MENULIS
BUKU HARIAN
Kita
diminta untuk memelihara buku harian. Setiap abhyasi harus memelihara sebuah
buku harian, dan mencatat didalamnya dalam dua cara. Pertama adalah untuk
segera mencatat setelah setiap sitting apa yang kamu rasakan selama sitting, pengalaman-pengalaman
apa yang kamu miliki. Sitting bagi diri sendiri, memberikan sittings,
kedua-duanya. Satunya lagi adalah mencatat perubahan-perubahan umum didalam
dirimu yang kamu rasakan. Berkurangnya kemarahan, kurangnya pertengkaran dengan
isteri, hal-hal seperti demikian. Apapun yang kamu rasakan sebagai kaitan
dengan perkembangan spiritualmu harus dicatat. Dan persoalan yang selalu ada apakah mulai
menulis buku harian atau menghindari menulis thesis setelah setiap sitting.
Keduanya ekstrim.
Sesuatu
yang sulit memutuskan, apa yang harus ditulis dan apa yang tidak harus ditulis.
Semuanya yang kamu ingin tuliskan, beberapa diantaranya tidak dapat disebutkan,
maksud saya benar-benar tidak dapat dituliskan. Siapa menginginkan jiwanya ada
di dalam sebuah buku harian dimana seseorang mungkin membacanya ? Jadi saya
sangat, sangat hati-hati dengan buku harian saya. Hanya menuliskan sesuatu di
kertas dimana setiap orang dapat membacanya, dan oleh karenanya menjadi lemah,
isinya tidak berbahaya. Bahkan tidak bernilai untuk dibaca, atau dibaca
kembali, bahkan oleh diri saya sendiri. Jadi ketika volume pertama dari buku
harian saya dipublikasikan kamu menemukan isinya catatan-catatan dari
percakapan dan diskusi dengan orang-orang yang berkepribadian terkenal dalam
misi ini, pada saat itu Dr. Varadachari dan orang-orang seperti itu. Tidak
banyak mengenai perkembangan spiritual saya, pengalaman-pengalaman spiritual
saya, tepatnya disebabkan karena alasan ini, haruskah kita mengatakan sifat
mudah terluka kepada dunia luar.
Tetapi
kemudian, dalam arena spiritual seseorang harus benar-benar jujur kepada
dirinya sendiri. Karena siapa yang harus kita takutkan saat kita mulai menulis
sebuah buku harian ? Kita takut bahwa kita akan dikritik, seseorang akan
menudingkan jarinya kepada kita, dan berkata, “aha, kamu rupanya seperti ini.”
Jadi selama kita terus menerus takut kepada diri kita sendiri, atau perubahan
dengan pendapat bahwa saya bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri, kita
tidak akan mampu untuk memelihara sebuah buku harian seperti yang harus kita
pelihara. Jujurlah ! Karena kita menghargai pendapat orang lain seperti
menyatakan apa yang kita pikirkan tentang kita sendiri. Pada akhirnya ini
adalah yang kita pikirkan tentang kita sendiri, itulah keadaannya. Tidak ada
orang yang sedikitpun perduli dengan apa yang orang lain pikir tentang kita.
Ini menyakitkan ketika mereka berkata jangan memperkuat apa yang kita pikir
tentang diri kita sendiri. Oleh karenanya kita menghindari menulis buku harian.
Semua alasan-alasan tentang tidak mempunyai waktu, tidak tahu apa yang akan
ditulis, semua ini alasan yang berliku-liku bagi orang yang membodohi dirinya
sendiri.
Sekarang
jika kamu menghargai pendapat Mastermu tentang dirimu maka tidak akan ada
persoalan dalam menulis segalanya di dalam buku harian apa yang kamu rasakan
atau alami, karena apakah kamu menulisnya atau tidak, Dia mengetahuinya. Dan
pada akhirnya, kamu diminta untuk menunjukkan buku harianmu hanya kepada
Mastermu.
Saya
bertanya kepada Babuji, “apa yang harus kita masukkan di dalam buku harian?”
Tentu saja dengan keluguan dan kejujurannya, Dia berkata, “Semua yang kamu
lihat.” Saya berkata, “Semua yang saya lihat tentang apa?” Dia berkata
(tertawa), “Tentang dirimu sendiri.” Sehingga saya berkata, “Babuji, itulah
kesulitannya.” Dia berkata, “Tahukah kamu, kita tidak harus menyembunyikan
sesuatu dari diri kita sendiri.”
Oleh
karena itu, kenyataan dasar yang perlu kita cari atau kita harus miliki saat
kita merencanakan untuk menulis buku harian kita adalah ketidak takutan. “Ya !
Saya sudah melakukannya. Jadi kenapa ? Lihat di dalam halaman yang berikutnya
bahwa saya sudah bangkit sedikit lebih unggul dari itu. Lihat pada halaman
ketiga bahwa saya sekarang sudah sedikit lebih baik dari itu.” Lihat, ini
seperti fondasi dari sebuah rumah. Kita harus menggali sebuah fondasi,
menampakkan banyak lumpur kotor, batu-batu, kerikil, buat jalan beton yang
cantik dan kemudian bangun rumah di atasnya. Tentu saja, fondasinya ditutupi
setelah itu. Tetapi dalam kehidupan moral, ini justru pembukaan dari kesalahan
seseorang, kelemahan, kedunguan yang memuncak dalam sebuah pencarian spiritual
atas perintah tertinggi dalam cahaya pancaran suci yang menunjukkan bagaimana
kamu dapat memulai dan bagaimana kamu dapat mengakhiri dalam pencarian
spiritualmu.
Sekarang
jika itu bukan catatan rentetan kejadian-kejadian, orang tidak akan mengerti
bahwa bahkan pendosapun mempunyai sebuah kesempatan. Bahkan pendosa-pendosa
yang paling tercelapun mempunyai kesempatan, pembunuh mempunyai kesempatan,
pemerkosa mempunyai kesempatan. Jadi ini tidaklah dengan maksud untuk, yang
kita katakan, sebuah bujukan untuk membesar-besarkan kegagalan seseorang dengan
menulis semua ini di dalam buku harian kita, tetapi untuk mengatakan, “Lihat !
Saya dulu begini, sekarang saya menjadi begini ! Kamu juga dapat menjadi
seperti ini. Jangan khawatir tentang siapa dirimu dahulu. Khawatirlah kamu
harus menjadi apa.” Buat sebuah catatan rentetan kejadian-kejadian dengan
sepenuhnya jujur, sehingga bukan hanya kamu hari ini akan mendapat keuntungan
dari riwayat hidup saya, melihat bahwa saya telah menjadi manusia, melihat saya
mempunyai semua kelemahan-kelemahan manusia, dulu mempunyai kelemahan-kelemahan
manusia, tetapi sekarang dengan bantuan dari Master memungkinkan saya untuk
menjadi seperti apa yang saya saat ini menjadi. Tentu saja kamu tidak berbeda
dengan saya. Pada dasarnya sebagai manusia, pada tingkat dasar kehidupan
manusia, kita semua adalah sama. Ada apa yang membuat saya dapat melakukan yang
berbeda dengan orang lain ?
Jadi, apa yang seorang penulis biografi tidak dapat
mencapainya, seorang penulis riwayat hidupnya sendiri dapat mencapainya untuk
dirinya sendiri dan anak cucunya. Dia membuat sebuah surat wasiat yang
benar-benar jujur tentang kehidupannya, dan ketika kami meminta kamu semua
untuk memelihara buku harianmu, pada
dasarnya tidak dengan ketakutan sebelumnya, keberanian bahwa, “Saya telah
melakukannya. Ya ! Jadi kamu mendapatkannya dan demikian pula keturunanmu,
generasi yang akan datang, karena permulaan selalu dalam lumpur dan kotoran.”
Kamu tahu, ketika kamu menanam sebutir biji, biji itu di dalam lumpur dan
kotoran. Tetapi ketika pohon tumbuh, dia ada di angkasa. Ketika bunga mekar,
keharumannya, seperti orang Upanishad mengatakannya, “Bagaimana kamu akan
mengetahui seorang yang baik, seorang yang mulia, jiwa yang suci ? Yatra vrukshasya samput pushpatasya doorgyam
teva -- seperti kamu mengetahui dimana ada pohon, hanya dengan mengikuti
hidungmu, mencium dari arahmu kepadanya melalui keharumannya, dan disanalah,
pohonnya.”
Jadi
kami tidak menginginkan informasi apa-apa. Apa yang kami inginkan adalah
catatan tentang apa yang kamu rasakan selama meditasi dan perubahan-perubahan
yang kamu rasa di dalam dirimu sesudahnya -- selama hari itu, atau selama suatu
periode waktu, selama seminggu --- kapan saja. Untuk bimbingan, mohon hubungkan
dengan riwayat hidup Master volume I. Tidak ada yang berlebih-lebihan, karena
kamu mendapatkan Master sangat sering menulis, “Tidak ada perubahan yang
dirasa.” Saya bertanya kepadanya juga, saya menulis kepada Dia dan berkata,
“Mengapa kamu meminta saya untuk mencetak ini -- ‘Tidak ada apa-apa yang
dirasa. Tidak ada perubahan yang dirasa. Hari demi hari ?” Tahukah kamu, ini
kelihatanya membuang-buang kertas. Tetapi Dia menulis kembali dan berkata, “Ini
menunjukkan saya telah memeriksa diri saya sendiri.” Dan ini sesuatu yang
sangat benar. Karena sangat sering kita mengetahui ada perubahan-perubahan di
dalam diri kita sendiri dan kita tidak memperhatikannya. Jadi inilah keperluan
untuk mengamati diri sendiri itulah yang paling penting dalam memelihara buku
harian.
Satu
maksud menulis buku harian adalah untuk menulis apa yang telah kamu rasa dan
melupakannya. Sayangnya kamu tidak menulis, tetapi mengingatnya sepanjang waktu
! Jadi kamu lihat, jika kita menulis dan melupakannya, catatan itu masih ada.
Saya dapat membandingkan setelah dua tahun. Seperti seseorang yang mendaki
gunung, melihat hanya kedepan. Dan ketika dia tepat di puncak, dia dapat
melihat kebawah dan melihat semua yang mengerikan, tikungan-tikungan yang
berbahaya, jurang dan celah, dan jurang terjal yang dilewati saat dia datang.
Jika kamu melihatnya kesana maka, kamu mungkin akan sudah meninggalkan jalanmu
sendiri. “Aaah ! Selesailah !
Dari catatan harian misi ...
Sebuah
catatan harian bukanlah semata-mata sebuah buku dimana kita menuliskan
pikiran-pikiran kita dan aktivitas kita sehari-hari. Hal ini tidak perlu
diragukan, tetapi ini juga merupakan catatan kemajuan dan perkembangan dari
seseorang yang terus menerus bertambah. Sifat yang perlahan-lahan berkembang
menjadi bukti dan nampak jelas bagi orang yang memelihara buku harian hanya
jika buku tersebut dibaca kembali setelah setahun atau lebih. Ketika seseorang
mendaki sebuah gunung, orang hampir tidak dapat melihat jalanan apakah di atas
atau di bawah, karena jalanan yang berliku-liku dan berbelok-belok. Tetapi
ketika seseorang tiba pada ketinggian yang cukup, orang dapat menoleh
kebelakang dan melihat jalan yang berliku-liku dimana dia datang. Hasilnya kita
memperoleh pengertian dan pengetahuan yang sebenarnya atas pertumbuhan kita
dengan memelihara buku harian.
Sebuah
buku harian harus untuk mencatat kejadian-kejadian dan pikiran-pikiran yang
benar, tidak menyimpang dengan dibesar-besarkan dan harus lengkap tanpa
meringkas-ringkas apa yang ada. Kenyataannya, ini harus merupakan catatan yang
terus terang dan terbuka tanpa sesuatu yang disembunyikan dan
dihilang-hilangkan dari konteksnya. Catatan seperti itu membuat mudah bagi
orang untuk melihat kedalam dirinya dengan kejujuran yang mutlak, dimana
penilaian kondisi atas diri sendiri menjadi sederhana dan mudah, dan seseorang
juga dapat perlahan-lahan mulai menerima dirinya sendiri sebagaimana adanya
tanpa merasa malu atau bersalah. Bersamaan dengan itu, orang mampu untuk
melakukan tindakan perbaikan melalui Kebesaran Master dan metode yang sudah
tersedia bagi kita.
Oleh
karenanya sebuah buku harian adalah dokumen pribadi yang penting yang dapat,
jika dipelihara dengan pantas dan teratur, menjadi alat yang sangat berguna
dalam penilaian diri sendiri, dan perkembangan seseorang.
Keistimewaan
lebih jauh dari sebuah buku harian adalah buku harian abhyasi yang telah
berkembang dengan baik di jalurnya dapat juga menjadi catatan-catatan referensi
bagi abhyasi lainnya, dan dengan demikian membantu mereka berada di jalurnya
juga. Oleh karena itu saya berdoa agar semua abhyasi mempunyai kebijaksanaan
seperlunya untuk memelihara buku harian secara teratur dan cermat.