tuhan dalam semua bentuk kegiatan mental dan fisik kita. Kita harus
merasakan diri kita berhubungan dengan Kekuatan Tertinggi setiap saat dengan
sebuah rantai pikiran yang tidak dapat dihancurkan selama seluruh aktivitas
kita. Ini dapat dengan mudah dikerjakan jika kita memperlakukan semua tindakan
dan pekerjaan kita menjadi bagian dari kewajiban Suci, yang dipercayakan kepada
kita oleh Master yang Besar kepada siapa kita harus melayani sebaik mungkin
yang kita dapat lakukan. Pelayanan dan pengorbanan adalah dua alat utama dengan
mana kita membangun candi spiritualiti, cinta tentu saja menjadi dasar yang
fundamentil. Apapun macam pelayanan, jika dikerjakan dengan tidak mementingkan
diri sendiri, adalah bermanfaat. Pelayanan bagi umat manusia adalah pelayanan
kepada Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, jika ini tidak dilakukan dengan
motif untuk diri sendiri. Apapun yang kita lakukan dalam pekerjaan rutin harian
kita, yang berhubungan dengan beberapa orang, jadikanlah mereka anak-anak kita,
teman atau relasi. Jika kita berpikir ketika melakukan sebuah pekerjaan kita
sungguh-sungguh melayani satu atau beberapa orang ciptaan Tuhan dan bukan
keperluan kita sendiri, kita sepanjang itu mengikuti jalan pelayanan, meskipun
di luar kita sibuk dengan pekerjaan rutin kita yang biasa. Hampir semua
kegiatan-kegiatan kita di dalam hidup ini berhubungan dengan memberikan
keperluan hidup untuk anak-anak kita dan orang yang kita sayangi. Jadi, jika
kita memperlakukan mereka sebagai anak-anak Tuhan, yang dipercayakan dalam pemeliharaan kita dan bagi siapa kita harus
memelihara dan menjaganya sebatas kewajiban, maka kita melayani anak-anak Dia
dan dengan demikian melayani Tuhan itu sendiri. Dengan demikian kita harus
membuang keterikatan yang terlalu besar juga dan jadi melepaskan suatu
rintangan terbesar dari jalan kita. Proses ini, meskipun mudah dan sederhana, akan
juga membawa kamu pada pikiran terus menerus terhadap Master Tertinggi dalam
seluruh aktivitas kamu. Jika ini berakar di dalam hatimu, setiap tindakanmu
akan kelihatan menjadi sebuah kewajiban hanya demi kewajiban belaka, menurut
perintah suci tanpa kepentingan diri sendiri atau keterikatan pribadi. Cinta
alam semesta kemudian menjadi menonjol dan kita mulai mencintai setiap mahluk
ciptaan Tuhan tanpa perasaan terikat padanya. Ini membawa kita pada kesetiaan
dan pengorbanan. Kesetiaan membuat jalan kita mulus dan menciptakan sebuah
saluran untuk arus ketuhanan mengalir masuk ke dalam hati kita. Ini
menghilangkan kotoran dan sampah dari jalan kita dan membantu langkah kita
sepanjang jalan. Sampah sesungguhnya adalah akibat dari pertentangan gambaran
yang menciptakan gangguan dan kekhawatiran di dalam pikiran kita. Dengan
meditasi kita menciptakan keteduhan sementara di dalam pikiran dan ketenangan
berlaku untuk waktu selama kita berhubungan dengan kekuatan suci. Tetapi
meditasi hanya pada jam tertentu tidaklah cukup dimana kita berhubungan dengan
pikiran suci hanya untuk sesaat setelah itu kita tidak mempunyai gambaran
apapun tentang Tuhan dan untuk sebagian besar hari jauh dari jalan pelayanan
dan kesetiaan. Inilah alasan mengapa sering setelah mempraktekkan
bertahun-tahun kita masih mendapati diri kita berada pada tingkat terendah
dalam pencapaian spiritual. Apa yang sebenarnya terjadi, selama meditasi kita
hanyalah merasakan kesederhanaan dan
ketenangan, jika kita dibimbing dengan benar oleh seorang master yang
berkemampuan. Tetapi seorang calon pengikut biasanya tidak dapat mengerti,
karena hal ini melebihi konsepnya pada tingkat permulaan. Hasilnya menjadi
tidak terasa dia sering mengeluh bahwa dia tidak merasa apa-apa selama
meditasi. Hal ini terutama disebabkan karena kenyataan bahwa dia tetap
berhubungan dengan kekuatan suci hanya beberapa menit dari prakteknya. Jadi
sesuatu yang nyata yang diperoleh selama meditasi tetap di dalam dia hanya
untuk sesaat. Di sisi lain, ada orang yang mencoba untuk mempertahankan hasil
yang diperoleh dari meditasi untuk sebagian besar harinya, dan tinggal di
keadaan yang sama sepanjang yang dia dapat lakukan. Dalam hal ini, dia ada di
dalam ingatan terus terhadap Tuhan dan kemajuannya mudah dan cepat.
Beberapa
orang berpikir bahwa tetap atau bahkan seringnya ingatan kepada Tuhan tidak
dapat dilakukan ketika orang di dalam hidupnya dikelilingi oleh banyaknya
kekhawatiran dan kegelisahan yang disebabkan oleh ikatan dan tanggung-jawab
duniawi. Tetapi praktek dan pengalaman akan membuktikan kepada mereka bahwa ini
sebuah proses yang amat mudah dan dapat diikuti oleh semua dan setiap orang
meskipun ada kekhawatiran dan pertentangan hanya jika mereka mengalihkan
perhatiannya kepada Tuhan dalam arti yang sesungguhnya.
Gambaran
tentang Guru sebagai kekuatan Suci Tertinggi sangat membantu dalam pengejaran
spiritual. Kamu bergantung kepada bimbingannya berpikir dia sebagai manusia
yang luar biasa. Jika kamu terus sibuk dengan kehidupan rutinmu,
mempersembahkan segalanya kepada Mastermu, bayangkan kebaikan apa yang akan diberikan kepada kamu
untuk jangka waktu panjang. Ketika melakukan sesuatu, pikirlah bahwa kamu tidak
melakukannya untuk dirimu sendiri, tetapi untuk Mastermu, atau lebih baik berpikir
bahwa Mastermu sendiri yang melakukannya untuk dirinya. Ketika di meja makan
pagi kamu harus berpikir bahwa Mastermu yang sedang sarapan pagi. Ketika kamu
pergi ke kantor, pikirkan bahwa Mastermu yang melakukan semua ini. Ketika
kembali dari kantor, misalnya kamu melihat sebuah tarian yang menarik di jalan.
Matamu tertegun oleh penampilan mempesona penarinya. Pikiranmu nampaknya
beralih untuk beberapa saat. Kemudian pikirkan juga bahwa Mastermu dan bukannya
kamu, yang melihat tarian itu. Seketika kamu akan kehilangan keinginan
terhadapnya, karena kekuatan Mastermu akan mulai mengalir masuk untuk
melepaskan kamu dari godaan. Ketika kamu kembali dari kantor anak-anakmu
gembira bertemu dengan kamu setelah berjam-jam. Kamu juga menikmati kegembiraan
mereka dan itu alami. Perhatianmu untuk sesaat, beralih kepada mereka dan kamu
merasa sedikit jauh dari pikiran suci. Apa yang kamu harus lakukan kemudian
adalah berpikir bahwa Mastermu sendiri yang ada di dalam menikmati dan kamu
tetap berhubungan dengan pikiran yang suci lagi. Jika kamu bicara dengan
temanmu, pikirkan bahwa Mastermu, bukannya kamu, yang berbicara dengan dia.
Ketika berjalan, pikirkan bahwa Mastermu sendiri yang berjalan. Selama
meditasi, jika kamu mempunyai gambaran bahwa bukannya kamu tetapi Mastermu
sendiri yang sedang meditasi pada bentuknya, ini akan memberikan kamu hasil
yang luar biasa. Sama halnya, kamu dapat menyesuaikan dirimu dalam seluruh
pekerjaan rutinmu. Jika kamu menanam perasaan ini dan mempertahankan pandangan
bahwa Mastermu melakukan segalanya dalam tempatmu, kamu tidak hanya dalam
ingatan terus menerus untuk sesaat, tetapi tindakanmu tidak akan meninggalkan
kesan apapun dan kamu akan segera berhenti membuat samskaras yang lebih jauh.
Prosesnya,
jika diikuti dengan sungguh-sungguh, akan tetap menyimpan rupa Master dalam
penglihatanmu dan kamu akan merasakan kehadirannya di dalam dirimu dan
segalanya. Meskipun, sebenarnya, Master yang nyata bukanlah hanya bentuk
jasmani luarnya, tetapi dirinya di dalam dia, itupun hampir tidak mungkin
mengabaikan bentuknya keseluruhan. Tetapi mereka yang melekat pada
gambaran bentuk jasmaninya saja sebagai
Master, menciptakan bagi dirinya sendiri keterlibatan yang paling kotor dan
keruwetan-keruwetan. Kabirdas telah dengan tepat menyebut orang tersebut
sebagai Guru Pashu. Tetapi jika Master adalah suatu jiwa suci yang besar telah
memperoleh pengabungan dia dalam Kenyataan yang absolut, meditasi pada
bentuknya, jelas sekali keuntungan terbesar bagi murid-murid. Tubuhnya,
meskipun kotor dalam penampilan luarnya sebenarnya halus dalam karakter seperti
keadaan di dalam dirinya. Jika kamu meditasi pada bentuk Master seperti itu,
kamu tidak hanya mulai hilang kekotoranmu tetapi juga mulai tertanam di dalam
dirimu kondisi terhalus atas keadaan di dalam diri Master. Bentuk yang diambil
dalam pandangan setelah beberapa saat akan hilang dari penglihatan dan kamu
perlahan-lahan naik pada tingkat Kenyataan yang murni. Saya telah membicarakan
dalam buku saya Commentary on Ten Commandments of Sahaj Marg (Uraian Tentang
Sepuluh usulan Sahaj Marg), bagaimana bentuk hilang dari pandangan ketika kamu
melihat pada sesuatu terus menerus untuk beberapa lama. Jadi otomatis dari
bentuk luar, kita masuk ke dalam dan kemudian pada titik nyata, dimana
segalanya hilang.
8
PENYERAHAN
DIRI
Kita
mempraktekkan Bhakti atau kesetiaan dengan maksud untuk mencapai hubungan erat
dengan Master Tertinggi. Kita melihat kepadanya dengan kepercayaan dan
penghormatan. Lambat laun kita menjadi berhubungan begitu erat dengan Dia
sehingga setiap tujuan lainnya hilang keunggulannya di mata kita. Ini adalah
penyerahan pada keingan Master, atau dengan kata lain, permulaan atas
penyerahan diri. Ini terus berkembang dengan tumbuhnya lebih kuat kepercayaan
kita. Ini membawa kita pada suatu kondisi yang seimbang (tidak berubah) menghentikan
guncangan pikiran. Pada waktunya kita mulai merasa diri kita disergap oleh
kekuatan besar yang mendorong pikiran kita jauh dari segalanya yang lain. Kita
menjadi bebas dari kegiatan-kegiatan yang tidak dikehendaki yang melekat
sepanjang waktu pada fungsi organ-organ yang benar (Panca indera). Penyerahan
diri hanyalah suatu keadaan pasrah sepenuhnya pada keinginan Master, dengan
mutlak mengabaikan diri. Tinggal tetap dalam kondisi ini menuntun kita pada
permulaan keadaan peniadaan. Saat kita menyerahkan diri kita kepada Master yang
besar kita mulai menarik sebuah aliran tetap atas kekuatan Suci tertinggi dari
Dia. Pada keadaan ini orang berpikir atau berbuat hanya menurut apa yang
masternya inginkan. Dia tidak merasakan apa-apa di dalam dunia yang menjadi
miliknya tetapi segalanya sebagai sebuah kepercayaan suci dari master dan dia
melakukan segalanya, berpikir bahwa itu adalah perintah Masternya. Keinginannya
menjadi tunduk sepenuhnya pada keinginan Master. Contoh menarik tentang
penyerahan diri diberikan kepada kita oleh Bharat,
putera Dasharatha, saat dia pergi
kehutan bersama dengan orang-orang Ayodhya untuk membujuk saudara laki-lakinya Rama agar kembali. Sebagai jawaban pada
orang-orang yang memohonnya Rama dengan sedih menjawab bahwa dia akan sangat bersedia
kembali ke ibukota asalkan Bharat memintanya untuk melakukan itu. Semua mata
berbalik kearah Bharata, orang yang berada disana sendiri untuk membujuk dia
agar kembali. Tetapi dengan tenang dia menjawab, “Bukanlah bagi saya untuk
memerintah tetapi hanya untuk mengikuti”.
Bhagavad Gita, juga berurusan dengan
keadaan penyerahan diri. Ini bukanlah sesuatu yang biasa yang dapat dicapai
dengan mudah. Ini mulai setelah peniadaan menyeluruh atas semua perasaan dan
panca indera dimana kita maju dengan aturan-aturan dasar kesetiaan. Kita
menyerahkan kepada master kita, menganggap dia sebagai manusia yang luar biasa.
Kita mencintai dia dengan kepercayaan dan penghormatan mencoba segala cara
untuk menarik perhatiannya dan bantuannya. Untuk tujuan ini kita menghubungkan
hubungan kita dengan dia berkenaan dengan perhubungan dunia hanya untuk
membuatnya mudah. Kita menganggap dia sebagai ayah, saudara, master atau orang
yang dicinta. Proses ini, jika diambil dengan bersungguh-sungguh sekali, sangat
membantu bagi seorang murid. Hubungan kuat atas ketertarikan yang terbentuk
membawa diri pada keadaan kesetiaan dan penyerahan diri. Gambaran Guru sebagai
seorang ibu, menurut pendapat saya jelas sekali yang paling tepat dan
menguntungkan bagi seorang murid. Seorang ibu adalah sungguh-sungguh perwujudan
atas cinta dan kasih sayang. Hanya hati seorang ibu dapat menahan diri dengan
sabar atas semua kesulitan dan kesengsaraan yang disebabkan oleh anak
laki-lakinya, selalu memikirkan, mencoba untuk memberikan kepada anak laki-lakinya
kesenangan dan kebahagiaan. Hal yang sama adalah posisi Master atau Guru yang
sesungguhnya adalah ibu spiritual dari murid. Sebagai Guru selalu mengawasi
kesejahteraan spiritual anak-anaknya, yaitu muridnya. Ini disebabkan karena
ikatan kasih sayang guru kepada muridnya bahwa perhatian dari Ayah yang besar,
dengan siapa ibu spiritualnya berhubungan begitu erat, diarahkan menuju murid.
Kasih sayang seorang ibu amat terkenal tetapi yang mengetahui tentang kasih
sayang Guru sangat sedikit dan lebih sedikit lagi yang mengetahui kasih sayang
Tuhan. Fungsi seorang ibu dan seorang guru sejati hampir sama. Ibu
mempertahankan anaknya di dalam kandungan untuk suatu periode tertentu. Guru
juga, mempertahankan anak spiritual di dalam lingkungan mentalnya untuk suatu
periode tertentu. Selama periode ini murid seperti bayi dalam kandungan,
menghisap tenaganya dan memperoleh makanan dari ombak spiritual dari
pikiran-pikiran Guru. Pada waktunya tiba dia lahir ke dunia yang lebih
cemerlang dan kemudian kehidupan spiritualnya sendiri dimulai. Jika murid
memasuki lingkungan mental Guru, menyerahkan semua kepunyaannya kepada Guru ini
hanya memerlukan tujuh bulan untuk mengantarkan dia ke dalam dunia yang lebih
cemerlang. Tetapi proses ini biasanya terlambat untuk waktu yang lama karena
ketika di dalam lingkungan mental Guru, murid mempertahankan kesadaran pikiran
dan perasaannya sendiri. Jadi, kita mendapati bahwa posisi Guru sangat sama
dengan seorang ibu. Gambaran Guru sebagai seorang ibu spiritual
memperkembangkan di dalam kita perasaan cinta, penghormatan dan penyerahan diri
yang mana merupakan faktor utama dari sebuah kehidupan spiritual.
Orang-orang
suci telah mengklasifikasikan murid-murid dalam dua bagian utama, Manamata dan
Gurumata. Manamata adalah mereka yang mendekati Guru dengan tujuan-tujuan dunia
tertentu dengan pandangan tersebut melepaskan dari kesengsaraan dunia,
keinganan untuk kaya dan sebagainya. Mereka menyerahkan kepada dia hanya selama
mereka dapat berharap dalam pencapaian keinganan-keinginan mereka. Dalam hal
ini saat mereka menemukan kekecewaan, mereka berhenti. Untuk murid seperti
tersebut, pertanyaan tentang kepatuhan atau penyerahan bahkan tidak pernah
muncul, apa yang harus dibicarakan tentang penyerahan diri. Murid-murid
Gurumata adalah mereka yang mematuhi perintah Master dalam segala hal dan
mencoba menyerahkan pada keinginannya dalam seluruh jalan yang
memungkinkan. Penyerahan mulai dengan
kepatuhan. Ketika kita amat terkesan oleh kekuatan besar seorang Master yang
pencapaiannya lebih tinggi dalam spiritualiti, kita mulai di dalam batin
cenderung untuk mengikuti perintah-perintahnya. Tetapi sering hasil yang
tertinggal di dalam kita hanya ketika kita ada di dalam kehadiran Guru, dan
ketika kita jauh kita menjadi tidak menghiraukan Guru. Pengulangan hubungan
dengan dia untuk beberapa lama membawa kita pada hubungan yang lebih dekat
dengan jiwa yang besar dan keunggulan dia mulai dibentuk di dalam hati kita.
Kita menerima dia sebagai pembimbing kita dalam segala persoalan berkenaan
dengan kemajuan spiritual kita. Hasilnya adalah kita sering-sering mengingat
dia. Ketika kita benar-benar yakin terhadap kemampuannya yang unggul, baru
kemudian penyerahan kita dalam arti yang sesungguhnya dimulai. Kita terus maju
dengan hal tersebut dan mempraktekkan seperti yang diperintahkan kepada kita.
Kita berpikir untuk menyenangkan dia dengan tindakan-tindakan kita. Gambaran
tentang benar dan salah juga, mulai menjadi menonjol di dalam hati kita dan
kita merasa cenderung untuk menahan diri dari kejahatan. Dengan demikian kita
mengambil jalan kebaikan sehingga kita mungkin dapat menyenangkan master kita
yang besar. Ini motif utama kita untuk mana kita berharap bebas dari
kesengsaraan-kesengsaraan hidup yang akan datang.
Tetapi
sejauh ini kita menyimpan bagi diri kita sendiri hak kebijaksanaan dan oleh
karenanya bertanggung jawab atas semua tindakan-tindakan kita baik yang bagus
atau jelek. Pada tingkat penyerahan diri yang lebih tinggi sebuah kekuatan
kebijaksanaan menjadi hampir padam dan seseorang melakukan segalanya berpikir
bahwa itu adalah keinginan Masternya. Pertanyaan tentang benar atau salah sama
sekali tidak muncul di pikirannya atau ini menjadi sungguh-sungguh pasti bahwa
dengan mengikuti keinginan Masternya dia
melakukan hanya hal yang benar dan dia tidak melakukan apa-apa tetapi
kebenaran, perasaan bahwa itu keinginan Master.
9
KENYATAAN
Kita
mendengar hampir setiap orang bicara dalam satu dan lain cara tentang Tuhan,
jiwa dan misteri alam semesta. Tetapi jika kita ada dalam pencarian seseorang
yang menyadari Tuhan atau yang mengenal Tuhan, kita mungkin tidak akan
menemukan satupun diantara mereka. Inilah alasan mengapa ada permusuhan terus
menerus diantara wakil-wakil dari agama yang berbeda-beda. Mereka bicara banyak
tentang Tuhan tetapi di dalam batin mereka mungkin tidak lebih baik daripada
yang benar-benar atheis. Mereka mengakui keberadaan Tuhan dalam kata-kata
tetapi dalam hati mereka nampak sepenuhnya tidak menghiraukan sama sekali
tentang keberadaan Tuhan. Bagi mereka hanya menggunakan Tuhan yaitu ketika
mereka dalam kesukaran atau kesengsaraan. Mereka mengharapkan Tuhan pada
saat-saat seperti tersebut untuk hadir pada panggilan mereka untuk
menghilangkan kesusahan-kesusahan mereka. Mereka berdoa pada Tuhan terutama
untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka. Ini sungguh jauh dari pikiran
tentang cinta sejati dan kesetiaan. Seorang setia yang sesungguhnya adalah
orang yang mencintai Tuhan bukan untuk kemurahan hati atau
kepentingan-kepentingan duniawi, tetapi hanyalah demi cinta itu sendiri. Dia
selalu tinggal dalam keadaan pasrah sepenuhnya pada keinginan-keinginan Tuhan.
Dia benar-benar menerima dan merasa puas atas semua yang dilimpahkan kepadanya
apakah baik atau buruk, menggembirakan atau tidak menyenangkan. Kegembiraan
atau penderitaan tidak ada artinya bagi dia. Semuanya adalah anugerah bagi dia
dari Orang Tercinta. Pasrah sepenuhnya seperti itu dan sikap tidak
bertanya-tanya dalam segala hal adalah bentuk kesetiaan tertinggi. Pasrah
bagaimanapun tidak berarti bahwa dia harus tetap bermalas-malas, tidak
melakukan apa-apa dan tergantung sepanjang waktu kepada Tuhan, berpikir bahwa
Tuhan akan mengirimkan kepada dia semua yang dia butuhkan saat dia begitu
membutuhkannya. Tuhan membantu mereka yang membantu diri mereka sendiri seperti
yang umum dikatakan, adalah benar. Kita gagal dalam kewajiban suci kita jika
kita tidak mendesak diri kita sendiri untuk melaksanakan tanggung
jawab-tanggung jawab kita berkenaan dengan apakah pada dunia yang ini atau pada
dunia yang berikutnya. Satu-satunya hal yang harus dipertahankan dalam pikiran
adalah kita bekerja menurut keinginan Tuhan dan merasa pasrah atas hasilnya
apapun itu yang terjadi. Ketika kita sampai pada tingkatan ini kita mungkin
sudah sepantasnya berpikir diri kita adalah orang-orang setia yang sejati
kepada Master Tertinggi, dan karenanya pada jalan yang benar menuju kenyataan.
Kenyataan bukanlah sesuatu yang dapat dirasakan melalui organ-organ perasaan
jasmani tetapi hanya dapat disadari dalam pusat hati yang paling dalam. Oleh
karena itu kita harus masuk jauh ke dalam untuk memecahkan persoalan hidup
kita.
Kita
di dalam pikiran mempunyai gambaran tentang alam semesta yang besar seperti
yang kita semua tahu adalah perwujudan material dari Tuhan. Biasanya kita
melihatnya sebagai Maya atau ilusi untuk membedakannya dari Kenyataan absolut
yang tidak berubah. Orang mencoba mendefinisikan maya dalam banyak cara yang
berbeda, mungkin tanpa dasar yang masuk akal. Benar-benar kekuatan Tuhan yang
telah membawa masuk ke dalam kehidupan ini seluruh ciptaan dalam bentuknya yang
berbeda dan yang mengatur seluruh pekerjaannya. Selama ini kita dikelilingi
oleh kekuatan besar ini dan akibatnya terlihat dalam semua bentuk aktivitas
kita. Kita berputar-putar di dalam lingkungan maya yang mengkilap,
kadang-kadang melekat pada satu atau obyek lainnya yang ada dalam pandangan
berpikir bahwa itulah Kenyataan. Panca indera kita, perasaan dan emosi
memberikan warna baru dan membentuk tindakan kita yang sesuai. Kita tetap
terlibat dalam perangkap Maya, tanpa harapan untuk pembebasan sampai kita
mengalihkan perhatian kita menuju sumber Kenyataan yang tidak berubah-ubah. Ini
lingkaran perwujudan material yang sangat luas, akibat langsung dari Maya yang
tidak terbatas. Di dalam sini kita berputar dan berputar dengan gerakan tanpa
henti seperti pelek roda, sesungguhnya lebih jauh dan lebih jauh dari porosnya.
Seperti semua lingkaran harus mempunyai sebuah pusat, jadi lingkaran perwujudan
yang banyak ini harus mempunyai sebuah pusat atau pangkalan. Jika kita mampu
menemukannya kita mungkin mendapatkan petunjuk untuk pemecahan persoalan kita.
Seluruh pengetahuan matematika bersandar pada dasar yang kecil yaitu nol.
Sekarang untuk alam semesta yang tidak terbatas kita harus menemukan nol atau
pangkalan dari mana semua bidang kehidupan dimulai. Lagi pusat sebuah
lingkaran, jika diamati dengan seksama, di dalamnya itu sendiri ada lingkaran
lain yang lebih kecil dan lebih halus. Dengan begitu harus ada bahkan pusat
yang lebih halus untuknya. Proses yang sama berlangsung terus sampai yang tidak
berakhir. Dengan kata lain setiap lingkaran yang lebih halus atau lebih kecil
menyajikan sebagai pusat dari lingkaran luarnya yang lebih besar. Pertimbangan
sehat atau imaginasi gagal untuk menemukan sumbernya atau akhirnya. Jadi,
dibelakang alam semesta meterial yang padat ini ada yang lain yang lebih halus
atau alam semesta yang lebih halus yang merupakan alas atau pusat dari alam
semesta yang sebelah luar ini. Lagi untuk lingkaran yang lebih halus dan
seterusnya. Menguraikan dengan cara lain, jadi ada lingkaran-lingkaran yang tak
terkira banyaknya satu demi satu, mengelilingi titik terhalus yang tak dapat
dibayangkan, pusat di dalam, setiap lingkaran menurut urutan menyajikan sebagai
pusat dari lingkaran yang diluarnya, sampai kita tiba pada bentuk kehidupan
yang padat sekarang. Apa yang kita harus lakukan sekarang adalah untuk
menemukan langkah kita ke belakang bentuk kehidupan yang kotor sekarang sampai
yang sebelumnya lebih halus dan bahkan bentuk yang lebih halus sampai batas
terjauh yang memungkinkan dari tujuan manusia. Dalam bentuk kehidupan kita
sekarang kita berputar berkeliling-keliling di dalam lingkungan kekotoran.
Harapan kita hanyalah terletak dalam mendorong jalan kita persis menuju pusat
atau sebab utama menyeberangi daerah yang lebih halus satu demi satu. Itulah
intisari dari ilmu pengetahuan spiritual. Sebab utama dari seluruh alam semesta
dari yang terhalus sampai yang terkotor adalah pusat yang paling dalam,
pangkalan atau nol. Kita dapat menyebutnya sebagai Tuhan atau Brahma.
Susunan
manusia juga sama persis seperti alam semesta. Sebagaimana di luar alam semesta
yang padat ini ada banyak sekali orang lain yang lebih halus dan bahkan bentuk
yang lebih halus. Jadi dibelakang bentuk jasmani seseorang yang kotor ada
banyak yang lebih halus dan bahkan bentuk-bentuk kehidupan yang lebih halus.
Bentuk yang paling luar adalah tubuh yang kotor (Sthool Sharir) dibelakangnya ada tubuh astral (Sookshma Sharir) dan tubuh causal (Karan Sharir). Disamping ketiga bentuk luar ini ada banyak sekali
yang lainnya yang begitu halus dan halus sehingga pemikir tidak menyebut mereka
sebagai tubuh-tubuh tetapi hanya penutup-penutup halus yang mengelilingi jiwa.
Ini sangat sulit untuk memberikan nama bagi masing-masing jenis tubuh yang
mungkin tidak dapat dihitung. Dengan semua bentuk-bentuk yang banyak ini dari
yang terhalus sampai yang terkotor, seseorang dalam kehidupan di dunia material
sebagai tiruan yang sebenarnya dari alam semesta atau seluruh perwujudan Tuhan
digambarkan oleh sebuah lingkaran lengkap dari lingkar yang paling luar sampai
pusat yang paling dalam atau nol. Sekarang, pusat yang paling dalam atau nol
dari kehidupan seseorang dan perwujudan Tuhan sungguh-sungguh sama. Kenyataan
akan Tuhan berarti sama dengan Kenyataan Diri dan sebaliknya. Semua alam
semesta datang dalam kehidupan dari titik yang sama, nol, melalui proses
evolusi. Serupa itu kehidupan seseorang juga berkembang dari titik yang sama.
Sebelum
waktu penciptaan yang ada di dalam kehidupan hanyalah sebab utama dan seluruh
alam semesta seperti kita lihat hari ini bergabung di dalamnya dalam bentuk
yang paling halus, segalanya hilang tanda-tanda perseorangannya. Sekarang,
pusat, seperti biji kecil sebuah pohon, termasuk di dalamnya seluruh alam
semesta dalam bentuk yang paling halus. Jadi ini bentuk yang dipersingkat
sekali yang luar biasa dari perluasan perwujudan yang sama seperti yang kita
lihat hari ini. Jadi pusat, gerakan terpendam dan seluruh ciptaan dalam bentuk
yang paling halus semua bergabung bersama sebagai satu unit, menjadi penyebab
dari ciptaan saat waktunya tiba. Pada waktu penciptaan segalanya mulai
mengambil sebuah bentuk keadaan. Manusia juga mengambil keadaannya tersendiri.
Kesadaran akan kepribadian adalah penutup pertama dalam susunan manusia.
Tambahan-tambahan yang lebih banyak diteruskan satu demi satu. Egoisme mulai
berkembang dan pada akhirnya mengambil sebuah bentuk yang lebih kotor.
Pekerjaan pikiran, perasaan-perasaan dan panca indera mulai memberikan
bagiannya menuju kekotoran. Tindakan-tindakan tubuh dan pikiran membawa pada
pembentukan Samskaras. Akhirnya, sekarang manusia hidup dalam bentuk yang
terkotor, terdiri dari tubuh bagian luar yang kotor dan tubuh-tubuh bagian
dalam yang lebih halus dan penutup-penutupnya. Sekarang, dari keadaan kehidupan
luar yang padat kita melangkah langsung menuju pusat melewati keadaan-keadaan
yang lebih halus satu demi satu. Dari tubuh yang kotor kita sampai pada tubuh
pikiran dan kemudian pada tubuh causal tumbuh lebih halus dan lebih halus disetiap
langkah dan maju lebih jauh menghadapi penutup-penutup lainnya.
Proses
yang biasa diikuti digolongkan kedalam tiga bagian, Karma (tindakan), Upasana (Kesetiaan)
dan Gyana (pengetahuan) yang
memberikan dasar umum bagi semua agama dan kepercayaan yang berbeda. Empat cara
dasar (Sadhana Chatushtaya) yang
diikuti untuk tujuan ini hampir sama dimana-mana.
Sadhana
pertama di dalam ini adalah Viveka
(perbedaan). Kita melihat banyak hal di dalam dunia tetapi ketika kita berpikir
tentang kehidupan mereka, kita menemukan bahwa mereka berubah-ubah, yaitu
mereka adalah bentuk-bentuk yang berbeda dari Maya, begitulah kita biasa
menyebut mereka. Dengan demikian kita di dalam batin dibujuk untuk pergi lebih
dalam dengan maksud untuk menyelidiki penyebabnya. Jadi perhatian kita
dialihkan dari hal-hal yang fana (tidak kekal) kepada yang tidak berubah atau
kekal. Tujuan duniawi dengan demikian mulai kehilangan daya tariknya dan kita
merasa sedikit banyak tidak terikat dengan mereka. Ini membawa kita pada
keadaan Vairagya (penolakan) yang
dikenal sebagai yang kedua dari empat Sadhanas. Keadaan Vairagya juga
dihasilkan oleh sebab-sebab lain tertentu juga. Sebagai contoh, saat kita bosan
dengan tujuan-tujuan duniawi setelah memperturutkan mereka dengan puas
kadang-kadang kita mulai merasa jijik di dalam batin terhadap mereka. Dalam hal
ini perhatian kita tentu saja dialihkan menuju beberapa gambaran mulia dan kita
merasa sedikit bangkit kepada pikiran Ketuhanan. Kedua, ketika kita ditusuk
dalam-dalam oleh pengkhianatan dan ketidak percayaan terhadap dunia kita merasa
disamarkan, dan di dalam batin menentang pada hal-hal duniawi. Perasaan ketidak
puasan dan ketidak tergantungan juga berkembang saat kita ada di dalam keadaan
kehilangan karena kematian seseorang yang kita cintai. Tetapi Vairagya yang
diciptakan di dalam keadaan ini jarang asli atau kekal. Ini segera hilang
dengan perubahan keadaan yang merugikan. Ada sebuah cerita yang berhubungan
bahwa seseorang tertentu ingin melihat Kabirdas. Waktu dia sampai di rumah
Kabirdas dia diberitahu bahwa Kabirdas sedang pergi dengan sebuah kelompok
penguburan ke tempat kremasi untuk membakar mayat dari seorang relasinya
yang meninggal dunia. Orang itu
meneruskan ke tempat kremasi untuk melihat Kabirdas di sana. Tetapi karena dia
tidak pernah melihat Kabirdas sebelumnya dia pikir mungkin sulit baginya untuk
mengenali Kabirdas diantara kumpulan orang-orang. Untuk tujuan ini dia telah
diberitahu bahwa dia harus memperhatikan lingkaran cahaya wajah setiap orang.
Lingkaran cahaya wajah setiap orang dari kumpulan tersebut akan ditemukan
bersinar saat dia maju menuju tempat pemakaman, tetapi akan bertambah suram dan
suram akhirnya hilang ketika mereka kembali pulang. Hanya lingkaran cahaya wajah
Kabir yang akan tetap bersinar terus dengan kemilau yang sama. Jadi perasaan
Vairagya diciptakan oleh kejadian yang tiba-tiba yang biasanya berumur pendek
dan berubah dengan perubahan-perubahan keadaan. Meskipun goncangan yang
tiba-tiba untuk sementara menciptakan perasaan Vairagya, biji keinginan dan
kesenangan masih ada tertanam dalam-dalam di dalam hati dan segera keluar saat
menemukan suasana yang cocok. Perasaan Vairagya dalam arti yang sebenarnya dan
dengan hasil yang abadi hanya dapat dikembangkan setelah pembersihan dengan seksama dan keseimbangan sebagaimana
mestinya.
Vedantins mempraktekkan Vairagya dengan
cara yang berbeda. Mereka memaksa imaginasi mereka untuk percaya bahwa semua
yang mereka lihat adalah Maya, oleh karenanya tidak kekal atau palsu dan
menyimpulkan bahwa kenyataan pada dasarnya adalah Brahma(Tuhan). Mereka
menggunakan kekuatan keinginannya untuk memperkuat pikiran sedemikian rupa
sehingga mereka terbiasa dengan hal itu menyebabkan perubahan hanya dalam
tindakan-tindakan dan kebiasaan di luar. Jadi efeknya hampir hanya di luaran
saja. Bagaimanapun ini dapat, setelah mempraktekkan lama dan terus menerus
memungkinkan memantulkan sedikit dari dalam batin. Demikian pula Viveka yang
dijalankan hanya oleh kekuatan imaginasi tanpa praktek tidak mempunyai dasar
yang benar dan kuat. Belajar yang serius tentang pokok persoalan menunjukkan
bahwa Viveka dan Vairagya sesungguhnya bukanlah cara (Sadhana) tetapi hanyalah
hasil dari beberapa cara. Viveka atau Vairagya adalah sebuah keadaan pikiran
berkembang pada tingkatan yang berbeda dengan mempraktekkan terus Yogic Sadhana
tertentu misalnya: ingatan, kesetiaan atau cinta dan sebagainya. Viveka dalam
arti sebenarnya tidak pernah berkembang kecuali perasaan dan panca indera
dibersihkan sepenuhnya. Ini hanya terjadi ketika pikiran diatur dan
didisiplinkan dengan tepat dan egoisme (atau Ahankar) mengambil sebuah keadaan
yang bersih. Jadi Viveka sebenarnya hasil dari praktek yang diikuti dengan
tujuan untuk menghasilkan hasil-hasil yang diinginkan. Sekarang Vairagya,
Sadhana kedua dari Vedantists demikian juga hasil dari Viveka. Jadi mereka
adalah tingkatan-tingkatan dasar pencapaian Yoga dan bukan Sadhanas atau
cara-cara pencapaian dari tingkatan-tingkatan tersebut. Dalam Yoga sistem Sahaj
Marg, Viveka dan Vairagya tidak diperlakukan sebagai Sadhana tetapi
ditinggalkan di samping untuk berkembang secara otomatis oleh calon pengikut
selama kemajuan dia. Sahaj Marg mulai dari apa yang dikenal sebagai Sadhana
Vedantists ketiga yang terdiri dari enam
bentuk pencapaian spiritual yang dikenal sebagai Shat-Sampatti. Sampattis
pertama ini adalah Sham yang
berkenaan dengan kondisi damainya pikiran membawa pada sebuah keadaan
ketenangan dan kesentosaan. Ketika kita mempraktekkan ini Viveka dan Vairagya
mengikuti secara otomatis. Vairagya, dalam arti tidak adanya sesuatu menurut
pendapat saya adalah sebuah proses yang sulit, untuk mana di dalam ini kamu
harus menerima jalan negatif dan membuang atau menolak semua yang datang pada
pandanganmu. Tetapi jika kamu menerima pandangan positip dan menerima sesuatu
hanya sebagai yang nyata, melekat padanya dengan sepenuh hati, hal-hal lainnya
akan secara alami segera jatuh ke belakang dan perlahan-lahan, kamu akan
menjadi tidak menghiraukan mereka. Akibatnya keterikatan kamu dengan mereka
akan berangsur-angsur mulai hilang dan kamu akan memperoleh Vairagya dengan
cara-cara yang paling mudah. Jadi hal utama di dalam Yoga adalah pengaturan
pikiran yang selalu gelisah dengan tepat. Ini menciptakan banyak sekali
gambaran-gambaran dan pikiran-pikiran, memberikan dorongan bagi
perasaan-perasaan dan panca indera dan menyebabkan tubuh melakukan tindakan.
Segalanya baik atau jahat berasal dari pikiran dan hanya pikiran ini yang
menentukan semua perasaan-perasaan kita, emosi dan dorongan hati.
Pemikir-pemikir telah mengklasifikasikan keinginan-keinginan pikiran dalam lima
bagian. Yang pertama dikenal sebagai Kshipta
adalah kondisi yang mengganggu pikiran termasuk semua perasaan-perasaan seperti
lapar, haus, marah, duka cita dan keinginan-keinginan untuk kaya, popularitas
dan sebagainya. Kedua, Moodha,
termasuk kecenderungan yang memperkembangkan keengganan, kelambanan atau
kemalasan. Ketiga, Vikshipta,
mengenai kecenderungan yang mendorong pikiran menjauh dari pikiran-pikiran suci
dan menyebabkan sering timbul banyaknya pikiran-pikiran yang menyimpang pada
saat meditasi. Keempat, Ekagra - Vritti,
adalah kecenderungan yang membuat perhatian kita tetap hanya pada satu hal.
Terakhir Nirodh adalah kecenderungan
yang membawa pikiran pada keadaan serba lengkap dengan sempurna bebas dari
keruwetan-keruwetan dan gangguan-gangguan. Untuk mencapai tingkatan ini
orang-orang suci biasanya menasehati Ashtanga
Yoga yang terkenal (yaitu Yama,
Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahar, Dharana, Dhyana dan Samadhi). Dalam
sistem pelatihan Sahaj Marg kita mulai dari Dhyana,
langkah ketujuh dari Yoga menetapkan pikiran kita pada tujuan dengan maksud
untuk menjalankan meditasi. Langkah-langkah sebelumnya tidak diambil terpisah
tetapi mereka secara otomatis masuk ke dalam praktek saat kita mulai dengan
meditasi. Jadi banyak waktu dan tenaga yang disimpan oleh cara-cara ini.
Secara
singkat, kita mulai mempraktekkan dari Sham, yang pertama dari enam Sampattis,
Sadhana ketiga dari Vedantists dan mencurahkan seluruh perhatian kita pada pembentukan yang tepat dan pengaturan pikiran
yang mudah dicari dengan bantuan kekuatan transmisi dari Master yang bernilai.
Pengontrolan perasaan-perasaan dan panca indera (atau Dam) mengikuti secara
otomatis ketika kita menetapkan pikiran kita pada satu hal dan hanya satu yaitu
Kenyataan, mengabaikan semua hal-hal lainnya. Biasanya kebanyakan orang-orang
suci mengikuti jalan ini. Beberapa sekte mencoba sebuah pendekatan pada Sham
melalui praktek Karma (tindakan), yang lainnya melalui kesetiaan atau Bhakti.
Masih ada yang lainnya yang mengesampingkan keduanya ini dan maju melalui
perantaraan Gyana (pengetahuan). Sebenarnya tingkatan-tingkatan Karma, Upasana
dan Gyana tidak berbeda dari satu dengan yang lain tetapi saling berhubungan dengan
erat dan ada bersama-sama dalam satu dan keadaan yang sama. Sebagai contoh,
dalam Upasana, mengontrol pikiran adalah Karma, keadaan pikiran yang dikontrol
adalah Upasana dan kesadarannya adalah Gyana; di dalam Gyana proses memikir
adalah Karma, tinggal pada maksud yang dipikiran adalah Upasana dan keadaan
yang dihasilkan adalah Gyana, ketika dalam Karma, keputusan untuk bertindak
adalah Karma, proses membawanya menjadi praktek adalah Upasana dan kesadaran
akan pencapaian adalah Gyana. Jadi itulah yang ada di dalam sistem pelatihan
kita mereka mengambil semuanya sekaligus yang paling berdaya guna menciptakan
secara otomatis keadaan Viveka dan Vairagya dalam arti yang sebenarnya. Tidak
adanya praktek yang benar-benar berguna jika hal itu tidak berhasil secara
alami menjadi Viveka dan Vairagya. Bentuk nyata dari Viveka adalah ketika orang
mulai menyadari kerusakan dan kelemahannya dan di dasar hatinya merasa penuh
penyesalan atas hal tersebut.
Kita
sudah menjelaskan dua Sampattis yang pertama. Sekarang kita sampai pada yang
ketiga dikenal sebagai Uparati yang
berarti penarikan diri. Dalam keadaan ini seseorang bebas dari seluruh
keinginan-keinginan, bahkan itu mengenai dunia berikutnya. Dia tidak terpesona
atau tertarik oleh segalanya di dunia. Pikirannya sepanjang waktu dipusatkan
pada satu yang Nyata. Ini berbeda dari keadaan Vairagya dalam pengertian bahwa
Vairagya menghasilkan perasaan keengganan untuk tujuan-tujuan duniawi sedangkan
Uparati adalah sebuah keadaan dimana kedua perasaan tertarik dan jijik tidak
ada. Vairagya sungguh-sungguh bentuk yang tidak lengkap dari keadaan mulia dan
keadaan yang lebih tinggi ini. Pada tingkatan ini pikiran kita,
perasaan-perasaan, dan Panca indera sepenuhnya di murnikan. Kita mulai merasa
bosan dengan semua hal-hal yang di luar dan menjauhkan diri dari mereka
berpikir bahwa tidak bermanfaat memberikan perhatian kepada mereka. Kita bebas
dari pengaruh keterikatan pada dunia. Bahkan kesenangan-kesenangan surgawi
tidak mempesona bagi orang seperti itu, tidak juga dia merasa tertarik untuk
keselamatan, kebangkitan atau cita-cita lain yang lebih tinggi.
Sampatti
keempat adalah Titiksha atau keadaan
ketabahan. Pada tingkatan ini seseorang benar-benar puas dengan apa yang
diberikan Tuhan kepadanya. Dia tidak mempunyai perasaan terluka, terhina,
terkutuk atau penghargaan.
Yang
kelima adalah Shraddha atau
kepercayaan yang merupakan pencapaian yang sangat tinggi. Ini sangat berbeda
dari keadaan-keadaan sebelumnya tentang kepercayaan yang luarnya saja seperti
dibicarakan di bab dengan judul “Kepercayaan”.
Yang
terakhir adalah Samadhan merupakan
keadaan diri yang tetap pendiriannya pada keinginan Master, bahkan tanpa
kesadaran akan hal tersebut. Pada tingkatan ini seseorang benar-benar setia
pada Master yang besar tanpa mempunyai pikiran-pikiran sampingan.
Jadi
kita telah menjelaskan macam-macam pencapaian dari Sadhana ketiga. Sekarang
kita sampai pada empat Sadhana terakhir yang dikenal sebagai Mumukshu. Sekarang ada sedikit
tertinggal untuk diselesaikan ketika seseorang sampai pada tingkatan ini
kecuali untuk mengembangkan hubungan yang erat dengan Kenyataan Absolut atau
penggabungan yang sesungguhnya dalam keadaan tidak ada apa-apa. Ini adalah
tahap nyata dari kenyataan dan dapat dicapai setelah sungguh-sungguh
mempraktekkan Sadhanas dasar di bawah sistem Yoga yang lama. Sistem modern
Sahaj Marg membuat suatu pengalihan dari jalan lama yang sudah ditentukan,
dalam hal ini tidak mengambil langkah-langkah yang berbeda dari Ashtanga Yoga
satu persatu secara terpisah. Dibawah sistem ini Asana, Pranayama, Dharana,
Dhyana dan Samadhi semuanya diambil secara serentak selama perjalanan meditasi.
Meditasi pada waktunya membawa kita pada konsentrasi atau keadaan Samadhi. Jadi kita secara alami maju
pada Samadhi yang merupakan langkah akhir dari Yoga.
Ada
tiga bentuk Samadhi atau tingkatan-tingkatan konsentrasi. Pertama adalah dimana
seseorang merasa hilang atau tenggelam. Panca indera, perasaan dan emosi untuk
sementara dihentikan dalam cara dimana mereka kelihatan rupanya mati untuk
sesaat. Dia menyerupai seseorang mati tertidur, tidak sadar akan segalanya.
Bentuk kedua adalah dimana seseorang meskipun konsentrasi secara dalam pada
sebuah titik, tidak merasa benar-benar tenggelam di situ. Ini dapat digambarkan
sebagai suatu keadaan sadar di dalam sebuah keadaan tidak sadar. Nampaknya dia
tidak sadar akan segalanya tetapi masih ada kesadaran di dalamnya, meski hanya
dalam rupa bayangan. Seseorang berjalan sepanjang jalan berpikir dalam-dalam
tentang beberapa persoalan. Dia begitu terserap di dalamnya sehingga dia tidak
lagi menyadari hal-hal lain, agaknya tidak juga melihat yang lain-lainnya,
tidak juga mendengar bunyi suara yang ada di dekatnya. Dia terus menerus dalam
keadaan pikiran tidak sadar. Tetapi dia masih tidak bertabrakan dengan sebuah
pohon yang ada di tepi jalan, tidak juga ditabrak sampai jatuh oleh sebuah
mobil yang datang di jalan tersebut. Dalam keadaan ketidak sadaran ini dia
tidak mengetahui menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan dan tindakan-tindakan
seandainya memerlukan. Dia tidak menyadari akan tindakan-tindakannya. Inilah
kesadaran dalam keadaan tidak sadar. Dalam keadaan pikiran ini kesadaran atas
hal-hal lainnya muncul menjadi keadaan tertidur dan menciptakan sedikit
impresi. Bentuk ketiga adalah Sahaj Samadhi. Inilah jenis konsentrasi terhalus.
Dalam keadaan ini seseorang sibuk dengan pekerjaannya, pikirannya terserap di
dalamnya, tetapi di inti hatinya yang paling dalam dia masih tetap pada hal-hal
yang nyata. Dengan kesadaran pikirannya dia sibuk dengan pekerjaan di luar sedang
pada saat yang sama pikiran bawah sadarnya sibuk dengan pikiran-pikiran suci.
Sejak semula dia dalam keadaan Samadhi meskipun rupanya dia sibuk dengan
pekerjaan dunia. Inilah bentuk tertinggi dari Samadhi dan sedikit yang
tertinggal harus dijalankan setelah seseorang masuk pada keadaan ini secara
tetap.
Macam-macam
tingkatan spiritual diperoleh selama langkahnya diberikan ciri dengan kekuatan
dan kemampuan khusus untuk pekerjaan-pekerjaan alam. Daerah yang paling rendah
dikenal sebagai Pinda Desh terdiri
dari macam-macam titik-titik cabang bertempat didalam rongga dada. Ini pusat
dari Panch Agni Vidya demikian biasa
dibicarakan dalam bacaan keagamaan orang-orang Hindu kuno. Ketika seseorang
memperoleh penguasaan terhadap daerah ini, dia secara otomatis mengembangkan di
dalam dirinya sebuah intuisi menguasai
ilmu pengetahuan berkenaan dengan unsur di dalam alam dimana dia dapat
menggunakan apapun yang dia suka setelah cukup praktek dan pengalaman. Tetapi
karena pencapaian ini tidak sesuai dengan tujuannya, sepanjang menyangkut
masalah spiritualiti dalam sistem pelatihan yang tepat guna, seorang calon
pengikut tetap tidak menghiraukan semua kekuatan-kekuatan material dan dibantu
untuk menyeberang jalan dengan kekuatan Guru yang dipantulkan, sehingga perhatiannya
mungkin tidak tertarik oleh hal-hal lainnya selain hanya sifat dasar spiritual.
Kemudian dia ada dalam posisi untuk menjalankan pekerjaan ketuhanan yang
kecil-kecil yang dipercayakan kepadanya. Lingkungan kerjanya pada tingkatan ini
adalah tempat yang kecil misalnya sebuah kota, sebuah daerah pemerintahan atau
beberapa bagian yang lebih besar. Pekerjaan alam yang dia kerjakan adalah
penyesuaian diri yang tepat atas segalanya dalam tindakan di dalam batas
kekuasaannya sepenuhnya sesuai dengan keinginan alam. Dia memasukkan
unsur-unsur yang diperlukan di dalam lingkungannya dan melepaskan hal-hal yang
tidak diinginkan. Dia dikenal sebagai Rishi dan tanda pangkatnya adalah Vasu.
Yang
berikutnya lebih tinggi dalam pangkat dan posisi adalah Dhruva. Dia menikmati penguasaan
terhadap Brahmanda Mandal dan
termasuk kategori Muni. Lingkungan
pekerjaannya lebih besar dan menggunakan kekuasaannya terhadap Vasus.
Kewajibannya adalah melihat kebersihan lingkungan dari semua pikiran-pikiran
dan gambaran-gambaran yang tidak diinginkan yang ada di lingkungannya.
Disamping pekerjaan rutinnya dia juga harus melihat pada banyaknya
kewajiban-kewajiban lain yang dipercayakan kepadanya untuk sementara waktu.
Keadaan yang diperoleh setelah dengan seksama menerangi daerah yang terletak di
dalam tubuh manusia dalam hylem shadow (bayangan
spiritual).
Lebih
tinggi di atasnya adalah posisi Dhruvadhipati
yang mengatur pekerjaan Dhruvas. Keadaan ini diperoleh setelah mendapat
penguasaan terhadap titik Naval.
Lingkungan pekerjaannya memperluas sampai pada seluruh dunia tetapi pekejaannya
serupa di dalam alam dengan Dhruva. Di samping pekejaan-pekerjaan rutinnya
dalam hubungannya dengan kebersihan lingkungan, dia juga harus melihat pada
kejadian-kejadian sederhana dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu
yang berbeda. Ini petugas-petugas ketuhanan yang jiwa-jiwanya telah berkembang
tinggi dengan kemampuan besar yang bekerja dengan patuh menurut keinginan Alam
sama sekali mengabaikan perasaan kepribadian atau diri. Pekerjaan mereka secara
otomatis dan seperti mesin dan mereka tidak mempunyai pilihan atau kebijaksaan
pribadi dalam segala hal.
Posisi
Parishad, yang di atas
Dhruvadhipatis, jarang diberikan, dilimpahkan hanya ketika alam sangat
membutuhkan posisi ini. Dia mengatur dan menunjukkan aktivitas dari macam-macam
petugas-petugas bawahan yang disebut di atas dan memberikan macam-macam
kewajiban kepada mereka, menyimpan hanya pada diri sendiri untuk hal-hal yang
paling penting. Keinginan Dia bekerja dalam semua persoalan-persoalan penting
seperti kerja yang besar atau
peperangan-peperangan, dengan maksud untuk menghasilkan hasil yang sudah ditakdirkan. Dia mengerjakan semua
rencana alam yang merusak dan membangun. Lingkungan pekerjaannya sudah dibatasi
hanya pada dunia ini. Keadaan yang diperoleh ketika seseorang memperoleh
penguasaan penuh terhadap titik pusat Sahasra
Dal Kamal.
Posisi
Maha Parishad adalah tertinggi dalam
pangkat. Ini jabatan ketuhanan yang terakhir dan sangat jarang dilimpahkan
kecuali saat alam berada dalam kebutuhan yang mendesak untuk perubahan drastis
atau perbaikan dunia secara seksama. Dia
menikmati kekuasaan tertinggi. Ini mulai dari daerah sebelah kanan dari
tengkorak belakang seperti yang diberikan dalam diagaram No. 5 pada halaman 36,
Efficacy Raja Yoga (Kemanjuran Raja Yoga),
edisi ke IV.
Hal
ini adalah pencapaian yang mengagumkan dari Raja Yoga dimana seseorang dapat
memperolehnya jika dia benar-benar tulus tentang itu dan maju sepanjang jalan
yang benar dibawah bimbingan yang tepat.
10
PENGLIHATAN
SAYA
Dunia
jaman sekarang berlalu menembus tingkatan kritis. Situasi politik tumbuh luar
biasa ruwet hari demi hari.. Kondisi ekonomi telah menjadi sangat menyedihkan.
Keburukan moral, hal-hal keagamaan dan sosial sudah hampir sampai pada batas
akhirnya. Suasana persaingan, kerusuhan dan ketidak amanan berlaku di
mana-mana. Setiap bangsa melihat dengan mata iri terhadap tetangganya dan
menggunakan semua akalnya untuk menemukan cara-cara mengeksploitasikan negara
tetangganya. Negarawan dunia tidak begitu mengabaikan kenyataan-kenyataan ini.
Mereka mencoba setiap cara untuk sampai pada sebuah pemecahan yang memuaskan
atas macam-macam persoalan dalam menghadapi dunia. Tetapi usaha-usaha dari
semua organisasi yang didirikan untuk tujuan ini kelihatannya tidak melahirkan
hasil-hasil yang membesarkan hati secara keseluruhan. Persoalan mengenai
kedamaian dunia begitu menonjol di dalam pikiran politikus-politikus dan
negarawan-negarawan terhebat hanyalah sebuah ilusi atau hayalan belaka.
Keadaan
peristiwa di India tidak mengulurkan harapan yang cemerlang. Pertikaian dan
perasaan kelompok lazim terjadi di negara. Kepentingan diri sendiri menjadi
menonjol. Prinsip-prinsip moral diabaikan. Persoalan tentang roti dan mentega
menjadi gawat. Meskipun ada persoalan-persoalan ini beberapa diantara kita
berpikir bahwa negara sedang berkembang. Tanda bahwa berkembang mereka menjadi menyimpang pelan-pelan dari negara
menuju bentuk peradaban Barat yang didasarkan pada hal materialistik
semata-mata. Tetapi sekarang jaman materialistis harus berakhir. Orde lama
harus berubah memberikan tempat bagi yang baru. Struktur peradaban dunia
sekarang didasarkan pada listrik dan tenaga atom yang tidak tetap ada untuk
jangka lama. Ini ditakdirkan untuk segera jatuh. Seluruh suasana terlalu banyak
diisi dengan pengaruh beracun atas yang sepenuhnya materialistis dimana ini
hampir diluar kontrol manusia untuk membersihkannya. Saatnya hampir tiba bagi
sebuah perubahan yang sebentar lagi terjadi dan tidak dapat dielakkan dan untuk
ini kekuatan Ketuhanan dalam bentuk manusia sudah bekerja seperti yang
ditunjukkan dalam buku saya Efficacy of
Raja Yoga (Kemanjuran Raja Yoga). Mungkin saat ini kelihatannya tidak
meyakinkan bagi beberapa diantara kita tetapi ini sebuah kenyataan melebihi keraguan.
Dunia mengenal dia dan pekerjaannya dalam hal ini setelah beberapa saat ketika
peristiwanya sudah cukup kelihatan. Pekerjaan Ketuhanan selalu dikerjaan
melalui perantaraan seseorang yang mempunyai kemampuan tinggi dan tidak
langsung. Alasannya adalah Tuhan tidak mempunyai pikiran yang hanya merupakan
alat untuk membawa sesuatu kepada tindakan. Orang memiliki pikiran yang dapat
dipergunakan untuk suatu tujuan, tetapi hanya ketika dia kehilangan perasaan
kepribadian secara total. Apa yang tertinggal di dalam dia setelah mencapai
pengabaian diri sepenuhnya, bukanlah pikiran manusia tetapi hanya pikiran
Ketuhanan dalam keadaan yang murni dan
nyata. Sekarang Alam bekerja melalui pikiran Ketuhanan ini meskipun rupanya ini
ada dalam wujud manusia.
Saya
memberitahukan kepada pembaca sebuah pandangan sekilas tentang dunia akan
menjadi apa, seperti yang saya lihat dalam penglihatan saya. Percaya atau
tidak, tetapi itulah yang saya baca tentang Alam dalam keadaan clairvoyant
(penglihatan terhadap apa yang akan terjadi di masa yang akan datang).
Tanda-tandanya jelas bahwa kerusakan atas unsur-unsur yang tidak diinginkan di
dunia telah dimulai. Contoh-contoh tentang hal tersebut sudah sering terjadi
sebelumnya, selama periode keberadaan dunia ini. Perang Rama melawan Rahwana, banjir Noah, dan peperangan
Mahabarata adalah beberapa dari banyak contoh-contoh. Kerusakan seperti
tersebut dikerjakan melalui macam-macam cara. Ini mungkin melalui perang atau
permusuhan di dalam lingkungan, melalui bencana alam seperti pergolakan gunung
berapi atau melalui penyebab-penyebab lain yang serupa. Waktunya sekarang sudah
tiba untuk tahap akhir dan dunia sedang tergesa-gesa menuju hal tersebut dengan
kecepatan yang tidak dapat dikendalikan. Aksinya mungkin menjadi berayun penuh
dengan semakin dekatnya abad sekarang tetapi beberapa peristiwa yang disebutkan
satu persatu di bawah dapat mengambil waktu lebih panjang untuk berlaku.
Panasnya
matahari berangsur-angsur berkurang untuk beberapa saat lalu dan ini mungkin
sebuah persoalan mengherankan bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan dalam
memecahkannya dimana sesudah beberapa saat hidup dipermukaan bumi menjadi
sangat tidak mungkin karena tidak cukupnya panas dalam matahari. Tidak ada penyelesaian
terhadap hal ini dalam tujuan mental mereka meskipun semua kekuatan material
berada pada perintahnya. Saya dapat memastikan mereka bahwa pada saat ini panas
matahari tidak berkurang sampai sejauh itu. Penurunan yang sekarang dalam panas
matahari berarti hanya untuk melancarkan proses perubahan alam dan orang khusus
yang ditugaskan untuk pekerjaan itulah yang menggunakan untuk tujuannya. Ini
sebuah tanda yang pasti atas pergolakan yang sebentar lagi terjadi dalam
seluruh struktur dunia dan setelah itu matahari akan mulai lagi dengan sinar
yang penuh. Tanda yang sama akan muncul lagi pada waktu Mahapralaya (pembubaran
menyeluruh/Maha kiamat) tetapi karena ini sesuatu yang jauh sekali, saya tidak
suka untuk tinggal pada persoalan tersebut disini. Satu hal yang saya akan
ungkapkan sehubungan hal ini untuk kepentingan pembaca. Pada saat mahapralaya
kutub bintang akan menyimpang beberapa derajat dari posisinya dan akan timbul
sedikit lebih panas. Energi yang kuat dalam bentuk gas akan mulai berhembus keluar
darinya dan pasti akan menghancurkan dunia dan segalanya dalam kehidupan.
Tindakan penghancuran akan dimulai dari kutub Utara.
Sebagai
akibat dari pergolakan saat ini, perubahan drastis akan terjadi dan struktur
dunia baru akan sangat berbeda dari yang satu yang kita lihat hari ini. Nasib
negara Inggris akan menyedihkan. Sebagian dari itu adalah bagian sebelah
Selatannya akan tenggelam ke dalam laut. Tenaga sebuah gunung berapi dalam
keadaan terpendam sedang bekerja di jantung kota London dan selama itu akan
meledak dalam bentuk letusan gunung berapi. Arus Teluk akan mengubah alirannya
dan negara akan menjadi sangat dingin. Nasib Eropa juga akan sama.
Negara-negara yang lebih kecil akan kehilangan kehidupannya. Masa depan Rusia
ada dalam kegelapan. Dia tidak dapat menyelamatkan diri. Senjata Rusia akan
menjadi seperti sebuah pistol di kepalanya sendiri. Komunisme akan mempunyai
kuburan di tanah airnya sendiri. Bagi Amerika dia ada dalam bahaya yang
sebentar lagi terjadi untuk kehilangan kekayaannya dan selama itu dia mungkin
hampir turun menjadi miskin. Kekuatan dan kebesarannya juga akan tenggelam
bersamaan dengan itu. India akan mendapatkan kembali keagungannya yang asli dan
dia akan muncul menjadi menonjol dibawah pemerintahannya sendiri. Kekuasaan kerajaannya
akan memperluas jauh dan lebar dan dunia akan memandang padanya atas cahaya
menara api. Tetapi dia juga akan mempunyai bagian dalam pergolakan dunia.
Kuman-kuman pemberontakan berkembang di dalam negara. Sebagian dari negara
yaitu bagian Timur Bengal akan tenggelam
ke dalam laut. Tenaga gunung berapi juga aktif dan mungkin serius mempengaruhi
beberapa bagian terutama negara Bihar. Dataran tinggi Dekan dapat, jauh dihari
depan, akan berubah menjadi sebuah pulau. Akan ada banyak sekali pertumpahan darah
di seluruh dunia dan kehilangan kehidupan melalui macam-macam sebab akan
demikian besar sehingga populasi dunia akan sangat menurun. Struktur dunia baru
yang akan datang akan berdiri pada tulang dan debu. Sebuah bentuk peradaban
yang didasarkan pada spiritualisme akan tumbuh maju di India dan ini akan, pada
waktunya, menjadi peradaban dunia. Tidak ada negara atau bangsa akan hidup
lebih lama tanpa spiritualiti sebagai dasarnya, dan semua bangsa harus segera
atau kemudian mengambil jalan yang sama jika ingin mempertahankan
keberadaannya.
LAMBANG

11
LAMPIRAN - LAMBANG
Lambang
mewakili sebuah gambar yang lengkap dari suatu sistem yang diikuti dalam Shri
Ram Chandra Mission yang diketemukan guna memperingati dan dinamakan menurut
Jiwa Suci yang terbesar Samartha Guru Mahatma Ram Chandraji Maharaj of
Fatehgargh (U.P.). Sistem yang diikuti di dalam Misi dikenal sebagai Sahaj Marg
atau Jalan Alami.
Tanda
Swastika dekat bawah melambangkan titik dimana kita mulai. Ini adalah
lingkungan atas bentuk-bentuk, upacara-upacara agama dan praktek-praktek yang
bermacam-macam jenis kita meneruskan dalam pengejaran kita, dengan jalan yang
ditunjukkan sebagai Sahaj Marg, memotong melalui gunung-gunung kesulitan dan
gangguan oleh Alam itu sendiri. Kita melangkah melalui lingkungan cahaya yang
berbeda-beda dan membayangi macam-macam kekotoran, jauh jauh di atas lingkungan
bulan dan matahari, tumbuh lebih halus dan lebih halus di setiap langkah sampai
kita mencapai titik tujuan tertinggi. Lingkungan cahaya yang diciptakan oleh
terbitnya matahari menunjukkan jaman spiritual baru dimulai dengan Kekudusan
Dia, The Samartha Guru. Ini menyebar ke seluruh ruang, menguasai daerah-daerah
dimana kita memulai dan melewati selama langkah kita sepanjang Sahaj Marg.
Sekarang
yang berlaku seluruhnya sebelum ciptaan terjadi, mungkin digambarkan sebagai
kegelapan. Kegelapan berarti tidak ada cahaya dan sebaliknya. Apa yang hidup
dimana tidak ada cahaya? Kegelapan, kita dapat menyebutnya. Apa yang mungkin
ditemukan dimana segalanya berakhir? Tidak ada apa-apa mungkin ungkapan yang hanya cocok untuk keadaan seperti itu.
Tetapi ungkapan ‘Kegelapan’ dan ‘Tidak ada apa-apa’ masih memuat gambaran tersembunyi
tentang sesuatu di dalam keadaannya, oleh karenanya jauh dari arti yang
sesungguhnya. Tidak ada cahaya dan tidak ada kegelapan mungkin cocok
menunjukkan keadaan sehubungan dengan hal diatas, yang mana tidak berubah dan
kekal. Sekarang begitulah keadaan yang murni dan mutlak dari mana kehidupan
kita saat ini telah berkembang. Ini mungkin menunjukkan sebagai lingkungan
Ketenangan Abadi yang ditunjukkan dalam bagian yang paling tinggi dari lambang.
Tidak ada Terang tidak juga Kegelapan. Di bawah itu, adalah lingkungan yang
dikenal sebagai Satpad, dimana
kebenaran menjadi yang utama dan karenanya sebuah daerah cahaya meskipun dalam
keadaan yang sangat halus.
ABHYAS : Praktek.
ABHYASI : Pengikut; orang yang mempraktekkan yoga
dengan maksud untuk memperoleh penyatuan dengan Tuhan.
ADI GURU : Guru yang mula-mula; Lalaji, di dalam
Sahaj Marg.
ADI TATTVA : Unsur yang mula-mula.
ADWAITA : Keadaan persatuan (Tidak ada dua pribadi).
AGYA CHAKRA : lihat AJNA CHAKRA.
AHAM : Saya.
AHAM BRAHMASMI : Saya adalah Brahma (Tuhan).
AHAMKARA (or AHAMKAR) : Egoisme.
AJAPA : Meditasi tanpa ucapan mantera-mantera.
AJNA CHAKRA (or AGYA CHAKRA) : Titik api terletak
diantara dua buah alis. Trikuti
AKASHA : Angkasa, langit.
ANANDA (or ANANDAM) : kebahagiaan.
ANANT : tidak berakhir atau yang tidak ada akhirnya
ANAHAD : Yang tidak dapat terdengar
ANUBHAVA: Intuisi untuk merasa atau pengalaman
pribadi dalam kerajaan alam atau Tuhan.
ANUBHAVA SHAKTI : Kemampuan berdasarkan intuisi,
kemampuan yang didapat dari pengalaman.
APARA BRAHMAN
: Absolut yang tetap (lihat Saguna Brahman).
ARJUNA : Pada siapa Krishna memberikan Gita dalam Mahabharata.
ASAN (or ASANA) : Sikap tubuh
ASHRAM (or
ASHRAMA) : Ashram di dalam Sahaj Marg ditujukan pemakaiannya hanya untuk
meditasi, segala aktivitas-aktivitas normal sehari-hari tidak diijinkan di
dalam Ashram. Sebuah Ashram biasanya diisi oleh Master, yang menciptakan sebuah
suasana spiritualiti khusus di dalam mana kita meditasi.
ASHTANGA-YOGA
(or ASHTANG-YOGA) : Patanjali
menggambarkan yoga sebagai mempunyai delapan tingkat : yama, niyama, asana,
pranayama, pratyahara, dharana, dhyana dan samadhi.
ATMAN : jiwa.
AVADHUTA (or AVADHOOTA) : Biasanya dihubungkan sebagai jiwa yang sudah
bangkit, tetapi sesungguhnya orang-orang dengan maksud spiritual yang menjadi
“tetap” pada tingkat tertentu karena perkembangan mereka sudah dihentikan.
AVARANA (or AVARAN) : Lapisan-lapisan kekotoran;
penutup-penutup
AVATAR : Inkarnasi dari jiwa Suci
AVIAKTA GATI : Keadaan yang berbeda. Keadaan dimana seseorang bebas
sepenuhnya dari batasan-batasan Maya
AVIDYA : Ketidak tahuan
AYODHYA : Tempat kelahiran Raja Rama
BASANT PANCHAMI : Hari kelima dari musim semi dalam
kalender bulanan. Ini juga hari lahirnya Lalaji.
BHAKTA : Orang yang setia
BHAKTI : Kesetiaan
BHARAT (or BHARATA) : Saudara laki-laki Raja Rama
BHAVAS : Ekspresi dari sebuah kondisi di dalam diri,
sikap pikiran.
BHOG (or BHOGA, or BHOGAM) : proses menjalani
akibat, impresi,pengalaman,kenikmatan.
BODH : Kebijaksanaan
BRAHM : Pusat; Tuhan; Yang Terakhir.
BRAHMAN (or BRAHM) : Pencipta, Tuhan.
BRAHMANDA (or BRAHMAND) : Dunia Astral. Cosmos.
BRAHMANDA MANDAL (or
BRAHMANDA DESH) : Lingkungan mental, lingkungan di atas material, daerah
cosmic, lingkungan dimana segalanya menunjukkan bentuk yang halus sebelum
berlaku di dalam dunia material.
BUDDHI : Orang pandai
CAKRA : lihat CHAKRA.
CHAITANYATA (or CHETANYATA) : Kesadaraan, termasuk
suatu aktivitas yang halus sekali.
CHAKRA : Pusat dari
kekuatan-kekuatan yang amat penting terletak di banyak tempat di dalam tubuh,
diibaratkan sebagai teratai.
CHIT : Kesadaran.
DAM : Kontrol atas perasaan-perasaan dan panca
indera.
DARSHAN : Penglihatan seseorang.
DHARANA (or DHARNA) : Konsentrasi mental (tingkat ke
enam dari yoga Patanjali).
DHRUVA : Jiwa yang telah berkembang dengan tinggi.
Tingkat pertama atau terendah dari petugas.
DHRUVADHIPATI : Petugas ketuhanan yang berkemampuan
besar yang mengatur pekerjaan Dhruvas.
DHYANA (or DHYAN) : Meditasi (tingkat ke tujuh dari
yoga Patanjali).
GITA : Pengetahuan Suci yang diberikan kepada Arjuna oleh Lord
Krishna dalam Mahabarata.
GRIHASTHA (or GRAHASTA) : Orang yang menjalani
kehidupan dunia, sebuah rumah tangga.
GRIHASTHA ASHRAMA : Kondisi-kondisi dari kehidupan
berumah tangga.
GUNAS : Tiga kwalitas alam dalam filosofi Hindu
yaitu SATTVA, RAJAS dan TAMAS.
GURU : Master, yang mentransmit cahaya, pengetahuan;
seorang guru spiritual.
GURU PASHU : Orang yang menjadi setia pada bentuk
jasmani Master.
GURUMAT : Murid-murid yang mematuhi perintah-perintah Master dalam
segala hal dan mencoba untuk menyerahkan pada keinginan Master dalam segala
cara yang memungkinkan. Catatan : Jangan keliru dengan GURU MATA adalah nama
yang diberikan untuk isteri Guru.
GYANA : lihat JNANA.
GYANI : lihat JNANI.
HATHA YOGA : Pertama dari empat tingkatan ashtanga
yoga Patanjali. Praktek Yoga menyangkut tubuh.
HYLEM SHADOW : bayangan spiritual berlokasi di
sebelah kanan tulang dada.
INDRIYAS : Sepuluh rasa/organ
dari filsafat India, dibagi lagi menjadi Jnana dan Karma Indriyas. Lima rasa
yang pertama berkenaan penglihatan, pengetahuan atau kebijaksanaan, sedang lima
rasa berikutnya berkenaan terutama dengan tindakan.
ISHA : Tuhan – Penguasa.
ISHWARA (or ISHWAR) : Absolut yang tetap. Tuhan sebagai keadaan yang
hidup memiliki semua sifat-sifat yang
paling halus.
ISHWARI MANDAL : Daerah Absolut yang tetap.
JAGAT GURU : Guru dunia
JAPA : Pengulangan sebuah mantera.
JIVA (or JIVATMA) : Penjelmaan jiwa seseorang.
Hidup.
JNANA : Kebijaksanaan tertinggi atau Pengetahuan
yang membawa kepada Kenyataan.
JNANA BHUMIKA : Tingkatan atau keadaan pengetahuan.
JNANA HINATA : Tidak adanya pengetahuan.
JNANI : Orang yang memiliki pengetahuan Suci.
KABIR : Penyair India kuno.
KARMA : Tindakan.
KRISHNA (or LORD KRISHNA) : Inkarnasi terakhir dari
Wisnu; tokoh suci dalam Mahabarata.
KSHIPTA : Kondisi pikiran yang terganggu disebabkan karena
perasaan-perasaan seperti : lapar, haus, marah, duka cita, keinginan untuk
menjadi terkenal dan kaya.
KUNDALINI : Kekuatan yang bergelung seperti ular di
dasar tulang belakang.
LAGAN : Keterikatan.
LAYA : Pembubaran.
LAYAVASTHA : Keadaan menyatu.
MAHA PARSHAD : Petugas cosmic tertinggi; Penguasa
alam semesta.
MAHAPRALAYA : Keadaan pembubaran menyeluruh ketika segalanya dalam
kehidupan menyatu dengan Pusat. Pembubaran menyeluruh dari seluruh alam semesta
(Mahakiamat).
MAHABHARATA : Satu dari cerita-cerita
kepahlawanan India.
MAHAMAYA : Tenaga terhalus yang digunakan oleh Tuhan – Maya yang Besar
atau khayalan yang besar.
MAHATMA (or MANAMATA) : Jiwa Besar, orang suci.
MANAS : Pikiran.
MANMAT : Murid-murid yang mendekati seorang guru
untuk hal-hal duniawi, tujuan-tujuan material.
MANTRA : Sebuah suara yang diulang-ulang.
MAYA : Ilusi.
MOKSHA: Pembebasan atau Kebangkitan. Tetapi di dalam Sahaj Marg,
keduanya tidaklah sama. “Kebebasan dari ikatan adalah Pembebasan. Ini berbeda
dari Kebangkitan yang bukanlah akhir dari proses dilahirkan kembali”. (Kenyataan Diwaktu Subuh , halaman 15,
edisi 1979).
MOODHA: Kondisi pikiran, termasuk kecenderungan-kecenderungan yang
menyebabkan kemalasan, kelambanan.
MUKTI : Pembebasan.
MUMUKSHU : Seseorang yang mencari Kebenaran
spiritual.
MUNI : Lihat RISHI.
NARADA : Orang bijaksana yang suci.
NIRAKAR : Tidak berbentuk.
NIRGUNA: Tanpa simbul-simbul atau sifat-sifat.
NIRGUNA BRAHMA : Absolut yang tidak terbatas. Sebab
yang Terakhir.
NIRODHA : Kecenderungan yang membawa mental kepada suatu keadaan
pengontrolan diri dengan sempurna, bebas dari seluruh keruwetan dan kekacauan.
NIRVANA : Keadaan yang bercahaya.
NISHKAM : Tidak mempunyai keinginan apa-apa.
NISHKAM KARMA : Tindakan tidak mempunyai keinginan
apa-apa.
NISHKAM UPASANA : Kesetiaan yang tidak mempunyai
keinginan apa-apa.
NIYAMA (or NIYAM) : Pokok persoalan-persoalan hukum yang harus diikuti.
Mereka adalah kesucian, kesenangan, kecermatan, belajar diri, meninggalkan
diri, (setia kepada Tuhan).
OJAS : Kemegahan.
PANCH AGNI VIDYA : Kebijaksanaan dari lima api (lihat catatan kaki
dalam Menuju Yang Tak Terbatas).
PARA BRAHMAN (or PAR BRAHMA)
: Absolut yang tidak terbatas – Tuhan sebagai Dasar Kehidupan yang awal (lihat buku Kenyataan Diwaktu Subuh).
PARA BRAHMANDA : Kesadaran di atas cosmic.
PARA BRAHMANDA MANDAL : Daerah di atas cosmic di
dalam pikiran (di atas Brahmanda Mandal).
PARAMANUS: Partikel-partikel yang sangat halus
sekali.
PATANJALI : Cendekiawan India kuno yang menulis Yoga
Sutras.
PINDA : Material atau kehidupan yang kotor, yang ada
dalam keadaan yang kotor atau material.
PINDA DESH (or PINDA PRADESH) : Lingkungan material;
daerah hati.
PRALAYA : Keadaan pembubaran, berlaku tidak untuk seluruh alam semesta
tetapi hanya sebagian dari itu.
PRANA : Hidup, napas.
PRANA PRATISHTA (or PRAN PRATISHTA) : Kekuatan untuk memasukkan tenaga
spiritual kedalam sebuah gambar, atau
berhala.
PRANAHUTI : Proses transmisi yoga; berasal dari prana berarti hidup dan ahuti
berarti memberikan. Memberikan tenaga hidup oleh guru kedalam hati
murid-murid.
PRANAYAMA : Berasal dari prana (hidup, tenaga yang penting) dan
dari ayama (pengendalian). Pengaturan
Prana.
PRASTHANA TRAYEE : Tiga buku kitab suci agama Hindu ortodok yaitu Upanishads, Bhagavad Gita dan Brahma Sutras.
PUJA : Praktek keagamaan tradisionil (dalam Sahaj
Marg adalah praktek meditasi).
RAJA YOGA (or RAJ YOGA) :
Sistem atau ilmu pengetahuan kuno yang diikuti oleh orang-orang suci besar yang
membantu mereka untuk menyadari Diri atau Tuhan. Biasanya digunakan untuk
praktek-praktek meditasi, seperti yang dibedakan dari hatha yoga.
RAJAS : Satu dari tiga Gunas. Membawa pada
aktivitas, egoisme dan mementingkan diri sendiri.
RAM (or LORD RAMA) : Suami dari Sita dalam cerita
kepahlawanan India, Ramayana.
RAMAYANA : Satu dari cerita-cerita kepahlawanan
India.
RISHI : Orang suci, peramal, orang yang telah
menyadari Diri.
SADGURU : Guru mampu memberikan pengetahuan tentang
Kebenaran.
SADHAK : Murid yang mempraktekkan sadhana.
SADHANA : Praktek spiritual.
SADHANA CHATUSHTAYA : Empat
lapisan dari praktek spiritual : viveka atau
perbedaan; vairagya atau ketidak
terikatan; sampatti, berarti terpikat
padanya, dan mumukshutva, mencari pembebasan.
SAGUNA BRAHMAN (or SAGUNA
BRAHMA) : Tuhan sebagai yang hidup memberkati semua sifat-sifat yang halus. Absolut yang Tetap (lihat Kenyataan Diwaktu Subuh, Bab 1).
SAGUNA ISHWARA : Absolut yang Tetap; mempunyai
kwalitas Ishwara.
SAHAJ MARG : benar-benar : jalan alami, jalan yang
mudah.
SAHAJ SAMADHI : Keadaan sadar atas penyerapan di
dalam diri sepenuhnya.
SAHASRA DAL KAMAL : Teratai dari seribu daun bunga.
SAKAR : Bentuk yang nyata.
SAMADHAN : Keadaan menetapkan diri pada keinginan
Master.
SAMADHI : Keadaan dimana
kita tinggal melekat pada Kenyataan. Dalam Sahaj Marg kembali pada kondisi
asal, yang merajarela sejak permulaan.
SAMARTH GURU (or SAMARTHA
GURU) : Seorang guru yang sempurna, yang
memiliki semua kwalitas. Seorang guru yang benar-benar seimbang.
SAMAVASTHA : Suatu keadaan seimbang.
SAMPATTI : Suatu jenis kenyataan manusia. Dalam
Sahaj Marg ini juga dalamnya kenyataan spiritual.
SAMSKARAS (or SANSKARS) : Impresi, kekotoran.
SANKIRTANISTS : Mereka yang melakukan sankirtans.
SANKIRTANS : Kumpulan nyanyian (yang mudah dan
pendek).
SANNYASI (or SANNYASIN) : Orang yang telah
meninggalkan dunia dan hidup membujang dan pertapa.
SANSKRIT : Kebudayaan, juga nama bahasa India kuno.
SANSTHA : Tradisi; organisasi; grup spiritual.
SAT : Mahluk, Kenyataan, Keadaan.
SATPAD (or SATYAPAD) : Dalam
Sahaj Marg, keadaan tidak terang tidak juga gelap. Ini adalah sebuah refleksi
dari kenyataan itu sendiri yang masih jauh.
SHABDA (or AJAPA) : Suara, getaran di dalam diri,
adalah kebalikan dari japa.
SHAMA (or SHAM) : Kondisi damainya pikiran
memberikan keadaan tenang dan sentosa.
SHASTRAS : Buku-buku suci (Injil).
SHAT : Enam.
SHAT SAMPATTI : Enam bentuk dari pencapaian
spiritual dalam Vedantic Sadhana yang
ketiga.
SHRADDHA : Kepercayaan, kesetiaan dengan
kepercayaan.
SIDDHIS : Kemampuan untuk melakukan
keajaiban-keajaiban, kekuatan.
SOOKSMA SHARIR : Tubuh Astral, tubuh yang halus
sekali.
SRUTI : Dasar dari setiap nada musik. Juga Weda,
atau mengungkapkan kitab suci.
STHULA SHARIR (or STHOOL SHARIR) : Tubuh yang kotor.
SUSHUPTI : Satu dari empat
keadaan kesadaran. Ini digambarkan sebagai kesadaran dari tidur yang lelap
dimana seseorang tidak bermimpi. Ketika keadaan pikiran ini dicapai, seseorang
memperoleh hubungan yang erat dengan Tuhan, meskipun dia tetap dalam keadaan
tidak ingat.
SWAMI VIVEKANANDA : Lihat VIVEKANANDA.
SWAMIJI : Orang suci.
TAM : Keadaan sebenarnya dimana dulu kita berada
pada saat dunia dilahirkan. Keadaan hidup.yang nyata.
TITIKSHA : Keadaan ketabahan atau kesabaran.
TRIKUTI : Titik di atas hidung diantara dua buah
alis; satu dari titik konsentrasi.
UPADESH : Kotbah, instruksi.
UPADESHAK : Pemberi perintah, penasehat.
UPANISHADS : Vedantic bagian dari Weda (Jnana Kanda).
UPARATI : Penarikan diri.
UPASANA (or UPASNA) : Praktek kebaktian.
VAIRAGYA : Penolakan, hal melepaskan.
VASU: Nama lain dari
Krishna. Juga berkenaan dengan orang yang ditinggikan untuk melakukan tingkat
terendah dari pekerjaan ketuhanan yang dipercayakan kepada dia.
VEDAS : Kitab Suci orang India kuno, dimana pengetahuan
mulia diungkapkan.
VIDYA : pengetahuan, ilmu pengetahuan.
VIKSHEPA (or VIKSHEP) : Gangguan, kebingungan.
VIKSHIPTA : Berkenaan dengan
kecenderungan yang mengendalikan pikiran menjauh dari pikiran-pikiran suci dan
menyebabkan sering timbul banyaknya pikiran-pikiran yang menyimpang pada saat
meditasi.
VIRAKTA : Pertapa.
VIRAT : Cosmic
VIRAT DESH : Lihat BRAHMANDA MANDAL.
VIVEKA : Perbedaan.
VIVEKANANDA (or SWAMI
VIVEKANAND) : Orang suci besar di India yang hidup dipermulaan abad ke 20, dan
dia adalah murid dari Ramakrishna.
VRITTIS : Pikiran yang
mengalir ke luar; keinginan-keinginan halus atau rangsangan yang timbul di
dalam pikiran menyebabkan tindakan, kecenderungan-kecenderungan mental.
YAMA : Larangan diri. Janji
atas penahanan nafsu untuk kekerasan, kepalsuan, perampokan, ketidak murnian,
dan kecenderungan untuk memperoleh.
YOGA : Sebuah sistem
filosofi Hindu menunjukkan cara-cara pembebasan jiwa dari perpindahan tempat
yang lebih jauh, terutama dibagi menjadi raja yoga dan hatha yoga.
YOGI : Orang yang mempraktekkan yoga; orang yang
mencapai penyatuan dengan Absolut.