SHRI RAM CHANDRA MISSION
Tugas Abhyasi di dalam Sahaj Marg
Oleh: Shri Ram Chandraji
Shahjahanpur, U.P., India
A. Secara teori
1. Usaha
atas ke tidak terikatan.
Kita
tidak akan pernah bebas dari yang semu kecuali kita
mengusahakan ketidak terikatan.
Adalah suatu kenyataan
bahwa kita tidak akan pernah dapat membebaskan diri
dari sesuatu yang tidak abadi kecuali kita mengusahakan ketidak terikatan. Tetapi ini tidak berarti memutuskan hubungan kita dengan rumah,
keluarga dan semua hubungan duniawi dan mengisi hidup sebagai orang suci/saleh.
Saya tidak setuju dengan mereka yang berpandangan bahwa
mengusahakan ketidak terikatan hanya berarti melepaskan diri dari rumah dan
keluarga dan menjauhkan diri pada sudut terpencil, membuang semua pertalian
duniawi. Pembuangan keterikatan yang dilakukan dengan cara
yang dipaksakan, jarang ditemukan dapat menjadi yang ikhlas, kemungkinan yang
terjadi bahwa walaupun nyata dipaksakan ketidak terikatan mereka terhadap
dunia, barangkali dalam batinnya mereka masih melekat pada dunia. Tidak diragukan , sebagai seorang yang berkeluarga kita harus
mengurus banyak hal, kita harus membantu penghidupan keluarga, kita harus
memberikan pendidikan kepada anak-anak, kita harus melihat keinginan-keinginan
dan kebutuhan-kebutuhan mereka, kita harus melindungi mereka dari kepanasan dan
kedinginan dan sebagainya. Untuk kebutuhan-kebutuhan ini kita
mencari nafkah, memiliki uang dan harta benda. Kejahatan
yang sebenarnya hanyalah keterikatan kita pada sesuatu yang tidak semestinya
dimana kita mengadakan hubungan dengannya. Ini adalah
sebab utama dari penderitaan kita. Tetapi jika kita mampu melakukan
segala sesuatu di dalam hidup ini, berpikir bahwa itu tugas kita tanpa
mempunyai perasaan tertarik atau perasaan jijik, kita ada di jalan yang bebas
dari pertalian duniawi dan telah meninggalkan dunia dalam arti yang sebenarnya,
walaupun kita memiliki dan menggunakan banyak hal. Semua yang kita miliki kemudian
harus nampak menjadi suatu kepercayaan suci dari Master Tertinggi untuk pelaksanaan
tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita.. Pembuangan
keterikatan sungguh-sungguh berarti tidak terikat dengan obyek-obyek duniawi
dan bukannya berarti tidak memiliki apa-apa. Jadi
seseorang yang hidup berumah tangga memiliki harta benda dan pertalian duniawi
sangat diperlukan, tidak ada halangan dalam menjalankan pembuangan keterikatan
tersebut dan sebagai hasilnya adalah kesadaran, hanya kalau seseorang tidak
terlalu terikat dengan obyek dimana dia berhubungan dengannya. Ada banyak sekali contoh-contoh orang suci yang mencapai tingkat
kesempurnaan tertinggi dalam menjalani kehidupan berumah tangga terus seumur
hidup. Pelepasan keterikatan sebenarnya adalah suatu
kondisi atau suatu keadaan di dalam pikiran yang membawa pandangan fana (tidak
kekal) dan merubah sifat terhadap sesuatu dan menciptakan suatu perasaan
ketidak terikatan terhadap obyek-obyek tersebut. Setiap
saat matanya telah ditetapkan pada kenyataan yang tidak berubah dan abadi dan
dia bebas dari perasaan tertarik atau perasaan jijik. Ini
adalah vairagya (pelepasan) dalam arti yang sebenarnya. Ketika kita mencapai keadaan pikiran seperti ini, kita bebas dari
keinginan-keinginan. Kita merasa puas dengan apa
yang ada pada kita. Akhir dari suatu keinginan berarti
menghentikan pembentukan samskara (impresi-impresi). Apa
yang tertinggal sekarang hanyalah menjalani akibat (bhog) atas samskara yang
telah terbentuk sebelumnya yang meletihkan selama perjalanan hidup kita. Alam
juga membantu kita dalam proses tersebut dengan menciptakan ladang untuk bhog
dengan tujuan untuk membersihkan impresi-impresi dari pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan
kita sebagai akibat dari tubuh ini. Ketika penutup ini sudah
menghilang kita mulai menerima bentuk kehidupan yang lebih baik. Orang yang lahir di dunia ini dipastikan untuk merasakan
kesengsaraan. Seseorang tidak dapat melarikan diri
daripadanya. Ketika saya melihat dunia saya
mendapatinya sangat menyusahkan. Beberapa mengerang kesakitan,
beberapa menderita karena kehilangan orang yang sangat dicintai dan yang paling
besar adalah yang cemas untuk mencapai sukses di setiap langkah. Kita mencoba untuk membuang semua ini dengan menjalankan penebusan
dosa dan bijaksana menyerahkan diri sepenuhnya untuk hal tersebut. Semua yang dilahirkan dari keterikatan adalah kesengsaraan. Kesenangan dan kesakitan kedua-duanya menambah kesengsaraan.
Tidak ada obat untuk mengatasi kesengsaraan ini kecuali
menyerahkan diri kita kepada pikiran keTuhanan atas alam yang paling murni.
Kita tidak perlu meninggalkan dunia dan pergi untuk
penebusan dosa ke dalam hutan. Biarkan dunia materil dan dunia spiritual berjalan berdampingan,
gemerlapan bersama-sama. Bagaimanapun juga seseorang tidak dapat menjadi
yang kalah kalau melakukan kewajiban berumah tangga, dia membawa dirinya
sendiri naik kepada kesadaran akan Tuhan juga. Kita harus membumbung tinggi dengan kedua sayap kalau kita ingin
sukses. Ada pikiran yang tidak jelas dari orang-orang
awam bahwa Tuhan harus dicari di dalam hutan. Menurut
saya Dia harus dicari di dalam hati. Seseorang yang
melakukan kewajiban rumah tangga pada saat yang bersamaan juga sibuk dengan
ketaatannya kepada Tuhan. Kamu mungkin mengatakan
bahwa kedua hal ini bertentangan dan tidak cocok satu dengan yang lainnya,
tetapi ini bukan masalahnya. Untuk jangka panjang
kebijaksanaan Tuhan mulai bekerja dan orang melakukan tugasnya di luar
kesadaran.
Jadi viragya dapat dicapai hanya ketika seseorang
sepenuhnya beralih kepada Tuhan. Dengan demikian seseorang secara alami menjadi tidak berkepentingan
dengan kebutuhannya sendiri termasuk segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Jadi dia kehilangan bukan hanya ketidak sadaran akan
tubuhnya tetapi setelah itu ketidak sadaran akan jiwanya juga. Apa yang tertinggal kemudian bukanlah apa-apa tetapi menjadi
bentuk yang mati atau hidup tetapi mati.
2.
Ketaatan/ibadat permulaan untuk meditasi
Sikap
alami (asan) meluruskan jalan kita kepada tempat kita berasal (Tuhan)
Ketika
pikiran tentang kembali kepada yang semula, timbul di dalam diri seseorang hal
ini menjadi perlu sekali baginya untuk mengajukan kegiatan yang telah muncul di
dalam dirinya menjadi suatu keadaan terpendam sepanjang yang memungkinkan. Dia
mulai mencari-cari artinya. Akhirnya sampai pada pengertian bahwa itu
hanya sebagai usulan terpendam yang lebih kotor dibandingkan dengan yang nyata (absolut)
dimana dia berhubungan, meskipun demikian dia harus menerima sesuatu yang lebih
kotor dengan tujuan untuk memungkinkan dia mencapai keinginan yang ideal
tentang realitas (kenyataan).
Ini membawa dia pada kesimpulan bahwa dia harus
menciptakan di dalam dirinya, suatu keadaan kontraksi atau penarikan diri yang
serupa pada saat pralaya (kiamat).
Sekarang Diri yang seluruhnya meresap di dalam seseorang, ya hanya itu seperti
itu menganggap alam semesta dalam arti bersama(menyeluruh).
Keadaan pralaya datang ketika kontraksi mulai berlangsung.
Kontraksi yang serupa di dalam diri seseorang membawa pralaya
bagi dirinya sendiri. Itu berarti bahwa dia mulai maju
dari keadaan yang kotor kepada keadaan yang nyata. Kontraksi
selalu mulai dari bawah dan berjalan perlahan ke atas karena kecenderungannya
sendiri untuk naik. Oleh karena itu dengan tujuan
untuk naik, dia harus mulai kontraksi dari bawah. Keadaan
kontraksi ini hanya untuk dapat membawa kakinya dan bergabung dengan
bagian-bagian lainnya menjadi satu sikap dan untuk menjadikannya kuat.
Dengan cara apapun itu dapat dilakukan, pada akhirnya
kondisinya akan menjadi alami (asan). Ini perlu sekali karena akan meratakan jalan kita menuju asal (Tuhan). Sikap ini
harus selalu sama. Alasannya adalah karena dengan cara ini dia menemukan dirinya berhubungan dengan kekuatan
terbesar, itulah yang dia terima pada permulaan untuk mencapai tujuannya yang
khusus. Jadi keadaan yang berhubungan dengan realitas
menolong dia banyak sekali sebagai permulaan yang utama.
Posisi tulang punggung lurus, leher dan kepala tegak
dalam garis lurus selama meditasi dianggap paling menguntungkan sejak jaman
dahulu kala. Karena
hembusan atas keagungan Tuhan dipercaya turun langsung pada abhyasi dalam
posisi itu. Tetapi dalam cara kita
mempraktekkannya hal ini tidak dipaksakan. Secara umum saya
menganjurkan abhyasi untuk duduk dalam sikap alami yang tenang. Tambahan
lagi bahkan mereka ada yang beranggapan posisi lurus diam, ditemukan memberikan
jalan secara otomatis kepada pemohon, posisinya sedikit jatuh ke depan sebagai
keadaan timbulnya kebahagian
yang terserap. Hal tersebut mungkin dianggap
lebih alami bahkan untuk tujuan suatu kenaikan menjadi kondisi kesadaran yang
lebih tinggi. Kenyataannya perdebatan atas suatu hal
yang termasuk kecil artinya, nampaknya menyimpang. Lebih
baik duduk di saat subuh untuk meditasi, atau bila itu tidak memungkinkan, pada
jam tertentu yang cocok untuk abhyasi. Jangan merasa
terganggu dengan hal-hal di luar tetapi tetap sibuk dengan pekerjaan kamu
sendiri, pikirkan bahwa mereka ada di jalan untuk menolongmu untuk merasakan
kegunaan atas penyerapan yang lebih besar di dalam praktekmu.
3.
Meditasi
Ketika
meditasi pusat kekuatan kita tetap berlaku
Menurut latihan Sahaj Marg sistem kita mulai dari
meditasi, langkah ke tujuh dari Yoga Patanjali, tentukan pikiran kita pada satu
titik dengan maksud untuk menjalankan meditasi. Langkah sebelumnya bukan dilakukan
secara terpisah tetapi secara otomatis mulai menjadi kebiasaan pada saat kita
mulai meditasi. Jadi banyak waktu dan tenaga disimpan.
Dalam Sansthas (organisasi spiritual) tertentu kebiasaan
sehari-hari yang biasa terdapat di dalam praktek seringkali dirahasiakan.
Ini akan disiarkan dan diungkapkan hanya kepada
orang-orang yang berusaha untuk bergabung dengan mereka secara resmi. Apa
tujuan dasar mereka
mungkin sungguh tidak dapat dimengerti. Alam tidak mempunyai
rahasia dan saya pikir seseorang yang menyatakan mengikuti jalan Tuhan juga harus tidak
mempunyai rahasia.
Praktek yang terdapat di dalam misi kita adalah
meditasi pada hati. Metode yang sama dianjurkan oleh Patanjali. Ada sebuah
filsafat tinggi di dalamnya. Kita mendapati diri kita
sepanjang waktu sibuk dengan urusan-urusan duniawi. Kalau
kita tidak melakukan sesuatu dalam waktu senggang pikiran kita kelihatannya
mempunyai sayap. Kita selalu dalam keributan dan
kacau-balau. Pikiran kita masing-masing sudah terbiasa
dengan aktivitas-aktivitas khas seperti itu dan jadi kita membuat segala
sesuatu kucar kacir. Perbuatan dan pikiran berarti
banyak dalam kesalahan-kesalahan kita. Jika kita tetap
berhubungan dengan ide-ide dan pikiran-pikiran yang bermacam-macam mereka
meninggalkan impresi terhadap perasaan dan pikiran sehat kita. Semua pikiran sehat dirusak dan mengambil jalan yang salah. Jadi tanda-tanda yang kita buat pada pikiran sehat dan panca indera
berubah menjadi keras seperti batu karang maka tidak mempunyai kebijaksanaan
lagi. Jiwa tidak mempunyai keraguan, tidak memainkan
peran, tetapi kita menciptakan rintangan dan penutup, menyimpan dan membungkus
sekelilingnya seperti kepompong. Kita bahkan tidak
bisa mengintip ke dalamjiwa, membiarkannya menyadari sendiri. Akibat dari kejahatan buah pikiran dan perbuatan kita, kita merusak
akal kita tentang diskriminasi dan pengertian yang benar. Orang yang telah sampai pada keadaan membatu seperti ini tidak suka
datang pada latihan Raja Yoga. Inilah mengapa orang-orang menjadi tuli
pada apa yang mereka katakan. Tidak
ada praktek atas Hatha Yoga dapat membawa keluar kebenaran nyata. Karena
akan gagal dibelakang Ajna Chakra (Titik di antara 2
buah alis mata) dan tetap masih banyak keadaan yang harus dilalui setelah itu. Oleh karena itu Raja Yoga adalah satu-satunya yang dapat membimbing
kepada yang terakhir. Tidak ada alat lain
selain pendekatan pada Pusatnya. Kita sudah mempunyai di dalam diri kita
sendiri kekuatan pusat yang sama, meskipun dihalangi
dengan perbuatan salah kita. Kita melakukan pekerjaan dari kekuatan yang sama selama meditasi. Inilah bagaimana
kita memulai secara alami dengan kekuatan yang dimiliki alam, dapat dikatakan
demikian. Ketika kita meditasi, kekuatan dasar yang
kita miliki tetap berlaku. Ini membubarkan awan yang besar
sekali yang benar-benar dihancurkan oleh kekuatan tersebut. Ini tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata, hanya seorang
abhyasi yang dapat merasakannya. Ini hanya bisa
diketahui dengan praktek. Kamu akan segera
mendapati dirimu berenang di dalam kedamaian dan kebahagiaan yang abadi. Semuanya berakhir di sini. Yang
tertinggal, tidak adanya keterikatan dengan dunia. Pikiran
didisiplinkan, diatur secara otomatis. Pikiran mulai
muncul di bawah kontrol dan kamu mendapat penguasaan atas pikiran tersebut.
Menguasai dirimu sendiri berarti menguasai alam. Ketika perjalanan menjadi jelas, kamu mendapati pekerjaan alam ada
di dalam batasmu. Kamu mulai bekerja sendiri.
Di
dalam sistem kami, abhyasi dianjurkan untuk meditasi pada hati, pikirkan cahaya
Tuhan ada di sana. Tetapi abhyasi diperintahkan untuk
tidak melihat cahaya
dalam bentuk apapun entah seperti sebuah bola lampu atau sebuah lilin dan
sebagainya. Dalam hal ini cahaya yang muncul di sana
bukanlah nyata. Tetapi orang memproyeksikan dengan spekulasi
yang diciptakannya sendiri. Seorang abhyasi dianjurkan
untuk mulai dengan pengandaian cahaya belaka dengan asumsi Tuhan ada di
dasarnya. Apa yang terjadi kemudian adalah kita
harus meditasi terhadap sesuatu yang paling halus sekali yang harus kita
peroleh.
Metode meditasi pada hati adalah untuk berpikir bahwa
cahaya Tuhan ada di dalamnya.
Ketika kamu mulai meditasi dengan cara ini, tolong
pikirkan hanya cahaya Tuhan yang di dalam itu yang menarik kamu. Jangan hiraukan jika pikiran-pikiran yang tidak berhubungan,
mendatangi kamu selama meditasi. Biarkan pikiran
tersebut datang tetapi tetap teruskan dengan pekerjaan kamu sendiri. Perlakukan pikiran dan gambaran-gambaran tersebut sebagai tamu yang
tidak diundang. Jika walaupun demikian pikiran-pikiran
tersebut masih mengganggu, anggap saja pikiran-pikiran tersebut kepunyaan
Master, bukan pikiran kamu. Proses meditasi ini sangat efektif dan tidak
pernah gagal dalam memberikan hasil yang diinginkan. Duduk dalam sikap yang
paling enak selama 1 jam di pagi hari dengan cara yang
sungguh alami. Kamu hanya harus meditasi. Kamu tidak harus meronta-ronta dengan pikiran yang biasanya datang
selama meditasi. Konsentrasi akan datang secara
otomatis dan merupakan hasil yang alami dari suatu meditasi. Mereka yang
memaksakan berkonsentrasi pada saat meditasi dan memaksakan pikirannya untuk
melakukan hal tersebut biasanya akan menemukan
kegagalan. Semua orang suci menggunakan kata “Cahaya” dan
saya juga tidak bisa menghindarinya, karena itu adalah ekspresi yang paling
baik untuk suatu kenyataan. Tetapi ini menimbulkan kesulitan karena
ketika kita bicara
tentang cahaya, ide/gambaran yang bersifat cahaya menjadi menonjol dan kita
mulai menerimanya sebagai kegemilapan. Cahaya yang
sesungguhnya ada di situ bukanlah seperti gambaran tersebut. Di dalam sistem kita,
tidak diragukan abhyasi kadang-kadang melihat cahaya. Tetapi
kilauan cahaya muncul hanya pada permulaan, ketika suatu zat yang masuk
berhubungan dengan tenaga. Dengan lain kata itu
hanyalah petunjuk bahwa tenaga telah mulai bekerja. Cahaya
yang sesungguhnya mempunyai warna seperti fajar atau refleksi redup dari
sesuatu yang tidak berwarna. Meskipun cahaya bukanlah terjemahan yang
pasti dari suatu benda (karena cahaya adalah sesuatu yang jauh lebih berbobot
daripada apa yang sebenarnya ada). Hal
itu diekspresikan hanyalah untuk kepentingan agar dapat dimengerti. Jika abhyasi mulai merasa dirinya ringan dan semakin ringan itu
berarti dia telah berkembang. Karena dalam hal ini dia
masuk ke dalam kondisi dimana Tuhan ada di dalamnya. Ringan,
berarti hilang beban pikiran seseorang. Jadi Cahaya yang sesungguhnya hanya
berkenaan dengan zat yang nyata atau lebih tepat sesuatu tanpa sesuatu.
Semua kepalsuan dan perhatian yang salah arah
dikendalikan oleh keinginan abhyasi sendiri dan pendapat yang telah terbentuk
sebelumnya yang terbukti merugikan sering tidak dapat ditarik kembali. Gambaran-gambaran tentang cahaya
dansebagainya bukanlah ciptaan yang dibuat-buat atau dituntut untuk
dipertahankan. Mungkin hanya menjadi terkemuka ketika
mereka bangun tanpa perasaan keterikatan pribadi pada apapun. Obyek yang
menjadi keterikatan pribadi harus hanyalah tujuan yang terakhir yaitu Realitas
yang harus sungguh-sungguh dipegang dalam gambaran seluruhnya dan ini merupakan
garansi yang paling dapat diandalkan terhadap apa yang
ada dan semu pengalihan perhatian yang menyimpang. Satu
contoh perhatian yang salah arah yang membahayakan, seperti yang sudah
ditunjukkan adalah penekanan konsentrasi atas kesadaran, mengharapkan dengan
cemas selama setiap pembahasan praktek mengenai meditasi oleh sebagian besar
abhyasi Raja Yoga. Ini telah memainkan malapetaka di dalam sejarah Yogic
Sadhana (pelaksanaan yoga) di India dan di tempat lain. Metode
Ascetic Austerities (pertapa/pembuangan), penebusan dosa dan malu secara
fisik/jasmani biasanya digunakan untuk menjaga pikiran di bawah kontrol, tidak
menghilangkan kecenderungan yang salah arah. Disisi lain mereka hanya
menjalani untuk menyimpan kejahatan lembut di dalam dan mungkin setiap waktu menyembul
dengan sorak sorai, ketika ada kesempatan dimana kontrolnya entah bagaimana
menjadi tenang/lemah sekali. Pemecahan
yang nyata atas persoalan yang ada, tidak dalam kontrol pikiran yang
dibuat-buat dengan penindasan,pengendalian atau malu,
tetapi berangsur-angsur terbentuk yang mana untuk melepaskan kecenderungan yang
salah arah. Dalam hal ini dan setiap persoalan sampai saat itu mempunyai sikap
seperti murid yang tulus, meraih dan mengijinkan seluruhnya untuk bekerja dan
berkembang dengan cara alami adalah untuk memastikan
perkembangan yang paling cepat.
Biasanya saya menganjurkan meditasi pada hati yaitu
titik dimana kamu merasakan detakannya. Meditasi pada titik lain juga dapat dijalankan, seperti menetapkan
perhatian pada titik di hidung atau di antara ke dua alis
mata dansebagainya. Tetapi menurut pendapat saya meditasi
pada hati adalah yang paling mudah dan paling menguntungkan. Ada filsafat tinggi di dalam meditasi pada hati. Hati adalah pusat yang memompakan darah. Hati
mengirimkan darah bersih ke seluruh bagian tubuh dan kepada sel-sel terkecil.
Sekarang kita mengambil hati sebagai pusat untuk meditasi.
Darah yang mengalir melalui sistem kita ikut terpengaruh.
Kekerasan yang disebabkan oleh pikiran dan perbuatan kita
mulai mencair. Ini adalah hal pertama yang kita mulai
dapatkan sejak hari pertama dari metode meditasi pada hati. Ini adalah permulaan dan menciptakan gerakan bersemangat kemanapun
itu diarahkan. Ini adalah ladang pikiran untuk bekerja
dan alat dimana kita mengembangkan panca indera yang berbeda-beda. Kekuatan yang halus sekali bekerja di tempat ini untuk turunnya
kekuatan suci. Jika entah bagaimana pikiran kita berhubungan dengannya,
atau kita melatihnya agar supaya menyebarkan hal-hal yang baik dan
mengarahkannya menuju realitas(kenyataan), persoalan
selesai. Orang-orang mungkin bertanya mengapa ini perlu untuk
mulai meditasi. Jawabannya sangat polos dan mudah
bahwa dengan meditasi kita membawa diri kita pada satu titik supaya pikiran
kita masing-masing dapat meninggalkan kebiasaan yang menyimpang yang mana hal
tersebut sudah terbentuk. Dengan praktek ini kita
mengatur pikiran kita masing-masing pada jalan yang benar karena sekarang kita
telah merubah kebiasaannya. Ketika hal ini dilakukan,
pikiran kita secara alami tidak kesasar. Hati adalah
satu-satunya titik dimana mata rantai yang menghubungkan antara yang hidup
dengan benda mati dapat dirasakan paling jelas. Inilah
alasan mengapa meditasi pada hati sangat berguna. Lebih
jauh hati adalah ladang untuk perbuatan dari pikiran. Pikiran selalu
seperti apa adanya. Hatilah sebagai
ladang perbuatan dari pikiran yang harus diatur dengan benar. Sebab hanya itulah titik yang paling tepat untuk meditasi dimana
arus terus mengalir, apakah yang naik atau yang turun. Itu hanyalah bisa didapat dari hati dan bukan yang lainnya.
Trikuti (tengah-tengah dari ke 2 alis mata) juga bisa
diambil untuk tujuan tersebut tetapi itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi
orang biasa karena memerlukan lebih banyak tenaga dari seorang abhyasi. Pada suatu waktu jika meditasi tidak dijalankan dengan tepat oleh
abhyasi juga dapat melahirkan banyak kesulitan-kesulitan. Meditasi pada pusar tidak mempunyai nilai spiritual selain
memberikan perasaan menggelitik yang mana pada akhirnya membuat pikiran dan
nafsu semua menjadi lebih kuat.
Pada tingkat perkembangan kepercayaan tertentu di
dalam seorang abhyasi, kita sebagai manusia biasanya meletakkan ketegangan di
dalam meditasi. Kritik
mungkin dapat dianggap membunuh perkembangan spiritual. Kejadiannya bukan seperti itu, menganggap seorang yang meditasi
adalah orang yang mempunyai keahlian khusus yang telah turun dari hal-hal
absolut yang tidak penting untuk pelatihan spiritual, atau telah mencapai
standar evolusi spiritual yang diperlukan untuk tujuannya dengan pengerahan
usaha sendiri yang tertinggi.
4.
Pembersihan
Proses
pembersihan menggunakan kekuatan pikiran murni dalam bentuk kemauan manusia
untuk perbaikan jiwa individu yang memungkinkannya naik tinggi dan berjalan
mulus atas kesadaran dari tanda pokok yang halus sekali.
Malam
hari duduk lagi
dalam sikap tubuh yang sama, paling sedikit setengah jam dan pikirkan bahwa
semua kerumitan-kerumitan, jaringan dari pikiran-pikiran lama dan kekotoran
atau yang kepadatan dalam tubuhmu semuanya mencair, atau menuap dalam bentuk
asap, dari belakang tubuhmu. Ini akan menolong kamu
dalam membersihkan pikiranmu dan akan membuat kamu mau menerima
pengaruh-pengaruh yang mujarab dari Master yang besar. Segera setelah saya
mendapati kamu bebas dari persoalan-persoalan asing saya akan
entah merubahnya dengan cara yang lain atau meminta kamu untuk menghentikannya,
bagaimana nanti. Dalam hal ini kita membumbung tinggi dengan membangunkan dan membersihkan
chakra-chakra dan titik-titik cabang lalu pada akhirnya mengisi kundalini,
dimana abhyasi tidak mempunyai apa-apa lagi yang harus dilakukannya. Ini semata-mata harapan Master. Tetapi ini
harus diingat bahwa ketika menjalankan metode ini seseorang tidak harus memaksa
pikirannya terlalu banyak tetapi hanya duduk secara normal. Proses
pembersihan ini harus diulang juga sekitar 5 menit
sebelum meditasi di pagi hari. Cara lain pembersihan
mungkin juga dianjurkan menurut kebutuhan masing-masing abhyasi, dan tidak
perlu diuraikan secara detail di sini. Cukup dikatakan, bahwa proses
pembersihan menggunakan kekuatan pikiran murni dalam bentuk kemauan manusia
untuk perbaikan jiwa individu yang memungkinkannya naik tinggi dan berjalan
mulus atas kesadaran dari tanda pokok yang halus sekali.
5. Doa
Doa tetap
yang paling penting dan cara yang tidak pernah gagal untuk sukses.
O,
Master
Engkaulah
tujuan nyata dari kehidupan manusia
Kami
di sini hanyalah budak atas keinginan-keinginan kami
Meletakkan
penghalang bagi kemajuan kami
Hanya
Engkaulah Tuhan dan berkuasa
Untuk
membawa kami sampai pada tujuan tersebut
Satu
lagi yang harus dilakukan melalui praktek adalah memanjatkan doa
singkat setiap hari sebelum tidur dalam keadaan jiwa benar-benar sebagai
pemohon dengan hati yang berlimpah cinta akan Tuhan. Ulangi doa
dalam pikiranmu satu atau dua kali dan mulai meditasi atas doa tersebut untuk
beberapa saat. Doa harus dipanjatkan seperti seseorang
yang paling menyedihkan menaruh penderitaannya tersebut dengan hati yang sangat
menderita di hadapan Master Tertinggi, memohon dengan sangat kemurahan hati dan
keanggunanNya dengan berlinang airmata. Hanya dengan demikian
seseorang dapat menjadi calon yang pantas.
Ada
banyak metode untuk mencintai Tuhan dan banyak sikap dapat diambil sebagai
jalan misalnya sikap seperti Bapak (Pitr Bhava), sikap sebagai teman (Sakhya
Bhava) dan sebagainya. Menurut pendapat saya tidak ada hubungan yang lebih baik daripada
pencinta dan orang yang dicinta. Kalau abhyasi berpikir dirinya sebagai
pencinta dan menganggap Tuhan sebagai yang dicinta dan meneruskannya dengan
perasaan yang sama, hasilnya adalah Tuhan sendiri akan
menjadi pencinta dan abhyasi sebagai yang dicinta. Tetapi jika seseorang
berpikir bahwa dia telah merealisasikan tujuannya pada tingkatan ini, akan terjadi kesalahan besar yang serius. Apa
yang tertinggal selanjutnya tidak dapat dikatakan, ini hanya menjadi sesuatu
yang berhubungan dengan praktek saja.
Doa tetap
yang paling penting dan alat sukses yang tak kunjung padam. Melalui doa kita mengadakan hubungan dengan Tuhan yang kudus. Alasan
mengapa doa harus dipanjatkan dengan hati penuh cinta
dan ketaatan adalah seseorang harus menciptakan di dalam dirinya keadaan kosong
sehingga hembusan keanggunan Tuhan dapat dibelokkan ke arahnya.
Ketika dunia muncul menjadi bentuknya yang sekarang,
titik pusat sudah dipaku dalam-dalam pada seluruh mahluk hidup. Titik pusat yang dipakukan di dalam
kita menjadi suatu bagian dari yang Tertinggi, yang mengalihkan perhatian kita
kepada sumbernya. Dalam doa kita mencoba untuk
mencapai yang serupa di dalam diri kita. Ini memerlukan
praktek. Ini dapat diperoleh dengan menempatkan diri
kita kepada kemauan Tuhan yang benar-benar sederhana dan sentosa. Sepertinya kelihatan sangat sulit, tetapi kenyataanya tidaklah
demikian, meskipun ini hanya untuk mereka yang menginginkannya. Ketika seseorang menciptakan di dalam dirinya keadaan membutuhkan
yang absolut sangat kuat, dia sungguh-sungguh dalam kondisi berdoa dan ini
berlaku untuk setiap orang agar berjuang keras. Bilamana
saja seseorang masuk ke dalam keadaan tersebut bahkan untuk sesaat, doanya
dikabulkan. Tetapi ini membutuhkan praktek terus
menerus untuk menyempurnakannya. Orang-orang harus didesak untuk
memanjatkan doa seperti itu. Jika orang sudah
mencapainya dan sudah mantap dengannya, apa lagi yang
tertinggal yang harus dilakukannya kecuali keteringatan dan bahkan ini juga
tidak pernah sengaja dilakukan dengan kesadaran.
C. Beberapa keperluan tambahan untuk perkembangan yang
cepat.
6.
Ingatan terus menerus
Kita harus tetap berhubungan dengan pikiran tentang
Tuhan dalam semua bentuk kegiatan mental dan fisik kita.
Ingatan terus menerus terhadap Tuhan tentu saja adalah
sebuah segi khusus di dalam spiritualiti. Metode untuk menanamkan ingatan terus menerus adalah berpikir dengan
keyakinan yang teguh selama waktu-waktu luangmu apakah di kantor
atau di rumah, di jalan atau di pasar bahwa Tuhan meliputi segalanya dan dimana
saja dan kamu sedang memikirkan Dia. Coba untuk tetap dengan pikiran yang sama
selama mungkin kamu dapat melakukannya.
Pikiran orang setiap saat terserap dengan memikirkan
persoalan yang bermacam-macam atas kehidupan materialnya dan perhatian mereka
jarang diarahkan kepada Tuhan kecuali ketika mereka berada dalam keadaan yang
sangat berbahaya dan sangat sengsara.
Alasannya adalah mereka terikat hanya kepada
kepentingan-kepentingan duniawi yang sangat penting yang terus menerus ada
dalam gambaran mereka. Jadi mereka tetap terjerat
dalam kesemuan tanpa pernah berpikir untuk keluar daripadanya disetiap
tingkatan.
Sering ingat kepada Tuhan, meskipun sangat membantu
bukanlah segalanya yang kita perlukan untuk kesuksesan akhir dalam realisasi. Kita biasanya mulai sesuatu yang penting dalam nama Tuhan dan ini biasa dilakukan hampir di setiap agama. Tetapi ini hanyalah sebuah formalitas dan tidak ada artinya.
Kita tidak pernah mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan dalam
arti yang sebenarnya dan dalam hati kita sebenarnya sungguh jauh dari pikiran
tentang Tuhan. Ingatan kepada Tuhan jadi tidak
berguna. Arti sebenarnya menurut kebiasaan adalah kita
harus tetap berhubungan dengan pikiran tentang Tuhan dalam semua bentuk
kegiatan mental dan fisik. Kita harus merasakan diri
kita dihubungkan dengan kekuatan tertinggi setiap saat dengan sebuah rantai
yang tidak dapat diputuskan selam seluruh kegiatan kita. Ini dapat
dengan mudah dikerjakan jika kita memperlakukan seluruh perbuatan dan pekerjaan
kita sebagai bagian dari tugas Tuhan yang dipercayakan kepada kita oleh Master
yang Besar yaitu kepada siapa kita melayani sebaik mungkin yang dapat kita
kerjakan. Beberapa orang berpikir bahwa ingatan terus menerus atau bahkan
sering ingat akan Tuhan tidak dapat dilakukan ketika
seseorang di dalam hidupnya dikelilingi oleh banyaknya kekhawatiran dan
kegelisahan yang disebabkan oleh keterikatan-keterikatan duniawi dan
tanggungjawab-tanggungjawab. Tetapi pelaksanaan dan pengalaman akan membuktikan kepada mereka bahwa ini adalah proses yang
sangat mudah dan dapat diikuti oleh dan siapa saja meskipun banyak kesusahan
dan keterlibatan dalam banyak persoalan hanya jika mereka belajar untuk
mengalihkan perhatiannya kepada Tuhan dalam arti yang sebenarnya.
Pandangan tentang guru sebagai kekuatan suci yang
tertinggi adalah sangat membantu dalam pencarian spiritual, jika guru sendiri
kebetulan saja bergabung dalam Keadaan terakhir dari suatu realisasi. Kamu tergantung kepada bimbingannya
berpikir dia menjadi manusia yang mempunyai kelebihan. Jika kamu terus berjalan dengan kesibukan kehidupan rutinmu,
mempersembahkan segalanya kepada Master, membayangkan perbuatan/jasa baik yang
diberikan kepada kamu dalam jangka panjang.
Ketika
melakukan sesuatu pikirkanlah bahwa kamu tidak melakukan ini untuk dirimu
sendiri, tetapi untuk Mastermu, lebih baik berpikir bahwa Master melakukan itu
untuk dirinya sendiri. Ketika di meja sarapan pagi, kamu
harus berpikir bahwa Mastermu sedang berbuka puasa. Ketika kamu pergi ke
kantor pikirkan bahwa Mastermu melakukan semua itu.
Ketika kembali dari kantor, seandainya kamu melihat
sebuah tarian menarik diperjalanan. Matamu tertegun oleh
penampilan mempesona penarinya. Kemudian pikirkan juga
bahwa Mastermu dan bukan kamu yang melihat tarian tersebut. Saat itu
juga kamu akan kehilangan keinginan untuk melihatnya
karena kekuatan Master akan mulai mengalir untuk melepaskan godaan-godan
tersebut. Ketika kamu kembali dari kantor setelah
berjam-jam, anak-anakmu gembira bertemu kamu. Kamu juga
menikmati keriangan dan itu semua alami. Perhatianmu
untuk sesaat beralih kepada mereka, dan kamu merasa sedikit menjauh dari
pikiran suci. Apa yang harus kamu lakukan
kemudian adalah pikirkan Mastermu di dalam dirinya sendiri menikmati dan kemu
harus berhubungan lagi dengan pikiran suci yang sama. Ketika
kamu bercakap-cakap dengan temanmu, pikirkan bahwa Mastermu bukannya kamu yang
berbicara dengan orang tersebut. Ketika berjalan
pikirkan bahwa Mastermu sendiri yang berjalan. Bahkan selama meditasi
jika kamu mempunyai pikiran bahwa bukan kamu tetapi Mastermu yang sedang
meditasi dalam bentuknya sendiri, itu akan memberikan
hasil yang luar biasa. Demikian pula kamu dapat mengatur
dirimu sendiri dalam seluruh kegiatan rutinmu. Jika kamu mengusahakan
perasaan ini dan mempertahankan pandangan bahwa Mastermu melakukan segalanya
dalam posisimu, kamu bukan hanya selama ini dalam ingatan terus menerus, tetapi
perbuatan-perbuatanmu tidak akan meninggalkan kesan
apapun dan dengan demikian kamu akan berhenti membuat samskara-samskara yang
lebih banyak.
7.
Kesetiaan
Ingatan
terus menerus akan menghasilkan efisiensi jika abhyasi setia kepada obyek dari
meditasi atau obyek dari
ingatan terus menerus.
Ingatan
terus menerus sebenarnya adalah pengembangan yang alami atas praktek meditasi
dan akan menghasilkan efisiensi jika abhyasi setia
kepada obyek meditasi atau obyek dari ingatan terus menerus. Lalu
berhenti dari praktek yang seperti mesin dan menjadi suatu keterlibatan yang
menggembirakan. Hanya api cinta dan kesetiaan
yang membakar habis sampah-sampah sepele, dan memenangkan emas dari
barang-barang yang dibuang. Pembakaran cinta dan kesetiaan
bagaimanapun mungkin mempunyai 3 tingkatan. Pertama adalah proses mulai
membakar akan mengeluarkan asap tebal. Yang kedua,
kadang-kadang mempunyai percikan-percikan di dalamnya dan yang terakhir,
memberikan nyala api yang terang, mampu memusnahkan
segalanya dalam sekejap. Dua keadaan yang pertama tunduk pada
pencahayaan atas zat yang mudah terbakar di udara. Ketika
kepadatan yang merintangi pembakaran dihilangkan sebagai akibat dari pembakaran
di dalam, proses terakhir mulai dengan sepenuh kekuatan. Tetapi kemudian
ada api listrik juga
yang melampaui kedua tingkatan pertama, dan hanya muncul di dalam tingkatan
terakhir, bebas dari asap dan uap air. Jika kamu dapat menyalakan api seperti tersebut di dalam dirimu, kemajuan kamu akan
berkembang pesat sekali.
Kesetiaan
dan cinta tentu saja, tetap begitu mudah akan tetapi begitu sulit untuk dicapai seketika
itu juga. Kesetiaan yang sesungguhnya tidak mempunyai warna
kasih sayang di dalamnya dan berjalan erat dengan pencerahan. Pada
tingkat permulaan orang yang setia mungkin sadar akan
perasaannya terhadap obyek yang dicintai, tetapi pada tingkatan yang lebih
tinggi, buih dan kemarahan dikurangkan sampai sejauh hampir-hampir hilang
kesadaran seluruhnya di tingkatan terakhir. Tingkat kesetiaan
yang paling bagus sekali dapat dikatakan sebagai penyerahan diri sepenuhnya,
dimana kesadaran atas penyerahan diri sudah seluruhnya ditinggalkan berkat
keagunggan Master Tertinggi.
Persoalan
untuk menjalankan kesetiaan, penyerahan diri dansebagainya dengan cara yang alami sudah ada. Untuk tujuan ini dinyatakan bahwa
seseorang dapat mencintai orang lain dari kelompoknya
sendirilah yang terbaik. Sehingga guru akan diingat
sebagai penjelmaan dari yang Tertinggi. Bagi saya hanya Master sayalah yang
menjadi obyek dari cinta saya. Saya bukanlah pencinta
kebebasan atau kedamaian atau kesempurnaan atau yang lainnya, tetapi hanya
mencintai Dia dan Dia saja. Master saya tidak diragukan lagi layak untuk
dicinta, merupakan orang yang paling pantas untuk meditasi terhadapnya dan setia
kepadanya. Dia sama sekali bebas dari perasaan egois,
keinginan-keinginan dan keterlibatan-keterlibatan duniawi dan setia sekali pada
dirinya sendiri. Ucapan ini berhubungan dengan keadaan
spiritual diurutan yang tinggi bukan diberikan secara biasa kepada seseorang.
Itulah alasan mengapa saya mencintai Dia sebaik mungkin yang
dapat saya lakukan. Saya mencoba sepenuh hati untuk
menemukan diri saya bergabung didalam Dia secara total, dan ini sudah menjadi
suatu pengejaran dalam hidup saya. Ini disebabkan karena saya menemukan
Master yang tidak terpadai dan tiada bandingannya. Untuk
hasil yang dicapai daripadanya, saya tidak mempunyai kata-kata untuk
menggambarkannya. Secara singkat, Dialah lautan
keanggunan yang tiada batasnya dimana kita semua harus bergabung di dalamnya.
Semoga ini dapat diperoleh oleh semua yang mencari dengan
sungguh-sungguh.
8.
Penyerahan diri
Penyerahan diri mempunyai kepentingan yang besar
sekali bagi abhyasi dalam pengejarannya.
Alat yang paling mudah dan paling pasti untuk mencapai tujuan adalah menyerahkan
dirimu kepada Master yang Besar dan menjadikan dirimu “Hidup tetapi Mati”. Perasaan menyerahkan diri jika dilakukan dengan terpaksa atau
secara mekanik terbukti jarang dapat menjadi yang tulus (sungguh-sungguh).
Penyerahan itu harus berkembang secara otomatis di dalam
dirimu tanpa sedikitpun keteganganatau tekanan-tekanan terhadap pikiran.
Jika pengetahuan akan diri sendiri dipertahankan, itu
juga bukan penyerahan diri yang sesungguhnya. Apa yang
harus tetap dilakukan ketika kamu menyerahkan dirimu dalam arti yang
sebenarnya? Tidak ada. Saya percaya bahwa dalam
penyerahan ini seorang abhyasi akan berhubungan erat
dengan Yang Nyata setiap saat dan arus pancaran suci akan terus menerus mengalir
kepadanya tanpa berhenti sedikitpun. Dengan demikian kamu dapat memecahkan
persoalan-persoalan hidupmu dengan cara yang paling
mudah dan paling manjur dalam waktu yang sesingkat mungkin. Oleh
karena itu jika seseorang dapat menyerahkan hatinya yaitu membuatnya sebagai
hadiah kepada Master yang Suci, hampir-hampir tidak ada lagi yang tertinggal
yang harus dilakukannya. Ini akan secara alami
membawa dia pada kondisi menyerap di dalam kenyataan yang abadi.
Pemakaian teknik yang sederhana dan mudah membuat sesuatu
yang benar-benar baru saja dimulai menjadi yang terakhir. Apalah artinya kecuali sebuah hati
yang kecil sekali dapat menjadi penawaran yang paling pas untuk suatu prestasi
dari obyek hidup yang paling berharga?
Penyerahan
diri bukanlah apa-apa tetapi suatu keadaan pasrah sepenuhnya pada kehendak
Master dengan mengabdikan diri sendiri seluruhnya. Tetap pada
kondisi seperti ini adalah menuju awal dari keadaan menyangkal diri sendiri.
Ketika kita menyerahkan diri kepada Master yang Besar, kita
mulai menarik suatu aliran yang tetap atas kekuatan Suci yang tertinggi dari
Master. Dalam keadaan ini seseorang berpikir atau melakukan sesuatu
hanya berdasarkan apa yang Masternya takdirkan. Dia akan merasa tidak ada apapun di dunia ini yang menjadi
miliknya tetapi segalanya merupakan kepercayaan suci dari Master dan dia
melakukan segalanya itu dengan pikiran bahwa itu perintah dari Masternya. Kehendaknya menjadi tunduk sepenuhnya pada kehendak Master. Penyerahan diri bukanlah sesuatu yang biasa dengan mudah dapat
diperoleh. Ini dimulai setelah penyangkalan diri
sepenuhnya atas semua perasaan dan kecakapan dimana kita maju dengan
aturan-aturan dasar kesetiaan. Kita menyerahkan kepada
Master kita, menyadari bahwa Dia adalah manusia yang luar biasa. Kita mencintai Dia dengan kesetiaan dan kepercayaan dan
penghormatan. mencoba dengan segala cara untuk
menarik perhatiannya dan kebaikannya.
Guru
mempunyai murid yang digolongkan dalam 2 judul utama :
Manmat dan Gurumat
Yang pertama adalah mereka yang mendekati guru sepertinya
berakhir dengan beberapa kebutuhan duniawi khusus seperti melepaskan dari
kesengsaraan, keinginan untuk kekayaan dan sebagainya. Mereka menyerahkan diri kepada guru hanya selam
mereka masih penuh harapan akan kepuasan atas
keinginan-keinginan mereka. Ketika mereka menemukan
kekecewaan dalam banyak hal, mereka berhenti. Untuk
murid-murid seperti ini pertanyaan tentang ketaatan dan kepatuhan tidaklah
muncul, apalagi yang harus dibicarakan tentang penyerahan diri.
Murid
gurumat adalah mereka yang patuh pada perintah Master dalam segala hal dan
mencoba untuk menyerahkan kepada Master dengan segala cara
yang dimungkinkan. Kepatuhan
mulai dengan ketaatan. Ketika kita terkesan sangat dalam oleh kekuatan
besar dari Master atas hasil karya yang lebih tinggi dalam hal spiritualiti,
kita merasa dalam batin cenderung untuk mengikuti perintahnya.
Sebuah contoh menarik dari penyerahan diri diberikan
kepada kita oleh Bharat, putera Dasharat. Ketika dia pergi ke hutan bersama-sama dengan orang
dari Ayodhya untuk membujuk saudara laki-lakinya Ram untuk pulang.
Sebagai jawaban atas permohonan orang-orang yang sangat mendesaknya, Ram
menjawab dengan lemah bahwa dia akan sungguh bersedia
pulang ke Ibukota asalkan Bharat memintanya untuk melakukan itu. Semua mata melihat ke arah Bharat yang datang sendiri untuk
membujuk adiknya pulang. Tetapi dengan tenang dia
menjawab, “Bukanlah untuk saya memerintah, melainkan hanya untuk mengikuti.”
Oleh karena itu penyerahan diri mempunyai kepentingan yang
besar sekali bagi abhyasi dalam pengejarannya.