Kenyataan

Di Waktu

Subuh

Oleh

Ram Chandra

Dari Shahjahanpur (U.P.), India

Presiden-Penemu

Shri Ram Chandra Mission

 

(Reality at Dawn - Versi Bahasa Indonesia)

 

 

Daftar Isi

 

 

 

1.      Agama

 

2.      Tujuan Hidup

 

3.      Jalan dan Cara

 

4.      Guru

 

5.      Pelatihan Spiritual

 

6.      Kepercayaan

 

7.      Ingatan Terus Menerus

 

8.      Penyerahan Diri

 

9.      Kenyataan

 

10.    Penglihatan Saya

 

11.    Lampiran

 

12.    Daftar Kata


1

AGAMA

 

Pencarian umat manusia sejak dilahirkan telah memuja Tuhan, untuk mencari seluk beluk misteri dibelakang pembawaan yang nampak dan untuk memahami kebenaran yang mendasar. Inilah terjadinya agama. Pemuja mempunyai di depan matanya kebahagiaan surga yang abadi  atau beberapa pandangan serupa yang dia dapatkan sebagai tujuan terakhir. Inilah timbulnya agama di dunia dengan  bentuk dan upacara-upacara yang sudah mereka tentukan, didasarkan pada pengalaman-pengalaman praktek pribadi dari penemunya yang besar.  Setelah berlangsung beribu-ribu tahun, ketika seluruh lingkungan telah berubah dan kehidupan telah menjalani perubahan sepenuhnya, bentuk dan prinsip lama  yang sama, tetap melekat. Bentuk luarnya sendiri sekarang tetap utuh walaupun semangat di dalamnya  telah hilang. Akibatnya adalah bahwa sarana yang disebut sebagai agama telah menjadi usang dan tidak akan salah untuk dikatakan bahwa agama akhir-akhir ini telah menjadi hanya sebagai barang peninggalan dari yang lampau atau tulang dari tubuh yang sudah meninggal. Kita telah benar-benar menguburkan agama yang benar di dalam pemakaman. Kita hanya bertepuk tangan di dalam nama agama dan tidak melakukan apa-apa lagi. Tujuan yang nyata telah hilang dan hanya formalitas yang tertinggal di dalamnya. Hanya bentuk luarnya dan upacara-upacara agama yang tertinggal yang dapat terlihat, diikuti dengan yang penuh kekolotan dan kegigihan bahkan tanpa sedikitpun sentuhan terhadap kenyataan. Kepercayaan kita di dalam kenyataan jadi berkurang sampai ketitik kepunahan. Kepercayaan lebih membelit menjadi bentuk-bentuk dan upacara-upacara agama saja. Perlahan-lahan kepercayaan merosot menjadi tidak toleransi  atau prasangka yang mana sayangnya telah menjadi ciri-ciri permanen atas agama saat ini. Kepercayaan buta kita dalam formalitas menahan kita di dalam kegelapan berkenaan dengan kenyataan dan tanpa disadari kita mengembangkan di dalam diri kita perasaan benci terhadap mereka yang percaya dalam bentuk dan upacara-upacara agama yang lain. Sebagai akibatnya timbul sifat iri dan pertengkaran-pertengkaran diantara pengikut-pengikut agama-agama yang berbeda.

India telah mempunyai kebebasan politik tetapi kebebasan diri atau kebebasan jiwa masih tidak cukup. Rintangan utama adalah kapasitas keinginan untuk penglihatan yang lebih luas dan kebebasan berpikir. Semua suasana diliputi oleh prasangka dan persaingan. Seluruh struktur kemasyarakatan dan kebudayaan berada pada dasar yang sama. Perasaan iri hati dari sebuah golongan adalah penyebab utama kehancuran peradaban kita. Saat ini ada tidak kurang dari 3000 kasta di India, masing-masing membentuk sebuah kesatuan yang berbeda. Kasta-kasta ini semula serikat kerja pekerja-pekerja dan seniman-seniman yang berbeda yang datang bersama-sama dengan tujuan untuk memecahkan persoalan dari divisi tenaga kerja. Tetapi sekarang masing-masing serikat kerja mencoba memutuskan dirinya dari komunitas yang ada membentuk sebuah kelompok terpisah yang berdiri sendiri, mendorong perasaan benci dan iri hati terhadap yang lainnya. Dengan demikian seluruh kelompok berjalan menuju pemisahan. Waktunya sekarang sudah datang dimana kejahatan ini harus segera berakhir untuk ada. Alam sedang bekerja untuk melepaskan kejahatan ini. Saat ini alat pemotongnya tidak tanggung-tanggung. Biarkan sajian ini sebagai peringatan keras bagi pendukung-pendukungnya yang antusias dan pelopornya atas prasangka kasta. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari akibatnya kecuali mereka segera berubah. Keinginan Tuhan pasti ada jalannya. Prasangka adalah kejahatan terbesar, daripada racun yang mematikan bagi kehidupan spiritual. Ini menahan seseorang mengurung di dalam dirinya sendiri, kehilangan semua akses menuju pandangan yang lebih luas. Ini menciptakan pemikiran yang sempit dan semua harapan atas perkembangan dan kemajuan menjadi hilang bagi mereka yang telah menetapkan jiwanya disana. Prasangka melahirkan kebencian terhadap orang lain dan ini hanyalah sebuah perasaan keunggulan diri yang salah dalam bentuk tersamar. Jika kamu memelihara kejahatan ini, dengan cara demikian kamu menambah satu lagi hubungan kepada mata rantai yang sudah ada yaitu egoisme. Sebagai akibatnya kamu tetap jauh dari kenyataan. Kenyataan atas Yang Tak Terbatas dengan demikian menjadi tidak mungkin. Cinta segalanya, dasar yang paling mendasar dari agama menjadi hilang samasekali, agama yang biasanya dianggap sebagai penghubung antara manusia dan Tuhan, sekarang sebaliknya menjadi penghalang. Jika kita membiarkan diri kita diikat erat-erat pada bentuk atau praktek khusus tanpa gambaran yang jelas tentang arti sesungguhnya dan tujuan akhir, kita mungkin melakukan kesalahan terbesar. Tuhan bukan harus ditemukan di dalam kumpulan sebuah agama atau sekte tertentu. Dia tidak mengurung didalam bentuk-bentuk atau upacara-upacara agama tertentu, Dia tidak juga harus ditelusuri di dalam buku-buku keagamaan. Dia harus kita cari di dalam inti hati kita yang paling dalam.

 

Ada macam-macam konsep tentang Tuhan. Orang menganggap Dia berbeda-beda menurut kapasitas dan pengertian mereka. Konsep yang paling umum diterima tentang Tuhan adalah Kekuatan  Abadi. Tetapi pandangan  filosofi jauh melebihi dan termasuk gambaran tentang Nirguna Brahma atau Indeterminate Absolute (Absolut Tidak Terbatas) yang mana di atas semua keserbaragaman dan perbedaan-perbedaan. Inilah penyebab yang paling pokok dan dasar dari keadaan, Pusat di atas  yang aktif dari seluruh perwujudan atau Pangkalan Absolut. Ini melebihi sifat, kegiatan, atau kesadaran. Ini juga dikenal sebagai Para Brahma. Berikutnya ada gambaran tentang Tuhan sebagai Keadaan Tertinggi. Kita melihat dunia  dengan segala aneka ragam dan perbedaan-perbedaannya dan kita dibawa untuk percaya pada penciptanya dan pengawasnya. Kita menyebutnya Ishwar atau Saguna Brahma (Absolut yang Tetap). Kita memikirkan Dia sebagai Keadaan Abadi yang tidak berbentuk yang Mahakuasa dan Mahatahu dan memiliki semua sifat-sifat yang paling halus. Dia adalah penyebab yang menghasilkan dunia (pencipta) dan Dia juga sebagai pemelihara dan perusak. Ini hanya jika dipandang dari sudut yang lebih rendah bahwa Tuhan (sebagai Tuhan dari agama) menjadi tujuan dari pemujaan. Ini tujuan terakhir dari hampir semua agama. Sedemikian jauh, Tuhan dibayangkan sebagai Nirakar atau tidak berbentuk, tetapi memiliki sifat-sifat tertentu. Konsep ini sendiri adalah sebuah gambaran yang sulit bagi orang biasa untuk mengerti. Oleh karena itu mereka mencoba untuk mendapatkan sebuah tujuan yang lebih mudah dengan mengambil sebuah bentuk yang lebih nyata. Oleh karena itu beberapa orang memikirkan Dia duduk di Surga tertinggi, menjalankan keadilan dan kebajikan bagi semua. Yang lainnya memikirkan Dia sebagai sebuah kekuatan yang meliput semuanya mengontrol dunia. Jadi lambat laun kita ada di dalam jalan yang perlahan-lahan menyimpang dari Nirakar atau aspek tidak berbentuk kepada bentuk yang nyata atau Sakar. Banyak disebutkan di dalam buku-buku keagamaan mengenai dua pemahaman, Nirakar dan Sakar, tetapi sungguh kedua pemahaman, seperti yang biasa dimengerti, amat menyesatkan. Sungguh Tuhan bukan Nirakar juga bukan Sakar tetapi melebihi keduanya. Mereka yang memperlakukan Dia sebagai Sakar membatasi yang Tidak Terbatas dalam batasan suatu bentuk atau keadaan. Hasilnya adalah mereka menanam pemikiran sempit dan tinggal selamanya dalam batasan tersebut. Jika kita menerima Dia sebagai Nirakar gambaran itu membawa pikiran kita pada pembatasan atas sifat-sifat sebagai pencipta, pengawas dan perusak. Bahkan gambaran tentang Tuhan sebagai Kekuatan atau Tenaga masih sebagai suatu pemahaman terbatas. Kita terus berjalan dengan gambaran atas yang tidak sungguh-sungguh ada atau nol, masih kita di dalam jalan yang agak jauh dari Kenyataan. Lalu apa ? Ungkapannya sekarang gagal. Cukup untuk mengatakan bahwa jika kita benar-benar jauh dari kedua pemahaman, kita mungkin berpikir diri kita sendiri ada di arah yang benar. Selama kita tetap terkurung di dalam batasan-batasan agama Tuhan suatu agama tetap dalam pandangan kita dan kita tetap terlibat dalam satu atau pandangan lain. Pencapaian spiritual tertinggi hanya dimungkinkan ketika kita berjalan melebihinya. Sebenarnya spiritualiti mulai dimana agama berakhir. Agama hanyalah sebuah tingkatan pendahuluan untuk mempersiapkan seseorang untuk langkahnya pada jalan kebebasan. Ketika dia telah menentukan langkah pada jalannya, dia kemudian melebihi batasan-batasan agama. Akhir suatu agama adalah permulaan spiritualiti; akhir suatu spiritualiti adalah permulaan suatu Kenyataan dan akhir suatu Kenyataan adalah Kebahagiaan yang sesungguhnya. Saat itupun juga pergi, kita telah sampai pada tujuan. Itulah target tertinggi yang hampir tidak dapat dinyatakan dalam kata-kata.

Pemujaan tuhan-tuhan dan dewa-dewa dalam macam-macam bentuk adalah pengembangan yang kasar atas teori Sakar yang sama. Pemujaan terhadap setiap kekuatan alam dan bahkan gunung-gunung, sungai-sungai dan pohon-pohon adalah penurunan yang lebih jauh atas  pandangan yang sama. Alangkah sayangnya ! Daripada memuja Master, kita malah memuja pembantu-pembantunya mengabaikan Master sepenuhnya dan kita tidak bersedia untuk mendengarkan bahkan sebuah kata yang bertentangan dengan prasangka-prasangka yang sudah kita buat. Hasilnya adalah saat ini kita mendapati begitu banyak sekte dan keyakinan-keyakinan, masing-masing memuja dewa atau dewi (dianggap sebagai Tuhannya) dalam caranya sendiri yang khusus. Jelas, tujuan di depan mata mereka bukan saja pembebasan (liberation) tetapi dalam banyak hal pelepasan dari beberapa bentuk khusus kesengsaraan atau beberapa perolehan material. Orang didorong kepada bentuk-bentuk pemujaan seperti itu apakah karena paksaan keadaan atau melalui bimbingan yang salah dari orang-orang dimana mereka sendiri sangat tidak mengetahui dalam persoalan kenyataan - Diri (Self-Realization). Lord Krishna telah membuat jelas hal ini di dalam Gita bahwa pemujaan dewa-dewa dapat membawa kamu paling banyak hanya pada lingkungan mereka yang mana sesuatu yang terbatas dan jauh dibawah tujuan pembebasan. Mereka sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk pergi melebihinya . Tujuan dari pengikutnya melebihi batas ini, dengan demikian menjadi mustahil. Jadi ini jelas bahwa tuhan-tuhan dan dewa-dewa ini tidak berguna bagi kita jika kita sungguh-sungguh mengarahkan pada Kenyataan. Saya telah menjelaskan hal ini lebih jelas dalam buku saya Efficacy of Raja Yoga (Kemanjuran Raja Yoga).

Bentuk pemujaan seperti mesin biasa dipakai oleh mereka yang ingin sekali dewa-dewa dan dewi-dewi (tuhan) menyediakan tujuan duniawi mereka juga merupakan satu lagi kebodohan. Disini tidak ada pemujaan sama sekali. Mereka hanya memainkan bagian dari suatu pekerja, demikian dikatakan, dan pada akhirnya mereka menerima upah harian untuk pekerjaan fisik yang telah mereka kerjakan. Bentuk material padat tentang Tuhan dimiliki oleh mereka di dalam pikiran dan memujanya dengan kepercayaan dan kesetiaan membawa kekotoran di dalam dan jika praktek ini berlangsung untuk waktu lama mereka menjadi semakin padat, menghalangi tujuan mereka menuju Kenyataan. Dalam hal-hal seperti ini hasilnya adalah jelas bagi hampir setiap mata. Orang-orang bijaksana kuno mendapatkan pemujaan terhadap Absolut yang Tidak Material, sebuah tugas sulit bagi rakyat untuk memulainya, telah dibuat cara-cara tertentu yang mudah  untuk mengangkat mereka. Mereka membuat sebuah permulaan dengan mengambil sesuatu yang nyata dalam bentuk padat yang orang-orang dapat dengan mudah memahami dan mengerti, sekarang sesuatu yang dapat dengan mudah dipahami atau dimengerti berbeda bagi orang-orang yang berbeda. Untuk orang-orang dengan tingkatan terendah mereka memakai sesuatu dalam bentuk padat yang nyata. Untuk yang lainnya, yang lebih tinggi, beberapa bentuk abstrak seperti kemegahan, cahaya atau lambang-lambang ketuhanan diperkenalkan untuk memulainya. Untuk  yang berpikiran terpelajar tinggi sebuah gambaran halus  tentang Tuhan sudah cukup. Jadi ini hanya untuk orang-orang dengan tingkatan terendah bahwa mereka mengambil bentuk padat seperti gambar atau patung dan itu juga hanya sebagai sebuah langkah sementara. Ketika mereka memperoleh kemajuan mereka menghentikannya dan memasuki pada tingkatan berikutnya mengambil bentuk yang lebih halus. Ini seperti mengajar menulis pada bayi membuat dia menggerakkan pennya sepanjang huruf-huruf yang tercetak. Setelah sedikit mempraktekkan prosesnya dihentikan dan bayi sudah dapat menulis sendiri tanpa bantuan yang tercetak. Jadi bentuk padat atau patung dipakai oleh pemula hanya untuk sementara, setelah itu mereka menuju tingkatan berikutnya. Disamping itu, gambaran yang ditetapkan untuk tujuan tersebut telah diisi penuh dengan kekuatan spiritual sehingga mereka yang duduk didekatnya dalam kesetiaan dan pemujaan memperoleh sesuatu darinya melalui radiasi yang terus menerus. Sekarang orang-orang yang berkemampuan, mempunyai kekuasaan untuk memasukkan kekuatan spiritual kedalam patung, adalah jarang, meskipun proses Pran Pratishta (proses memasukkan kekuatan spiritual ke dalam patung) masih berlangsung terus hanya sebagai persoalan formalitas. Hasilnya adalah tempat-tempat dan patung-patung yang diisi beribu-ribu tahun lalu, saat ini hampir kehilangan semua pengaruhnya dan sebagai akibatnya tidak ada perolehan nyata yang didapat oleh mereka yang menuju kesana untuk kesetiaan dan pemujaan. Bagaimanapun, ini melebihi keraguan bahwa proses yang diperkenalkan hanya bagi orang-orang ditingkat terendah dengan sedikit pikiran yang tidak dapat lain selain mencurahkan diri mereka sendiri kepada Tuhan dengan jalan apapun. Pasti bahwa praktek ini jika diikuti dengan kegigihan sampai akhir, mengalahkan tujuannya dan tidak memberikan manfaat spiritual apapun. Kabir, orang suci telah menyatakan gambaran dengan indah dalam kata-kata sebagai berikut: “Jika dengan memuja batu seseorang dapat mencapai Tuhan saya akan bersedia memuja sebuah gunung. Tetapi untuk tujuan ini batu penggiling yang menggiling jagung untuk memberi makan dunia mungkin lebih baik.”

Menurut pandangan saya mereka yang melekat pada jenis pemujaan seperti ini sepanjang kehidupan mereka menyeberang dalam-dalam di lumpur atas tidak adanya ketuhanan. Sungguh-sungguh sulit untuk melepaskan mereka darinya. Selama itu setelah praktek terus menerus mereka menjadi begitu kuat berakar padanya sehingga mereka tidak dapat bahkan berpikir untuk melepaskan diri dari padanya dalam keadaan apapun. Mereka tetap pada perhentiannya. Mereka tidak mau membuang gambaran yang sudah mereka terima dan menjadi bagian dari mereka. Lebih jauh mereka menggunakan kekuatan atau pikirannya dan membuat mereka menjadi lebih kuat dan lebih padat. Semuanya melemparkan refleksi dalam suatu bentuk yang serupa dengannya sendiri. Jika sesuatu halus refleksinya juga akan halus dalam karakter dan jika kotor demikian juga refleksinya akan kotor. Jika kita konsentrasi pada sesuatu yang padat kita pasti menjadikan diri kita sendiri padat di dalam. Malapetaka besar sudah dibuat oleh guru-guru, yang telah menyampaikan kepada orang-orang awam segalanya yang telah mereka pelajari dari buku-buku suci dalam bentuk yang sulit dan padat. Ini menghancurkan kekuatan refleksif pikiran. Jika seseorang mengembangkan sebuah keadaan yang begitu mengerikan dia sudah tidak mempunyai harapan selamanya. Dia kehilangan tujuannya menuju sebuah pandangan yang lebih luas dan kemampuan untuk perkembangan yang lebih jauh menjadi musnah. Orang seperti itu mungkin dibandingkan dengan katak di dalam sumur, dengan sedikit lapangan kegiatan yang mereka anggap penuh dan cukup. Mereka tetap berputar-putar dalam lingkungan didekatnya, mengurung seluruh sisi-sisinya. Mereka menekankan pada hal yang sama diseluruh hidupnya. Cerita-cerita dan ilustrasi-ilustrasi tentang tuhan-tuhan adalah segalanya dan cukup untuk mereka. Ketika praktek berlanjut terus sampai sel-sel otak panjang terpengaruh dan mereka jadi dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang tumbuh semakin kuat hari demi hari. Akhirnya seluruh susunan syaraf terpengaruh. Keadaan luar yang tidak dapat tembus berangsur-angsur bergerak perlahan-lahan menuju ke dalam dan melengkapi pekerjaannya. Sekarang mereka tidak dapat ditembus sama sekali, keduanya di dalam dan di luar, untuk jalannya Cahaya Suci. Tujuan mereka kepada diri di dalam sepenuhnya terhalang. Saya lebih suka menyebut mereka batu-batu hidup. Lapisan luar yang diperkeras yang mereka kembangkan membuat mereka menjauhkan diri dari pergaulan sekecil apapun dengan segalanya yang lebih tinggi atau lebih halus. Mereka amat terpesona dengan akibatnya yang mereka anggap menjadi sebuah tingkatan spiritual meskipun kenyataannya mereka jauh sekali dari itu. Pengalaman pribadi saya dalam lapangan spiritual telah mengungkapkan bagi saya bahwa ini tugas yang amat sukar dan melelahkan untuk menghancurkan lapisan luar yang keras, diciptakan oleh bentuk-bentuk praktek seperti ini, dari hati mereka yang datang kepada saya untuk pengejaran spiritual. Jika seseorang ingin membebaskan dirinya dari ikatan jiwa ini dia harus perlu membersihkan lapisan kekotoran dan kepadatan yang menempati pikirannya sebagai hasil dari praktek-praktek yang melemahkan semangat ini.

Bentuk lain dari pemujaan yang biasa dipikir lebih maju adalah menyanyi atau mendeklamasikan dalam paduan suara, kata-kata puji-pujian tentang tuhan atau dewi yang mereka puja. Orang-orang berkumpul bersama dalam pesta-pesta dan larut malam bernyanyi dalam paduan suara dengan suara tinggi mengganggu suasana malam yang tenang. Mereka berpikir bahwa dengan cara demikian mereka melaksanakan sebuah tugas saleh memasukkan, demikian yang mereka katakan, ke dalam telinga-telinga sebanyak mungkin yang dapat mereka lakukan, kesucian nama Tuhan. Tidak hanya ini, kadang-kadang mereka memakai pengeras suara untuk menyiarkan suaranya. Mereka sungguh-sungguh tidak mempunyai pikiran tentang ketidak senangan atau ketidak enakan yang diakibatkan bagi orang-orang yang mungkin memerlukan ketenangan istirahat setelah seharian bekerja yang melelahkan atau orang dalam keadaaan sakit. Mungkin pada saat bersamaan memberikan gangguan serius bagi orang -orang yang melakukan meditasi pada waktu-waktu tenang di malam hari. Sebagai tambahan, praktek, yang biasa diikuti saat ini, tidak ada kegunaan besar dalam perkembangan spiritual kita dan sebagai akibatnya tidak ada manfaat besar yang diperoleh dari sana. Nyanyian dari Sankirtanists (orang yang menyanyikan) mungkin lebih pantas dibandingkan dengan erangan orang sakit yang hanya memberikan dia hiburan sementara tetapi sebenarnya tidak melepaskan dia dari kesakitan. Jadi nyanyian-nyanyian ini tidak berguna bagi mereka selain bahwa mereka senang oleh efek lagu-lagu manis yang membantu menarik pikiran-pikiran mereka untuk sementara kepada tujuan yang nampak. Nah, apapun yang kita pikir atau renungkan, memberikan getaran didalam. Ketika getaran-getaran ini berlipat ganda, mereka menciptakan kekuatan yang memancar keluar dengan suara. Getaran-getaran membawa akibat dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan individu. Jadi akibat  saleh dari pikiran yang murni dalam kelompok mungkin dirusak oleh akibat buruk dari pikiran-pikiran yang tidak saleh. Oleh karenanya, unsur yang tidak diinginkan harus disingkirkan jika manfaat penuh harus diperoleh dari penyelenggaraan ini. Praktek seperti ini diikuti oleh Chaitanya Mahaprabhu yang menyelenggarakan Sankirtans (nyanyian jemaah) dengan pesta terdiri hanya mereka yang benar-benar dikenal olehnya untuk kebaikan dan kesalehan. Oleh karenanya, penyelenggaraan, diadakan di belakang pintu tertutup dan tidak ada orang luar yang diijinkan masuk. Sankirtan (nyanyian jemaah) sebenarnya tidak memberikan cara kemajuan dimuka tetapi lebih membantu hanya pada beberapa tingkatan setelah kemajuan yang cukup. Ini paling efektif hanya ketika diadakan di dalam lingkungan yang menyenangkan berlimpah dengan pikiran-pikiran yang saleh. Ini mungkin juga disajikan sebagai sebuah perubahan hiburan setelah praktek mental yang serius. Sebagai tambahan, sayangnya saat ini tujuan untuk tetap dalam pandangan selama praktek ini bukanlah yang tertinggi. Dalam beberapa hal mereka sejak semula tetap berhubungan erat dengan gambaran tentang tuhan-tuhan dalam bentuk jasmani, tetap nampak tubuh dan aktivitas-aktivitasnya yang kotor. Akibat dari konsep yang kotor ini hanyalah kekotoran di dalam dan tidak tembus yang mereka hirup sejak semula selama  praktek ini. Sebuah konsep yang kotor pasti akan menahan kamu dalam batas-batas dan keterbatasan-keterbatasan dan tujuan akhir atau kebebasan absolut tidak akan pernah memungkinkan. Inilah alasan mengapa walaupun bertahun-tahun mempraktekkan mereka mendapati diri mereka sendiri pada tingkat pencapaian yang terendah. Mereka sepertinya, mencari segalanya di dalam kolam yang menggenang dimana bahkan oksigen yang perlu untuk tetap hiduppun, tidak cukup. Mereka telah membuat kolam tersebut sebagai tempat kediaman tetap mereka. Cahaya yang tepat diperlukan untuk membuat mutiara. Apa yang mereka harus berjuang keras dengan maksud untuk melindungi kebebasan absolut dari ikatan adalah menjadi yang teringan dan terhalus, hampir sesuai dengan sifat-sifat ketuhanan dan memastikan kesamaan seluruhnya dengan Dia. Madu dari hidup yang nyata adalah untuk dia dan hanya dia yang membawa dirinya sendiri naik kepada standar yang dibutuhkan untuk tujuan tersebut.


 

2

TUJUAN HIDUP

 

Mungkin hanya beberapa diantara orang-orang yang pernah memberikan perhatian serius pada persoalan hidup. Biasanya mereka mempunyai pandangan sempit terhadap persoalan tersebut. Persoalan yang ada di depan mereka  hanyalah untuk mendapatkan hidup yang layak, baik dilengkapi dengan  kesenangan-kesenangan hidup yang diinginkan. Dengan kata lain, bagi mereka tujuan hidup hanyalah untuk memperoleh kesenangan hidup terbesar yang memungkinkan dan keadaan terkemuka di dunia. Jika mereka mampu mencapai ini, mereka pikir hidup mereka sukses, jika tidak, tidak sukses. Bagaimanapun mereka mungkin disebut  sebagai orang besar, ahli filsafat, ilmuwan atau politikus dan memperoleh kemasyhuran dan kekayaan yang meliputi seluruh dunia, tetapi persoalan hidup mereka masih tertinggal tak terpecahkan. Persoalan tidak benar-benar berakhir dengan kematian, ini hanya suatu perubahan bentuk. Kehidupan kita berikutnya, apapun itu, dimulai setelah kematian. Seperti sebelum kehidupan kita yang sekarang kita sudah mempunyai banyak sekali kehidupan lainnya dalam bentuk yang berbeda-beda, demikian pula setelah kematian, kita mungkin mempunyai banyak kehidupan lain. Perputaran kelahiran dan kematian berlangsung terus untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Persoalan yang ada dihadapan kita bukanlah untuk menemukan suatu pemecahan dari kehidupan kita sekarang tetapi untuk seluruh hidup yang mungkin kita miliki untuk selanjutnya. Dalam arti yang lebih luas, ini mencakup seluruh keadaan jiwa dalam bentuk yang bermacam-macam, kotor atau halus sekali pada waktu yang berlainan sampai waktunya Mahapralaya (Kepunahan Terakhir/Mahakiamat). Mungkin ada pendapat yang berbeda mengenai persoalan kelahiran dan kematian, diantara pengikut-pengikut dari keyakinan yang berbeda-beda, tetapi pasti bahwa pengetahuan hanya secara teori dari buku-buku keagamaan tidak akan memecahkan persoalan. Pengalaman praktek dalam bidang spiritual perlu untuk tujuan ini. Persoalan berhenti saat seseorang memperoleh ‘Anubhava Shakti’ (Kemampuan berdasarkan intuisi) dari jenis terhalus dan dirinya sendiri dapat menyadari keadaan kehidupan sejati sesudah ini. Bagaimanapun misteri dijelaskan oleh orang-orang dengan cara yang bermacam-macam, tetapi hampir semua setuju pada pokoknya bahwa tujuan dari hidup adalah untuk memperoleh kebahagiaan abadi setelah kematian. Untuk ini mereka berusaha keras hidup dengan kebaikan, pengorbanan dan kesetiaan akan memberikan kepada mereka kegembiraan abadi tentang surga atau keselamatan atau kedamaian. Tetapi ini bukanlah akhir dari persoalan. Ini berlangsung jauh melebihinya. Saat ini untuk menemukan pemecahan persoalan kita harus melihat ke belakang pada pokoknya darimana kehidupan kita dimulai. Kehidupan kita dalam bentuk terkotor sekarang bukanlah tiba-tiba maupun kebetulan tetapi ini adalah hasil dari sebuah proses evolusi yang perlahan-perlahan. Keadaan jiwa dapat ditelusuri jauh ke belakang saat penciptaan ketika jiwa ada dalam bentuknya yang telanjang sebagai sesuatu identitas terpisah. Dari keadaan permulaan kehidupan jiwa dalam bentuk yang paling halus kita melangkah kepada bentuk kehidupan yang semakin kotor. Ini mungkin dinyatakan sebagai penutup-penutup yang mengelilingi jiwa. Penutup yang paling awal adalah alam yang paling halus dan dengan penutup tersebut kita berada di tanah tempat tinggal kita, Kerajaan Tuhan. Tambahan  penutup yang lebih banyak dan lebih banyak atas ego berlanjut dan sesudah itu Manas (pikiran/mental), Chit (kesadaran), Buddhi (kepandaian) dan Ahankar (ego) dalam bentuk yang lebih kasar mulai memberikan kekotoran bagi kita. Pada waktunya, samskara (impresi) mulai terbentuk yang menyebabkan akibat-akibat yang dihasilkan. Kebaikan dan perbuatan buruk muncul. Perlahan-lahan kehidupan kita mengambil bentuk terpadat. Akibat dari samskara adalah permulaan dari perasaan kesenangan, kesengsaraan, kegembiraan dan penderitaan. Kesukaan kita terhadap kegembiraan dan kesenangan dan ketidak sukaan kita terhadap penderitaan dan kesengsaraan telah menciptakan kerumitan yang lebih jauh. Kita biasa mendapatkan diri kita dikelilingi dengan penderitaan dan kesengsaraan dan kita pikir bahwa pelepasan dari semua ini adalah tujuan utama kita. Ini pandangan yang sangat sempit atas persoalan hidup.

Maksud dan tujuan hidup yang dipahami dalam hubungannya dengan hal-hal duniawi adalah hampir tidak mempunyai arti. Kita lupa bahwa penderitaan dan kesengsaraan hanyalah gejala suatu penyakit tetapi penyakit itu sendiri berada ditempat lain.  Mempraktekkan kesetiaan untuk menyenangkan Tuhan agar supaya mendapatkan kesenangan-kesenangan atau perolehan duniawi hanyalah sebuah penghinaan. Persoalan yang ada dihadapan kita bukan hanya pelepasan dari penderitaan dan kesengsaraan tetapi kemerdekaan dari ikatan yang merupakan penyebab pokok atas penderitaan dan kesengsaraan. Kemerdekaan dari ikatan adalah pembebasan. Ini berbeda dengan keselamatan yang bukan akhir dari proses kelahiran kembali. Keselamatan  hanyalah istirahat sementara dalam perputarannya. Ini perhentian sementara dari proses kelahiran dan kematian hanya untuk suatu periode tetap tertentu dimana setelah itu kita mengambil bentuk material. Perputaran kelahiran kembali yang terus menerus berakhir hanya saat kita telah memperoleh pembebasan. Inilah akhir dari penderitaan dan kesengsaraan kita. Apapun yang rendah dari pembebasan tidak dapat diambil sebagai tujuan hidup meskipun masih ada tertinggal banyak melebihi itu. Kita mendapati tetapi hanya beberapa orang yang mempunyai bahkan pembebasan sebagai tujuan akhir dari kehidupan mereka yang menunjukkan jenjang terendah didalam tangga spiritual. Persoalan hidup tertinggal sepenuhnya tidak terpecahkan jika kita berada di bawah tingkatan ini. Ada orang-orang yang mungkin berkata bahwa mereka tidak menginginkan Mukti (pembebasan). Mereka hanya ingin datang lagi dan datang lagi ke dalam dunia ini dan mempraktekan Bhakti (kesetiaan). Tujuan hidup mereka tidak tertentu dan tidak terbatas. Bhakti dan tidak ada yang melebihinya seperti yang mereka katakan sebagai tujuan mereka. Sungguh mereka tertarik oleh akibat  mempesona atas kondisi Bhakta (orang yang setia) dan ingin tetap terlibat di dalamnya selamanya. Mereka melakukan itu hanya untuk menyenangkan mereka sendiri. Kemerdekaan dari ikatan abadi menjadi tidak mungkin selama kita berada di dalam keterlibatan-keterlibatan. Kerinduan alami dari jiwa adalah bebas dari ikatan. Jika ada orang yang tidak ingin membebaskan dirinya sendiri dari keterlibatan-keterlibatan ini maka tidak ada pemecahan baginya. Bhakti adalah cara untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Kenyataannya seperti yang saya sebutkan di atas adalah mereka tertarik oleh akibat yang mempesonakan atas kondisi yang dahulu dan tidak ingin meninggalkannya setiap saat. Pandangan sempit yang mereka ambil, menghalangi tujuan mereka kepada penglihatan yang lebih luas dan segalanya yang melebihi, ada diluar pandangan mereka. Satu lagi argumen menyesatkan yang dimajukan dalam mendukung pandangan di atas adalah kesetiaan, jika dipraktekan dengan tujuan khusus dalam pandangan, adalah jauh dari ‘Nishkam’ (tanpa keinginan). Teori ‘Nishkam Upasana  (kesetiaan tanpa keinginan) seperti yang ada di dalam Gita menekankan kita untuk mempraktekan kesetiaan tanpa menyimpan dalam pandangan suatu tujuan khusus. Ini benar-benar berarti bahwa kita harus mempraktekan kesetiaan tanpa mata kita tetap tertuju pada maksud duniawi atau tanpa peduli atas kepuasan dari keinginan-keinganan kita. Ini tidak menghentikan kita dalam menentukan pikiran kita pada tujuan hidup yang sungguh-sungguh perlu untuk langkahnya. Tujuan hidup berarti tidak ada yang lainnya selain tujuan  dimana pada akhirnya kita harus sampai disitu. Dengan kata lain, kenang-kenangan atas tanah tempat tinggal kita atau keadaan  mula-mula dari kehidupan kita sekarang yang padat, yang mana pada akhirnya kita harus kembali padanya. Ini hanya gambaran dari tujuan yang kita jaga tetap hidup dalam pikiran kita dan untuk itu kita mempraktekan kesetiaan hanya sebagai kewajiban. Kewajiban demi kewajiban tidak diragukan adalah ‘Nishkam Karma’ (tindakan bukan untuk diri sendiri) dan untuk menyadari tujuan hidup kita adalah kewajiban yang diwajibkan.

Sekarang saya sampai pada pokoknya apakah tujuan nyata dari hidup seharusnya. Ini biasanya diterima bahwa tujuan harus yang tertinggi, jika tidak perkembangan sampai pada batas akhir diragukan. Untuk ini, perlu  mempunyai gambaran yang jelas atas batas tertinggi yang memungkinkan dari tujuan manusia. Kita mempunyai dihadapan kita contoh-contoh tentang Rama dan Krishna, dua titisan dari Tuhan. Kita memuja mereka dengan kepercayaan dan kesetiaan dan ingin menjaga penyatuan dengan mereka. Secara otomatis ini menjadi tujuan hidup kita dan kita paling jauh dapat memperoleh tujuan naik sampai pada tingkatan mereka. Sekarang Rama dan Krishna, sebagai titisan adalah orang-orang khusus yang diberikan kekuatan gaib untuk bekerja sebagai perantara untuk penyelesaian pekerjaan yang alam inginkan dan untuk itulah mereka datang. Mereka mempunyai perintah penuh atas berbagai macam kekuatan alam dan dapat menggunakannya setiap saat dengan cara yang mereka pikir pantas. Bidang aktivitas mereka dibatasi sesuai dengan pekerjaan alam yang harus mereka selesaikan. Mereka turun dari lingkungan Mahamaya, yang mana adalah sebuah keadaan tenaga ketuhanan dalam bentuk yang halus sekali dengan demikian yang paling kuat. Disebabkan karena kenyataan ini bahwa kita mendapatkan hasil-hasil yang baik sekali yang memberikan pengaruh melalui perantaraan mereka pada waktu mereka hidup. Tingkat tertinggi yang memungkinkan dari tujuan manusia adalah jauh melebihi lingkungan Mahamaya, dengan demikian jauh di atas tingkatan ini. Mungkin ini mengejutkan bagi kebanyakan pembaca tetapi ini adalah kenyataan yang melebihi keraguan. Tingkat akhir dari tujuan adalah dimana segala macam tekanan, kekuatan, kegiatan atau bahkan dorongan, menghilang dan seseorang masuk ke dalam keadaan peniadaan sepenuhnya; Tidak Ada Apa-apa atau Nol. Itu tingkat tertinggi atas tujuan atau tujuan akhir kehidupan. Saya telah mencoba menyatakannya dengan diagram. Lingkaran-lingkaran konsentris digambarkan melingkari pusat ‘C’, kira-kira menunjukan lingkungan-lingkungan spiritual yang berbeda yang kita jumpai selama perkembangan kita. Permulaan langkah kita dari lingkaran yang paling luar kita maju menuju pusat melewati setiap lingkaran untuk memperoleh tingkatan berikutnya. Ini suatu ruang yang sangat luas. Jika kita bicara mengenai pembebasan, orang akan berpikir ini sesuatu yang sangat jauh sekali yang dapat dicapai dengan usaha yang gigih selama sejumlah kehidupan. Dalam diagram keadaan pembebasan terletak diantara lingkaran kedua dan ketiga. Macam-macam kondisi yang harus kita lewati dengan maksud untuk memperoleh  pembebasan semuanya  diperoleh di dalam kira-kira satu setengah lingkaran. Ini mungkin membantu pembaca dalam membentuk gambaran kasar tentang apa yang masih tertinggal untuk diperoleh setelah kita sampai pada titik pembebasan yang mana sungguh-sungguh, seperti yang biasa dipercaya, bukanlah pencapaian biasa-biasa saja. Setelah mencapai keadaan ini kita maju lebih jauh melewati lingkaran-lingkaran lainnya sampai kita melewati yang kelima. Ini tingkatan Awyakti Gati (keadaan yang tidak ada perbedaan). Pada tingkatan ini orang bebas sepenuhnya dari ikatan Maya. Hanya beberapa orang suci masa lampau yang dapat sampai pada posisi ini. Raja Janak adalah seorang dari mereka yang dapat memperoleh  tujuannya pada keadaan ini. Pencapaiannya dianggap sangat hebat bahkan Rishis (orang suci) terkemuka pada saat itu biasa mengirim putera dan murid mereka kepada dia untuk pelatihan. Daerah sekitar Hati seperti digambarkan di dalam buku saya Efficacy of Raja Yoga saat ini telah dilewati dan sekarang kita masuk ke daerah pikiran, setelah melewati lingkaran kelima. Sebelas lingkaran setelah ini menggambarkan macam-macam tingkatan-tingkatan tentang egoisme. Kondisi disana lebih halus dan masih berkembang lebih halus saat kita melangkah melalui daerah tersebut. Setelah itu kita sampai pada lingkaran keenam belas kita hampir bebas dari egoisme. Kondisi pada tingkatan ini hampir tidak dapat dibayangkan dan jarang dapat dicapai bahkan oleh orang suci  yang paling hebat. Sejauh penglihatan saya, saya menemukan tidak satupun diantara orang-orang suci  kuno kecuali Kabir yang dapat memperoleh tujuannya sampai pada tingkatan ini (yaitu lingkaran ke 16). Apa yang tertinggal ketika kita telah melewati lingkaran ini adalah hanya sebuah tanda-tanda yang masih dalam sebuah bentuk kotor. Kita sekarang masuk Daerah Pusat. Disana juga, kamu akan menemukan tujuh cincin atas sesuatu. Saya dapat menyebutnya sebagai cahaya demi menyatakan suatu ungkapan, yang kita lewati selama langkah kita maju kedepan. Bentuk tanda-tanda  yang padat demikian saya sebut, tumbuh lebih halus dan lebih halus sampai pada batas terakhir yang memungkinkan. Sekarang kita memperoleh suatu posisi yang paling dekat dengan Pusat, dan ini tujuan tertinggi yang memungkinkan bagi seseorang. Disana kita berada selaras dengan kondisi yang sangat Nyata. Menyatu seluruhnya dengan Pusat bagaimanapun tidak memungkinkan, jadi untuk menjaga paling sedikit perbedaan antara Tuhan dan jiwa. Inilah perluasan dari pencapaian manusia dimana seseorang harus menetapkan mata pada pencapaiannya sejak permulaan sekali, jika dia ingin membuat perkembangan terbesar pada jalan kenyataan. Hanya beberapa diantara orang-orang suci dan peyoga di dunia yang pernah mempunyai konsep ini. Tujuan terjauh mereka dalam banyak hal sepenuhnya hanya sampai pada lingkaran kedua atau ketiga, dan sayangnya bahkan pada tingkat permulaan ini mereka kadang-kadang menganggap pencapaian mereka sudah sangat hebat. Saya memberikan semua ini hanya untuk orang-orang yang mampu untuk menilai mereka yang disebut Doctors of Divinity (Doktor tentang Ketuhanan) yang besar yang disebutkan telah mencapai kesempurnaan dan biasanya diterima sebagai orang yang sempurna oleh orang awam yang menilai nilai mereka dari bentuk luarnya atau kemewahan.

 

 


3

Jalan dan Cara

 

Setelah menentukan tujuan kita, persoalan berikutnya yang ada dihadapan kita adalah menemukan cara-cara untuk kenyataan atas tujuan tersebut. Orang-orang suci dan guru-guru telah menjelaskan pokok persoalan dengan panjang lebar. Mereka menentukan macam-macam bentuk praktek atau ‘sadhanas’, yang bermanfaat untuk pencapaian atas apa yang mereka nyatakan sebagai tujuan akhir. Tetapi untuk kenyataan tentang Tuhan, Absolut Tidak Terbatas atau Para Brahma kita harus memakai cara-cara yang membawa kita pada peniadaan menyeluruh. Tujuan hidup kita, seperti yang dibicarakan dalam bab dimuka adalah tingkatan akhir dimana kita berada paling dekat dengan Pusat yang Sangat Aktif atau Nol, yang menjadi penyebab mula-mula dari seluruh perwujudan dan kepada mana semuanya pada akhirnya akan kembali sesudah Maha Pralaya (pembubaran menyeluruh). Untuk memperoleh keadaan ini kita harus menjadikan diri kita nol. Tidak diragukan kita harus mencapai tujuan itu dengan cara yang alami pada saat Maha Pralaya, tetapi apa yang kita harus berusaha keras, adalah untuk memperolehnya secepat mungkin dengan maksud untuk melindungi diri kita dari kesengsaraan atas kehidupan yang banyak sekali. Sebagaimana Maha Pralaya atau pembubaran menyeluruh adalah perlu untuk mengembalikan segala sesuatu ke asalnya, demikian pula untuk mengembalikan kita ke tujuannya kita harus menimbulkan Pralaya (kehancuran) kita atau memperoleh suatu keadaan pembubaran menyeluruh atas segala sesuatu yang kita buat. Ini berarti kita harus bebas dari semua harta milik kita dan mengambil bentuk telanjang yang sama disaat kita pada waktu penciptaan. Harta milik kita adalah timbunan samskara (impresi) dengan akibat yang dihasilkan dalam bentuk keruwetan-keruwetan dan macam-macam penutup yang kita kumpulkan mengelilingi jiwa yang mana merupakan hasil dari pikiran dan perbuatan kita. Kita memiliki batin dan kecakapan intelektual yang semuanya aktif. Pikiran kita menentukan tindakan dari tubuh. Kita melihat, mendengar, merasa dan mengerti sesuatu. Kita mulai menyukai atau tidak menyukai mereka. Keinginan-keinginan lambat laun mulai bergerak perlahan-lahan dan mempengaruhi tindakan-tindakan kita. Lingkaran-lingkaran berlangsung terus berlipat ganda dan kita mendesak diri kita sendiri untuk pemenuhan keinginan-keinginan. Sebuah keinginan, ketika dipuaskan, lambat laun menciptakan yang lain untuk mengikuti di tempatnya. Kita jarang bebas dari mereka bahkan untuk sesaat. Kita melihat sesuatu kebanyakan dengan sebuah pandangan untuk mempunyainya. Keinginan-keinginan ini membentuk tindakan-tindakan tubuh dan mental kita dan menimbulkan pembentukan samskara (impresi), dengan demikian menambah lebih banyak dan lebih banyak penutup jiwa. Keinginan-keinginan baru setiap saat dan usaha kita untuk memuaskannya menimbulkan penambahan-penambahan terus menerus. Impresi-impresinya tertinggal pada causal body (tubuh didalam tubuh yang kasar) kita selama mereka tidak dibuang melalui proses ‘Bhog’ (proses menjalani akibat dari impresi). Penyelesaian bhog atas semua samskara yang dibentuk setiap saat biasanya tidak memungkinkan selama seluruh kehidupan. Jadi ketika kehidupan kita akan berakhir kita masih mempunyai banyak samskara yang tersimpan di dalam kita. Samskara-samskara ini menjadi penyebab dari kelahiran kita kembali, dengan maksud memberikan kita sebuah kesempatan untuk melengkapi Bhog mereka, tetapi sayangnya daripada menghabisi bhog, kita malah menambah lebih banyak dari yang kita telah keluarkan.

Satu lagi gangguan serius dalam jalan kita disebabkan oleh penderitaan dan kesengsaraan kita. Hampir setiap orang di dunia mengeluh tentang kesengsaraan yang dihadapi dan yang dia ingin hilangkan. Tetapi dia mengabaikan cara-cara yang benar. Dia pikir pemenuhan keinginan-keinginan adalah satu-satunya cara untuk melepaskan kesengsaraan. Tetapi itu bukanlah pemecahannya. Kesengsaraan biasa dianggap menjijikan, tetapi ada orang-orang suci yang sengaja memakai kesengsaraan, berpikir bahwa kesengsaraan itu anugerah dan sering berdoa kepada Tuhan untuk kesengsaraan tersebut. Misteri suatu persoalan akan jelas jika kita melihat ke dalam asal mula kesengsaraan. Jiwa memiliki kesadaran sebagai hasil dari kehendak Tuhan untuk menghasilkan ciptaan. Demikian juga jiwa mulai membentuk ciptaannya sendiri yang kecil dan berkumpul bersama-sama mengelilingi ciptaannya sendiri. Sekarang suatu adukan, suatu gerakan (yaitu kegelisahan atau gangguan) adalah faktor utama dalam menimbulkan ciptaan. Sama halnya dengan ciptaan kecil dari jiwa juga, kegelisahan atau gangguan diperlukan. Kita juga memiliki kekuatan keinginan yang kita gunakan untuk memberikan kekuatan pada unsur-unsur yang perlu untuk memulai ciptaan ini. Mereka muncul dihadapan kita dalam bentuk kegembiraan dan penderitaan, kesenangan dan kesengsaraan. Pikiran, juga, menjadi terus menerus aktif menciptakan di dalam kita menyukai sesuatu dan tidak menyukai yang lainnya, memperkenalkan dua hal yang berbeda atas sesuatu. Sehingga kesengsaraan mulai ada. Semua ini ciptaan dari pikiran manusia sebagai hasil dari ketidak pedulian atas hubungan yang benar terhadap sesuatu. Kegemaran kita, emosi dan dorongan hati juga memberikan banyak sekali dalam memperburuk persoalan-persoalan dan kadang-kadang menyebabkan badai hebat yang cukup kuat untuk mengancam kehancuran yang menyeluruh. Kita biasa menghubungkan alasannya dengan keadaan. Tetapi ini pikiran yang salah. Pikiran adalah pusat dari pengembangan bagian luar seseorang dalam bentuk tubuh manusia dan segalanya yang diperlihatkan dengan perantaraan tubuh mulainya dari pusat, yaitu pikiran. Jika pikiran kita sampai pada keadaan harmonis, keadaan dan lingkungan tidak akan mempunyai pengaruh dengannya dan tidak akan ada gangguan di dalam. Kedamaian dan ketenangan akan memerintah terus di dalam setiap keadaan. Kegemaran, kegembiraan dan keinginan-keinginan akan hilang kehebatannya dan penderitaan, keriangan atau kesengsaraan akan hilang dari pandangan. Keinginan-keinginan kita adalah penyebab utama dari kesengsaraan. Jadi hanya satu-satunya pemecahan atas kesengsaraan adalah pengurangan keinginan-keinginan. Sedikit keinginan-keinginan, mengurangi kesengsaraan kita.. Tetapi untuk menjadi yang tidak mempunyai keinginan apa-apa juga persoalan lainnya. Keinginan-keinginan membentuk sebuah jaringan dimana kita terlibat di dalamnya. Semakin kita mencoba untuk melepaskan darinya, semakin erat ikatan serat-serat jaring tersebut. Satu-satunya cara untuk membebaskan diri kita dari keterlibatan adalah mengalihkan perhatian kita darinya dan menetapkan mata kita hanya pada sesuatu yang Nyata. Jika kita memperkuat kebiasaan tetap tidak menghiraukannya, mereka akan segera mulai hilang dari pandangan kita dan dengan demikian kesengsaraan kita akan dikurangi. Kenyataan itu sendiri akan tetap terus menerus di depan mata kita dan segalanya yang lain akan hilang daya tarik atau kepentingannya.

Tidak ada seluruhnya penderitaan dan kesengsaraan di dalam hidup, bagaimanapun tidak mungkin dan tidak wajar. Sesungguhnya mereka cukup berarti bagi kemajuan kita. Mereka hanya seperti obat pil pahit yang diberikan kepada pasien untuk memulihkan kesehatan. Penyalahgunaan terhadap sesuatu yang terbaik menciptakan masalah.  Inilah alasan untuk kesengsaraan. Penggunaan sesuatu dengan tepat, pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pasti memberikan hasil yang baik untuk jangka waktu lama. Kesengsaraan adalah sungguh-sungguh pemandu terbaik kita yang membuat jalan kita lancar. Bagi seseorang dalam lingkungan hidup biasa, kesengsaraan sangat membantu pembinaannya. Sehubungan dengan persoalan-persoalan rumah tangga dan kesengsaraan dalam kehidupan duniawi, Master saya sering berkata, “Rumah kita adalah tempat latihan untuk kesabaran dan daya tahan. Untuk memikul kesengsaraan kehidupan rumah tangga dengan tenang adalah pengorbanan terbesar bagi kita, yang termulia dari semua bentuk lain pengorbanan. Oleh karena itu apa yang kita harus lakukan di dalam setiap keadaan bukanlah memberikan jalan dengan perasaan marah atau duka cita, tetapi mengambil sebuah sikap yang tidak perlu dipertanyakan lagi, berpikir bahwa kita sendiri yang bersalah yang mana kita harus menahan diri  dengan sebuah pikiran dingin. Hidup menyendiri  di dalam sebuah hutan dan menjauhkan diri dari perhatian duniawi mungkin bagi beberapa orang, adalah cara-cara  untuk menanamkan kesabaran dan penahanan diri tetapi bagi kita, celaan dan makian dari teman-teman kita dan sanak saudara adalah pengorbanan terbesar dan alat sukses yang paling pasti”. Sesungguhnya bertahan dengan tenang atas kesengsaraan dan persoalan-persoalan memberikan banyak bagi kemajuan kita, oleh karena itu mereka harta yang bernilai bagi perkembangan kita. Hanya karena penggunaannya yang salah kita merusak hasilnya dan dengan demikian menghilangkan manfaatnya yang terbaik.

Penolakan atau ketidak terikatan tidak diragukan adalah sebuah tingkatan yang perlu sekali dalam kenyataan dan kita tidak pernah dapat bebas dari keterlibatan maya kecuali kita mengusahakan ketidak terikatan. Tetapi ini tidak berarti memutuskan hubungan kita dengan rumah, keluarga dan semua urusan duniawi dan mengisi hidup sebagai peminta-minta dalam keagamaan. Saya tidak setuju dengan mereka yang mempunyai pandangan bahwa satu-satunya cara  menanamkan ketidak terikatan adalah melarikan diri dari rumah dan keluarga dan bertempat tinggal di sudut terpencil membuang semua pertalian duniawi. Penolakan yang dihasilkan oleh cara yang dipaksakan seperti itu  jarang didapati menjadi yang tulus, untuk ini  mungkin bahwa meskipun keterpaksaan mereka untuk tidak terikat dengan dunia jelas kelihatan, di dalam batin mereka masih melekat padanya. Tidak diragukan sebagai seorang yang berumah tangga kita harus mengurus banyak hal, kita harus menunjang keluarga kita, kita harus memberikan pendidikan untuk anak-anak kita, kita harus memperhatikan keinginan dan keperluan mereka, kita harus melindungi mereka dari panas dan dingin, dari masalah-masalah dan penyakit dan sebagainya. Untuk keperluan-keperluan ini kita mencari nafkah dan memiliki uang dan rumah. Kejahatan sesungguhnya hanyalah keterikatan kita yang terlalu besar dengan sesuatu dimana kita berhubungan dengannya. Ini penyebab utama dari penderitaan-penderitaan kita. Tetapi jika kita mampu melakukan segalanya di dalam hidup berpikir ini adalah kewajiban kita tanpa perasaan tertarik atau jijik kita ada di jalan yang bebas dari pertalian duniawi dan telah meninggalkan dunia dalam arti sebenarnya meskipun kita memiliki dan memakai banyak sesuatu. Kemudian segala sesuatu yang kita miliki akan kelihatan sebagai sebuah kepercayaan suci dari Master Tertinggi, untuk pelaksanaan tugas yang dipercayakan kepada kita. Penolakan sesungguhnya berarti tidak terikat dengan tujuan-tujuan duniawi dan bukannya tidak memiliki sesuatu. Jadi suatu kehidupan berumah tangga yang memiliki sesuatu dan pertalian duniawi adalah diperlukan tidak ada halangan di dalam jalan  penolakan dan oleh karenanya merupakan kenyataan, hanya jika seseorang tidaklah terlalu terikat pada tujuan-tujuan yang dia berhubungan dengannya. Ada banyak contoh-contoh dari orang-orang suci mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi membawa kehidupan seorang yang berumah tangga sepenuhnya. Penolakan sesungguhnya suatu kondisi atau keadaan di dalam pikiran yang membawa pandangan kita pada kefanaan dan perubahan karakter atas sesuatu dan menciptakan perasaan ketidak terikatan dengan tujuan-tujuan tersebut. Matanya setiap saat ditetapkan pada Kenyataan yang tidak berubah dan abadi dan dia bebas dari perasaan tertarik dan jijik. Ini adalah Vairagya (penolakan) dalam arti sesungguhnya atas istilah tersebut. Ketika kita sudah mencapai keadaan pikiran ini kita bebas dari keinginan-keinginan. Kita merasa puas dengan apa yang tersedia bagi kita. Akhir dari keinginan berarti berhenti membentuk samsakaras. Apa yang tertinggal sekarang hanyalah  menjalani akibat (bhog) dari samskaras yang terbentuk sebelumnya yang harus dikeluarkan selama jalan hidup kita. Alam juga membantu kita dalam bekerja dengan menciptakan lapangan untuk Bhog dengan maksud untuk membuang impresi atas pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan kita dari causal body (tubuh di dalam tubuh yang kasar). Ketika penutup-penutup ini hilang kita mulai mengambil bentuk kehidupan yang lebih halus.

Dengan maksud untuk mengontrol pikiran dan perbuatan kita, kita harus melihat pada pekerjaan yang layak bagi pikiran yang tidak pernah istirahat bahkan untuk sesaat. Saya sering mendengar guru-guru agama mencercanya dengan isitilah yang paling tidak enak, menganggap segala nama yang berasal darinya jelek dan menyatakan hal tersebut sebagai musuh kita yang paling buruk. Alasannya sangat sederhana. Mereka pikir itu penyebab dari seluruh kejahatan di dalam kita, dan oleh karenanya mereka menasehati orang-orang untuk menghancurkannya dan tidak mengikuti perintahnya. Tetapi biasanya orang mendapatkan ini sebagai sebuah tugas yang sulit untuk menahan macam-macam aktivitas dari pikiran atau untuk membuang perintah-perintahnya. Nasehat-nasehat secara teori dan kuliah-kuliah mereka dalam hal ini oleh karenanya tidak banyak manfaatnya bagi mereka dan hampir tidak ada satupun dari mereka yang menghadiri kuliahnya yang pernah mampu mencapai tujuan dengan sebuah cara yang nyata. Disamping itu keadaan dan lingkungan sekarang juga menyumbang banyak bahkan sesungguhnya menambah aktivitas dari pikiran seseorang. Hampir setiap orang hari ini, merasa hidupnya sebagai suatu perjuangan sulit untuk hidup menghadapi persoalan-persoalan gawat tentang kemiskinan, ketidak amanan, keadaan yang sukar dan persaingan dan hampir tidak mungkin membuat dirinya bebas dari akibat-akibat ini. Hasilnya adalah kegelisahan dan gangguan pikiran terus menerus. Kita bernapas dalam sesuatu yang sama dari lapisan udara dan maka dari itu dibawa oleh keadaan dan sekelilingnya. Pikiran kita masing-masing telah menjadi penunjuk arah angin, memutar mukanya pada setiap hembusan menuju arah dimana angin bertiup. Pahlawan sesungguhnya dalam perjuangan adalah seseorang yang menantang mereka dengan berani dan menjaga dirinya bebas dari pengaruh mereka.   

Saya tidak ragu, setuju dengan mereka yang berkata bahwa setiap kejahatan berasal dari dalam pikiran dan hanya itu, oleh karenanya bertanggung jawab untuknya, meski pada saat yang sama saya dapat mengingatkan mereka bahwa pikiran yang sama yang menuntun kita kepada kebaikan dan juga menolong kita untuk menyadari diri kita yang tertinggi. Jadi bukan hanya setiap kejahatan yang mulai dari pikiran tetapi juga setiap kebaikan. Sebab itu mereka yang mengutuknya dalam ucapan yang paling pahit tidak mempunyai dasar kebenaran sama sekali. Ini sungguh disebabkan hanya karena kurang baiknya pembentukan pikiran, dan apa yang sesungguhnya diperlukan, bukanlah menghancurkan atau membunuh pikiran tetapi hanyalah pelatihan yang tepat. Pikiran seperti bandul sebuah jam dinding. Jam bekerja baik selama pergerakan bandul diatur. Jika ini diganggu jam akan rusak. Demikian pula dengan jam manusia ini perlu bahwa pergerakan pikiran diatur dan disesuaikan dengan baik. Metode-metode untuk membentuk pikiran dan mengatur aktivitasnya juga sangat sederhana. Sungguh kita merusak pikiran kita sendiri dengan membiarkannya berkeliaran tanpa tujuan selama waktu-waktu luang. Praktek ini telah berlangsung bertahun-tahun dan sekarang hampir menjadi sifat keduanya. Jika sekarang kita mencoba untuk mengontrol pikiran dengan menempatkannya dibawah kendali kita mendapat sedikit sukses. Semakin kita mencoba menekannya dengan paksaan, semakin mengganjal dan meniadakan, menyebabkan gangguan yang lebih besar. Metode yang pantas untuk mengontrol aktivitas pikiran adalah menetapkannya pada satu pikiran suci seperti yang kita kerjakan dalam meditasi, dan menghalaukan darinya segala sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak berguna. Selama itu setelah praktek terus menerus, pikiran menjadi disiplin dan teratur dan banyak gangguan-gangguan di dalam dibersihkan. Jalan terbaik untuk membebaskan dirimu dari pikiran-pikiran yang tidak diinginkan adalah memperlakukan mereka sebagi tamu-tamu yang tidak diundang dan tetap tidak menghiraukan mereka. Kemudian mereka akan melemah seperti tanaman-tanaman yang tidak disirimi dan pada akhirnya pikiran suci yang sama akan tetap berkuasa. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menyempurnakannya adalah meditasi dibawah bimbingan seorang Master yang berkemampuan. Dengan mempraktekkan meditasi terus menerus pikiran akan menjadi tenang dan damai dan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan akan berhenti menyusahkan kamu. Saya sering mendengar orang-orang yang baru mulai mengeluh tentang berkelananya pikiran selama meditasi. Sejak dari hari pertama sekali mereka mengharapkan bahwa selama praktek meditasi pikiran harus tetap terhenti sama sekali tetapi ketika mereka mendapati gambaran-gambaran dan pikiran-pikiran yang berbeda-beda sering membayangi pikiran mereka, mereka merasa amat gelisah. Saya harus menjelaskannya kepada mereka bahwa ini bukanlah kondisi menghentikan pikiran, yang kita berusaha keras di dalam praktek kita, tetapi hanya membentuknya atas aktivitas-aktivitas yang bermacam ragam. Kita tidak ingin menghentikan pekerjaan normalnya tetapi hanya untuk membawanya pada keadaan yang sudah diatur dan sudah disiplin. Jika aktivitas pikiran dihentikan dari permulaan sekali, kita mungkin tidak menempatkan perlunya mempraktekkan meditasi sama sekali. Meditasi hanyalah proses untuk mencapai akhir. Pada waktunya konsentrasi adalah hasil alaminya. Metode yang pantas adalah  meditasi terus tetap tidak menghiraukan gambaran-gambaran dan pikiran-pikiran asing yang datang dipikiran kita selama itu. Perjuangan mental untuk menjauhkan gambaran-gambaran yang tidak diinginkan sering membuktikan ketidak suksesannya menyebabkan reaksi yang kuat yang sering tidak mungkin bagi orang yang berkemampuan biasa untuk mengatasinya dan yang mana kadang-kadang mungkin menghasilkan gangguan mental yang serius atau bahkan penyakit gila. Ini memungkinkan bagi mereka yang menjalani kehidupan membujang telah memperoleh cukup ojas (kemegahan) untuk menguasai dengan sukses terhadap aliran pikiran-pikiran dan untuk menahan akibat dari reaksi mereka, tetapi bagi orang biasa ini hampir tidak memungkinkan. Daripada berjuang untuk mematikan pikiran-pikiran kita hanya tetap tidak menghiraukan mereka, mereka segera akan kehilangan pengaruhnya dan berhenti menyusahkan kita. Kemudian mereka hanya akan seperti anjing menggonggong setelah sebuah caravan pergi terus tanpa mengindahkan mereka. Ketika kita penuh perhatian pada gambaran untuk memeriksa mereka, konsentrasi tentu saja ada yang mana melahirkan kekuatan dan dengan demikian mereka menjadi lebih kuat.

Sebuah alasan yang paling umum dinyatakan oleh orang-orang tertentu saat ini adalah mereka terlalu sibuk untuk menyediakan waktu bagi meditasi atau praktek-praktek lainnya yang serupa. Tetapi “orang yang paling sibuk mempunyai waktu luang yang terbesar” adalah perkataan orang terkenal. Saya pikir seseorang mempunyai lebih banyak waktu yang dibuang daripada adanya pekerjaan yang harus dilakukannya. Keluhan mereka tentang kekurangan waktu disebabkan hanya karena penyesuaian yang salah. Jika kita menggunakan waktu sebaik-baiknya kita tidak akan pernah mempunyai alasan untuk mengeluh bahwa waktu itu pendek atau langka. Ada orang-orang lain yang sedikit terus terang untuk mengakui bahwa bukan karena ketiadaan waktu mereka tetap jauh dari tugas-tugas kebaktian tetapi karena kebiasaan kelalaian dan kemalasan mereka, yang mereka tidak dapat atasi. Kepada mereka saya akan mengatakan bahwa mereka mungkin tidak pernah alpa atau malas dalam ketrampilan atau profesinya yang mereka urus dengan penuh semangat meskipun dengan semua kesusahan pribadi dan bahkan kesakitan hanya karena perolehan keuangan atau keuntungan yang ada dalam pandangan mereka. Kerinduan mereka untuk perolehan material memutar mereka tidak menghiraukan terhadap kesusahan atau kesakitan, demikian pula jika kerinduan (Lagan) untuk kenyataan atas tujuan besar, kebiasaan kelalaian atau kemalasan tidak akan bertahan di jalan usaha atau kemajuan kita. Jika kita memeriksa riwayat orang-orang suci kuno kita mendapati bahwa mereka telah mengorbankan seluruh kesenangan hidup demi mencapai Kenyataan. Mereka menempuh kekerasan dan pengorbanan hidup, menjalani segala macam bentuk penderitaan dan persoalan demi tujuan yang begitu berharga dihati mereka. Kerinduan hebat untuk tujuan membuat mereka buta terhadap hal-hal lainnya dan mereka tetap teguh pada jalannya tidak menghiraukan kesulitan-kesulitan dan kemalangan yang datang pada mereka. Kerinduan hebat atas tujuan yang seperti itu dan kemauan seperti baja untuk mencapai tujuan benar-benar perlu untuk menjamin sukses yang sempurna. Saya dapat memastikan kamu bahwa kamu akan mendapat kemenangan dalam lapangan spiritual hanya jika kamu mengalihkan perhatianmu kepada Tuhan dan mulai dengan kemauan, kepercayaan dan keyakinan, tidak soal bagaimana kamu berada di posisi mana, dikelilingi dengan ketakutan dan kesengsaraan hidup berkeluarga. Kehidupan kamu yang sibuk dengan demikan tidak akan memberikan rintangan di jalanmu. Biasanya orang akan ragu-ragu menuju Tuhan, berpikir mereka sendiri terlalu tidak mampu dan lemah untuk mencapai sesuatu yang nyata. Keinginan kuat yang dibuat pada langkah yang pertama sekali dan dipertahankan terus, tidak akan pernah gagal untuk mencapai kesuksesan penuh. Setengah jarak telah dilalui jika seseorang masuk lapangan dengan pikiran yang tegas. Kesulitan-kesulitan dan kekesalan akan mencair hanya dalam sekejap mata dan jalan untuk sukses akan dibuat lancar. Sikap ragu-ragu membawa pada usaha setengah hati dan biasanya menghasilkan sukses sebagian atau lebih sering kegagalan. Keinginan kuat kita memungkinkan kita, secara otomatis menarik kekuatan dari sumber yang tidak diketahui, untuk menjalankan tugas. Keinginan kuat ditambah dengan ketidak sabaran atau kerinduan yang meningkat untuk mencapai tujuan akan menarik kekuatan dari usaha kita dan oleh karena itu kita akan tetap dalam hubungan terus menerus dengan sesuatu yang nyata yang sama, menangkap setiap petunjuk yang datang untuk kebaikan  dan kemajuan spiritual kita. Ketidak sabaran atau kegelisahan terus menerus untuk mencapai tujuan dalam waktu sesingkat mungkin jelas sekali merupakan faktor yang paling penting yang menyumbang bagi kesuksesan kita dengan cepat. Kita tidak boleh istirahat bahkan untuk sesaat sampai kita memperoleh tujuan yang nyata, kedamaian abadi dan ketenangan. Kerinduan hebat untuk sebuah tujuan biasanya menciptakan kegelisahan dan kita tidak mempunyai ketenangan sampai kita mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karenanya ini sesuatu yang sangat mendasar dan harus diusahakan dengan cara apapun yang memungkinkan. Jadi untuk memperoleh ketenangan abadi kita mengusahakan di dalam kita kegelisahan dan ketidak sabaran pada tingkat permulaan. Ini mungkin terlihat aneh sepintas lalu saat saya meminta kamu untuk mengusahakan sesuatu yang kita ingin hilangkan tetapi ini satu-satunya jalan untuk mencapai sukses yang pasti dan cepat. Dengan demikian kegelisahan yang diciptakan adalah sementara dan berbeda dalam karakter dari kondisi pikiran gelisah yang biasa. Ini lebih halus dan lebih menyenangkan. Ini menciptakan ceruk di dalam hati kita untuk aliran suci mengalir masuk dan melancarkan perjalanan kita menuju kerajaan Tuhan. Jika kamu mendorong seseorang ke bawah masuk ke dalam air kamu akan mendapati bahwa dia akan membuat usaha nekad untuk membebaskan dirinya dari cengkeramanmu. Ini hanya ketidak-sabarannya untuk keluar dari air dengan demikian tambah memaksakan usahanya dan dia tidak akan istirahat sampai dia keluar dari air. Demikian pula usaha nekad seperti tersebut disebabkan karena ketidak sabaran yang luar biasa untuk mencapai tujuan seketika, akan mempercepat langkah-langkah kita pada jalan menuju kenyataan dan memastikan sukses dengan mudah dalam waktu yang sesingkat mungkin. Itu cara-cara yang termudah dan paling efisien untuk cepat sukses.

Orang-orang dikumpulan saya sering menanyakan kepada saya metode untuk menciptakan macam kegelisahan seperti tersebut di dalam mereka. Saya dapat katakan kepada mereka bahwa cinta yang kuat untuk suatu tujuan akan secara otomatis membawa mereka kepadanya. Ketika kita sedang cinta sekali, kita akan secara alami merasa tidak sabar untuk memperoleh kedekatan dengan obyek yang dicintai. Ketika kita amat cinta dengan obyek duniawi gambarannya muncul lagi dan muncul lagi di pikiran kita, dan kita memikirkannya berulang-ulang. Sekarang dengan maksud untuk mengembangkan cinta Suci di dalam hati kita hanya harus membalik prosesnya. Jika kita sering atau sebagian besar hari -hari kita mengingat Tuhan, kita akan secara otomatis mengembangkan cinta untuk Dia, yang jika diteruskan dengan sungguh-sungguh akan menciptakan ketidak sabaran di dalam hati kita untuk memperoleh penyatuan secepat mungkin. Cara lain untuk mengembangkan cinta kepada Tuhan adalah memainkan bagian sebagai pencinta seperti jika kamu memerankan sebuah drama. Tetapi ini hanya untuk mereka yang hampir tidak mampu dengan cara-cara yang lebih halus. Metodenya meskipun pura-pura akan segera membawa kamu kepada kenyataan dan perasaan cinta sejati dan ketidak sabaran akan mulai menggoncangkan hatimu.

Faktor yang paling penting dalam kenyataan adalah kepercayaan diri dengan kemampuan dan kekuatan kita untuk mencapai sukses. Ini tidak masuk akal untuk dipikirkan, bahkan untuk sesaat, bahwa kita dalam banyak hal terlalu lemah atau kekurangan untuk memperoleh keadaan sempurna tertinggi yang sejauh ini pernah dicapai bahkan oleh orang suci yang paling besar di waktu lampau. Kita harus melangkah dijalan kenyataan seperti seorang tentara yang berani dengan penuh kepercayaan dan keyakinan, tidak menghiraukan kesulitan-kesulitan atau kemalangan-kemalangan. Kekesalan dan kekecewaan melemahkan kemauan kita dan menghancurkan keteguhan kita. Kita harus menerima kemalangan-kemalangan dengan hati yang berani dan harus tidak pernah memberikan jalan terhadap perasaan patah semangat yang merupakan kekurangan terburuk dan racun mematikan bagi kehidupan spiritual.

Satu dari hal-hal mendasar dalam membuat seseorang ikut serta dalam pencarian spiritual adalah sikap tidak berlebih-lebihan. Ini istilah yang luas sekali dan mencakup setiap bentuk kegiatan manusia. Ini berarti seimbang dalam seluruh perasaan dan panca indera, tidak ada yang lebih atau kurang daripada apa yang tentu saja dibutuhkan pada saat itu untuk tujuan khusus tanpa meninggalkan kesan sedikitpun pada pikiran. Biasanya, hari ini, kita mendapati sikap yang tidak berlebih-lebihan terganggu dalam hampir setiap hal. Alasan utamanya adalah bahwa kita terikat dengan kepentingan yang tidak semestinya  apapun itu yang muncul dalam pikiran dan kita memperkuatnya dengan paksaan terhadap pikiran  dengan akibat bahwa ini akan berkembang lebih kuat melebihi yang lainnya. Kita mengembangkan  kebiasaan ini dan menerapkannya pada hal-hal yang berbeda dengan bermacam-macam kehebatan. Hasil yang mengikuti hanyalah gangguan dan konflik batin dan ini merupakan sebab utama dari seluruh persoalan dan kesengsaraan kita. Kenyataan tidak memungkinkan kecuali sifat tidak berlebih-lebihan dan keseimbangan dikembalikan. Ini cocok sekali dengan yang sangat nyata yang ada pada waktu penciptaan, ketika segalanya ada dalam suatu keadaan seimbang yang sempurna. Sekarang setelah selang beberapa waktu, kemerosotan timbul perlahan-lahan. Perasaan-perasaan dan panca indera kita hilang keseimbangannya dan segalanya berlangsung kacau balau. Apa yang sekarang kita harus lakukan adalah mengontrol perasaan-perasaan dan panca indera kita dengan maksud untuk mengembalikan sikap tidak berlebih-lebihan di dalam mereka. Untuk memperoleh sikap tidak berlebih-lebihan kita harus memberikan perhatian khusus pada jalan-jalan kehidupan di luar juga seperti lemah lembut dan bahasa yang sopan, hubungan yang sopan, simpati dan cinta dengan sesama manusia, penghormatan kepada yang lebih tua, sifat tidak balas dendam dan sebagainya. Kebiasaan ini sangat membantu dalam pembentukan kita. Jika kita memperoleh sikap tidak berlebih-lebihan yang sempurna kita ada di jalan yang sesuai dengan alam dan ini adalah intisari dari spiritualiti.

Terakhir yang paling penting dan cara-cara yang tidak dapat gagal untuk sukses adalah doa. Ini menyambungkan hubungan kita dengan Tuhan yaitu kepada siapa kita menyerahkan diri kita dengan cinta dan kesetiaan. Dalam doa kita ada dihadapan Dia sebagai pemohon yang rendah hati menyampaikan kepada Dia keadaan kita yang sebenarnya dan sepenuhnya menyerahkan diri kita kepada kehendakNya. Ini bentuk doa yang sesungguhnya dan sebagai pengikut yang sesungguhnya kita harus juga merasa puas dengan Kehendak Master. Adalah sebuah kebodohan berdoa kepada Tuhan untuk tujuan-tujuan duniawi yang kecil kecuali dalam beberapa hal yang amat dikecualikan ketika kedamaian pikiran sangat terganggu karena tidak adanya keperluan-keperluan yang paling minimal saja. Kita harus selalu berdoa untuk Master yang Mahatinggi, Mahakuasa dan Mahatahu dengan pikiran sepenuhnya terserap dalam cinta dan kepatuhan kepada Dia melupakan bahkan diri kita seluruhnya. Ini jalan yang tepat dalam membawakan doa dimana dalam keadaan seperti tersebut jarang yang tidak berhasil. Saya telah menguraikan bahasan ini lebih panjang lebar dalam buku saya Commentary on Ten Commandments of Sahaj Marg (Komentar tentang Sepuluh Usulan dalam Sahaj Marg).

Pada akhirnya saya dapat juga menyadarkan pikiranmu bahwa ada bentuk-bentuk dan praktek-praktek berbeda untuk mencapai yang terakhir. Mereka mungkin membawa kamu pada jalan kenyataan dengan jarak tertentu, tetapi berapa jauh, saya tidak bermaksud untuk mendiskusikannya disini. Saya menyerahkannya pada penilaian dan pengalaman dari pembaca sendiri. Tetapi saya menjamin dengan positif bahwa Raja Yoga ini dan hanya Raja Yoga yang dapat membawa kamu pada tujuanmu yang terakhir atau titik tertinggi dari tujuan manusia dimana kamu berada dalam keselarasan yang sempurna dengan alam, mengambil bentukmu yang tertinggi dan termurni. Tidak ada bentuk atau praktek lain dapat menimbulkan hasil-hasil yang demikian. Oleh karenanya  perlu mempunyai penolong untuk pengetahuan ini jika kamu mengarahkan pada titik tertinggi. Bantuan dan dukungan dari pembimbing yang sungguh-sungguh bernilai tentu saja faktor yang mendasar dan pada saat bersamaan menjadi problem yang serius hari ini juga, tetapi pencari yang sesungguhnya, Saya menjamin kamu, tidak akan pernah gagal untuk menemukan dia.


 

4

GURU

 

            Setelah mempunyai pandangan pada tujuan kita yang tertentu dan cara-cara yang tepat untuk mendapatkannya, yang harus kita tinjau berikutnya adalah menemukan tipe orang yang benar sebagai pembimbing kita, seseorang yang dapat dengan sukses membawa kita pada jalan kenyataan. Dalam segala hal (termasuk hal-hal yang berhubungan dengan pencapaian duniawi), kita memerlukan bantuan dari seorang pembimbing yang berkemampuan. Bagaimanapun, ini memungkinkan bahwa setelah memperoleh beberapa pengetahuan, kita dapat meneruskan lebih jauh dengan usaha kita sendiri. Tetapi walaupun demikian kita harus tergantung pada pengalaman guru-guru dimasa lalu yang dimuat di dalam buku-buku dan tulisan-tulisannya. Di dalam spiritualiti masalahnya sebaliknya. Kebutuhan akan seorang Guru atau Master, tumbuh semakin besar dan besar selama kita semakin maju dan memperoleh tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Dalam hal ini buku-buku tidak berguna bagi kita. Buku-buku mungkin membantu kita untuk memperoleh pengetahuan luarnya tentang sesuatu yang memungkinkan kita untuk menyampaikan ceramah-ceramah dengan fasih bicara tentang topik-topik spiritual dan untuk memenangkan argumen-argumen, tetapi tujuan praktis dalam spiritualiti hanya melalui buku-buku adalah tidak mungkin. Praktek Yoga dan Sadhanas berdasarkan pengetahuan yang diperoleh melalui buku-buku kebanyakan menyesatkan dan bahkan berbahaya bagi perkembangan spiritual kita. Hanya bantuan yang mendukung dari pembimbing yang berkemampuan yang dapat membawa kita naik pada tujuan kita. Dikatakan tentang Maulana Rumi, seorang penyair dan pengarang delapan belas buku tentang spiritualiti dari Persia yang terkenal, suatu ketika dia mendekati seorang suci yang besar untuk menerima pelatihan spiritual darinya. Orang suci itu meminta dia agar membuang semua buku-bukunya ke dalam sungai, jika dia ingin memperoleh pelatihan yang berguna dari orang suci. Karena ini buat dia berarti hilang hasil kerja sepanjang hidupnya dia tidak menyetujui untuk melakukannya. Beberapa kali dia mendekati orang suci dengan permintaan yang sama tetapi memperoleh jawaban yang sama. Tidak menemukan alternatif lain, pada akhirnya dia menyerah pada keinginan orang suci, melemparkan semua tulisan-tulisannya ke dalam air dan menjadi murid orang suci. Kenyataan yang sebenarnya muncul hanya setelah pelatihan di dalam dunia praktek, dan untuk itu, pengetahuan atau karya ilmiah menunjukkan bantuan yang kecil.

            Bantuan dari seorang Guru atau Master, oleh karenanya merupakan hal mendasar dan sangat diperlukan bagi mereka yang sibuk dalam pengejaran spiritual. Bagaimanapun, ada beberapa hal, dimana orang-orang suci memperoleh kesempurnaan hanya dengan usaha sendiri, menyerahkan dirinya langsung kepada Tuhan. Tetapi contoh-contoh seperti tersebut jarang terjadi. Ini sebuah jalan yang benar-benar sulit dan dapat diikuti hanya oleh orang-orang, yang diberikan hadiah khusus dengan bakat yang luar biasa. Guru adalah saluran penghubung antara Tuhan dan manusia. Hanya melalui perantaraannya kita dapat mencapai Tuhan. Hanya dialah kekuatan yang dapat melepaskan kita dari keruwetan-keruwetan Jalan. Selama langkah spiritual kita, kita harus melewati macam-macam titik-titik, yang dikenal sebagai Chakras (dinamakan ibarat teratai). Titik-titik ini adalah pusat dari tenaga yang dipusatkan atas Kekuatan Suci yang Nyata  diwariskan kepada manusia. Mereka berada di tempat-tempat berbeda di dalam tubuh manusia. Ruang penghalang antara dua titik diberikan ciri sebagai sebuah jaring dijalin oleh banyak sekali serat-serat yang berbelit-belit. Selama kita maju kita harus melewati libatan lapisan-lapisan penghalang ini. Kita harus tinggal disana untuk waktu yang lama untuk melengkapi Bhog. Bhog tidak hanya berarti menjalani akibat dari tindakan-tindakan kita di waktu lampau tetapi ini sungguh-sungguh berarti melewati proses membuka keruwetan-keruwetan titik dimana kita telah sampai disana. Menetapnya kita pada titik-titik ini untuk tujuan Bhog sering sangat panjang dan dalam banyak hal hampir tidak mungkin melepaskan diri darinya hanya dengan usaha sendiri. Bagaimanapun hal ini dimungkinkan pada beberapa tingkat permulaan tetapi setelah itu menjadi sungguh tidak dapat dilaksanakan. Ini sudah diperhatikan bahwa kebanyakan orang-orang suci masa lalu yang telah mencobanya hanya dengan usaha sendiri, tetap melekat selama hidupnya pada tingkatan pertama sekali atau tingkatan kedua dan tidak dapat melewatinya. Kenyataannya adalah pada tingkatan yang agak maju kita harus menghadapi apa yang mungkin dinyatakan sebagai kondisi licin dari suatu tempat. Disana kita dapat kadang-kadang naik ke atas sedikit tetapi segera merosot kembali. Sesuatu yang sama terjadi lagi dan terjadi lagi dengan akibat bahwa mendaki lebih tinggi menjadi sulit dan hampir tidak dapat dilaksanakan. Dalam keadaan itu hanya sebuah dorongan sepenuh tenaga oleh Master yang berkemampuan yang dapat membawa kita keluar dari pusaran air tersebut. Jika Master tidak kekurangan  kekuatan dan kemampuan, dia akan dengan tenaganya sendiri, mendorong muridnya naik keluar dari libatan  dan menempatkannya di tingkat yang lebih tinggi. Oleh karenanya, ini penting bahwa pembimbing yang kita pilih haruslah seseorang yang berkemampuan paling tinggi dan mampu melakukan tugas untuk merobek keruwetan-keruwetan pada pandangan sekilas dengan bantuan kekuatan yang luar biasa dibawah kekuasaannya. Ini hanya terjadi pada seseorang dimana dirinya sendiri telah memperoleh kesempurnaan atau peniadaan dirinya sepenuhnya. Karena itu kita harus menghubungkan diri kita dengan sebuah kekuatan sedemikian besar dengan perasaan cinta dan daya tarik. Tidak jadi masalah konsep apa yang kita miliki di dalam pikiran kita tentang dia. Kita mungkin memanggil dia teman, Master, pembantu atau apapun yang kita senang memilihnya. Tetapi bagaimanapun dia tetap pembimbing atau Guru kita, seperti yang biasa dia dipanggil.

            Sayangnya, sekarang ini pemilihan atas pembimbing yang layak sangat diabaikan, meskipun setiap orang Hindu beriman percaya bahwa kewajiban dia untuk memiliki seorang Guru dengan tujuan untuk memuaskan kebutuhannya akan manfaat spiritual. Biasanya orang memilih seseorang untuk suatu tujuan tanpa memperhatikan akan kemampuan-kemampuan atau nilainya. Orang-orang dibujuk kebanyakan oleh bujukan atau keajaiban yang diperlihatkan oleh mereka yang dipanggil sebagai Guru-guru untuk menarik perhatian dari masyarakat yang polos. Pemburu-pemburu murid-murid tidak sedikit. Mereka banyak sebanyak daun-daun sebuah pohon, bagi kebanyakan dari mereka posisi sebagai Guru (Gurudom) adalah sebuah pekerjaan yang sangat menguntungkan, yang dapat memperoleh penghasilan besar sekali dimana jika tidak mereka tidak dapat berpenghasilan. Disamping itu perintah mereka sangat dihormati dan ada pelayanan pribadi dari murid-muridnya. Sehingga masyarakat yang polos jatuh siap dimangsa bagi pencari-pencari diri yang profesional. Sebuah keajaiban kecil sekali atau sebuah pertunjukan biasa atas sesuatu yang mempesona atau menarik cukup untuk menarik ratusan domba-domba bodoh ini masuk ke dalam Gurudom mereka. Sebuah ancaman kecil dengan mengucapkan kutukan terhadap seseorang yang kebetulan saja tidak menyenangkan bagi mereka, dapat membawa beribu-ribu orang kedalam kepatuhan yang rendah (hina). Tidak hanya ini tetapi dengan maksud untuk memastikan monopoli profesi mereka, mereka menyatakan bahwa tidak satupun selain orang dari golongan tinggi  yang mempunyai hak untuk menjadi seorang guru, apakah dia mungkin seorang Sannyasin (orang yang meninggalkan hidup) atau seorang berumah tangga. Mereka menyatakan sebagai guru-guru agama dunia sejak lahir, terlepas dari kemampuan dan nilai mereka. Sannyasins juga, akan kamu temukan akhir-akhir ini dalam banyak laga sebagai Mahatmas dan mengakui sebagai Jagat Gurus (guru-guru dunia). Bukankah ini kasihan, mendapati tipuan-tipuan profesional seperti itu, adalah sesuatu yang memalukan bagi bangsa dan agama, berjalan berkeliling dengan tanpa hukuman sama sekali untuk menipu dan mencurangi orang-orang bodoh, dengan maksud untuk melayani  kepentingan-kepentingan diri mereka sendiri ?

            Inilah saat puncak bagi masyarakat untuk membuka mata mereka dan melihat malapetaka apa yang telah mereka buat. Gurudom sebagai sebuah monopoli dari golongan yang mempunyai hak istimewa hanyalah suatu keadaaan yang bukan-bukan, yang diperkenalkan oleh guru-guru profesional untuk melindungi kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Prinsip terkenal yang dipercaya adalah seorang murid tidak akan pernah dapat memutuskan hubungan suci dengan Gurunya dalam keadaan apapun, ini juga sebuah muslihat licik yang dipakai oleh Guru-guru palsu itu untuk membuat posisi mereka aman dan terjamin dan ini hanyalah sebuah penipuan. Praktek untuk memulai sebagai seorang murid (meskipun benar-benar didasarkan pada prinsip yang kuat ) telah banyak disalah gunakan oleh kebanyakan profesional-profesional modern yang tidak mengerti kepentingannya dengan benar. Fungsi mereka sebagai seorang Guru hanyalah untuk membisikkan beberapa kata-kata gaib kedalam telinga muridnya pada saat memulai dan mengatakan kepada mereka untuk mengikuti praktek-praktek upacara tertentu dalam pemujaan. Kewajiban guru  terhadap murid berakhir disitu dan tidak ada yang tersisa pada guru untuk melakukan perbaikan bagi murid kecuali memberikan kepada muridnya Darshan setiap tahun dan menerima penghormatan tahunan dari muridnya. Sebenarnya seorang murid harus dimulai secara resmi hanya ketika kepercayaan yang sesungguhnya ada di dalam dirinya dan cinta Suci berakar utama di dalam hatinya. Permulaan menandakan bahwa hubungan murid telah tersambung dengan Kekuatan Tertinggi. Dalam hal ini tenaga spiritual mulai mengalir kepada murid secara otomatis menurut kemampuannya menyerap yang dia kembangkan di dalam dirinya. Ini sangat tergantung pada kekuatan dan kemampuan Master untuk mengadakan suatu hubungan yang kuat dimana diperlukan kemampuan yang tinggi.  Sebuah hubungan yang kuat saat terbentuk harus berlangsung terus menerus selama murid belum memperoleh pembebasan yang mana dalam hal ini bukanlah suatu keadaan yang jauh untuk dicapai setelah menjalani beberapa kali kehidupan. Sesungguhnya jika seorang murid dimulai dalam arti yang benar seperti yang disebutkan di atas oleh seorang Guru yang berkemampuan tinggi, persoalan tentang memutuskan hubungan  dengan dia tidak akan pernah muncul. Tetapi, bagi Guru-guru profesional yang melakukan permulaan pura-pura untuk menyediakan keperluan mereka, ini adalah suatu keadaan kegelisahan yang terus menerus. Oleh karena itu, dengan maksud untuk menjaga seorang murid tetap dalam cengkeraman guru, guru menyatakannya sebagai ketentuan Tuhan bahwa murid akan menerima semua penderitaan-penderitaan di neraka jika murid pernah berpikir untuk memutuskan hubungan dengan guru setiap saat. Orang-orang yang kurang mengerti menerimanya sebagai kebenaran mutlak, gemetar bahkan dalam pikiran untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan Guru mereka. Jadi murid selalu mencoba bertahan dengan segala kekejaman Guru dalam ketundukan dengan tidak dapat menyangkal. Saya yakin, tidak ada sedikitpun tanda tentang akibat ini yang ditemukan dalam Shastras (buku suci) kita. Ini hanyalah sebuah akal bulus dari pihak guru-guru agama. Saya menganggap adalah hak sejak lahir bagi setiap orang untuk melepaskan diri dari Gurunya setiap saat jika dia mendapati bahwa dia telah membuat pilihan yang salah atau salah dalam menilai kemampuan atau nilai dari Guru. Dia juga bebas untuk mencari Guru lain jika pada tingkat tertentu dia mendapati bahwa Gurunya tidak mempunyai kemampuan untuk membawa dia melebihi apa yang telah dia peroleh. Disisi lain seorang Guru yang sesungguhnya harus dari dirinya sendiri, dalam keadaan ini, menunjukkan kepada muridnya agar mencari yang lain, yang lebih maju dan memenuhi syarat yang lebih baik, sehingga muridnya dalam banyak hal tidak menderita untuk berkembang. Ini adalah tugas mulia dari seorang Guru sejati dan tidak mementingkan diri sendiri. Jika, biarpun, ijin untuk melepaskan diri yang dicari oleh murid, disangkal oleh Guru karena alasan-alasan  kepentingan diri sendiri, murid bebas untuk melepaskan diri darinya seketika dan mencari yang lain. Tidak ada moral atau undang-undang keagamaan yang melarang murid untuk melakukannya.

            Sedikit kemajuan diantara golongan Guru-guru yang dianggap sebagai orang-orang yang mengajar dan berkotbah dengan dasar pengetahuan mereka tentang Shastras dan buku-buku suci lainnya. Mereka membentuk organisasi-organisasi dan Asrama dimana mereka menikmati posisi sebagai seorang raja diantara pengikut-pengikutnya. Mereka keluar dan berpidato di depan banyak orang mengatakan kepada mereka apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dan menjelaskan kepada mereka persoalan tentang Maya, Jiva dan Brahma (sumber). Beribu-ribu orang berkumpul kepada mereka untuk mendengarkan kotbah-kotbah mereka, memuji pikiran-pikiran mereka yang tinggi dan pengetahuan yang luas dan memandang mereka sebagai Mahatma yang besar atau orang suci. Orang-orang bertanya kepada mereka banyak pertanyaan-pertanyaan  yang rumit dan jika mereka mampu menjawab pertanyaan orang-orang tersebut diluar pengetahuan yang mereka ketahui tentang Shastras kebesaran mereka sebagai Mahatma terbentuk di dalam pikiran-pikiran orang-orang dan orang-orang termotivasi untuk menerima mereka sebagai Guru. Tetapi dengan demikian sebenarnya yang mereka peroleh, adalah orang menguji pengetahuan mereka dan bukan nilai yang sesungguhnya. Ini harus disimpan baik-baik dalam pikiran bahwa bukanlah pelajaran atau pengetahuan yang membuat seseorang sempurna tetapi  hanyalah kenyataan dalam arti yang benar yang membuat seorang Peyoga sejati atau orang suci. Bisa saja orang yang telah meninggalkan kesan bagi kamu dengan bentuk luarnya, pelajaran atau kepandaian bicara, mungkin ada ditingkat yang paling rendah berkenaan dengan pencapaian-pencapaian nyata. Oleh karena itu, pengetahuan bukan ukuran sebagai Mahatma atau Peyoga sejati. Sama halnya ujian yang sesungguhnya bagi seorang Mahatma atau Guru bukanlah keajaiban-keajaiban atau cara-cara dan sikap-sikapnya yang luar biasa tetapi hanyalah pencapaian-pencapaian nyatanya pada jalan untuk menyadari kenyataan. Arti yang  terkenal dari seorang Mahatma sebagai pribadi yang besar  kelihatannya tidak menarik bagi saya. Saya menetapkan seorang Mahatma sebagai orang yang paling diremehkan atau lebih sebagai tokoh yang dilupakan, melebihi semua perasaan-perasaan kebesaran, kebanggaan atau ego, tinggal dengan tetap dalam keadan pengabaian diri sepenuhnya. Ada beberapa yang mempunyai pandangan bahwa pengetahuan sebagai tingkat pendahuluan atas kenyataan adalah sesuatu yang harus ada dan sangat diperlukan.

            Saya tidak setuju dengan mereka yang dengan dasar bahwa pengetahuan hanyalah sebuah pencapaian otak sedangkan kenyataan adalah membangunkan jiwa dan karena itu jauh melebihi pengetahuan. Dalam buku-buku ilmu pengetahuan spiritual kita banyak membaca tentang kondisi pikiran pada macam-macam tingkatan spiritual dan diperkenalkan dengan kondisi-kondisi tersebut tetapi sehubungan dengan pencapaian-pencapaian nyata, kita jauh sekali dari kondisi-kondisi tersebut. Kita dapat bicara pada orang tentang kondisi-kondisi itu, memajukan argumen-argumen untuk dan terhadap mereka dan memperlihatkan keunggulan kita dalam belajar tetapi di dalam batin kita sungguh melupakan mereka. Kita menghadiri ceramah-ceramah dan mendengarkan kotbah-kotbah dari Gita, kita mengulang-ulang bagian-bagian dari Gita secara teratur setiap hari, kita membaca penjelasan-penjelasan yang ditulis oleh orang-orang besar terpelajar tetapi dengan cara demikian apa hasil nyata  yang diberikan kepada kita? Adakah diantara kita yang memperoleh kondisi seperti yang digambarkan di dalamnya (pencipta)? Biarpun mereka mengulang kata-kata “Dunia adalah Semu, Manusia adalah Brahma” dan sebagainya, tetapi didalam batin mereka sangat tidak sadar dengan apa yang mereka katakan dalam kata-kata. Tidak ada satupun yang dapat mengembangkan kondisi seperti yang dibicarakan disana, seperti yang Arjuna lakukan ketika dia mendengar dari Lord Krishna. Gita seperti yang kita miliki saat ini sesungguhnya penjelasan tentang apa yang Lord Krishna bicarakan pada Arjuna pada malam perang Mahabarata. Lord Krishna sebenarnya mentransmit keadaan-keadaan, dijelaskan dengan kata-kata yang keluar dari mulut masuk kedalam hati Arjuna dengan hasil Arjuna sungguh-sungguh merasakan kondisi yang sama meliputi segalanya, kedua-duanya di dalam dan di luar. Itulah, bahwa setiap kata yang dia dengar turun langsung ke hatinya menghasilkan sebuah hasil yang permanen. Penyebab kegagalan dari Guru-guru dan pengkotbah modern atas Gita untuk menghasilkan hasil yang diinginkan terhadap pikiran dari pendengar adalah tidak adanya kekuatan untuk mentransmit kondisi-kondisi itu. Macam-macam kondisi pikiran yang dibicarakan dalam Gita adalah benar-benar tingkatan-tingkatan berbeda yang seseorang melewati selama langkahnya pada jalan spiritualiti. Mereka berkembang secara otomatis dari dalam dirinya. Cara formal yang diambil untuk memperoleh keadaan pikiran tertentu pada tingkat sebelum waktunya menambah kekotoran di dalam yang merusak kemajuan kita.

            Seorang guru sejati bukanlah seorang yang dapat menjelaskan kepada kita kekuatan dari ajaran-ajaran agama atau seorang yang dapat menentukan bagi kita apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Hampir setiap orang dari kita cukup mengetahui hal tersebut. Apa yang sungguh kita butuhkan dari seorang guru adalah dorongan  hati sejati untuk membangunkan jiwa dan dukungan langsung darinya selama langkah kita yang lebih jauh pada jalan kenyataan. Orang seperti itu yang harus kita cari, jika kita bertujuan untuk sukses. Oleh karenanya ini bukti bahwa ketika menilai seseorang untuk pembimbing spiritual kita, kita harus mengingat bukan pada ajarannya atau keajaiban-keajaibannya tetapi pada pencapaian nyatanya dalam bidang kenyataan. Seseorang yang di dalam dirinya sendiri bebas dapat membebaskan kamu dari keterikatan abadi. Jika Gurumu tidak bebas dari ikatan Samskaras, Maya atau Ahankar (ego) tidaklah mungkin bagi dia untuk membebaskan kamu dari ikatan-ikatan itu. Seandainya kamu diikat pada satu galah dan Gurumu pada galah lainnya, bagaimana mungkin bagi Gurumu untuk membebaskan kamu dari ikatan. Hanya seorang yang dirinya bebas dapat melepaskan kamu dari ikatan. Dalam banyak hal, orang tersesat karena mereka telah menyerahkan diri mereka sendiri pada bimbingan guru-guru yang tidak bernilai, yang motif utamanya mungkin hanya untuk membesarkan diri saja atau untuk keuntungan pribadi. Dengan pandangan ini di dalam pikiran mereka biasanya didapati bahwa mereka ingin sekali menjaga posisi dan martabatnya dengan tuntutan yang palsu. Bagi  mereka mungkin kejutan terbesar terhadap kebanggaan atas kekuatan dan posisi mereka mengetahui keunggulan orang lain lebih maju atau pencapaiannya lebih baik. Ini hanyalah Ahankar dalam bentuk yang paling kasar. Jika kamu menyerahkan dirimu sendiri pada seorang Guru seperti itu, kamu pasti mewarisi perasaan kebanggaan yang sama yang mana merupakan bentuk kekotoran yang paling buruk dan pasti merintangi kemajuan spiritualmu. Pembebasan tidak pernah memungkinkan selama kejahatan ini ada. Sebenarnya spiritualiti adalah suatu keadaan pikiran yang halus sekali dimana setiap benda lainnya akan kelihatan lebih berat atau kotor dibandingkan dengan itu. Perasaan lembut yang disebabkan karena wangi harum dari sebuah mawarpun jauh lebih kasar. Saya mungkin menggambarkannya sebagai suatu keadaan ketenangan dan keadaan yang tidak dilebih-lebihkan yang sempurna., dalam keserasian sempurna dengan alam. Dalam keadaan pikiran ini semua perasaan dan panca indera demikian dikatakan, dalam keadaan tidur (atau tidak aktif). Pekerjaan mereka menjadi otomatis, tidak menanggung impresi terhadap pikiran. Kedamaian yang sempurna adalah satu dari tingkatan-tingkatannya tingginya, meskipun sesuatu yang nyata masih jauh di depan, ketika bahkan kesadaran akan kedamaian, tidak ada. Kesadaran akan kedamaian, juga menyebabkan beban terhadap pikiran, meskipun ini sangat tidak berarti. Saat kita sangat tidak menyadari adanya kedamaian, kita ada dalam keadaan benar-benar bebas dari impresi atau beban perasaan. Kondisi pada tingkatan ini khas. Ini sungguh-sungguh bukannya Anandam (kebahagiaan) bukan pula sebaliknya.

Kata-kata tidak dapat  untuk menyatakan kondisi nyata dari tingkatan ini. Kondisi seperti ini yang pada akhirnya kita harus capai dimana dia dan hanya dia yang dapat menjadi Guru yang berkemampuan, yang secara tetap tinggal dalam kondisi yang digambarkan di atas, dan yang mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk mentransmit dengan keadaan kekuatan spiritualnya masuk ke dalam hati Abhyasi dan untuk mengeluarkan keruwetan-keruwetan dan gangguan-gangguan dari hati. Tidak ada satupun di bawah tingkatan ini yang pantas untuk memberikan latihan spiritual kepada orang lain.

            Ini sebuah persoalan penyesalan dan kasihan yang paling besar  bahwa sejak jaman dahulu proses transmisi Yoga yang mula-mula dan luas dipraktekkan oleh orang-orang suci kita yang kuno sekarang telah hilang dilupakan seluruhnya di tanah asalnya, dimana saat ini, hanya beberapa orang yang mungkin merasakan bahkan cenderung percaya. Beberapa orang mencoba mentertawakannya dengan salah menafsirkannya hanya sebagai sesuatu yang memikat atau ilmu sihir. Saya telah menjelaskan hal ini dalam buku saya Efficacy of Raja Yoga.  Disini saya dapat menjamin kamu bahwa latihan spiritual untuk pencapaian tingkat yang lebih tinggi hanya memungkinkan dengan perkembangan transmisi Yoga dan bukan dengan cara-cara lainnya. Seringnya menyebut  proses ini, dalam masyarakat yang merupakan orang-orang berpendidikan saat ini, telah membuat guru-guru agama tertentu, sekarang, untuk mempertahankan ketidak cakapannya dalam hal ini dengan menjelaskan kepada orang-orang bahwa tidak ada yang khusus tentang transmisi. Ini biasa terjadi, saat kamu bersama dengan seorang Mahatma atau seorang suci, bahwa sampai tingkat tertentu terlepas dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanmu yang mengganggu merasa tenang untuk beberapa saat. Mereka menegaskan hal ini disebabkan karena akibat transmisi dari Mahatma. Mereka yang memberikan keterangan ini, bermaksud hanya untuk menipu masyarakat dengan sebuah gambaran untuk menutupi ketidak mampuan mereka. Apa yang mereka tafsirkan sebagai transmisi sebenarnya radiasi otomatis dari kesalehan Paramanus (butir-butir halus) dari Mahatma. Ini mempengaruhi semua yang berkumpul disana dengan hasil bahwa ketenangan terjadi sedemikian sampai sepanjang mereka ada disana. Ini hanya sebuah proses alami dan tidak ada apa-apa dengan transmisi. Ini bukan hanya dari seorang Mahatma atau orang suci bahwa Paramanus demikian (butir-butir halus) memancar tetapi juga dari setiap orang apakah suci atau jahat, saleh atau jahanam. Jika kamu untuk beberapa saat berada dengan seorang yang tidak suci atau orang yang moralnya rendah kamu mendapati persamaan Paramanus yang tidak suci memancarkan dari dia dan mempengaruhi kamu, dengan hasil bahwa kamu mendapati pikiran kamu mengalir dalam saluran yang sama untuk sesaat. Akibat dari radiasi tersebut tetap hanya untuk sesaat dan menghilang ketika kamu jauh darinya. Inilah alasan mengapa sering guru-guru agama ditemukan membuat keluhan-keluhan tentang orang-orang yang acuh tak acuh untuk mengikuti apa yang mereka ajarkan kepada orang-orang tersebut. Guru-guru mengatakan kepada orang-orang, ketika orang-orang pergi setelah mendengar Upadesh (kotbah) mereka membuang semua apa yang telah mereka dengar saat itu juga tidak menyimpan apapun didalam pikiran mereka. Saya pikir ini bukanlah orang-orang tetapi guru atau Upadeshak (Pengkotbah) yang benar-benar harus disalahkan, karena dia tidak mempunyai kemampuan atau kekuatan untuk mentransmit apa yang dia maksud untuk diajarkan dari panggung/tempat Guru berbicara. Pemandangan yang sama digambarkan dalam hubungannya dengan perbuatan-perbuatan Sankirtan. Lingkungan yang tenang diciptakan pada saat itu dinyatakan sebagai akibat dari efek transmisi. Ini benar-benar hasil dari getaran-getaran yang dihasilkan oleh suara nyanyian dalam sebuah paduan suara. Kita mengalami hal yang sama di semua pesta-pesta musik yang kita hadiri. Pada kesempatan demikian pikiran kita hampir ditujukan pada satu dan hal yang sama yang ada dalam pandangan kita, dan kita untuk sesaat, tidak memikirkan hal-hal lainnya. Dalam Sankirtan, saat pikiran kita ditempatkan pada tujuan yang saleh kita mulai merasakan hal yang sama di dalam hati kita secara otomatis. Tidak ada hubungan apa-apa dengan transmisi. Kekuatan transmisi adalah sebuah pencapaian Yoga atas standar yang sangat tinggi dimana seorang Peyoga dapat menanamkannya dengan kekuatan kemauannya sendiri, energi Yoga atau pancaran Ketuhanan di dalam seseorang dan melepaskan segalanya yang tidak diinginkan di dalam dia atau mengganggu perkembangan spiritualnya. Dia dapat melatih kekuatan ini bukan hanya pada orang-orang yang berkumpul di sekitar dia tetapi juga pada orang-orang yang jauh dari dia. Kekuatan dapat dipergunakan dalam cara apapun setiap saat. Seseorang yang telah menerima kekuasaan atas kekuatan ini dapat dengan sekejap mata, menciptakan sementara atau secara tetap, sebuah kondisi pikiran yang jauh dimuka dari kondisi yang ada dari pikiran seorang Abhyasi yang mana jika tidak, akan memerlukan selama hidup untuk dicapai. Ini bukan hanya sebuah pernyataan yang sia-sia tetapi sebuah kenyataan yang sesungguhnya dan dapat setiap saat benar-benar dibuktikan oleh seorang yang ingin membuktikannya. Orang-orang suci sering, melalui kekuatan transmisi merubah seluruh sifat seseorang hanya dengan sekejap mata. Contoh-contoh yang sangat bagus dari orang-orang suci besar seperti Master saya, Samartha Guru Shri Ram Chandraji Maharaj of Fatehgarh (Lalaji), Swami Vivekananda dan lain-lainnya memberikan banyak bukti tentang hal ini.

            Pemecahan persoalan pada orang macam apa yang harus dipilih sebagai seorang pembimbing atau Guru  tidaklah sulit dicari. Ketika mata kita ditetapkan pada tujuan akhir, kita tidak pernah puas terhadap  seseorang yang muncul dengan kurangnya tanda sasaran. Setiap orang suci atau Yogi mempunyai tingkat pencapaian dan peninggian diri. Jika kita mengikatkan diri dengan salah satu dari mereka dengan kepercayaan dan kesetiaan dan memperoleh penyatuan dengan kondisinya yang tertinggi, diri kita sendiri  memperoleh peninggian yang sesuai. Oleh karena itu, adalah benar-benar perlu untuk menyeleksi seseorang yang pencapaiannya tertinggi sebagai Guru kita. Sayangnya jika kita dengan apapun caranya menyebabkan memilih seseorang yang pencapaiannya rendah mutunya kita akan bersamaan pula ketinggalan dibelakang tujuan akhir kita. Biasanya seorang guru spiritual tidak pernah menganggap dirinya sendiri cocok untuk melatih orang lain, kecuali dia telah memperoleh pencapaian paling sedikit sampai pada Brahmand Mandal (juga dikenal sebagai Virat Desh) dimana segalanya muncul dalam bentuk yang halus, sebelum segalanya itu benar-benar mengambil tempat di dalam dunia material ini. Ketika seorang guru menghubungkan dirinya dengan tingkatan atau lingkungan tersebut, dia terus menerus berhubungan dengan gudang tenaga yang tidak habis-habisnya. Di sisi lain jika seseorang menerima pekerjaan melatih orang lain dalam hal spiritualiti sebelum memperoleh tingkat ini, dia tidak hanya mulai kehilangan kekuatannya sendiri tetapi dicemari dengan Samskaras dan kekotoran dari mereka yang dia latih, dengan akibat bahwa dia sendiri segera menjadi rusak. Di dalam misi kita ijin untuk memberikan latihan biasanya tidak diperbolehkan pada tingkatan ini. Sungguh seseorang yang cocok untuk pekerjaan melatih hanya ketika dia tidak mempunyai di dalam hatinya sedikitpun kesan sebagai seorang Guru. Saya percaya jika gambaran sebagai seorang Guru melintas di pikirannya bahkan sekali di dalam hidup dia menjadi tidak berharga sebagai seorang Guru untuk seluruh hidupnya. Adanya gambaran ini menunjukkan bahwa dia menyenangi di dalam hatinya perasaan akan pentingnya atau besarnya dirinya. Kesadaran sebagai seorang Master, jika dipelihara, segera berkembang menjadi kebanggaan, bentuk yang paling kasar dari Ahankar, dan oleh karenanya menghasilkan kerusakan-kerusakan, yang merupakan kekurangan yang paling buruk dalam seorang Guru. Oleh karenanya perlu bagi seseorang untuk membuang kejahatan-kejahatan ini sebelum dia menyatakan diri masuk ke dalam lapangan  sebagai seorang Guru. Tuhan adalah Guru atau Master yang nyata dan kita mendapat Cahaya hanya dari Dia. Tetapi ini sangat sulit bagi seseorang dengan pembawaan yang biasa untuk mendatangkan inspirasi langsung dari Tuhan, kita mencari bantuan dari seseorang sesama manusia yang telah mengadakan hubungan dengan Yang Mahakuasa. Ini menjadi bukti bahwa jika seseorang menyatakan diri sebagai seorang Guru atau Master dia sungguh merebut posisi yang sebenarnya hak Tuhan dan hal ini hanyalah penghujatan. Oleh karena itu dia harus memperlakukan dirinya sendiri sebagai pembantu Tuhan yang paling rendah, melayani manusia dalam nama Master yang besar. Jadi tidak akan ada lagi ruang untuk Ahankar dan untuk kejahatan-kejahatan yang dihasilkan dimana sayangnya akhir-akhir ini terlalu sering terjadi. Kenyataan adalah lupa sepenuhnya dimana kejahatan-kejahatan ini ada. Seorang Guru oleh karena itu harus membuang dari hatinya bahkan sekecilpun perasaan atas kebesaran dan keunggulan dan menganggap dirinya sebagai anggota manusia atau pembantu manusia yang paling rendah. Kenangan akan Master saya yang terpuja adalah sebuah contoh. Sepanjang hidupnya dia memperlakukan anggotanya sebagai saudara. Gambaran bahwa mereka adalah murid-muridnya tidak pernah sekalipun melintas dipikirannya. Dia bahkan siap untuk menawarkan pelayanan pribadinya bahkan kepada murid-muridnya dan sangat sering dia melakukannya tanpa membiarkannya masuk dalam pengetahuan mereka. Saya pikir dan merasa ini sesuatu yang perlu bagi seorang Guru untuk membuang posisinya sebagai Master dan merasa dirinya sebagai seorang pembantu biasa bagi manusia. Tuntutannya atas layanan pribadi dari murid-muridnya tidak mempunyai dasar kebenaran kecuali dalam hal terdorong oleh keadaan yang benar-benar memaksa dan itu juga hanya untuk sedemikian besar pada apa yang dia sendiri siap untuk memberikan kepada murid-muridnya. Kebanyakan mereka yang dipanggil Guru-guru akhir-akhir ini menganjurkan praktek tersebut, karena ini memberikan mereka kesenangan pribadi dan memenuhi kesombongan mereka. Mereka mengatakan bahwa dengan menyentuh kaki Guru atau memijat anggota badannya, aliran magnetis berjalan langsung dari Guru kepada murid yang membantu murid dengan membentuk samskaras yang saleh. Jadi dengan praktek ini murid menarik ke dalam banyak kemurnian dan kesalehan dari masternya. Ini mungkin benar, tetapi ijinkan saya bertanya kepada mereka untuk sesaat apakah hal yang sama tidak mungkin jika Guru memberikan pelayanan yang sama kepada muridnya. Saya pikir tidak ada satupun yang dapat dengan berani mengingkari hal ini. Nyatanya kemudian motif dibelakangnya hanyalah kesenangan dan ketenteraman pribadi. Menurut pendapat saya yang sederhana prosesnya sekarang harus dibalik sesuai dengan kebutuhan waktu (jaman) dan Guru harus membuat dirinya sendiri yang melayani murid-muridnya. Sungguh posisi Guru sangat aneh. Jika dia merasa dirinya sebagai seorang Master dan oleh karenanya jauh diatas anggotanya ini akan menjadi sebuah Ahankar dengan tipe yang terburuk bagi seorang Guru. Ini sungguh keinginan dari murid untuk menyediakan diri dalam melayani Gurunya dengan cinta dan kesetiaan dan bukannya hak atau hak istimewa dari Guru yang membutuhkan ini. Saya diingatkan akan sebuah contoh, seorang lugu suatu ketika mendekati seorang Guru bertipe seperti demikian dan menawarkan untuk menjadi muridnya. Guru itu sangat senang dengan harapan tambahan satu orang lagi dibawah kekuasaannya sebagai Gurudom, mulai mengajari dia kewajiban-kewajiban seorang murid. “Kamu harus,” dia berkata, “dengan penyerahan sepenuhnya kepada Gurumu, mengurus setiap saat akan kebutuhan-kebutuhan dan tugas-tugas pribadinya. Kamu harus membungkuk di depan dia setiap pagi dan malam dan tidur setelah Guru tidur dan bangun sebelum dia bangun.” Orang malang ini mendapati dirinya tidak mampu melakukan semua ini, dengan lugu bertanya : “Apa akibatnya jika saya gagal melakukannya  sangat tidak sesuai dengan yang diinginkan ?” “Kamu akan dimatikan dan menemui ajal” jawabnya dengan tegas. “Lalu, Tuan” dia menambahkan dengan sopan, “Kamu akan sangat baik, jika kamu menerima saya sebagai seorang Guru.” Kita sering menjumpai contoh-contoh iri hati dan percekcokan antara seorang Guru dengan muridnya. Semua ini disebabkan karena apa? Ini disebabkan hanya karena kepentingan diri sendiri atau keuntungan pribadi. Oleh karenanya seorang Guru harus sepenuhnya bebas dari seluruh perasaan bangga atau besar. Dia harus seorang yang tidak mementingkan diri sendiri dan sungguh-sungguh pelayan seluruh manusia, mengajari orang-orang cinta suci tanpa motif-motif untuk diri sendiri yang disembunyikan dalam nama, popularitas atau uang. Dia harus mempunyai jalan masuk sampai pada batas terjauh yang memungkinkan dan harus mempunyai kekuatan transmisi Yoga. Orang seperti itu yang kita harus cari, sebagai pembimbing jika kita ingin sukses dengan sempurna. Lebih baik tanpa seorang Guru seumur hidup daripada harus menyerahkan pada bimbingan guru yang tidak bernilai.


 

5

PELATIHAN SPIRITUAL

 

            Moral kita sekarang dan keburukan beragama kebanyakan disebabkan oleh lingkungan dan pelatihan kita yang salah. Pembentukan pikiran yang tepat diabaikan sama sekali dalam semua tahap pendidikan dan pelatihan. Setiap usaha yang memungkinkan dibuat  untuk memelihara jenis pelatihan duniawi  yang benar dengan maksud memungkinkan seseorang memperoleh suatu kehidupan yang layak dan menyenangkan, tetapi pelatihan tepat yang diperlukan untuk kenyataan diri diabaikan seluruhnya. Persoalan hidup yang penting ini, jikapun ada, perhatian yang diberikan adalah paling kecil. Mengulang-ulang secara harian beberapa paragraf puji-pujian terhadap Tuhan atau dewa atau mengikuti formalitas tertentu secara otomatis dengan jalan memuja adalah cara yang diajarkan kepada semua masyarakat untuk  melakukannya. Mereka melakukan hal itu untuk seluruh hidup mereka tetapi mungkin tanpa perolehan apapun. Ketenangan di dalam diri masih tetap kurang bagi mereka. Aktivitas pikiran seperti keinginan-keinginan, godaan-godaan dan emosi tiba-tiba keluar tetap seperti apa yang ada sebelumnya. Tujuan utama dari pelatihan adalah orang harus mulai untuk mengambil di dalam dirinya sendiri sifat-sifat ketuhanan sebanyak mungkin. Jika ini tidak diperoleh sistim pelatihan menjadi rusak dan akibatnya tidak berguna. Pembentukan yang tepat terhadap seseorang haruslah hasil yang alami atas jenis pelatihan yang benar. Pembentukan yang tepat terdiri dari membentuk pikiran yang benar dengan akibat adanya keseimbangan dalam penggunaan semua perasaan-perasaan dan pancaindera kita. Jadi jenis pelatihan yang benar dibawah bimbingan Master yang berkemampuan jelas sekali merupakan faktor yang paling penting dalam pembentukan kita yang tepat yang mana tanpa hal itu pencapaian yang lebih tinggi dalam spiritualiti tidak pernah memungkinkan. Apa yang kebanyakan orang miliki, dalam satu dan lain hal adalah suatu kecondongan menuju Tuhan, namun mereka yang berhasil menyadari Tuhan sangat jarang. Penyebabnya adalah bimbingan yang buruk dan pelatihan yang salah yang membawa seseorang jauh dari jalannya yang nyata dengan akibat dia akan kehilangan selamanya. Sekarang bagi orang dengan kemampuan biasa merupakan tugas yang agak berat untuk menilai apakah pelatihannya diarahkan dengan benar atau tidak. Seseorang dengan patuh dan tidak dapat bertanya, mengikuti perintah-perintah dari orang yang dia telah terima sebagai gurunya dan mempraktekkan menurut apa yang Gurunya meminta dia untuk melakukannya. Ini sangat sulit bagi dia untuk mengetahui dengan pasti apakah dia telah dibimbing sepanjang jalan yang benar atau tidak. Ini persoalan besar dihadapan manusia dimana diri mereka sendiri sungguh tidak peduli dalam hal-hal yang berhubungan dengan kenyataan. Kamu akan menemukan banyak sekali guru-guru agama yang mengatakan kepadamu untuk tidak makan bawang putih, bawang merah atau wortel dan menuntut kamu agar menjalankan sadhana dan praktek-praktek yang tidak mempunyai arti nyata atau seratus hal sepele lainnya yang tidak pernah membawa kamu bahkan satu langkahpun lebih dekat dengan kenyataan. Ini bukanlah pelatihan. Guru-guru seperti itu benar-benar menipu diri mereka sendiri dan juga orang-orang yang dia ajar. Kamu harus yakin bahwa kecuali kedamaian di dalam diri, ketenangan pikiran, kesederhanaan dan perasaan ringan mengikuti sebagai hasil alami dari praktek-praktekmu, kamu maju pada garis yang salah dan dengan demikian pelatihanmu menjadi rusak.

            Metode pelatihan spiritual yang biasa dipakai oleh kebanyakan guru-guru hari ini didasarkan pada peraturan-peraturan yang sangat ketat dan sering tidak cocok dengan kehidupan duniawi kita. Karenanya  dalam banyak hal mereka membuktikan ini tidak dapat dilaksanakan bagi mereka yang menjalani kehidupan duniawi. Biasanya guru-guru membujuk orang-orang untuk mempraktekkan pengendalian dengan memakai suatu bentuk kehidupan khusus memutuskan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan duniawi dan mempraktekkan kesetiaan untuk waktu yang lama. Jelaslah sebuah jenis pelatihan seperti itu bukanlah untuk orang-orang secara umum yang tidak dapat memisahkan diri mereka dari ikatan-ikatan duniawi atau mengabdikan waktu sedemikan banyak bagi praktek-praktek ibadah mereka. Karena alasan inilah guru-guru  berkotbah tidak menghasilkan hasil yang diinginkan dan walaupun dengan usaha mereka yang terbaik, mereka gagal membuat pengikutnya sesuai dengan yang diinginkan. Kenyatannya adalah mereka lebih bersifat teori daripada praktek. Apakah memungkinkan bagi masyarakat untuk meninggalkan dunia demi pembebasan? Tentu tidak. Lalu apa yang baik yang orang-orang awam dapatkan dari ajaran-ajaran mereka? Beberapa diantara guru-guru bahkan cukup berani untuk menyatakan pendapat mereka yang salah bahwa pencapaian yang lebih tinggi di dalam spiritual tidaklah mungkin dicapai dalam sebuah Grihasta Ashram (Asrama keluarga) atau kehidupan berumah tangga. Ini sungguh berarti bahwa mereka tidak mempunyai apa-apa untuk mengajarkan kepada orang awam kecuali mengatakan kepada mereka beberapa hal yang bersifat luarnya saja seperti sering-sering mandi di sungai Gangga, memberi makan ikan-ikan dengan pil tepung terigu atau membaca kitab suci berulang-ulang. Persoalan nyata di depan kita adalah bukannya untuk memberikan cara pelatihan spiritual atas beberapa orang terpilih yang telah meninggalkan dunia tetapi atas orang-orang secara umum yang kewajiban-kewajibannya di dunia selain ibadah yang bermacam-macam dan yang mana mereka tidak dapat mengabaikannya dengan tenang. Nyatanya mereka gagal dalam tugas mereka jika mereka mengabaikan satupun dari tugas-tugas mereka. Bagi mereka hal ini perlu bahwa baik spiritual maupun kehidupan dunia harus berjalan berdampingan sama-sama gemerlap dan untuk ini kita harus menemukan cara-cara yang tepat.

            Oleh karena itu pelatihan spiritual yang tepat, yang paling dekat dengan kehidupan dunia sekarang. hanyalah satu-satunya cara yang diperlukan untuk pertumbuhan spiritual orang-orang umum dan sayangnya sampai sekarang diabaikan. Untuk jenis pelatihan seperti itu dalam banyak hal kita membutuhkan bantuan dari luar. Bantuan ini datang dari Guru atau Master, yang hanyalah satu-satunya orang yang mampu untuk menentukan nasib kita. Ketika bantuan ini datang, kehidupan spiritual dibangunkan dan kekuatan jiwa yang lebih besar muncul untuk membantu pertumbuhan kita.

            Dorongan hati demikian harus dicari dari seorang anggota kita yang berkemampuan tinggi, yang mungkin bisa kita temukan, siap untuk memecahkan kesulitan-kesulitan kita setiap saat. Pelaksanaan mencari inspirasi atau bimbingan dari tuhan-tuhan dan dewa-dewa atau dari jiwa yang sudah keluar diperlakukan sebagai Guru atau Master dalam banyak hal sangat berbahaya. Serupa dengan itu adalah persoalan juga bagi mereka yang mencari bimbingan dari suara di dalam diri mereka, demikian yang mereka sebut. Saya menemukan orang-orang yang memberikan kepentingan terhadap suara di dalam mereka yang mereka pikir sebagai bimbingan sesungguhnya bagi segala persoalan  membingungkan yang muncul dipikirannya. Kita mempunyai contoh-contoh nyata dari orang-orang yang percaya pada apa yang mereka sebut suara di dalam atau yang ditemukan telah menyesatkan dalam bidang spiritual. Sungguh apa yang mereka pikir sebagai suara di dalam mereka atau sebuah dorongan hati dari jiwa yang sudah keluar hanyalah permainan pikiran mereka yang tidak disiplin. Ini praktek yang tidak diinginkan, jika diikuti untuk beberapa lama, membuat pikiran menjadi begitu terlalu kuat dan terlalu aktif sehingga mulai untuk bertanya dan menjawab sendiri. Inilah yang orang sering salah mengerti sebagai tingkatan pencapaian Yoga dimana seseorang memerlukan kekuatan untuk saling berkomunikasi dengan jiwa yang keluar. Mereka sungguh jauh dari itu (saling berkomunikasi). Suara di dalam atau suara dari diri yang sesungguhnya tidak diragukan tidak pernah menyesatkan, tetapi berapa banyak yang cukup maju untuk menangkapnya. Kebanyakan dari mereka yang menyatakan mengikuti suara di dalam sungguh tidak terdengar. Mereka hanyalah dibodohkan oleh kecenderungan pekerjaan pikiran yang menakjubkan yang dapat menciptakan apapun dan segalanya oleh pikiran itu sendiri. Ini bahkan dapat menghadirkan hantu-hantu yang sangat menakutkan dalam gambaran mereka atau membuat mereka mendengar suara-suara aneh di pohon atau batu. Semua ini disebabkan karena aktivitas pikiran di dalam, ketidak disiplinannya dan keadaan yang kotor. Kecuali penutup atas Mal (ketidak murnian), Vikshep (kebingungan/gangguan) dan Avaran (lapisan-lapisan kekotoran) dilepaskan dan pikiran dibawa pada ketenangan dan keseimbangan yang sempurna, inspirasi atau bimbingan dari suara di dalam tidaklah berguna. Kebanyakan dari mereka yang berlaga mengikuti suara di dalam atau mencari bimbingan dari jiwa yang telah keluar, sesungguhnya  mengikuti perintah dari pikirannya yang tidak teratur dan tidak disiplin. Ini hanyalah halusinasi. Jika kita mengembangkan kebiasaan buruk ini kita akan kehilangan selamanya. Ini membawa kita pada ketakutan mental dan godaan terus menerus. Saya mengetahui seorang laki-laki, menonjol diantara yang disebut Bhaktas, yang menyatakan bahwa dia telah memperoleh hubungan langsung dengan jiwa dari Tulsidas, pengarang buku Ramayana, yang dia terima sebagai Gurunya. Dia terus menerus untuk beberapa saat merasa gembira atas pencapaiannya yang disangka benar. Kemudian, sebuah perselisihan paham muncul diantara dia dan Gurunya di surga yang segera berkembang menjadi pertengkaran pahit dimana karena pertengkaran tersebut dia sering berkata, bahwa dia terus menerus dipukuli atau diganggu secara mental dengan akibat keseimbangan mentalnya hampir hancur dan dia merasa sangat sengsara. Setelah dua tahun bekerja keras terhadap dia, dia dapat disembuhkan dari persoalan tersebut. Kemudian dia mampu untuk mengerti bahwa ini semua adalah sebuah ilusi atau penipuan diri sendiri dan apa yang dia sudah mengerti sebagai inspirasi jiwa Tulsidas, sesungguhnya permainan sulap dari pikirannya sendiri yang tidak disiplin. Sejak dia dilepaskan dari keadaan sengsara sekarang dia merasa ketenangan dan kedamaian dikembalikan kepadanya. Suara di dalam sebenarnya suara pikiran dalam keadaan yang murni. Kecuali pikiran dibersihkan dari semua kekotoran dan kerusakan dan dibawa pada keadaan Ketenangan dan keseimbangan yang sempurna, pikiran tidak pernah dapat memantulkan suara di dalam. Kenyataannya bagi seseorang yang pikirannya murni dengan sempurna, hanyalah suaranya di dalam yang selalu bicara dan dorongan hati dari jiwa yang telah berkembang bebas dengan tinggi terus mengalir kepadanya tidak henti-hentinya. Jadi praktek ini telah terbukti, sangat berbahaya dan dalam banyak hal memberikan akibat-akibat yang mendatangkan malapetaka.

            Kenyataan akan Tuhan yang sejauh ini dianggap sangat sulit, memerlukan kerja keras dan usaha yang terus menerus selama beberapa kehidupan, tidaklah demikian. Tuhan itu sangat mudah dan dapat dicapai dengan cara yang sama mudahnya. Aturan-aturan yang ketat dari kehidupan dan praktek-praktek kenyataan yang melelahkan yang ditentukan oleh guru-guru sungguh telah membuat persoalan menjadi begitu sulit sehingga orang-orang dibuat percaya bahwa itu diluar kekuatan dan kemampuan mereka. Saya dapat menjamin kamu dengan tulus bahwa kenyataan sama sekali bukanlah sesuatu yang sulit, hanya jika kamu bersungguh-sungguh mengalihkan perhatianmu padanya. Hanya keinginan kuat untuk mencapai tujuan, bersama dengan cara-cara dan bimbingan tepat yang diperlukan untuk sukses dengan sempurna. 

            Pelatihan spiritual mulai dengan pembersihan di dalam atau memurnikan Cakra-cakra merupakan faktor yang paling penting bagi kemajuan spiritual. Jadi bentuk pelatihan yang benar di dalam spiritualiti, dimulai dengan pembersihan di dalam yang jika diabaikan, akan membawa pada penyalah gunaan kekuatan yang diperoleh melalui cara-cara Yoga. Hatha Yoga kebanyakan menentukan pada praktek secara fisik untuk menjalankan pembersihan, beberapa diantaranya terlalu keras dan membosankan bagi semua orang awam, sedang di dalam sistem Sahaj Marg dikerjakan dengan praktek mental yang mudah, dibantu dengan kekuatan yang ditransmisikan oleh guru. Beberapa guru agama sering menekankan orang-orang untuk menyediakan waktu sebanyak delapan jam perhari guna menjalankan latihan tertentu yang seperti mesin dengan tujuan untuk menjaga pikiran mereka agar diisi dengan pikiran-pikiran suci (Divine). Saya dengan keras mengutuk jenis pelatihan yang melaksanakan latihan-latihan yang membebani otak atau yang terlalu banyak membebani pikiran. Hasil alami dari latihan tersebut adalah pikiran mendapati tidak adanya jangkauan untuk memperluas dan akibatnya kekuatan atas kenyataan tumbuh membosankan. Ini seperti memukul seorang anak laki-laki dengan maksud untuk membuatnya konsentrasi. Kerja berat dengan latihan jasmani yang lama dan membosankan seperti yang biasa dianjurkan oleh guru dengan maksud untuk menghasilkan pembentukan pikiran atau pembersihan cakra-cakra, dengan demikian tidak banyak gunanya. Untuk tujuan ini kita menggunakan kekuatan pikiran kita dalam sebuah jalan yang tepat, dibawah bimbingan seorang Master yang sangat kuat yang mampu melepaskan keruwetan-keruwetan dan libatan-libatan yang merintangi kemajuan kita dan yang mentransmit ke dalam kita kekuatan yang diperlukan untuk memelihara kehidupan spiritual kita. Jalan yang dipermudah dalam pelatihan spiritual telah memberikan tingkat  spiritual tertinggi yang memungkinkan bagi semua orang apakah laki-laki, perempuan, muda atau tua, Grihasta (berkeluarga) atau Virakta (pertapa).

            Langkah permulaan dalam jenis pelatihan yang tepat adalah kecenderungan pikiran calon pengikut diarahkan langsung kepada Tuhan. Untuk ini guru-guru agama terpelajar kebanyakan menentukan praktek-praktek jasmani atas tubuh dan pikiran, diambil dari buku-buku keagamaan. Orang sering mendapati ini adalah tugas yang berat untuk mengikuti mereka dan dengan demikian mereka tetap tinggal diawal untuk jangka waktu tidak terbatas tanpa kemajuan yang lebih jauh. Seorang guru yang berkemampuan harus melakukan ini dengan usahanya sendiri menggunakan kekuatan transmisinya dengan maksud untuk menciptakan hasil yang permanen dan berurat akar. Ketika pikiran kita diarahkan kepada Tuhan kita tentu saja mulai merasakan diri kita sendiri berhubungan dengan kekuatan Tertinggi dalam seluruh perbuatan-perbuatan dan pekerjaan-pekerjaan kita. Saat keadaan pikiran ini dibuat di dalam diri secara permanen, setiap tindakan yang kita lakukan, kemudian akan kelihatan menjadi bagian kesetiaan atau persembahan yang Suci dan oleh karenanya kita berada di dalam ingatan terhadap Tuhan terus menerus selamanya. Getaran di dalam hati segera mulai dirasakan oleh calon pengikut. Ini adalah permulaan dari keadaan spiritual yang dikenal sebagai Shabda (suara atau getaran di dalam diri) atau Ajapa (meditasi tanpa mengucapkan mantera-mantera). Ini berkembang secara otomatis selama kita maju sepanjang jalan yang benar dibawah bimbingan yang tepat. Orang-orang tertentu yang mempraktekkan Japa (pengulangan mantera-mantera) di luar untuk waktu yang lama, kadang-kadang mendapati bahwa bahkan selama tidur mereka terus saja dengan Japa seperti biasa. Ini yang mereka salah mengerti sebagai Ajapa atau Shabda. Ini tidaklah benar. Dengan praktek terus menerus, hati dan lidah mereka menjadi kebiasaan dengan hal tersebut dan tindakan ini berlangsung terus bahkan ketika mereka tidur atau saat tidak sadar. Bagaimanapun hal ini berakhir jika mereka berhenti mempraktekkannya untuk sesaat. Ini hanya karena kekuatan dari kebiasaan dan bukannya keadaan sesungguhnya atas Ajapa. Kondisi Ajapa yang dipercaya merupakan suatu pencapaian spiritual yang tinggi yang diperoleh setelah bertahun-tahun kerja keras, hanyalah sebuah persoalan beberapa minggu atau bahkan beberapa hari, melalui latihan yang benar dengan  proses transmisi. Dengan demikian getaran-getaran yang diciptakan tetap untuk beberapa saat menempati di dalam hati setelah itu getaran-getaran tersebut perlahan-lahan berkembang kepada cakra-cakra lainnya dan akhirnya pada setiap partikel tubuh. Ini kemudian dikenal sebagai Anhad (yang tidak dapat didengar). Metode yang harus diikuti seperti yang dianjurkan di dalam Misi kita adalah meditasi dibawah bimbingan yang efisien yang mana sejauh ini paling berguna dan mungkin hanya satu-satunya cara untuk menjamin sukses yang sempurna.

            Biasanya orang mengeluh tentang banyak sekali gambaran-gambaran yang timbul pelan-pelan di dalam pikiran mereka pada saat meditasi. Mereka berpikir bahwa mereka telah gagal dalam prakteknya kecuali mereka membuat pikiran mereka berhenti. Tetapi ini bukanlah demikian. Kita tidak menjalankan konsentrasi tetapi hanya meditasi. Kita harus memulai meditasi dengan tidak memikirkan gambaran-gambaran asing yang muncul di pikiran kita saat itu. Aliran gambaran-gambaran disebabkan oleh karena aktivitas-aktivitas dari pikiran sadar kita yang tidak pernah istirahat. Kita masih sibuk dalam meditasi dengan pikiran bawah sadar kita, ketika pikiran sadar kita mengembara dan membuat banyak gambaran-gambaran. Jadi bagaimanapun kita bukanlah orang yang kehilangan. Pada waktunya, setelah cukup mempraktekkan, pikiran sadarpun dibuat dan mulai bertindak selaras dengan pikiran bawah sadar. Jadi hasil yang dicapai berurat akar dan kekal, dan pada akhirnya ketenangan, karakter dari jiwa, menjadi yang utama. Dalam beberapa hal saya telah mengamati praktek guru-guru, keinginan kuat mereka untuk menghentikan fungsi normal pikiran selama sittings, menciptakan suatu keadaan tidak mempunyai perasaan untuk sementara atau penghentian kerja otak. Kondisi ini tidak diragukan, adalah yang paling menarik bagi pemula, yang melupakan kenyataan dan dia merasa sangat terkesan dengan pertunjukan kekuatan yang luar biasa ini. Menurut pendapat saya ini hanyalah suatu perbuatan permainan sulap dipraktekkan oleh mereka yang ingin sekali menarik sebanyak-banyaknya jumlah murid dengan maksud memperlihatkan kebesaran mereka sebagai seorang Guru. Saya katakan ini adalah penyalah gunaan kekuatan terbesar sebagai bagian dari guru spiritual yang mungkin tidak mempunyai motif mendasar lainnya selain keunggulan diri. Ini sebuah praktek yang salah dan amat berbahaya bagi perkembangan spiritual seorang calon pengikut. Jadi pikiran ditekan atau dihentikan, segera mulai untuk bereaksi kembali dengan tekanan yang lebih besar, merusak seluruh sistem. Disamping itu, praktek ini menciptakan rasa berat di dalam dan otak yang tumpul. Orang yang tunduk pada praktek seperti itu untuk waktu lama kehilangan rasa yang dapat membedakan dan kekuatannya atas kenyataan menjadi tumpul. Selama itu dia menjadi rusak seluruhnya dan menjadi sangat tidak cocok untuk pelatihan spiritual yang sesungguhnya. Jika seseorang tidak tumbuh lebih enteng hari demi hari, dia harus menarik kesimpulan bahwa dia menerima jenis pelatihan spiritual yang salah. Pertumbuhan keringan pikiran dan jiwa yang terus menerus adalah ujian yang paling meyakinkan atas kemajuan spiritual.

            Jadi pelatihan spiritual yang sesungguhnya adalah yang membuat pikiran kita disiplin dan teratur, mengembalikan keseimbangan dalam perasaan dan panca indera dan menciptakan semangat yang ringan. Barulah kedamaian dan ketenangan di dalam dapat dipastikan dan tujuan yang lebih tinggi memungkinkan. Untuk ini, perantaraan dari seorang Master yang bernilai dengan kemampuan  tinggi, mempunyai kekuatan transmisi yang tersedia padanya adalah benar-benar perlu dan bagi dia calon pengikut harus menyerahkan diri dengan penuh kepercayaan dan keyakinan.

            Beberapa orang berpikir bahwa dengan proses permulaan saja cukup untuk memecahkan persoalan hidup mereka. Jika mereka mampu dengan cara apapun untuk memperoleh proses permulaan dari seorang Guru, mereka tidak perlu mengusahakan atau mempraktekan lebih jauh. Mereka pikir bahwa  dengan dorongan Guru pada akhirnya akan melepaskan mereka dari keterlibatan Samskaras dan Maya dan membawa mereka pada pembebasan. Pikiran tersebut walau kelihatannya benar, mungkin tidak terlalu berhasil kecuali kamu menyerahkan diri sepenuhnya kepada master dan dia  juga adalah orang yang secara khusus mempunyai kemampuan tinggi. Pikiran untuk perbaikan dan kemajuan murid, tidak diragukan, yang paling penting di dalam hati master untuk mana dia mendesak dirinya sendiri sejauh mungkin tetapi itu tidak berarti bahwa kita tetap bermalas-malas tidak mengerjakan apa-apa bagi diri kita sendiri dan meninggalkan bagian pekerjaan kita kepada dia. Kita harus, sebagai kewajiban kita, mencoba sekuat tenaga untuk melindungi dia dari pengerahan tenaga yang tidak perlu yang disebabkan karena kita, dimana sebanyak yang kita dapat lakukan sendiri untuk kemajuan kita dan harus tidak dalam hal apapun mengabaikan bagian dari kewajiban kita.

            Kebanyakan guru-guru agama telah memakai metode luaran untuk mengembangkan kondisi spiritual tertentu di dalam seorang calon pengikut tetapi ini sebuah proses yang sangat rusak. Sebagai contoh, dengan maksud untuk mempraktekkan Gyan (Sistem Keselamatan Gaib) dan menciptakan di dalam calon pengikut keadaan Aham Brahmasmi (Saya adalah Brahma) mereka menasehati calon pengikut untuk meditasi arahnya ke luar, memikirkan hal yang sama selamanya dan mengulang-ulang kata-kata yang sama setiap saat. Ini adalah sebuah proses seperti mesin dan membawa pada kekotoran di dalam diri. Keadaan sesungguhnya dari Aham Brahmasmi tidak pernah diciptakan oleh cara-cara yang hanya di luarnya saja seperti demikian. Pengulangan kata-kata berulang-ulang  membantu dia untuk membentuk sebuah kebiasaan lidah dan kata-kata yang sama terucap setiap saat. Ini mustahil untuk menyimpulkan bahwa dengan cara demikan dia telah menjadi Gyani (pengikut Gyan) dalam arti yang sesungguhnya. Mereka mungkin mengulang kata-kata seratus kali dan memaksa pikiran mereka setiap saat untuk membayangkan segalanya seperti Brahma tetapi mungkin mereka masih jauh dari itu. Praktek ini menciptakan sebuah lingkungan di sekitar dia yang membantu dia untuk membayangkan hal yang sama di luar. Kondisi ini hilang jika dia menghentikan kebiasaan mengulang kata-kata berulang-ulang. Oleh karenanya ini sangat terbukti bahwa  keadaan Aham Brahmasmi yang dianggap menciptakan jadi tidak murni tetapi hanya palsu dan hayalan. Disamping itu, bahkan keadaan sesungguhnya atas Aham Brahmasmi, yang biasa dianggap menjadi pencapaian yang sangat tinggi tidaklah demikian. Pada tingkatan ini, seseorang meskipun terlepas dari beberapa keterlibatan Maya, sebenarnya tidaklah melebihi batas akhirnya. Kesadaran diri yang masih ada pada tingkatan ini hanyalah kekotoran, meskipun dalam bentuk yang sangat halus. Mereka yang mengajarkan ini dari panggung sebagai bentuk tertinggi atas Gyan, melebihi itu yang masih harus dicapai tinggal sedikit adalah kesalahan yang nyata sekali. Ini bukanlah tujuan kita, tetapi kita hanya melewatinya untuk memulai tingkatan berikutnya. Mereka yang bertahan disitu  berpikir bahwa itulah Kenyataan atau tujuan akhir, melakukan sebuah kesalahan besar yang serius. Kita pada akhirnya sampai pada sebuah titik dimana segalanya berakhir, termasuk gambaran tentang Aham atau ‘Saya’.

            Ini adalah keadaan peniadaan seluruhnya yang pada akhirnya harus kita capai dan dimana teriakan sebagai Aham atau ‘Saya’ akan sungguh tidak cocok dengan keadaan yang sebenarnya. Keadaan Aham Brahmasmi semula disebabkan karena kesadaran (atau Chaitanyata) yang secara otomatis berkembang di dalam kita saat kita melangkah sepanjang jalan dibawah bimbingan yang tepat. Ini menghasilkan getaran-getaran di dalam kita, dengan hasil bahwa pikiran mulai menggemakan getaran yang sama. Keadaan pikiran muncul pada setiap tingkatan perkembangan spiritual dalam bentuk-bentuknya: “Saya adalah Brahma’, ‘Semua adalah Brahma’ dan ‘Semua dari Brahma’. Seluruh keadaan dalam ketiga aspek ini sebenarnya kesatuan dalam aneka ragam dalam bentuk yang berbeda. Ini muncul dalam sebuah bentuk kasar dalam Pind Desh; dalam Brahmanda Mandal ini menjadi lebih halus dan lebih halus, sedangkan di dalam Para Brahma Manda ini menjadi sangat halus. Semua kondisi-kondisi ini berakhir dalam enam belas lingkaran pertama seperti yang ditunjukkan pada diagram di dalam bab II.

            Oleh karenanya, jalan yang benar atas pelatihan bagi seorang calon pengikut spiritualiti, adalah  berjalan sepanjang jalan kenyataan dibawah bimbingan master sejati dan bernilai dengan cara yang paling alami, sehubungan dengan kebersihan di dalam atau kemurnian Cakra-cakra dan keseimbangan sepenuhnya dalam penggunaan perasaan dan panca indera lainnya.


6

KEPERCAYAAN

 

            Keinginan, kepercayaan dan keyakinan adalah faktor dasar yang memperbesar sebuah kesuksesan dengan mudah pada jalan kenyataan. Keinginan kuat untuk mencapai kenyataan berarti bahwa kita di dalam batin membangkitkan pikiran tentang pengenalan Diri. Kita maju dengan gambaran tersebut dan memilih sebuah jalan. Hal yang pertama sekali harus dilihat dengan serius yaitu jalan yang kita pilih adalah jalan yang benar, menuntun langsung pada tujuan kita. Oleh karena itu sangat penting untuk memiliki di pikiran kita sebuah pengertian yang jelas dan nyata tentang tujuan akhir. Sekarang tujuan akhir dari orang yang berbeda mungkin juga berbeda dalam banyak hal, dan akibatnya, cara untuk mencapainya juga berbeda. Dengan demikian kita harus memilih jalan yang benar membawa langsung kepada tujuan akhir yang kita cita-citakan. Keputusan yang tergesa-gesa dalam hal ini sering membawa pada hasil-hasil yang mengecewakan, ini mungkin terjadi bahwa jalan yang telah kamu yakini untuk diambil mungkin bukan jalan yang benar membawa pada tujuan kamu. Sering dengan mengambil jalan yang salah kamu kehilangan penglihatan tentang hal-hal nyata dan membawa pada pengertian dan ilusi yang salah. Jika kamu bertahan pada jalan yang sama tujuan akhirmu terhadap kenyataan menjadi tidak mungkin. Sayangnya ini sering terjadi ketika kamu jatuh ke dalam bimbingan yang merusak dan pelatihan yang salah. Oleh karenanya hal ini mutlak perlu pada permulaan sekali untuk mengusahakan setiap cara-cara yang meyakinkan dalam menilai bahwa jalan yang kamu ambil untuk kenyataan adalah sungguh-sungguh jalan yang benar. Jangan mengikuti sebuah jalan dikarenakan itu jalan yang tertua, karena yang tertua mungkin paling tidak cocok bagi kondisi dunia dan masyarakat yang telah berubah. Jangan mengikuti sebuah jalan dikarenakan jalan itu telah diikuti oleh mayoritas banyak orang, dimana mayoritas tidak selalu benar dan lebih sering disebabkan hanya oleh karena beberapa orang memilihnya, yang dengan segala kemungkinan, telah tersesat. Kita harus sepenuhnya mempertimbangkan dalam menilai kebaikan-kebaikan sesuatu, menerapkan semua cara-cara yang memungkinkan dalam menilai yang tersedia bagi kita. Kita harus tidak pernah sampai pada kesimpulan yang tergesa-gesa tanpa pertimbangan dan pengujian yang semestinya, melalui bantuan pertimbangan sehat dan pengalaman. Ketika kita pada akhirnya yakin terhadap kebaikan sesuatu kita dapat bertahan padanya dengan kepercayaan dan kesetiaan. Jadi kepercayaan yang ada haruslah asli dan kekal sedangkan kepercayaan yang dimajukan karena bujukan yang diberikan oleh keistimewaan-keistimewaan dari luarnya menarik dan pertunjukan atas pencapaian materialistis yang cantik adalah bukan kepercayaan sama sekali tetapi lebih tepat disebut bujukan. Ini tidak mempunyai dasar yang stabil untuk tetap ada dan hilang didalam keadaan-keadaan yang biasanya merugikan.

            Jenis pemujaan-pemujaan terhadap berhala yang kotor dalam bentuk-bentuk material yang padat dan mengikuti yang tidak fleksibel pada bentuk-bentuk, simbul-simbul dan upacara-upacara agama bukanlah menjalankan kepercayaan yang sesungguhnya. Ini murni hal materialistis yang mengembangkan prasangka, dan bukanlah kepercayaan sejati di dalam hati mereka yang mengejarnya. Mereka percaya secara buta atas apa yang mereka telah dibujuk, tanpa menggunakan pertimbangan sehat atau penilaian mereka dan bahkan tidak sedikitpun cenderung untuk mempertimbang jalan lainnya. Saya mendapati orang-orang menyatakan kemanjuran beberapa cara lainnya tentang pendekatan pada Kenyataan tetapi masih saja mereka tidak bersedia mengikutinya karena, seperti yang mereka katakan, mereka tidak dapat melepaskan diri dari jalan yang telah mereka ambil. Nyatanya mereka tidak mempunyai kepercayaan dalam kenyataan tetapi hanya kepercayaan dalam bentuk dan simbul-simbul yang mungkin tepat disebut  sebagai prasangka. Ini berarti bahwa penglihatan mereka telah menjadi terbatas dan mereka tidak ingin bangkit lebih tinggi untuk mencari Kenyataan. Nasib mereka telah tertutup dan mereka tetap dalam lingkungan terkurung yang sama selamanya. Sesungguhnya, apa yang menahan kita dibawah, mencegah kita untuk naik lebih tinggi tidak dapat dikatakan sebagai kepercayaan. Maka dari itu sangat penting bagi setiap orang untuk menentukan matanya pada Kenyataan yang Mutlak dengan kepercayaan dan keyakinan dan mengambil jalan, yang membantu dan menghasilkan Kenyataan  Diri. Kemudian kita melangkah sampai pada titik akhir dimana kita anggap bentuk yang sama murni yang kita miliki pada saat penciptaan. Untuk itu kita perlu harus meninggalkan semua yang kita miliki Samskaras, Maya dan egoisme, dan tumbuh lebih ringan dan lebih ringan pada setiap langkah. Beban pikiran atau yang penuh sesak di dalam diri yang disebabkan oleh bentuk-bentuk pemujaan yang kotor menjadi sebuah rintangan besar bagi kemajuan spiritual kita dan ini harus dihindari. Jika mereka memeliharanya bahkan dengan menambah kehebatannya mereka tetap dalam libatan semak-semak berduri atas kekotoran dan penipuan, jauh dari alam kebahagiaan abadi.

            Faktor penting lainnya atas kehidupan spiritual adalah kepercayaan di dalam Master, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bantuan dari seorang Master yang berkemampuan adalah sangat diperlukan untuk pencapaian spiritual yang lebih tinggi. Dia hanyalah perantara melalui siapa dorongan  hati yang suci datang kepada seorang calon pengikut. Oleh karenanya ini penting bahwa pembimbing yang kita pilih haruslah seorang yang kemampuannya paling tinggi dan pencapaian-pencapaiannya nyata. Untuk menilai nilai yang sesungguhnya dari pembimbing, kita harus bersama dengan dia beberapa saat mencoba dan menguji dia dengan segala cara dalam kekuatan kita. Ketika kita yakin terhadap kemampuan dia melalui pertimbangan sehat dan pengalaman kita dapat menerima dia sebagai Master kita dan menyerahkan pada bimbingannya. Jika kita mengabaikan prinsip ini kita mungkin menipu dalam keputusan kita. Kita harus tidak pernah mengikuti seseorang secara buta telah tertarik kepada dia karena paksaannya di luar dan mempertunjukan pengetahuannya.  Untuk penilaian tepat atas kebaikan-kebaikan sesungguhnya seseorang kita harus memperhatikan pencapaian-pencapaian nyatanya dalam bidang spiritual. Kita harus mencari dia dalam sesuatu yang nyata, yang kita dambakan. Setelah kita yakin, kita tentu saja mulai merasa tertarik kepada dia di dalam batin dan berpikir hanya dialah orang yang dapat membentuk tujuan kita. Perlahan-lahan perasaan berkembang menjadi kepercayaan dan kita mulai mencintai dia. Kita menyerahkan pada pandangannya karena kepribadiannya dan maju sepanjang jalan dibawah bimbingannya. Pengalaman pencapaian-pencapaian yang diperoleh selama perjalanan meyakinkan kita lebih jauh atas kemampuan Master yang luar biasa dan kita mulai menganggap dia sebagai manusia yang luar biasa. Kepercayaan kita sekarang sangat membantu kita dalam kemajuan spiritual kita. Ini menghalau awan keraguan dan ketidak tentuan dan melepaskan kesulitan-kesulitan dan gangguan dari jalan kita. Kepercayaan adalah benar-benar dasar dari seluruh struktur spiritualiti. Kepercayaan di dalam kenyataan, kepercayaan di dalam jalan yang benar yang kamu telah ambil untuk kenyataan, kepercayaan di dalam Master yang bernilai pada siapa kamu telah menyerahkannya, ini adalah karang dimana kamu harus membangun bangunan besar spiritualitimu jika kamu sungguh-sungguh bermaksud untuk sukses. Dengan demikian kamu akan memiliki sebuah kekuatan di dalam, cukup kuat untuk menghancurkan semua kekuatan jahat yang mungkin mengelilingi kamu. Ini akan membantu kamu untuk mendatangkan dorongan hati suci yang segar kapan saja kamu memerlukannya.

            Beberapa orang menerima gambaran yang sangat keliru tentang kepercayaan. Mereka percaya bahwa  kepercayaan saja cukup untuk memecahkan persoalan hidup mereka tidak jadi soal jalan apa yang mereka ambil, atau pembimbing yang mungkin mereka telah menyerahkannya. Mungkin tidak ada yang dapat lebih menyesatkan daripada kepercayaan yang mustahil ini. Apakah memungkinkan bagi  seseorang sampai ke Calcutta dengan mengambil jurusan yang berlawanan? Dapatkah seseorang menjadi orang suci yang tidak mementingkan diri sendiri dengan menyerahkan dirinya sendiri kepada bimbingan seorang penipu lihai yang memikirkan diri sendiri? Dapatkah orang membebaskan dirinya dari tali keterikatan, prasangka dan kebanggaan dengan mengikuti seorang yang munafik kesombongan diri diilhami dengan perasaan keterikatan terhadap maksud-maksud duniawi dan hal-hal yang memperbesar diri? Kita harus tidak pernah dibawa pergi oleh sesuatu yang hanya memberikan aspek gemerlapan di luar saja tetapi harus pergi masuk ke dalam untuk menemukan kenyataan di dasarnya. Bujukan berdasarkan pertunjukan pengetahuan di luar, kepandaian berpidato atau kekuatan, memperkembangkan kepercayaan buta yang dalam banyak hal menimbulkan akibat-akibat yang menimbulkan malapetaka. Orang yang berhati-hati tidak pernah mengijinkan dirinya dibawa pergi secara buta ke dalam khayalan dengan paksaan-paksaan palsu yang tidak mempunyai arti nyata dalam bidang spiritual. Kepercayaan buta tidak diragukan sangat bermanfaat hanya jika jalan yang kamu ambil secara kebetulan adalah jalan yang benar dan pembimbing yang kamu pilih sungguh-sungguh orang yang tepat dengan kemampuan tertinggi yang sama sekali tidak memiliki semua perasaan-perasaan keterikatan dan kebanggaan. Kepercayaan kamu yang tidak tergoyangkan di dalam Master seperti itu akan membawa kamu pada pencapaian spiritual batas terjauh untuk kamu kemudian menghubungkan dirimu dengan Kenyataan.

            Kepercayaan, dalam arti yang sesungguhnya, adalah sebuah hubungan yang hidup menghubungkan mahluk hidup dengan yang abadi. Tidak diragukan dihasilkan melalui perantaraan Master yang dirinya sendiri berhubungan dengan yang Abadi. Hubungan tersebut saat terhubung tidak dapat dihancurkan dalam kondisi apapun dan ada terus selama jalan langkah kita naik sampai titik akhir. Ini adalah satu dari enam Sampattis atas Sadhana ketiga dari Yoga. Pada tingkatan ini, kepercayaan adalah nyata dan sungguh-sungguh dan dengan kuat dibentuk sehingga seseorang tidak dapat bahkan untuk sesaat melepaskan diri darinya. Alasan untuk ini bagaimanapun melebihi pengertiannya. Sebelum tingkatan ini, kepercayaan adalah sungguh-sungguh luarnya saja dan membuat sering hilang atau mendapat kembali beberapa kali untuk alasan yang bermacam-macam. Seorang Master yang bernilai tidak pernah mengandalkan diri terhadap kepercyaan yang hanya luarnya saja dan harus membetah-betahkan dengan semua perasaan cinta dan pengabdian emosinil yang meledak-ledak dari seorang murid, menanti dengan sabar kapan waktunya dia naik ke tingkat akhir dari Shraddha (kepercayaan) seperti digambarkan dalam empat Sahdanas Yoga ketika kepercayaan nyata mulai mengambil bentuk penyerahan diri. Kepercayaan sejati adalah sungguh-sungguh sebuah sifat baik yang tidak dapat dibicarakan  yang melebihi jangkauan agama, ini adalah keteguhan hati yang berani yang membawa kita pada kesuksesan, ini adalah kekuatan yang ada dimana-mana yang membuat jalan kita lancar, sebenarnya hanya inilah satu-satunya yang memecahkan persoalan hidup kita.


 

7

INGATAN TERUS MENERUS

 

            Kekerasan dan kesengsaraan hidup bagi kebanyakan orang, sibuk dalam pencarian duniawi yang berbeda-beda membuat mereka terisi begitu banyak dengan persoalan-persoalan hidup sehingga sering menimbulkan kepercayaan bahwa mereka hampir tidak mempunyai waktu luang untuk kesetiaan dan ibadat kecuali mengorbankan beberapa kepentingan yang sangat penting atau persoalan yang berhubungan dengan uang, dimana mereka dengan pasti tidak mampu mengabaikannya. Pengertian ini membuat mereka jauh dari jalan kewajiban meskipun kadang-kadang mereka nampaknya menyadari hal itu. Setiap saat pikiran mereka diserap dalam memikirkan tentang macam-macam persoalan kehidupan meterial mereka dan jarang ditujukan kepada Tuhan kecuali saat mereka ada di dalam bahaya dan kesukaran yang mendalam. Alasannya adalah mereka melekatkan kepentingan  utama yaitu hanya kepada kepentingan duniawi yang terus menerus ada dalam gambaran mereka. Sehingga mereka tetap terlibat dalam keadaan Maya tanpa pernah berpikir untuk melepaskan diri daripadanya dalam tingkat apapun. Jika kita mengalihkan perhatian kita kepada Tuhan dan merasakan kenyataan sebagai tujuan utama dalam kehidupan, biasanya kita mulai melihatnya sebagai sesuatu yang pertama dan terpenting dalam perbandingan terhadap segalanya yang lain di dalam dunia. Ini tidak berarti kita jadi tidak memusingkan tanggung jawab duniawi dan mengabaikan kewajiban kita dalam segala hal, menyebabkan kesulitan-kesulitan dan kesengsaraan bagi mereka yang menggantungkan diri pada bantuan kita. Kita harus tetap hidup dengan perasaan kewajiban kita kepada mereka sebanyak kepada Tuhan tetapi tanpa ikatan yang terlalu besar. Untuk ini, kita harus mengambil beberapa menit dari waktu istirahat kita yang berjam-jam (lebih disuka ketika akan tidur) dan berdoa kepada Tuhan dengan hati yang tulus mohon bimbingan dan bantuannya pada jalan kewajiban. Jika kita melakukannya secara teratur dengan hati penuh cinta dan kesetiaan, doa tidak pernah tidak terdengar.

            Ketika kita bangun dengan perasaan kewajiban dan gambaran tentang Tuhan menjadi menonjol di dalam hati kita, kita mulai memperlakukan kenyataan sebagai tujuan hidup yang utama. Secara alami  kerinduan kita kepadanya mulai tumbuh lebih kuat dan kita dengan demikian dibawa kepada lebih seringnya ingatan kepada Tuhan selama pekerjaan rutin kita sehari-hari sungguhpun semua adalah pekerjaan dan urusan kita. Pengalihan dari jalan kewajiban sebenarnya bukan disebabkan karena keadaan atau pekerjaan di luar, tetapi hanya aktivitas pikiran yang tidak disiplin yang salah arah. Hanya kesadaran terhadap Tuhan menyembuhkan banyak kejahatan-kejahatan pikiran dan menghilangkan kesulitan-kesulitan dari jalan kita. Sehingga kita menjadi sadar akan Tuhan dalam sebagian besar hari selama melakukan semua aktivitas duniawi kita.

            Seringnya ingatan kepada Tuhan, meskipun amat membantu bukanlah semua yang kita butuhkan bagi kesuksesan akhir kita dalam kenyataan. Biasanya kita mulai sesuatu yang penting dalam nama Tuhan dan ini biasa hampir di setiap agama melakukannya. Tetapi ini hanyalah persoalan formalitas dan tidak mempunyai arti yang nyata. Kita tidak pernah mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan dalam arti yang sesungguhnya dan dalam hati kita sebenarnya amat jauh dari gambaran tentang Tuhan. Ingatan kepada Tuhan dengan demikian menjadi tidak berguna. Arti yang nyata dari kebiasaan ini adalah kita harus tetap berhubungan dengan gambaran tentang Tuhan dalam semua bentuk kegiatan mental dan fisik kita. Kita harus merasakan diri kita berhubungan dengan Kekuatan Tertinggi setiap saat dengan sebuah rantai pikiran yang tidak dapat dihancurkan selama seluruh aktivitas kita. Ini dapat dengan mudah dikerjakan jika kita memperlakukan semua tindakan dan pekerjaan kita menjadi bagian dari kewajiban Suci, yang dipercayakan kepada kita oleh Master yang Besar kepada siapa kita harus melayani sebaik mungkin yang kita dapat lakukan. Pelayanan dan pengorbanan adalah dua alat utama dengan mana kita membangun candi spiritualiti, cinta tentu saja menjadi dasar yang fundamentil. Apapun macam pelayanan, jika dikerjakan dengan tidak mementingkan diri sendiri, adalah bermanfaat. Pelayanan bagi umat manusia adalah pelayanan kepada Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, jika ini tidak dilakukan dengan motif untuk diri sendiri. Apapun yang kita lakukan dalam pekerjaan rutin harian kita, yang berhubungan dengan beberapa orang, jadikanlah mereka anak-anak kita, teman atau relasi. Jika kita berpikir ketika melakukan sebuah pekerjaan kita sungguh-sungguh melayani satu atau beberapa orang ciptaan Tuhan dan bukan keperluan kita sendiri, kita sepanjang itu mengikuti jalan pelayanan, meskipun di luar kita sibuk dengan pekerjaan rutin kita yang biasa. Hampir semua kegiatan-kegiatan kita di dalam hidup ini berhubungan dengan memberikan keperluan hidup untuk anak-anak kita dan orang yang kita sayangi. Jadi, jika kita memperlakukan mereka sebagai anak-anak Tuhan, yang dipercayakan dalam  pemeliharaan kita dan bagi siapa kita harus memelihara dan menjaganya sebatas kewajiban, maka kita melayani anak-anak Dia dan dengan demikian melayani Tuhan itu sendiri. Dengan demikian kita harus membuang keterikatan yang terlalu besar juga dan jadi melepaskan suatu rintangan terbesar dari jalan kita. Proses ini, meskipun mudah dan sederhana, akan juga membawa kamu pada pikiran terus menerus terhadap Master Tertinggi dalam seluruh aktivitas kamu. Jika ini berakar di dalam hatimu, setiap tindakanmu akan kelihatan menjadi sebuah kewajiban hanya demi kewajiban belaka, menurut perintah suci tanpa kepentingan diri sendiri atau keterikatan pribadi. Cinta alam semesta kemudian menjadi menonjol dan kita mulai mencintai setiap mahluk ciptaan Tuhan tanpa perasaan terikat padanya. Ini membawa kita pada kesetiaan dan pengorbanan. Kesetiaan membuat jalan kita mulus dan menciptakan sebuah saluran untuk arus ketuhanan mengalir masuk ke dalam hati kita. Ini menghilangkan kotoran dan sampah dari jalan kita dan membantu langkah kita sepanjang jalan. Sampah sesungguhnya adalah akibat dari pertentangan gambaran yang menciptakan gangguan dan kekhawatiran di dalam pikiran kita. Dengan meditasi kita menciptakan keteduhan sementara di dalam pikiran dan ketenangan berlaku untuk waktu selama kita berhubungan dengan kekuatan suci. Tetapi meditasi hanya pada jam tertentu tidaklah cukup dimana kita berhubungan dengan pikiran suci hanya untuk sesaat setelah itu kita tidak mempunyai gambaran apapun tentang Tuhan dan untuk sebagian besar hari jauh dari jalan pelayanan dan kesetiaan. Inilah alasan mengapa sering setelah mempraktekkan bertahun-tahun kita masih mendapati diri kita berada pada tingkat terendah dalam pencapaian spiritual. Apa yang sebenarnya terjadi, selama meditasi kita hanyalah merasakan  kesederhanaan dan ketenangan, jika kita dibimbing dengan benar oleh seorang master yang berkemampuan. Tetapi seorang calon pengikut biasanya tidak dapat mengerti, karena hal ini melebihi konsepnya pada tingkat permulaan. Hasilnya menjadi tidak terasa dia sering mengeluh bahwa dia tidak merasa apa-apa selama meditasi. Hal ini terutama disebabkan karena kenyataan bahwa dia tetap berhubungan dengan kekuatan suci hanya beberapa menit dari prakteknya. Jadi sesuatu yang nyata yang diperoleh selama meditasi tetap di dalam dia hanya untuk sesaat. Di sisi lain, ada orang yang mencoba untuk mempertahankan hasil yang diperoleh dari meditasi untuk sebagian besar harinya, dan tinggal di keadaan yang sama sepanjang yang dia dapat lakukan. Dalam hal ini, dia ada di dalam ingatan terus terhadap Tuhan dan kemajuannya mudah dan cepat.

            Beberapa orang berpikir bahwa tetap atau bahkan seringnya ingatan kepada Tuhan tidak dapat dilakukan ketika orang di dalam hidupnya dikelilingi oleh banyaknya kekhawatiran dan kegelisahan yang disebabkan oleh ikatan dan tanggung-jawab duniawi. Tetapi praktek dan pengalaman akan membuktikan kepada mereka bahwa ini sebuah proses yang amat mudah dan dapat diikuti oleh semua dan setiap orang meskipun ada kekhawatiran dan pertentangan hanya jika mereka mengalihkan perhatiannya kepada Tuhan dalam arti yang sesungguhnya.

            Gambaran tentang Guru sebagai kekuatan Suci Tertinggi sangat membantu dalam pengejaran spiritual. Kamu bergantung kepada bimbingannya berpikir dia sebagai manusia yang luar biasa. Jika kamu terus sibuk dengan kehidupan rutinmu, mempersembahkan segalanya kepada Mastermu, bayangkan  kebaikan apa yang akan diberikan kepada kamu untuk jangka waktu panjang. Ketika melakukan sesuatu, pikirlah bahwa kamu tidak melakukannya untuk dirimu sendiri, tetapi untuk Mastermu, atau lebih baik berpikir bahwa Mastermu sendiri yang melakukannya untuk dirinya. Ketika di meja makan pagi kamu harus berpikir bahwa Mastermu yang sedang sarapan pagi. Ketika kamu pergi ke kantor, pikirkan bahwa Mastermu yang melakukan semua ini. Ketika kembali dari kantor, misalnya kamu melihat sebuah tarian yang menarik di jalan. Matamu tertegun oleh penampilan mempesona penarinya. Pikiranmu nampaknya beralih untuk beberapa saat. Kemudian pikirkan juga bahwa Mastermu dan bukannya kamu, yang melihat tarian itu. Seketika kamu akan kehilangan keinginan terhadapnya, karena kekuatan Mastermu akan mulai mengalir masuk untuk melepaskan kamu dari godaan. Ketika kamu kembali dari kantor anak-anakmu gembira bertemu dengan kamu setelah berjam-jam. Kamu juga menikmati kegembiraan mereka dan itu alami. Perhatianmu untuk sesaat, beralih kepada mereka dan kamu merasa sedikit jauh dari pikiran suci. Apa yang kamu harus lakukan kemudian adalah berpikir bahwa Mastermu sendiri yang ada di dalam menikmati dan kamu tetap berhubungan dengan pikiran yang suci lagi. Jika kamu bicara dengan temanmu, pikirkan bahwa Mastermu, bukannya kamu, yang berbicara dengan dia. Ketika berjalan, pikirkan bahwa Mastermu sendiri yang berjalan. Selama meditasi, jika kamu mempunyai gambaran bahwa bukannya kamu tetapi Mastermu sendiri yang sedang meditasi pada bentuknya, ini akan memberikan kamu hasil yang luar biasa. Sama halnya, kamu dapat menyesuaikan dirimu dalam seluruh pekerjaan rutinmu. Jika kamu menanam perasaan ini dan mempertahankan pandangan bahwa Mastermu melakukan segalanya dalam tempatmu, kamu tidak hanya dalam ingatan terus menerus untuk sesaat, tetapi tindakanmu tidak akan meninggalkan kesan apapun dan kamu akan segera berhenti membuat samskaras yang lebih jauh.

            Prosesnya, jika diikuti dengan sungguh-sungguh, akan tetap menyimpan rupa Master dalam penglihatanmu dan kamu akan merasakan kehadirannya di dalam dirimu dan segalanya. Meskipun, sebenarnya, Master yang nyata bukanlah hanya bentuk jasmani luarnya, tetapi dirinya di dalam dia, itupun hampir tidak mungkin mengabaikan bentuknya keseluruhan. Tetapi mereka yang melekat pada gambaran  bentuk jasmaninya saja sebagai Master, menciptakan bagi dirinya sendiri keterlibatan yang paling kotor dan keruwetan-keruwetan. Kabirdas telah dengan tepat menyebut orang tersebut sebagai Guru Pashu. Tetapi jika Master adalah suatu jiwa suci yang besar telah memperoleh pengabungan dia dalam Kenyataan yang absolut, meditasi pada bentuknya, jelas sekali keuntungan terbesar bagi murid-murid. Tubuhnya, meskipun kotor dalam penampilan luarnya sebenarnya halus dalam karakter seperti keadaan di dalam dirinya. Jika kamu meditasi pada bentuk Master seperti itu, kamu tidak hanya mulai hilang kekotoranmu tetapi juga mulai tertanam di dalam dirimu kondisi terhalus atas keadaan di dalam diri Master. Bentuk yang diambil dalam pandangan setelah beberapa saat akan hilang dari penglihatan dan kamu perlahan-lahan naik pada tingkat Kenyataan yang murni. Saya telah membicarakan dalam buku saya Commentary on Ten Commandments of Sahaj Marg (Uraian Tentang Sepuluh usulan Sahaj Marg), bagaimana bentuk hilang dari pandangan ketika kamu melihat pada sesuatu terus menerus untuk beberapa lama. Jadi otomatis dari bentuk luar, kita masuk ke dalam dan kemudian pada titik nyata, dimana segalanya hilang.


8

PENYERAHAN DIRI

 

            Kita mempraktekkan Bhakti atau kesetiaan dengan maksud untuk mencapai hubungan erat dengan Master Tertinggi. Kita melihat kepadanya dengan kepercayaan dan penghormatan. Lambat laun kita menjadi berhubungan begitu erat dengan Dia sehingga setiap tujuan lainnya hilang keunggulannya di mata kita. Ini adalah penyerahan pada keingan Master, atau dengan kata lain, permulaan atas penyerahan diri. Ini terus berkembang dengan tumbuhnya lebih kuat kepercayaan kita. Ini membawa kita pada suatu kondisi yang seimbang (tidak berubah) menghentikan guncangan pikiran. Pada waktunya kita mulai merasa diri kita disergap oleh kekuatan besar yang mendorong pikiran kita jauh dari segalanya yang lain. Kita menjadi bebas dari kegiatan-kegiatan yang tidak dikehendaki yang melekat sepanjang waktu pada fungsi organ-organ yang benar (Panca indera). Penyerahan diri hanyalah suatu keadaan pasrah sepenuhnya pada keinginan Master, dengan mutlak mengabaikan diri. Tinggal tetap dalam kondisi ini menuntun kita pada permulaan keadaan peniadaan. Saat kita menyerahkan diri kita kepada Master yang besar kita mulai menarik sebuah aliran tetap atas kekuatan Suci tertinggi dari Dia. Pada keadaan ini orang berpikir atau berbuat hanya menurut apa yang masternya inginkan. Dia tidak merasakan apa-apa di dalam dunia yang menjadi miliknya tetapi segalanya sebagai sebuah kepercayaan suci dari master dan dia melakukan segalanya, berpikir bahwa itu adalah perintah Masternya. Keinginannya menjadi tunduk sepenuhnya pada keinginan Master. Contoh menarik tentang penyerahan diri diberikan kepada kita oleh Bharat, putera Dasharatha, saat dia pergi kehutan bersama dengan orang-orang Ayodhya untuk membujuk saudara laki-lakinya Rama agar kembali. Sebagai jawaban pada orang-orang yang memohonnya Rama dengan sedih menjawab bahwa dia akan sangat bersedia kembali ke ibukota asalkan Bharat memintanya untuk melakukan itu. Semua mata berbalik kearah Bharata, orang yang berada disana sendiri untuk membujuk dia agar kembali. Tetapi dengan tenang dia menjawab, “Bukanlah bagi saya untuk memerintah tetapi hanya untuk mengikuti”.

            Bhagavad Gita, juga berurusan dengan keadaan penyerahan diri. Ini bukanlah sesuatu yang biasa yang dapat dicapai dengan mudah. Ini mulai setelah peniadaan menyeluruh atas semua perasaan dan panca indera dimana kita maju dengan aturan-aturan dasar kesetiaan. Kita menyerahkan kepada master kita, menganggap dia sebagai manusia yang luar biasa. Kita mencintai dia dengan kepercayaan dan penghormatan mencoba segala cara untuk menarik perhatiannya dan bantuannya. Untuk tujuan ini kita menghubungkan hubungan kita dengan dia berkenaan dengan perhubungan dunia hanya untuk membuatnya mudah. Kita menganggap dia sebagai ayah, saudara, master atau orang yang dicinta. Proses ini, jika diambil dengan bersungguh-sungguh sekali, sangat membantu bagi seorang murid. Hubungan kuat atas ketertarikan yang terbentuk membawa diri pada keadaan kesetiaan dan penyerahan diri. Gambaran Guru sebagai seorang ibu, menurut pendapat saya jelas sekali yang paling tepat dan menguntungkan bagi seorang murid. Seorang ibu adalah sungguh-sungguh perwujudan atas cinta dan kasih sayang. Hanya hati seorang ibu dapat menahan diri dengan sabar atas semua kesulitan dan kesengsaraan yang disebabkan oleh anak laki-lakinya, selalu memikirkan, mencoba untuk memberikan kepada anak laki-lakinya kesenangan dan kebahagiaan. Hal yang sama adalah posisi Master atau Guru yang sesungguhnya adalah ibu spiritual dari murid. Sebagai Guru selalu mengawasi kesejahteraan spiritual anak-anaknya, yaitu muridnya. Ini disebabkan karena ikatan kasih sayang guru kepada muridnya bahwa perhatian dari Ayah yang besar, dengan siapa ibu spiritualnya berhubungan begitu erat, diarahkan menuju murid. Kasih sayang seorang ibu amat terkenal tetapi yang mengetahui tentang kasih sayang Guru sangat sedikit dan lebih sedikit lagi yang mengetahui kasih sayang Tuhan. Fungsi seorang ibu dan seorang guru sejati hampir sama. Ibu mempertahankan anaknya di dalam kandungan untuk suatu periode tertentu. Guru juga, mempertahankan anak spiritual di dalam lingkungan mentalnya untuk suatu periode tertentu. Selama periode ini murid seperti bayi dalam kandungan, menghisap tenaganya dan memperoleh makanan dari ombak spiritual dari pikiran-pikiran Guru. Pada waktunya tiba dia lahir ke dunia yang lebih cemerlang dan kemudian kehidupan spiritualnya sendiri dimulai. Jika murid memasuki lingkungan mental Guru, menyerahkan semua kepunyaannya kepada Guru ini hanya memerlukan tujuh bulan untuk mengantarkan dia ke dalam dunia yang lebih cemerlang. Tetapi proses ini biasanya terlambat untuk waktu yang lama karena ketika di dalam lingkungan mental Guru, murid mempertahankan kesadaran pikiran dan perasaannya sendiri. Jadi, kita mendapati bahwa posisi Guru sangat sama dengan seorang ibu. Gambaran Guru sebagai seorang ibu spiritual memperkembangkan di dalam kita perasaan cinta, penghormatan dan penyerahan diri yang mana merupakan faktor utama dari sebuah kehidupan spiritual.            

            Orang-orang suci telah mengklasifikasikan murid-murid dalam dua bagian utama, Manamata dan Gurumata. Manamata adalah mereka yang mendekati Guru dengan tujuan-tujuan dunia tertentu dengan pandangan tersebut melepaskan dari kesengsaraan dunia, keinganan untuk kaya dan sebagainya. Mereka menyerahkan kepada dia hanya selama mereka dapat berharap dalam pencapaian keinganan-keinginan mereka. Dalam hal ini saat mereka menemukan kekecewaan, mereka berhenti. Untuk murid seperti tersebut, pertanyaan tentang kepatuhan atau penyerahan bahkan tidak pernah muncul, apa yang harus dibicarakan tentang penyerahan diri. Murid-murid Gurumata adalah mereka yang mematuhi perintah Master dalam segala hal dan mencoba menyerahkan pada keinginannya dalam seluruh jalan yang memungkinkan.  Penyerahan mulai dengan kepatuhan. Ketika kita amat terkesan oleh kekuatan besar seorang Master yang pencapaiannya lebih tinggi dalam spiritualiti, kita mulai di dalam batin cenderung untuk mengikuti perintah-perintahnya. Tetapi sering hasil yang tertinggal di dalam kita hanya ketika kita ada di dalam kehadiran Guru, dan ketika kita jauh kita menjadi tidak menghiraukan Guru. Pengulangan hubungan dengan dia untuk beberapa lama membawa kita pada hubungan yang lebih dekat dengan jiwa yang besar dan keunggulan dia mulai dibentuk di dalam hati kita. Kita menerima dia sebagai pembimbing kita dalam segala persoalan berkenaan dengan kemajuan spiritual kita. Hasilnya adalah kita sering-sering mengingat dia. Ketika kita benar-benar yakin terhadap kemampuannya yang unggul, baru kemudian penyerahan kita dalam arti yang sesungguhnya dimulai. Kita terus maju dengan hal tersebut dan mempraktekkan seperti yang diperintahkan kepada kita. Kita berpikir untuk menyenangkan dia dengan tindakan-tindakan kita. Gambaran tentang benar dan salah juga, mulai menjadi menonjol di dalam hati kita dan kita merasa cenderung untuk menahan diri dari kejahatan. Dengan demikian kita mengambil jalan kebaikan sehingga kita mungkin dapat menyenangkan master kita yang besar. Ini motif utama kita untuk mana kita berharap bebas dari kesengsaraan-kesengsaraan hidup yang akan datang.

            Tetapi sejauh ini kita menyimpan bagi diri kita sendiri hak kebijaksanaan dan oleh karenanya bertanggung jawab atas semua tindakan-tindakan kita baik yang bagus atau jelek. Pada tingkat penyerahan diri yang lebih tinggi sebuah kekuatan kebijaksanaan menjadi hampir padam dan seseorang melakukan segalanya berpikir bahwa itu adalah keinginan Masternya. Pertanyaan tentang benar atau salah sama sekali tidak muncul di pikirannya atau ini menjadi sungguh-sungguh pasti bahwa dengan mengikuti keinginan  Masternya dia melakukan hanya hal yang benar dan dia tidak melakukan apa-apa tetapi kebenaran, perasaan bahwa itu keinginan Master.


 

9

KENYATAAN

 

           

            Kita mendengar hampir setiap orang bicara dalam satu dan lain cara tentang Tuhan, jiwa dan misteri alam semesta. Tetapi jika kita ada dalam pencarian seseorang yang menyadari Tuhan atau yang mengenal Tuhan, kita mungkin tidak akan menemukan satupun diantara mereka. Inilah alasan mengapa ada permusuhan terus menerus diantara wakil-wakil dari agama yang berbeda-beda. Mereka bicara banyak tentang Tuhan tetapi di dalam batin mereka mungkin tidak lebih baik daripada yang benar-benar atheis. Mereka mengakui keberadaan Tuhan dalam kata-kata tetapi dalam hati mereka nampak sepenuhnya tidak menghiraukan sama sekali tentang keberadaan Tuhan. Bagi mereka hanya menggunakan Tuhan yaitu ketika mereka dalam kesukaran atau kesengsaraan. Mereka mengharapkan Tuhan pada saat-saat seperti tersebut untuk hadir pada panggilan mereka untuk menghilangkan kesusahan-kesusahan mereka. Mereka berdoa pada Tuhan terutama untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka. Ini sungguh jauh dari pikiran tentang cinta sejati dan kesetiaan. Seorang setia yang sesungguhnya adalah orang yang mencintai Tuhan bukan untuk kemurahan hati atau kepentingan-kepentingan duniawi, tetapi hanyalah demi cinta itu sendiri. Dia selalu tinggal dalam keadaan pasrah sepenuhnya pada keinginan-keinginan Tuhan. Dia benar-benar menerima dan merasa puas atas semua yang dilimpahkan kepadanya apakah baik atau buruk, menggembirakan atau tidak menyenangkan. Kegembiraan atau penderitaan tidak ada artinya bagi dia. Semuanya adalah anugerah bagi dia dari Orang Tercinta. Pasrah sepenuhnya seperti itu dan sikap tidak bertanya-tanya dalam segala hal adalah bentuk kesetiaan tertinggi. Pasrah bagaimanapun tidak berarti bahwa dia harus tetap bermalas-malas, tidak melakukan apa-apa dan tergantung sepanjang waktu kepada Tuhan, berpikir bahwa Tuhan akan mengirimkan kepada dia semua yang dia butuhkan saat dia begitu membutuhkannya. Tuhan membantu mereka yang membantu diri mereka sendiri seperti yang umum dikatakan, adalah benar. Kita gagal dalam kewajiban suci kita jika kita tidak mendesak diri kita sendiri untuk melaksanakan tanggung jawab-tanggung jawab kita berkenaan dengan apakah pada dunia yang ini atau pada dunia yang berikutnya. Satu-satunya hal yang harus dipertahankan dalam pikiran adalah kita bekerja menurut keinginan Tuhan dan merasa pasrah atas hasilnya apapun itu yang terjadi. Ketika kita sampai pada tingkatan ini kita mungkin sudah sepantasnya berpikir diri kita adalah orang-orang setia yang sejati kepada Master Tertinggi, dan karenanya pada jalan yang benar menuju kenyataan. Kenyataan bukanlah sesuatu yang dapat dirasakan melalui organ-organ perasaan jasmani tetapi hanya dapat disadari dalam pusat hati yang paling dalam. Oleh karena itu kita harus masuk jauh ke dalam untuk memecahkan persoalan hidup kita.

            Kita di dalam pikiran mempunyai gambaran tentang alam semesta yang besar seperti yang kita semua tahu adalah perwujudan material dari Tuhan. Biasanya kita melihatnya sebagai Maya atau ilusi untuk membedakannya dari Kenyataan absolut yang tidak berubah. Orang mencoba mendefinisikan maya dalam banyak cara yang berbeda, mungkin tanpa dasar yang masuk akal. Benar-benar kekuatan Tuhan yang telah membawa masuk ke dalam kehidupan ini seluruh ciptaan dalam bentuknya yang berbeda dan yang mengatur seluruh pekerjaannya. Selama ini kita dikelilingi oleh kekuatan besar ini dan akibatnya terlihat dalam semua bentuk aktivitas kita. Kita berputar-putar di dalam lingkungan maya yang mengkilap, kadang-kadang melekat pada satu atau obyek lainnya yang ada dalam pandangan berpikir bahwa itulah Kenyataan. Panca indera kita, perasaan dan emosi memberikan warna baru dan membentuk tindakan kita yang sesuai. Kita tetap terlibat dalam perangkap Maya, tanpa harapan untuk pembebasan sampai kita mengalihkan perhatian kita menuju sumber Kenyataan yang tidak berubah-ubah. Ini lingkaran perwujudan material yang sangat luas, akibat langsung dari Maya yang tidak terbatas. Di dalam sini kita berputar dan berputar dengan gerakan tanpa henti seperti pelek roda, sesungguhnya lebih jauh dan lebih jauh dari porosnya. Seperti semua lingkaran harus mempunyai sebuah pusat, jadi lingkaran perwujudan yang banyak ini harus mempunyai sebuah pusat atau pangkalan. Jika kita mampu menemukannya kita mungkin mendapatkan petunjuk untuk pemecahan persoalan kita. Seluruh pengetahuan matematika bersandar pada dasar yang kecil yaitu nol. Sekarang untuk alam semesta yang tidak terbatas kita harus menemukan nol atau pangkalan dari mana semua bidang kehidupan dimulai. Lagi pusat sebuah lingkaran, jika diamati dengan seksama, di dalamnya itu sendiri ada lingkaran lain yang lebih kecil dan lebih halus. Dengan begitu harus ada bahkan pusat yang lebih halus untuknya. Proses yang sama berlangsung terus sampai yang tidak berakhir. Dengan kata lain setiap lingkaran yang lebih halus atau lebih kecil menyajikan sebagai pusat dari lingkaran luarnya yang lebih besar. Pertimbangan sehat atau imaginasi gagal untuk menemukan sumbernya atau akhirnya. Jadi, dibelakang alam semesta meterial yang padat ini ada yang lain yang lebih halus atau alam semesta yang lebih halus yang merupakan alas atau pusat dari alam semesta yang sebelah luar ini. Lagi untuk lingkaran yang lebih halus dan seterusnya. Menguraikan dengan cara lain, jadi ada lingkaran-lingkaran yang tak terkira banyaknya satu demi satu, mengelilingi titik terhalus yang tak dapat dibayangkan, pusat di dalam, setiap lingkaran menurut urutan menyajikan sebagai pusat dari lingkaran yang diluarnya, sampai kita tiba pada bentuk kehidupan yang padat sekarang. Apa yang kita harus lakukan sekarang adalah untuk menemukan langkah kita ke belakang bentuk kehidupan yang kotor sekarang sampai yang sebelumnya lebih halus dan bahkan bentuk yang lebih halus sampai batas terjauh yang memungkinkan dari tujuan manusia. Dalam bentuk kehidupan kita sekarang kita berputar berkeliling-keliling di dalam lingkungan kekotoran. Harapan kita hanyalah terletak dalam mendorong jalan kita persis menuju pusat atau sebab utama menyeberangi daerah yang lebih halus satu demi satu. Itulah intisari dari ilmu pengetahuan spiritual. Sebab utama dari seluruh alam semesta dari yang terhalus sampai yang terkotor adalah pusat yang paling dalam, pangkalan atau nol. Kita dapat menyebutnya sebagai Tuhan atau Brahma.

            Susunan manusia juga sama persis seperti alam semesta. Sebagaimana di luar alam semesta yang padat ini ada banyak sekali orang lain yang lebih halus dan bahkan bentuk yang lebih halus. Jadi dibelakang bentuk jasmani seseorang yang kotor ada banyak yang lebih halus dan bahkan bentuk-bentuk kehidupan yang lebih halus. Bentuk yang paling luar adalah tubuh yang kotor (Sthool Sharir) dibelakangnya ada tubuh astral (Sookshma Sharir) dan tubuh causal (Karan Sharir). Disamping ketiga bentuk luar ini ada banyak sekali yang lainnya yang begitu halus dan halus sehingga pemikir tidak menyebut mereka sebagai tubuh-tubuh tetapi hanya penutup-penutup halus yang mengelilingi jiwa. Ini sangat sulit untuk memberikan nama bagi masing-masing jenis tubuh yang mungkin tidak dapat dihitung. Dengan semua bentuk-bentuk yang banyak ini dari yang terhalus sampai yang terkotor, seseorang dalam kehidupan di dunia material sebagai tiruan yang sebenarnya dari alam semesta atau seluruh perwujudan Tuhan digambarkan oleh sebuah lingkaran lengkap dari lingkar yang paling luar sampai pusat yang paling dalam atau nol. Sekarang, pusat yang paling dalam atau nol dari kehidupan seseorang dan perwujudan Tuhan sungguh-sungguh sama. Kenyataan akan Tuhan berarti sama dengan Kenyataan Diri dan sebaliknya. Semua alam semesta datang dalam kehidupan dari titik yang sama, nol, melalui proses evolusi. Serupa itu kehidupan seseorang juga berkembang dari titik yang sama.

            Sebelum waktu penciptaan yang ada di dalam kehidupan hanyalah sebab utama dan seluruh alam semesta seperti kita lihat hari ini bergabung di dalamnya dalam bentuk yang paling halus, segalanya hilang tanda-tanda perseorangannya. Sekarang, pusat, seperti biji kecil sebuah pohon, termasuk di dalamnya seluruh alam semesta dalam bentuk yang paling halus. Jadi ini bentuk yang dipersingkat sekali yang luar biasa dari perluasan perwujudan yang sama seperti yang kita lihat hari ini. Jadi pusat, gerakan terpendam dan seluruh ciptaan dalam bentuk yang paling halus semua bergabung bersama sebagai satu unit, menjadi penyebab dari ciptaan saat waktunya tiba. Pada waktu penciptaan segalanya mulai mengambil sebuah bentuk keadaan. Manusia juga mengambil keadaannya tersendiri. Kesadaran akan kepribadian adalah penutup pertama dalam susunan manusia. Tambahan-tambahan yang lebih banyak diteruskan satu demi satu. Egoisme mulai berkembang dan pada akhirnya mengambil sebuah bentuk yang lebih kotor. Pekerjaan pikiran, perasaan-perasaan dan panca indera mulai memberikan bagiannya menuju kekotoran. Tindakan-tindakan tubuh dan pikiran membawa pada pembentukan Samskaras. Akhirnya, sekarang manusia hidup dalam bentuk yang terkotor, terdiri dari tubuh bagian luar yang kotor dan tubuh-tubuh bagian dalam yang lebih halus dan penutup-penutupnya. Sekarang, dari keadaan kehidupan luar yang padat kita melangkah langsung menuju pusat melewati keadaan-keadaan yang lebih halus satu demi satu. Dari tubuh yang kotor kita sampai pada tubuh pikiran dan kemudian pada tubuh causal tumbuh lebih halus dan lebih halus disetiap langkah dan maju lebih jauh menghadapi penutup-penutup lainnya.

            Proses yang biasa diikuti digolongkan kedalam tiga bagian, Karma (tindakan), Upasana (Kesetiaan) dan Gyana (pengetahuan) yang memberikan dasar umum bagi semua agama dan kepercayaan yang berbeda. Empat cara dasar (Sadhana Chatushtaya) yang diikuti untuk tujuan ini hampir sama dimana-mana.

            Sadhana pertama di dalam ini adalah Viveka (perbedaan). Kita melihat banyak hal di dalam dunia tetapi ketika kita berpikir tentang kehidupan mereka, kita menemukan bahwa mereka berubah-ubah, yaitu mereka adalah bentuk-bentuk yang berbeda dari Maya, begitulah kita biasa menyebut mereka. Dengan demikian kita di dalam batin dibujuk untuk pergi lebih dalam dengan maksud untuk menyelidiki penyebabnya. Jadi perhatian kita dialihkan dari hal-hal yang fana (tidak kekal) kepada yang tidak berubah atau kekal. Tujuan duniawi dengan demikian mulai kehilangan daya tariknya dan kita merasa sedikit banyak tidak terikat dengan mereka. Ini membawa kita pada keadaan Vairagya (penolakan) yang dikenal sebagai yang kedua dari empat Sadhanas. Keadaan Vairagya juga dihasilkan oleh sebab-sebab lain tertentu juga. Sebagai contoh, saat kita bosan dengan tujuan-tujuan duniawi setelah memperturutkan mereka dengan puas kadang-kadang kita mulai merasa jijik di dalam batin terhadap mereka. Dalam hal ini perhatian kita tentu saja dialihkan menuju beberapa gambaran mulia dan kita merasa sedikit bangkit kepada pikiran Ketuhanan. Kedua, ketika kita ditusuk dalam-dalam oleh pengkhianatan dan ketidak percayaan terhadap dunia kita merasa disamarkan, dan di dalam batin menentang pada hal-hal duniawi. Perasaan ketidak puasan dan ketidak tergantungan juga berkembang saat kita ada di dalam keadaan kehilangan karena kematian seseorang yang kita cintai. Tetapi Vairagya yang diciptakan di dalam keadaan ini jarang asli atau kekal. Ini segera hilang dengan perubahan keadaan yang merugikan. Ada sebuah cerita yang berhubungan bahwa seseorang tertentu ingin melihat Kabirdas. Waktu dia sampai di rumah Kabirdas dia diberitahu bahwa Kabirdas sedang pergi dengan sebuah kelompok penguburan ke tempat kremasi untuk membakar mayat dari seorang relasinya yang  meninggal dunia. Orang itu meneruskan ke tempat kremasi untuk melihat Kabirdas di sana. Tetapi karena dia tidak pernah melihat Kabirdas sebelumnya dia pikir mungkin sulit baginya untuk mengenali Kabirdas diantara kumpulan orang-orang. Untuk tujuan ini dia telah diberitahu bahwa dia harus memperhatikan lingkaran cahaya wajah setiap orang. Lingkaran cahaya wajah setiap orang dari kumpulan tersebut akan ditemukan bersinar saat dia maju menuju tempat pemakaman, tetapi akan bertambah suram dan suram akhirnya hilang ketika mereka kembali pulang. Hanya lingkaran cahaya wajah Kabir yang akan tetap bersinar terus dengan kemilau yang sama. Jadi perasaan Vairagya diciptakan oleh kejadian yang tiba-tiba yang biasanya berumur pendek dan berubah dengan perubahan-perubahan keadaan. Meskipun goncangan yang tiba-tiba untuk sementara menciptakan perasaan Vairagya, biji keinginan dan kesenangan masih ada tertanam dalam-dalam di dalam hati dan segera keluar saat menemukan suasana yang cocok. Perasaan Vairagya dalam arti yang sebenarnya dan dengan hasil yang abadi hanya dapat dikembangkan setelah pembersihan  dengan seksama dan keseimbangan sebagaimana mestinya.

            Vedantins mempraktekkan Vairagya dengan cara yang berbeda. Mereka memaksa imaginasi mereka untuk percaya bahwa semua yang mereka lihat adalah Maya, oleh karenanya tidak kekal atau palsu dan menyimpulkan bahwa kenyataan pada dasarnya adalah Brahma(Tuhan). Mereka menggunakan kekuatan keinginannya untuk memperkuat pikiran sedemikian rupa sehingga mereka terbiasa dengan hal itu menyebabkan perubahan hanya dalam tindakan-tindakan dan kebiasaan di luar. Jadi efeknya hampir hanya di luaran saja. Bagaimanapun ini dapat, setelah mempraktekkan lama dan terus menerus memungkinkan memantulkan sedikit dari dalam batin. Demikian pula Viveka yang dijalankan hanya oleh kekuatan imaginasi tanpa praktek tidak mempunyai dasar yang benar dan kuat. Belajar yang serius tentang pokok persoalan menunjukkan bahwa Viveka dan Vairagya sesungguhnya bukanlah cara (Sadhana) tetapi hanyalah hasil dari beberapa cara. Viveka atau Vairagya adalah sebuah keadaan pikiran berkembang pada tingkatan yang berbeda dengan mempraktekkan terus Yogic Sadhana tertentu misalnya: ingatan, kesetiaan atau cinta dan sebagainya. Viveka dalam arti sebenarnya tidak pernah berkembang kecuali perasaan dan panca indera dibersihkan sepenuhnya. Ini hanya terjadi ketika pikiran diatur dan didisiplinkan dengan tepat dan egoisme (atau Ahankar) mengambil sebuah keadaan yang bersih. Jadi Viveka sebenarnya hasil dari praktek yang diikuti dengan tujuan untuk menghasilkan hasil-hasil yang diinginkan. Sekarang Vairagya, Sadhana kedua dari Vedantists demikian juga hasil dari Viveka. Jadi mereka adalah tingkatan-tingkatan dasar pencapaian Yoga dan bukan Sadhanas atau cara-cara pencapaian dari tingkatan-tingkatan tersebut. Dalam Yoga sistem Sahaj Marg, Viveka dan Vairagya tidak diperlakukan sebagai Sadhana tetapi ditinggalkan di samping untuk berkembang secara otomatis oleh calon pengikut selama kemajuan dia. Sahaj Marg mulai dari apa yang dikenal sebagai Sadhana Vedantists  ketiga yang terdiri dari enam bentuk pencapaian spiritual yang dikenal sebagai Shat-Sampatti. Sampattis pertama ini adalah Sham yang berkenaan dengan kondisi damainya pikiran membawa pada sebuah keadaan ketenangan dan kesentosaan. Ketika kita mempraktekkan ini Viveka dan Vairagya mengikuti secara otomatis. Vairagya, dalam arti tidak adanya sesuatu menurut pendapat saya adalah sebuah proses yang sulit, untuk mana di dalam ini kamu harus menerima jalan negatif dan membuang atau menolak semua yang datang pada pandanganmu. Tetapi jika kamu menerima pandangan positip dan menerima sesuatu hanya sebagai yang nyata, melekat padanya dengan sepenuh hati, hal-hal lainnya akan secara alami segera jatuh ke belakang dan perlahan-lahan, kamu akan menjadi tidak menghiraukan mereka. Akibatnya keterikatan kamu dengan mereka akan berangsur-angsur mulai hilang dan kamu akan memperoleh Vairagya dengan cara-cara yang paling mudah. Jadi hal utama di dalam Yoga adalah pengaturan pikiran yang selalu gelisah dengan tepat. Ini menciptakan banyak sekali gambaran-gambaran dan pikiran-pikiran, memberikan dorongan bagi perasaan-perasaan dan panca indera dan menyebabkan tubuh melakukan tindakan. Segalanya baik atau jahat berasal dari pikiran dan hanya pikiran ini yang menentukan semua perasaan-perasaan kita, emosi dan dorongan hati. Pemikir-pemikir telah mengklasifikasikan keinginan-keinginan pikiran dalam lima bagian. Yang pertama dikenal sebagai Kshipta adalah kondisi yang mengganggu pikiran termasuk semua perasaan-perasaan seperti lapar, haus, marah, duka cita dan keinginan-keinginan untuk kaya, popularitas dan sebagainya. Kedua, Moodha, termasuk kecenderungan yang memperkembangkan keengganan, kelambanan atau kemalasan. Ketiga, Vikshipta, mengenai kecenderungan yang mendorong pikiran menjauh dari pikiran-pikiran suci dan menyebabkan sering timbul banyaknya pikiran-pikiran yang menyimpang pada saat meditasi. Keempat, Ekagra - Vritti, adalah kecenderungan yang membuat perhatian kita tetap hanya pada satu hal. Terakhir Nirodh adalah kecenderungan yang membawa pikiran pada keadaan serba lengkap dengan sempurna bebas dari keruwetan-keruwetan dan gangguan-gangguan. Untuk mencapai tingkatan ini orang-orang suci biasanya menasehati Ashtanga Yoga yang terkenal (yaitu Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahar, Dharana, Dhyana dan Samadhi). Dalam sistem pelatihan Sahaj Marg kita mulai dari Dhyana, langkah ketujuh dari Yoga menetapkan pikiran kita pada tujuan dengan maksud untuk menjalankan meditasi. Langkah-langkah sebelumnya tidak diambil terpisah tetapi mereka secara otomatis masuk ke dalam praktek saat kita mulai dengan meditasi. Jadi banyak waktu dan tenaga yang disimpan  oleh cara-cara ini.

                              Secara singkat, kita mulai mempraktekkan dari Sham, yang pertama dari enam Sampattis, Sadhana ketiga dari Vedantists dan mencurahkan seluruh perhatian kita pada  pembentukan yang tepat dan pengaturan pikiran yang mudah dicari dengan bantuan kekuatan transmisi dari Master yang bernilai. Pengontrolan perasaan-perasaan dan panca indera (atau Dam) mengikuti secara otomatis ketika kita menetapkan pikiran kita pada satu hal dan hanya satu yaitu Kenyataan, mengabaikan semua hal-hal lainnya. Biasanya kebanyakan orang-orang suci mengikuti jalan ini. Beberapa sekte mencoba sebuah pendekatan pada Sham melalui praktek Karma (tindakan), yang lainnya melalui kesetiaan atau Bhakti. Masih ada yang lainnya yang mengesampingkan keduanya ini dan maju melalui perantaraan Gyana (pengetahuan). Sebenarnya tingkatan-tingkatan Karma, Upasana dan Gyana tidak berbeda dari satu dengan yang lain tetapi saling berhubungan dengan erat dan ada bersama-sama dalam satu dan keadaan yang sama. Sebagai contoh, dalam Upasana, mengontrol pikiran adalah Karma, keadaan pikiran yang dikontrol adalah Upasana dan kesadarannya adalah Gyana; di dalam Gyana proses memikir adalah Karma, tinggal pada maksud yang dipikiran adalah Upasana dan keadaan yang dihasilkan adalah Gyana, ketika dalam Karma, keputusan untuk bertindak adalah Karma, proses membawanya menjadi praktek adalah Upasana dan kesadaran akan pencapaian adalah Gyana. Jadi itulah yang ada di dalam sistem pelatihan kita mereka mengambil semuanya sekaligus yang paling berdaya guna menciptakan secara otomatis keadaan Viveka dan Vairagya dalam arti yang sebenarnya. Tidak adanya praktek yang benar-benar berguna jika hal itu tidak berhasil secara alami menjadi Viveka dan Vairagya. Bentuk nyata dari Viveka adalah ketika orang mulai menyadari kerusakan dan kelemahannya dan di dasar hatinya merasa penuh penyesalan atas hal tersebut.

            Kita sudah menjelaskan dua Sampattis yang pertama. Sekarang kita sampai pada yang ketiga dikenal sebagai Uparati yang berarti penarikan diri. Dalam keadaan ini seseorang bebas dari seluruh keinginan-keinginan, bahkan itu mengenai dunia berikutnya. Dia tidak terpesona atau tertarik oleh segalanya di dunia. Pikirannya sepanjang waktu dipusatkan pada satu yang Nyata. Ini berbeda dari keadaan Vairagya dalam pengertian bahwa Vairagya menghasilkan perasaan keengganan untuk tujuan-tujuan duniawi sedangkan Uparati adalah sebuah keadaan dimana kedua perasaan tertarik dan jijik tidak ada. Vairagya sungguh-sungguh bentuk yang tidak lengkap dari keadaan mulia dan keadaan yang lebih tinggi ini. Pada tingkatan ini pikiran kita, perasaan-perasaan, dan Panca indera sepenuhnya di murnikan. Kita mulai merasa bosan dengan semua hal-hal yang di luar dan menjauhkan diri dari mereka berpikir bahwa tidak bermanfaat memberikan perhatian kepada mereka. Kita bebas dari pengaruh keterikatan pada dunia. Bahkan kesenangan-kesenangan surgawi tidak mempesona bagi orang seperti itu, tidak juga dia merasa tertarik untuk keselamatan, kebangkitan atau cita-cita lain yang lebih tinggi.

            Sampatti keempat adalah Titiksha atau keadaan ketabahan. Pada tingkatan ini seseorang benar-benar puas dengan apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia tidak mempunyai perasaan terluka, terhina, terkutuk atau penghargaan.

            Yang kelima adalah Shraddha atau kepercayaan yang merupakan pencapaian yang sangat tinggi. Ini sangat berbeda dari keadaan-keadaan sebelumnya tentang kepercayaan yang luarnya saja seperti dibicarakan di bab dengan judul “Kepercayaan”.

            Yang terakhir adalah Samadhan merupakan keadaan diri yang tetap pendiriannya pada keinginan Master, bahkan tanpa kesadaran akan hal tersebut. Pada tingkatan ini seseorang benar-benar setia pada Master yang besar tanpa mempunyai pikiran-pikiran sampingan.

            Jadi kita telah menjelaskan macam-macam pencapaian dari Sadhana ketiga. Sekarang kita sampai pada empat Sadhana terakhir yang dikenal sebagai Mumukshu. Sekarang ada sedikit tertinggal untuk diselesaikan ketika seseorang sampai pada tingkatan ini kecuali untuk mengembangkan hubungan yang erat dengan Kenyataan Absolut atau penggabungan yang sesungguhnya dalam keadaan tidak ada apa-apa. Ini adalah tahap nyata dari kenyataan dan dapat dicapai setelah sungguh-sungguh mempraktekkan Sadhanas dasar di bawah sistem Yoga yang lama. Sistem modern Sahaj Marg membuat suatu pengalihan dari jalan lama yang sudah ditentukan, dalam hal ini tidak mengambil langkah-langkah yang berbeda dari Ashtanga Yoga satu persatu secara terpisah. Dibawah sistem ini Asana, Pranayama, Dharana, Dhyana dan Samadhi semuanya diambil secara serentak selama perjalanan meditasi. Meditasi pada waktunya membawa kita pada konsentrasi atau keadaan Samadhi. Jadi kita secara alami maju pada Samadhi yang merupakan langkah akhir dari Yoga.

            Ada tiga bentuk Samadhi atau tingkatan-tingkatan konsentrasi. Pertama adalah dimana seseorang merasa hilang atau tenggelam. Panca indera, perasaan dan emosi untuk sementara dihentikan dalam cara dimana mereka kelihatan rupanya mati untuk sesaat. Dia menyerupai seseorang mati tertidur, tidak sadar akan segalanya. Bentuk kedua adalah dimana seseorang meskipun konsentrasi secara dalam pada sebuah titik, tidak merasa benar-benar tenggelam di situ. Ini dapat digambarkan sebagai suatu keadaan sadar di dalam sebuah keadaan tidak sadar. Nampaknya dia tidak sadar akan segalanya tetapi masih ada kesadaran di dalamnya, meski hanya dalam rupa bayangan. Seseorang berjalan sepanjang jalan berpikir dalam-dalam tentang beberapa persoalan. Dia begitu terserap di dalamnya sehingga dia tidak lagi menyadari hal-hal lain, agaknya tidak juga melihat yang lain-lainnya, tidak juga mendengar bunyi suara yang ada di dekatnya. Dia terus menerus dalam keadaan pikiran tidak sadar. Tetapi dia masih tidak bertabrakan dengan sebuah pohon yang ada di tepi jalan, tidak juga ditabrak sampai jatuh oleh sebuah mobil yang datang di jalan tersebut. Dalam keadaan ketidak sadaran ini dia tidak mengetahui menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan dan tindakan-tindakan seandainya memerlukan. Dia tidak menyadari akan tindakan-tindakannya. Inilah kesadaran dalam keadaan tidak sadar. Dalam keadaan pikiran ini kesadaran atas hal-hal lainnya muncul menjadi keadaan tertidur dan menciptakan sedikit impresi. Bentuk ketiga adalah Sahaj Samadhi. Inilah jenis konsentrasi terhalus. Dalam keadaan ini seseorang sibuk dengan pekerjaannya, pikirannya terserap di dalamnya, tetapi di inti hatinya yang paling dalam dia masih tetap pada hal-hal yang nyata. Dengan kesadaran pikirannya dia sibuk dengan pekerjaan di luar sedang pada saat yang sama pikiran bawah sadarnya sibuk dengan pikiran-pikiran suci. Sejak semula dia dalam keadaan Samadhi meskipun rupanya dia sibuk dengan pekerjaan dunia. Inilah bentuk tertinggi dari Samadhi dan sedikit yang tertinggal harus dijalankan setelah seseorang masuk pada keadaan ini secara tetap.

            Macam-macam tingkatan spiritual diperoleh selama langkahnya diberikan ciri dengan kekuatan dan kemampuan khusus untuk pekerjaan-pekerjaan alam. Daerah yang paling rendah dikenal sebagai Pinda Desh terdiri dari macam-macam titik-titik cabang bertempat didalam rongga dada. Ini pusat dari Panch Agni Vidya demikian biasa dibicarakan dalam bacaan keagamaan orang-orang Hindu kuno. Ketika seseorang memperoleh penguasaan terhadap daerah ini, dia secara otomatis mengembangkan di dalam dirinya sebuah intuisi  menguasai ilmu pengetahuan berkenaan dengan unsur di dalam alam dimana dia dapat menggunakan apapun yang dia suka setelah cukup praktek dan pengalaman. Tetapi karena pencapaian ini tidak sesuai dengan tujuannya, sepanjang menyangkut masalah spiritualiti dalam sistem pelatihan yang tepat guna, seorang calon pengikut tetap tidak menghiraukan semua kekuatan-kekuatan material dan dibantu untuk menyeberang jalan dengan kekuatan Guru yang dipantulkan, sehingga perhatiannya mungkin tidak tertarik oleh hal-hal lainnya selain hanya sifat dasar spiritual. Kemudian dia ada dalam posisi untuk menjalankan pekerjaan ketuhanan yang kecil-kecil yang dipercayakan kepadanya. Lingkungan kerjanya pada tingkatan ini adalah tempat yang kecil misalnya sebuah kota, sebuah daerah pemerintahan atau beberapa bagian yang lebih besar. Pekerjaan alam yang dia kerjakan adalah penyesuaian diri yang tepat atas segalanya dalam tindakan di dalam batas kekuasaannya sepenuhnya sesuai dengan keinginan alam. Dia memasukkan unsur-unsur yang diperlukan di dalam lingkungannya dan melepaskan hal-hal yang tidak diinginkan. Dia dikenal sebagai Rishi dan tanda pangkatnya adalah Vasu.

            Yang berikutnya lebih tinggi dalam pangkat dan posisi adalah Dhruva. Dia menikmati penguasaan  terhadap Brahmanda Mandal dan termasuk kategori Muni. Lingkungan pekerjaannya lebih besar dan menggunakan kekuasaannya terhadap Vasus. Kewajibannya adalah melihat kebersihan lingkungan dari semua pikiran-pikiran dan gambaran-gambaran yang tidak diinginkan yang ada di lingkungannya. Disamping pekerjaan rutinnya dia juga harus melihat pada banyaknya kewajiban-kewajiban lain yang dipercayakan kepadanya untuk sementara waktu. Keadaan yang diperoleh setelah dengan seksama menerangi daerah yang terletak di dalam tubuh manusia dalam hylem shadow (bayangan spiritual).

            Lebih tinggi di atasnya adalah posisi Dhruvadhipati yang mengatur pekerjaan Dhruvas. Keadaan ini diperoleh setelah mendapat penguasaan terhadap titik Naval. Lingkungan pekerjaannya memperluas sampai pada seluruh dunia tetapi pekejaannya serupa di dalam alam dengan Dhruva. Di samping pekejaan-pekerjaan rutinnya dalam hubungannya dengan kebersihan lingkungan, dia juga harus melihat pada kejadian-kejadian sederhana dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu yang berbeda. Ini petugas-petugas ketuhanan yang jiwa-jiwanya telah berkembang tinggi dengan kemampuan besar yang bekerja dengan patuh menurut keinginan Alam sama sekali mengabaikan perasaan kepribadian atau diri. Pekerjaan mereka secara otomatis dan seperti mesin dan mereka tidak mempunyai pilihan atau kebijaksaan pribadi dalam segala hal.

            Posisi Parishad, yang di atas Dhruvadhipatis, jarang diberikan, dilimpahkan hanya ketika alam sangat membutuhkan posisi ini. Dia mengatur dan menunjukkan aktivitas dari macam-macam petugas-petugas bawahan yang disebut di atas dan memberikan macam-macam kewajiban kepada mereka, menyimpan hanya pada diri sendiri untuk hal-hal yang paling penting. Keinginan Dia bekerja dalam semua persoalan-persoalan penting seperti  kerja yang besar atau peperangan-peperangan, dengan maksud untuk menghasilkan hasil  yang sudah ditakdirkan. Dia mengerjakan semua rencana alam yang merusak dan membangun. Lingkungan pekerjaannya sudah dibatasi hanya pada dunia ini. Keadaan yang diperoleh ketika seseorang memperoleh penguasaan penuh terhadap titik pusat Sahasra Dal Kamal.

            Posisi Maha Parishad adalah tertinggi dalam pangkat. Ini jabatan ketuhanan yang terakhir dan sangat jarang dilimpahkan kecuali saat alam berada dalam kebutuhan yang mendesak untuk perubahan drastis atau  perbaikan dunia secara seksama. Dia menikmati kekuasaan tertinggi. Ini mulai dari daerah sebelah kanan dari tengkorak belakang seperti yang diberikan dalam diagaram No. 5 pada halaman 36, Efficacy Raja Yoga (Kemanjuran Raja Yoga), edisi ke IV.

            Hal ini adalah pencapaian yang mengagumkan dari Raja Yoga dimana seseorang dapat memperolehnya jika dia benar-benar tulus tentang itu dan maju sepanjang jalan yang benar dibawah bimbingan yang tepat.


 

10

PENGLIHATAN SAYA

 

            Dunia jaman sekarang berlalu menembus tingkatan kritis. Situasi politik tumbuh luar biasa ruwet hari demi hari.. Kondisi ekonomi telah menjadi sangat menyedihkan. Keburukan moral, hal-hal keagamaan dan sosial sudah hampir sampai pada batas akhirnya. Suasana persaingan, kerusuhan dan ketidak amanan berlaku di mana-mana. Setiap bangsa melihat dengan mata iri terhadap tetangganya dan menggunakan semua akalnya untuk menemukan cara-cara mengeksploitasikan negara tetangganya. Negarawan dunia tidak begitu mengabaikan kenyataan-kenyataan ini. Mereka mencoba setiap cara untuk sampai pada sebuah pemecahan yang memuaskan atas macam-macam persoalan dalam menghadapi dunia. Tetapi usaha-usaha dari semua organisasi yang didirikan untuk tujuan ini kelihatannya tidak melahirkan hasil-hasil yang membesarkan hati secara keseluruhan. Persoalan mengenai kedamaian dunia begitu menonjol di dalam pikiran politikus-politikus dan negarawan-negarawan terhebat hanyalah sebuah ilusi atau hayalan belaka.

            Keadaan peristiwa di India tidak mengulurkan harapan yang cemerlang. Pertikaian dan perasaan kelompok lazim terjadi di negara. Kepentingan diri sendiri menjadi menonjol. Prinsip-prinsip moral diabaikan. Persoalan tentang roti dan mentega menjadi gawat. Meskipun ada persoalan-persoalan ini beberapa diantara kita berpikir bahwa negara sedang berkembang. Tanda bahwa berkembang mereka  menjadi menyimpang pelan-pelan dari negara menuju bentuk peradaban Barat yang didasarkan pada hal materialistik semata-mata. Tetapi sekarang jaman materialistis harus berakhir. Orde lama harus berubah memberikan tempat bagi yang baru. Struktur peradaban dunia sekarang didasarkan pada listrik dan tenaga atom yang tidak tetap ada untuk jangka lama. Ini ditakdirkan untuk segera jatuh. Seluruh suasana terlalu banyak diisi dengan pengaruh beracun atas yang sepenuhnya materialistis dimana ini hampir diluar kontrol manusia untuk membersihkannya. Saatnya hampir tiba bagi sebuah perubahan yang sebentar lagi terjadi dan tidak dapat dielakkan dan untuk ini kekuatan Ketuhanan dalam bentuk manusia sudah bekerja seperti yang ditunjukkan dalam buku saya Efficacy of Raja Yoga (Kemanjuran Raja Yoga). Mungkin saat ini kelihatannya tidak meyakinkan bagi beberapa diantara kita tetapi ini sebuah kenyataan melebihi keraguan. Dunia mengenal dia dan pekerjaannya dalam hal ini setelah beberapa saat ketika peristiwanya sudah cukup kelihatan. Pekerjaan Ketuhanan selalu dikerjaan melalui perantaraan seseorang yang mempunyai kemampuan tinggi dan tidak langsung. Alasannya adalah Tuhan tidak mempunyai pikiran yang hanya merupakan alat untuk membawa sesuatu kepada tindakan. Orang memiliki pikiran yang dapat dipergunakan untuk suatu tujuan, tetapi hanya ketika dia kehilangan perasaan kepribadian secara total. Apa yang tertinggal di dalam dia setelah mencapai pengabaian diri sepenuhnya, bukanlah pikiran manusia tetapi hanya pikiran Ketuhanan  dalam keadaan yang murni dan nyata. Sekarang Alam bekerja melalui pikiran Ketuhanan ini meskipun rupanya ini ada dalam wujud manusia.     

            Saya memberitahukan kepada pembaca sebuah pandangan sekilas tentang dunia akan menjadi apa, seperti yang saya lihat dalam penglihatan saya. Percaya atau tidak, tetapi itulah yang saya baca tentang Alam dalam keadaan clairvoyant (penglihatan terhadap apa yang akan terjadi di masa yang akan datang). Tanda-tandanya jelas bahwa kerusakan atas unsur-unsur yang tidak diinginkan di dunia telah dimulai. Contoh-contoh tentang hal tersebut sudah sering terjadi sebelumnya, selama periode keberadaan dunia ini. Perang Rama melawan Rahwana, banjir Noah, dan peperangan Mahabarata adalah beberapa dari banyak contoh-contoh. Kerusakan seperti tersebut dikerjakan melalui macam-macam cara. Ini mungkin melalui perang atau permusuhan di dalam lingkungan, melalui bencana alam seperti pergolakan gunung berapi atau melalui penyebab-penyebab lain yang serupa. Waktunya sekarang sudah tiba untuk tahap akhir dan dunia sedang tergesa-gesa menuju hal tersebut dengan kecepatan yang tidak dapat dikendalikan. Aksinya mungkin menjadi berayun penuh dengan semakin dekatnya abad sekarang tetapi beberapa peristiwa yang disebutkan satu persatu di bawah dapat mengambil waktu lebih panjang untuk berlaku.

            Panasnya matahari berangsur-angsur berkurang untuk beberapa saat lalu dan ini mungkin sebuah persoalan mengherankan bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan dalam memecahkannya dimana sesudah beberapa saat hidup dipermukaan bumi menjadi sangat tidak mungkin karena tidak cukupnya panas dalam matahari. Tidak ada penyelesaian terhadap hal ini dalam tujuan mental mereka meskipun semua kekuatan material berada pada perintahnya. Saya dapat memastikan mereka bahwa pada saat ini panas matahari tidak berkurang sampai sejauh itu. Penurunan yang sekarang dalam panas matahari berarti hanya untuk melancarkan proses perubahan alam dan orang khusus yang ditugaskan untuk pekerjaan itulah yang menggunakan untuk tujuannya. Ini sebuah tanda yang pasti atas pergolakan yang sebentar lagi terjadi dalam seluruh struktur dunia dan setelah itu matahari akan mulai lagi dengan sinar yang penuh. Tanda yang sama akan muncul lagi pada waktu Mahapralaya (pembubaran menyeluruh/Maha kiamat) tetapi karena ini sesuatu yang jauh sekali, saya tidak suka untuk tinggal pada persoalan tersebut disini. Satu hal yang saya akan ungkapkan sehubungan hal ini untuk kepentingan pembaca. Pada saat mahapralaya kutub bintang akan menyimpang beberapa derajat dari posisinya dan akan timbul sedikit lebih panas. Energi yang kuat dalam bentuk gas akan mulai berhembus keluar darinya dan pasti akan menghancurkan dunia dan segalanya dalam kehidupan. Tindakan penghancuran akan dimulai dari kutub Utara.

            Sebagai akibat dari pergolakan saat ini, perubahan drastis akan terjadi dan struktur dunia baru akan sangat berbeda dari yang satu yang kita lihat hari ini. Nasib negara Inggris akan menyedihkan. Sebagian dari itu adalah bagian sebelah Selatannya akan tenggelam ke dalam laut. Tenaga sebuah gunung berapi dalam keadaan terpendam sedang bekerja di jantung kota London dan selama itu akan meledak dalam bentuk letusan gunung berapi. Arus Teluk akan mengubah alirannya dan negara akan menjadi sangat dingin. Nasib Eropa juga akan sama. Negara-negara yang lebih kecil akan kehilangan kehidupannya. Masa depan Rusia ada dalam kegelapan. Dia tidak dapat menyelamatkan diri. Senjata Rusia akan menjadi seperti sebuah pistol di kepalanya sendiri. Komunisme akan mempunyai kuburan di tanah airnya sendiri. Bagi Amerika dia ada dalam bahaya yang sebentar lagi terjadi untuk kehilangan kekayaannya dan selama itu dia mungkin hampir turun menjadi miskin. Kekuatan dan kebesarannya juga akan tenggelam bersamaan dengan itu. India akan mendapatkan kembali keagungannya yang asli dan dia akan muncul menjadi menonjol dibawah pemerintahannya sendiri. Kekuasaan kerajaannya akan memperluas jauh dan lebar dan dunia akan memandang padanya atas cahaya menara api. Tetapi dia juga akan mempunyai bagian dalam pergolakan dunia. Kuman-kuman pemberontakan berkembang di dalam negara. Sebagian dari negara yaitu bagian Timur  Bengal akan tenggelam ke dalam laut. Tenaga gunung berapi juga aktif dan mungkin serius mempengaruhi beberapa bagian terutama negara Bihar. Dataran tinggi Dekan dapat, jauh dihari depan, akan berubah menjadi sebuah pulau. Akan ada banyak sekali pertumpahan darah di seluruh dunia dan kehilangan kehidupan melalui macam-macam sebab akan demikian besar sehingga populasi dunia akan sangat menurun. Struktur dunia baru yang akan datang akan berdiri pada tulang dan debu. Sebuah bentuk peradaban yang didasarkan pada spiritualisme akan tumbuh maju di India dan ini akan, pada waktunya, menjadi peradaban dunia. Tidak ada negara atau bangsa akan hidup lebih lama tanpa spiritualiti sebagai dasarnya, dan semua bangsa harus segera atau kemudian mengambil jalan yang sama jika ingin mempertahankan keberadaannya.


LAMBANG

 




11

LAMPIRAN - LAMBANG

 

            Lambang mewakili sebuah gambar yang lengkap dari suatu sistem yang diikuti dalam Shri Ram Chandra Mission yang diketemukan guna memperingati dan dinamakan menurut Jiwa Suci yang terbesar Samartha Guru Mahatma Ram Chandraji Maharaj of Fatehgargh (U.P.). Sistem yang diikuti di dalam Misi dikenal sebagai Sahaj Marg atau Jalan Alami.

            Tanda Swastika dekat bawah melambangkan titik dimana kita mulai. Ini adalah lingkungan atas bentuk-bentuk, upacara-upacara agama dan praktek-praktek yang bermacam-macam jenis kita meneruskan dalam pengejaran kita, dengan jalan yang ditunjukkan sebagai Sahaj Marg, memotong melalui gunung-gunung kesulitan dan gangguan oleh Alam itu sendiri. Kita melangkah melalui lingkungan cahaya yang berbeda-beda dan membayangi macam-macam kekotoran, jauh jauh di atas lingkungan bulan dan matahari, tumbuh lebih halus dan lebih halus di setiap langkah sampai kita mencapai titik tujuan tertinggi. Lingkungan cahaya yang diciptakan oleh terbitnya matahari menunjukkan jaman spiritual baru dimulai dengan Kekudusan Dia, The Samartha Guru. Ini menyebar ke seluruh ruang, menguasai daerah-daerah dimana kita memulai dan melewati selama langkah kita sepanjang Sahaj Marg.

            Sekarang yang berlaku seluruhnya sebelum ciptaan terjadi, mungkin digambarkan sebagai kegelapan. Kegelapan berarti tidak ada cahaya dan sebaliknya. Apa yang hidup dimana tidak ada cahaya? Kegelapan, kita dapat menyebutnya. Apa yang mungkin ditemukan dimana segalanya berakhir? Tidak ada apa-apa mungkin ungkapan  yang hanya cocok untuk keadaan seperti itu. Tetapi ungkapan ‘Kegelapan’ dan ‘Tidak ada apa-apa’ masih memuat gambaran tersembunyi tentang sesuatu di dalam keadaannya, oleh karenanya jauh dari arti yang sesungguhnya. Tidak ada cahaya dan tidak ada kegelapan mungkin cocok menunjukkan keadaan sehubungan dengan hal diatas, yang mana tidak berubah dan kekal. Sekarang begitulah keadaan yang murni dan mutlak dari mana kehidupan kita saat ini telah berkembang. Ini mungkin menunjukkan sebagai lingkungan Ketenangan Abadi yang ditunjukkan dalam bagian yang paling tinggi dari lambang. Tidak ada Terang tidak juga Kegelapan. Di bawah itu, adalah lingkungan yang dikenal sebagai Satpad, dimana kebenaran menjadi yang utama dan karenanya sebuah daerah cahaya meskipun dalam keadaan yang sangat halus.


12

DAFTAR KATA

 

ABHYAS : Praktek.

ABHYASI : Pengikut; orang yang mempraktekkan yoga dengan maksud untuk memperoleh penyatuan dengan Tuhan.

ADI GURU : Guru yang mula-mula; Lalaji, di dalam Sahaj Marg.

ADI TATTVA : Unsur yang mula-mula.

ADWAITA : Keadaan persatuan (Tidak ada dua pribadi).

AGYA CHAKRA : lihat AJNA CHAKRA.

AHAM : Saya.

AHAM BRAHMASMI : Saya adalah Brahma (Tuhan).

AHAMKARA (or AHAMKAR) : Egoisme.

AJAPA : Meditasi tanpa ucapan mantera-mantera.

AJNA CHAKRA (or AGYA CHAKRA) : Titik api terletak diantara dua buah alis. Trikuti

AKASHA : Angkasa, langit.

ANANDA (or ANANDAM) : kebahagiaan.

ANANT : tidak berakhir atau yang tidak ada akhirnya

ANAHAD : Yang tidak dapat terdengar

ANUBHAVA: Intuisi untuk merasa atau pengalaman pribadi dalam kerajaan alam atau Tuhan.

ANUBHAVA SHAKTI : Kemampuan berdasarkan intuisi, kemampuan yang didapat dari pengalaman.

APARA  BRAHMAN : Absolut yang tetap (lihat Saguna Brahman).

ARJUNA : Pada siapa Krishna memberikan Gita dalam Mahabharata.

ASAN (or ASANA) : Sikap tubuh

ASHRAM (or ASHRAMA) : Ashram di dalam Sahaj Marg ditujukan pemakaiannya hanya untuk meditasi, segala aktivitas-aktivitas normal sehari-hari tidak diijinkan di dalam Ashram. Sebuah Ashram biasanya diisi oleh Master, yang menciptakan sebuah suasana spiritualiti khusus di dalam mana kita meditasi.

ASHTANGA-YOGA (or ASHTANG-YOGA) :  Patanjali menggambarkan yoga sebagai mempunyai delapan tingkat : yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana dan samadhi.

ATMAN : jiwa.

AVADHUTA (or AVADHOOTA) : Biasanya dihubungkan sebagai jiwa yang sudah bangkit, tetapi sesungguhnya orang-orang dengan maksud spiritual yang menjadi “tetap” pada tingkat tertentu karena perkembangan mereka sudah dihentikan.

AVARANA (or AVARAN) : Lapisan-lapisan kekotoran; penutup-penutup

AVATAR : Inkarnasi dari jiwa Suci

AVIAKTA GATI : Keadaan yang berbeda. Keadaan dimana seseorang bebas sepenuhnya dari batasan-batasan Maya

AVIDYA : Ketidak tahuan

AYODHYA : Tempat kelahiran Raja Rama

BASANT PANCHAMI : Hari kelima dari musim semi dalam kalender bulanan. Ini juga hari lahirnya Lalaji.

BHAKTA : Orang yang setia

BHAKTI : Kesetiaan

BHARAT (or BHARATA) : Saudara laki-laki Raja Rama

BHAVAS : Ekspresi dari sebuah kondisi di dalam diri, sikap pikiran.

BHOG (or BHOGA, or BHOGAM) : proses menjalani akibat, impresi,pengalaman,kenikmatan.

BODH : Kebijaksanaan

BRAHM : Pusat; Tuhan; Yang Terakhir.

BRAHMAN (or BRAHM) : Pencipta, Tuhan.

BRAHMANDA (or BRAHMAND) : Dunia Astral. Cosmos.

BRAHMANDA MANDAL (or BRAHMANDA DESH) : Lingkungan mental, lingkungan di atas material, daerah cosmic, lingkungan dimana segalanya menunjukkan bentuk yang halus sebelum berlaku di dalam dunia material.

BUDDHI : Orang pandai

CAKRA : lihat CHAKRA.

CHAITANYATA (or CHETANYATA) : Kesadaraan, termasuk suatu aktivitas yang halus sekali.

CHAKRA : Pusat dari kekuatan-kekuatan yang amat penting terletak di banyak tempat di dalam tubuh, diibaratkan sebagai teratai.

CHIT : Kesadaran.

DAM : Kontrol atas perasaan-perasaan dan panca indera.

DARSHAN : Penglihatan seseorang.

DHARANA (or DHARNA) : Konsentrasi mental (tingkat ke enam dari yoga Patanjali).

DHRUVA : Jiwa yang telah berkembang dengan tinggi. Tingkat pertama atau terendah dari petugas.     

DHRUVADHIPATI : Petugas ketuhanan yang berkemampuan besar yang mengatur pekerjaan Dhruvas.

DHYANA (or DHYAN) : Meditasi (tingkat ke tujuh dari yoga Patanjali).

GITA : Pengetahuan Suci  yang diberikan kepada Arjuna oleh Lord Krishna dalam Mahabarata.

GRIHASTHA (or GRAHASTA) : Orang yang menjalani kehidupan dunia, sebuah rumah tangga.

GRIHASTHA ASHRAMA : Kondisi-kondisi dari kehidupan berumah tangga.

GUNAS : Tiga kwalitas alam dalam filosofi Hindu yaitu SATTVA, RAJAS dan TAMAS.

GURU : Master, yang mentransmit cahaya, pengetahuan; seorang guru spiritual.

GURU PASHU : Orang yang menjadi setia pada bentuk jasmani Master.

GURUMAT : Murid-murid yang mematuhi perintah-perintah Master dalam segala hal dan mencoba untuk menyerahkan pada keinginan Master dalam segala cara yang memungkinkan. Catatan : Jangan keliru dengan GURU MATA adalah nama yang diberikan untuk isteri Guru.

GYANA : lihat JNANA.

GYANI : lihat JNANI.

HATHA YOGA : Pertama dari empat tingkatan ashtanga yoga Patanjali. Praktek Yoga menyangkut tubuh.

HYLEM SHADOW : bayangan spiritual berlokasi di sebelah kanan tulang dada.

INDRIYAS : Sepuluh  rasa/organ dari filsafat India, dibagi lagi menjadi Jnana dan Karma Indriyas. Lima rasa yang pertama berkenaan penglihatan, pengetahuan atau kebijaksanaan, sedang lima rasa berikutnya berkenaan terutama dengan tindakan. 

ISHA : Tuhan – Penguasa.

ISHWARA (or ISHWAR) : Absolut yang tetap. Tuhan sebagai keadaan yang hidup memiliki semua sifat-sifat  yang paling halus.

ISHWARI MANDAL : Daerah Absolut yang tetap.

JAGAT GURU : Guru dunia

JAPA : Pengulangan sebuah mantera.

JIVA (or JIVATMA) : Penjelmaan jiwa seseorang. Hidup.

JNANA : Kebijaksanaan tertinggi atau Pengetahuan yang membawa kepada Kenyataan.

JNANA BHUMIKA : Tingkatan atau keadaan pengetahuan.

JNANA HINATA : Tidak adanya pengetahuan.

JNANI : Orang yang memiliki pengetahuan Suci.

KABIR : Penyair India kuno.

KARMA : Tindakan.

KRISHNA (or LORD KRISHNA) : Inkarnasi terakhir dari Wisnu; tokoh suci dalam Mahabarata.

KSHIPTA : Kondisi pikiran yang terganggu disebabkan karena perasaan-perasaan seperti : lapar, haus, marah, duka cita, keinginan untuk menjadi terkenal dan kaya.

KUNDALINI : Kekuatan yang bergelung seperti ular di dasar tulang belakang.

LAGAN : Keterikatan.

LAYA : Pembubaran.

LAYAVASTHA : Keadaan menyatu.

MAHA PARSHAD : Petugas cosmic tertinggi; Penguasa alam semesta.

MAHAPRALAYA : Keadaan pembubaran menyeluruh ketika segalanya dalam kehidupan menyatu dengan Pusat. Pembubaran menyeluruh dari seluruh alam semesta (Mahakiamat).

MAHABHARATA : Satu dari cerita-cerita kepahlawanan  India.

MAHAMAYA : Tenaga terhalus yang digunakan oleh Tuhan – Maya yang Besar atau khayalan yang besar.

MAHATMA (or MANAMATA) : Jiwa Besar, orang suci.

MANAS : Pikiran.

MANMAT : Murid-murid yang mendekati seorang guru untuk hal-hal duniawi, tujuan-tujuan material.

MANTRA : Sebuah suara yang diulang-ulang.

MAYA :  Ilusi.

MOKSHA: Pembebasan atau Kebangkitan. Tetapi di dalam Sahaj Marg, keduanya tidaklah sama. “Kebebasan dari ikatan adalah Pembebasan. Ini berbeda dari Kebangkitan yang bukanlah akhir dari proses dilahirkan kembali”. (Kenyataan Diwaktu Subuh , halaman 15, edisi 1979).

MOODHA: Kondisi pikiran, termasuk kecenderungan-kecenderungan yang menyebabkan kemalasan, kelambanan.

MUKTI : Pembebasan.

MUMUKSHU : Seseorang yang mencari Kebenaran spiritual.

MUNI : Lihat RISHI.

NARADA : Orang bijaksana yang suci.

NIRAKAR : Tidak berbentuk.

NIRGUNA: Tanpa simbul-simbul atau sifat-sifat.

NIRGUNA BRAHMA : Absolut yang tidak terbatas. Sebab yang Terakhir.

NIRODHA : Kecenderungan yang membawa mental kepada suatu keadaan pengontrolan diri dengan sempurna, bebas dari seluruh keruwetan dan kekacauan.

NIRVANA : Keadaan yang bercahaya.

NISHKAM : Tidak mempunyai keinginan apa-apa.

NISHKAM KARMA : Tindakan tidak mempunyai keinginan apa-apa.

NISHKAM UPASANA : Kesetiaan yang tidak mempunyai keinginan apa-apa.

NIYAMA (or NIYAM) : Pokok persoalan-persoalan hukum yang harus diikuti. Mereka adalah kesucian, kesenangan, kecermatan, belajar diri, meninggalkan diri, (setia kepada Tuhan).

OJAS : Kemegahan.

PANCH AGNI VIDYA : Kebijaksanaan dari lima api (lihat catatan kaki dalam Menuju Yang Tak Terbatas).

PARA BRAHMAN (or PAR BRAHMA) : Absolut yang tidak terbatas – Tuhan sebagai Dasar  Kehidupan yang awal (lihat buku Kenyataan Diwaktu Subuh).

PARA BRAHMANDA : Kesadaran di atas cosmic.

PARA BRAHMANDA MANDAL : Daerah di atas cosmic di dalam pikiran (di atas Brahmanda Mandal).

PARAMANUS: Partikel-partikel yang sangat halus sekali.

PATANJALI : Cendekiawan India kuno yang menulis Yoga Sutras.

PINDA : Material atau kehidupan yang kotor, yang ada dalam keadaan yang kotor atau material.

PINDA DESH (or PINDA PRADESH) : Lingkungan material; daerah hati.

PRALAYA : Keadaan pembubaran, berlaku tidak untuk seluruh alam semesta tetapi hanya sebagian dari itu.

PRANA : Hidup, napas.

PRANA PRATISHTA (or PRAN PRATISHTA) : Kekuatan untuk memasukkan tenaga spiritual kedalam sebuah gambar, atau  berhala.

PRANAHUTI : Proses transmisi yoga; berasal dari prana berarti hidup dan ahuti berarti memberikan. Memberikan tenaga hidup oleh guru kedalam hati murid-murid.

PRANAYAMA : Berasal dari prana (hidup, tenaga yang penting) dan dari ayama (pengendalian). Pengaturan Prana.

PRASTHANA TRAYEE : Tiga buku kitab suci agama Hindu ortodok yaitu Upanishads, Bhagavad Gita dan Brahma Sutras.

PUJA : Praktek keagamaan tradisionil (dalam Sahaj Marg adalah praktek meditasi).

RAJA YOGA (or RAJ YOGA) : Sistem atau ilmu pengetahuan kuno yang diikuti oleh orang-orang suci besar yang membantu mereka untuk menyadari Diri atau Tuhan. Biasanya digunakan untuk praktek-praktek meditasi, seperti yang dibedakan dari hatha yoga.

RAJAS : Satu dari tiga Gunas. Membawa pada aktivitas, egoisme dan mementingkan diri sendiri.

RAM (or LORD RAMA) : Suami dari Sita dalam cerita kepahlawanan India, Ramayana.

RAMAYANA : Satu dari cerita-cerita kepahlawanan India.

RISHI : Orang suci, peramal, orang yang telah menyadari Diri.

SADGURU : Guru mampu memberikan pengetahuan tentang Kebenaran.

SADHAK : Murid yang mempraktekkan sadhana.

SADHANA : Praktek spiritual.

SADHANA CHATUSHTAYA : Empat lapisan dari praktek spiritual : viveka atau perbedaan; vairagya atau ketidak terikatan; sampatti, berarti terpikat padanya, dan mumukshutva, mencari pembebasan.

SAGUNA BRAHMAN (or SAGUNA BRAHMA) : Tuhan sebagai yang hidup memberkati semua sifat-sifat  yang halus. Absolut yang Tetap (lihat Kenyataan Diwaktu Subuh, Bab 1).

SAGUNA ISHWARA : Absolut yang Tetap; mempunyai kwalitas Ishwara.

SAHAJ MARG : benar-benar : jalan alami, jalan yang mudah.

SAHAJ SAMADHI : Keadaan sadar atas penyerapan di dalam diri sepenuhnya.

SAHASRA DAL KAMAL : Teratai dari seribu daun bunga.

SAKAR : Bentuk yang nyata.

SAMADHAN : Keadaan menetapkan diri pada keinginan Master.

SAMADHI : Keadaan dimana kita tinggal melekat pada Kenyataan. Dalam Sahaj Marg kembali pada kondisi asal, yang merajarela sejak permulaan.

SAMARTH GURU (or SAMARTHA GURU) : Seorang guru yang sempurna, yang  memiliki semua kwalitas. Seorang guru yang benar-benar seimbang.

SAMAVASTHA : Suatu keadaan seimbang.

SAMPATTI : Suatu jenis kenyataan manusia. Dalam Sahaj Marg ini juga dalamnya kenyataan spiritual.

SAMSKARAS (or SANSKARS) : Impresi, kekotoran.

SANKIRTANISTS : Mereka yang melakukan sankirtans.

SANKIRTANS : Kumpulan nyanyian (yang mudah dan pendek).

SANNYASI (or SANNYASIN) : Orang yang telah meninggalkan dunia dan hidup membujang dan pertapa.

SANSKRIT : Kebudayaan, juga nama bahasa India kuno.

SANSTHA : Tradisi; organisasi; grup spiritual.

SAT : Mahluk, Kenyataan, Keadaan.

SATPAD (or SATYAPAD) : Dalam Sahaj Marg, keadaan tidak terang tidak juga gelap. Ini adalah sebuah refleksi dari kenyataan itu sendiri yang masih jauh.

SHABDA (or AJAPA) : Suara, getaran di dalam diri, adalah kebalikan dari japa.

SHAMA (or SHAM) : Kondisi damainya pikiran memberikan keadaan tenang dan sentosa.

SHASTRAS : Buku-buku suci (Injil).

SHAT : Enam.

SHAT SAMPATTI : Enam bentuk dari pencapaian spiritual dalam Vedantic Sadhana yang ketiga.

SHRADDHA : Kepercayaan, kesetiaan dengan kepercayaan.

SIDDHIS : Kemampuan untuk melakukan keajaiban-keajaiban, kekuatan.

SOOKSMA SHARIR : Tubuh Astral, tubuh yang halus sekali.

SRUTI : Dasar dari setiap nada musik. Juga Weda, atau mengungkapkan kitab suci.

STHULA SHARIR (or STHOOL SHARIR) : Tubuh yang kotor.

SUSHUPTI : Satu dari empat keadaan kesadaran. Ini digambarkan sebagai kesadaran dari tidur yang lelap dimana seseorang tidak bermimpi. Ketika keadaan pikiran ini dicapai, seseorang memperoleh hubungan yang erat dengan Tuhan, meskipun dia tetap dalam keadaan tidak ingat.

SWAMI VIVEKANANDA : Lihat VIVEKANANDA.

SWAMIJI : Orang suci.

TAM : Keadaan sebenarnya dimana dulu kita berada pada saat dunia dilahirkan. Keadaan hidup.yang nyata.

TITIKSHA : Keadaan ketabahan atau kesabaran.

TRIKUTI : Titik di atas hidung diantara dua buah alis; satu dari titik konsentrasi.

UPADESH : Kotbah, instruksi.

UPADESHAK : Pemberi perintah, penasehat.

UPANISHADS : Vedantic bagian dari Weda (Jnana Kanda).

UPARATI : Penarikan diri.

UPASANA (or UPASNA) : Praktek kebaktian.

VAIRAGYA : Penolakan, hal melepaskan.

VASU: Nama lain dari Krishna. Juga berkenaan dengan orang yang ditinggikan untuk melakukan tingkat terendah dari pekerjaan ketuhanan yang dipercayakan kepada dia.

VEDAS : Kitab Suci orang India kuno, dimana pengetahuan mulia diungkapkan.

VIDYA : pengetahuan, ilmu pengetahuan.

VIKSHEPA (or VIKSHEP) : Gangguan, kebingungan.

VIKSHIPTA : Berkenaan dengan kecenderungan yang mengendalikan pikiran menjauh dari pikiran-pikiran suci dan menyebabkan sering timbul banyaknya pikiran-pikiran yang menyimpang pada saat meditasi.

VIRAKTA : Pertapa.

VIRAT : Cosmic

VIRAT DESH : Lihat BRAHMANDA MANDAL.

VIVEKA : Perbedaan.

VIVEKANANDA (or SWAMI VIVEKANAND) : Orang suci besar di India yang hidup dipermulaan abad ke 20, dan dia adalah murid dari Ramakrishna.

VRITTIS : Pikiran yang mengalir ke luar; keinginan-keinginan halus atau rangsangan yang timbul di dalam pikiran menyebabkan tindakan, kecenderungan-kecenderungan mental.

YAMA : Larangan diri. Janji atas penahanan nafsu untuk kekerasan, kepalsuan, perampokan, ketidak murnian, dan kecenderungan untuk memperoleh.

YOGA : Sebuah sistem filosofi Hindu menunjukkan cara-cara pembebasan jiwa dari perpindahan tempat yang lebih jauh, terutama dibagi menjadi raja yoga dan hatha yoga.

YOGI : Orang yang mempraktekkan yoga; orang yang mencapai penyatuan dengan Absolut.